
Darold diam membisu, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sebuah rasa bersalah yang teramat besar sedang menggerogoti hatinya sehingga untuk menatap wanita yang ada di hadapannya saja ia tidak mampu.
Rossa berjalan perlahan menghampiri Darold. Entah kenapa, berada di hadapan Darold yang kini dalam keadaan lemah membuatnya merasa simpati.
"Daddy, maafkan Calvin karena pergi menjemput mommy tanpa sepengetahuan daddy," ujar Calvin memecah keheningan di ruangan itu.
Darold menghembuskan nafasnya pelan, ia mengusap matanya yang mulai tak mampu membendung air matanya agar tidak tumpah.
"Apa daddy marah padaku?" tanya Calvin kembali saat Darold tidak menanggapi perkataannya.
"Kerja bagus, nak," ucap Darold akhirnya dengan suara pelan.
"Maksud daddy apa?" Calvin mengernyitkan alisnya.
"Sudah lama daddy ingin menjemput mommymu, tapi daddy terperangkap oleh rasa gengsi dan kebohongan yang sudah daddy buat sendiri kepadamu," lirih Darold lalu mengangkat wajahnya, seketika netranya bertemu dengan netra Rossa.
"Maaf." Satu kata yang pantang di ucapkan Darold selama hidupnya akhirnya terlontar saat itu juga bersamaan dengan rasa lega yang menghampiri hatinya.
Rossa mengulum senyum saat kedua netra mereka bersirobok. "Kamu tahu, jika aku orang lain, mungkin aku sudah menghajarmu habis-habisan saat ini agar kamu tahu betapa sulitnya hidupku selama 21 tahun di sana." Darold menunduk mendengar perkataan Rossa, "tapi karena aku Rossa, ibu dari Calvin, anak yang baik dan tulus, apa yang aku lakukan akan menjadi tontonan yang tidak baik untuknya, meskipun ia sudah dewasa. Maka aku tidak akan melakukan itu, aku hanya minta satu hal kepadamu jika kamu ingin ku maafkan," lanjutnya kemudian.
"Apa itu?" tanya Darold lirih.
"Bebaskan Ferdi dan Roby, mereka orang baik, mereka banyak membantuku selama disana, kembalikan mereka kepada keluarga mereka," ujar Rossa.
"Baiklah, Calvin, kamu bisa menyuruh seseorang untuk menjemput mereka," pinta Darold dan Calvin langsung menyetujuinya.
Calvin benar-benar bersyukur, melalui insiden penangkapan hingga kecelakaan itu, karakter Darold yang keras seolah berubah seketika.
Calvin melihat kedua orang tuanya kini kulai berdamai satu sama lain. Meskipun mereka sudah bercerai namun itu tidak mengurangi kebahagiannya.
Dret dret dret
Calvin melirik ponselnya yang sedang bergetar. "Shally?" gumamnya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya lalu keluar dari ruangan itu.
"Hello Shally"
"Hello my cousin, ku pikir kamu tidak mengingatku lagi,"
"Tidak mungkin aku melupakan wanita cerewet sepertimu."
"Hei, enak saja bilang aku cerewet. Oh iya aku akan menikah, datanglah kemari hari sabtu nanti,"
"Oh ya? selamat yah, tapi sepertinya aku sibuk,"
"Oh, ya sudah kalau begitu, tapi ingat satu hal, jangan pernah injakkan kakimu lagi di negaraku, aku blacklist namamu sampai ke cucu-cucumu."
"Wih, jangan pikir cucu dulu, carikan dulu neneknya baru pikir cucunya," ujar Calvin yang kali ini membuat tawa Shally pecah di seberang telefon.
__ADS_1
"Hahahah, jangan bilang kamu masih jomblo sampai sekarang Calvin,"
"Ya mau gimana lagi,"
"Makanya kemarilah, agar aku bisa memperkenalkanmu dengan temanku disini,"
"Baiklah, akan aku usahakan,"
"Okey my cousin, see you."
"Dasar, dari dulu sampai sekarang gadis ini tidak berubah-berubah," gumam Calvin sambil tersenyum.
Pagi yang cerah menyambut, memberi semangat kepada setiap manusia untuk kembali mengejar impian mereka. Tak terkecuali bagi Rachel, seorang gadis muda jenius yang sudah mampu mendirikan perusahaannya sendiri di usia yang masih sangat muda.
Setelah pamit dengan sang ayah, Rachel keluar dari rumahnya dengan begitu anggun. Jika dulu penampilannya terkesan biasa saja, bahkan seperti acuh dengan gayanya yang kadang seperti wanita tomboy, saat ini justru Rachel lebih memperhatikan penampilannya, sederhana namun tetap anggun dengan rambut coklat yang ia biarkan tergerai indah.
"Pagi nona," sapa Morgan yang sudah menunggunya di mobil sejak tadi.
"Pagi juga Morgan," balas Rachel singkat.
Semenjak Edward hendak menjodohkannya dengan Morgan, Rachel seolah ingin menjaga jarak dengannya, dan tentu itu disadari oleh Morgan.
Suasana di mobil tampak hening, "Hmm, nona, apa ada masalah?" tanya Morgan memecah keheningan.
"Apa nona yakin?"
"Tentu saja."
Suasana kembali hening, Rachel yang merasa tidak nyaman dengan keadaan saat ini memutuskan untuk membuka tabnya dan mengecek email yang masuk.
Setelah sekian lama emailnya yang bernama Michel diam tak memberi informasi pesan apapun, kali ini emailnya menampilkan satu pesan masuk. Rachel langsung membukanya.
"Shally?" gumamnya saat melihat nama Shally sebagai pengirimnya.
Shally
Hello Michel, long time no see.
Aku sudah lama ingin menghubungimu tapi kenapa kamu seperti hilang di telan bumi, sangat sulit bagiku untuk bisa menghubungimu. Dan bodohnya, aku baru mengingat alamat email yang pernah kamu berikan padaku.
Oh iya, Aku bermaksud mengundangmu di acara pernikahanku sabtu nanti pukul 9 malam. Ingat, kamu harus datang, jika tidak, maka aku akan memusuhimu hingga 7 turunan.
Rachel bergidik ngeri membaca ancaman terakhir Shally, namun sesaat kemudian ia tersenyum bahagia karena sejujurnya ia sangat merindukan sahabatnya itu.
--
__ADS_1
Hari pernikahan Shally
Di sebuah hotel mewah, dimana semua tamu undangan telah hadir memenuhi undangan Shally dan keluarganya. Hari ini Shally tampak begitu anggun bak putri di negeri dongeng. Gaun putih yang begitu glamour dan elegan membuatnya semakin berkilau.
Rachel malam itu datang bersama Morgan bagaikan sepasang kekasih. Tentu ini tak lepas dari permintaan Edward yang tidak ingin putri kesayangannya pergi ke acara besar itu sendirian. Dengan gaun berwarna biru muda yang panjang, membuatnya tampak seperti ratu Elsa, sementara Morgan yang kali ini mengikat rambutnya pun tampak seperti seorang pangeran.
"Hai Shally, lama tidak berjumpa denganmu," sapa Rachel, namun yang di sapa justru terlihat melongo.
"Hello, apa kamu tidak mengingatku? Aku Michel," seru Rachel sambil membulatkan kedua tangannya dan menempelkannya seperti kacamata.
"Oh my God, Michel kamu cantik sekali," puji Shally dengan mata berbinar.
"Oh iya, sekarang namaku adalah Rachel, karena beberapa alasan kini aku memakai nama itu," ujar Rachel membuat Shally mengangguk paham karena memang bagi Shally, mengganti nama adalah hal yang biasa.
"Oke baiklah, by the way, apakah dia kekasihmu?" lirih Shally sambil melirik Morgan. Sementara Morgan hanya diam seperti es yang mengikuti ratu Elsa.
"Oh hehe, untuk malam ini anggaplah begitu," bisik Rachel kepada Shally agar Morgan tidak mendengarnya. Shally lantas tertawa mendengar jawaban Rachel.
"Dia tampan sekali," bisik Shally membuat Rachel ikut tertawa.
Setelah puas berbincang-bincang dan melepas rindu, Rachel dan Morgan kini menikmati makanan yang di sajikan.
Sementara itu Calvin yang baru saja datang, langsung mengahampiri Shally.
"Hello Shally," sapa Calvin.
"Hello my cousin, ah sudah ku duga kamu pasti akan datang," ucap Shally dengan raut wajah bahagia.
"Tentu saja aku datang, itu karena aku takut dengan ancamanmu," canda Calvin membuat wajah bahagia Shally memudar seketika.
"Ish, dasar sepupu macam apa kamu ini, datang karena ancaman," gerutu Shally dengan wajah manyunnya.
"Udah-udah, bibirnya nggak usah dimonyong-monyongin kayak gitu, udah kayak bebek aja," ujar Calvin.
"Hei, itu kata-kataku, hanya aku yang boleh menggunakan kata-kata itu padamu," sela Shally, tak lama setelah itu mereka tertawa bersama.
"Jadi bagaimana? Apa kamu ingin aku carikan kekasih dari kalangan teman-temanku? Tapi sayang sekali, sahabatku satu-satunya yang dulu ingin ku perkenalkan padamu sekarang telah memiliki kekasih,"
"Nggak perlu, gini-gini banyak yang mau kok. Memangnya kamu punya sahabat?"
"Apa kamu lupa, waktu kuliah dulu aku kan ingin memperkenalkanmu pada sahabatku yang bernama Michel, eh sekarang namanya Rachel, tapi nggak kesampaian, apalagi malam ini dia datang bersama kekasihnya."
Degh
Jantung Calvin berdegup kuat saat mendengar nama itu. "Apa? Kekasih?" batin Calvin.
-Bersambung-
__ADS_1