
Pagi itu, Zayyand melajukan motornya membelah jalan yang mulai padat dengan kendaraan. Kali ini ia tidak sendiri, sebab saat ini Alice berada di belakangnya.
Hampir tidak ada pembicaraan di antara mereka, entah kenapa, Zayyand merasa sangat canggung di kala bersama gadis itu, padahal ia tidak secanggung itu saat memergoki Alice pertama kalinya.
Begitupun Alice yang begitu gugup saat berada sedekat ini dengan pria yang sudah lama ia kagumi, jantungnya berdebar kuat bagai gendang yang bertalu-talu tiada henti di dalam dadanya.
Hingga akhirnya mereka tiba di kampus masih dalam keadaan diam. Perlahan Alice turun dengan berpegangan pada motor dan bukan pada Zayyand, sungguh ia benar-benar tidak berani menyentuh pria itu.
"Te-terima kasih," ucap Alice terbata-terbata, lalu hendak pergi meninggalkan Zayyand.
"Tunggu!" seru Zayyand menghentikan langkah Alice, "apa kamu bisa pergi ke kelasmu sendiri?" lanjutnya.
"I-iya bisa," jawab Alice lalu pergi menuju koridor kampus.
Namun baru beberapa meter dari Zayyand, Alice langsung berbalik arah dan kembali ke tempat dimana Zayyand berada dengan tubuh yang kembali bergetar dan keringat dingin.
"Ada apa?" alis Zayyand mengerut saat melihat raut wajah pucat dari Alice yang kini bersembunyi di belakang Zayyand tanpa menjawab pertanyaannya.
Zayyand mengalihkan pandangannya pada tempat dimana Alice tadi pergi, dan ia langsung mengangguk paham saat ia melihat beberapa pria berjalan di tempat itu.
"Tidak apa-apa, mereka tidak akan memakanmu," canda Zayyand tanpa menoleh ke belakang.
"Tapi mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih menakutkan dari memakanku," cicit Alice, membuat Zayyand berbalik menghadap ke arahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Zayyand bingung.
"Jika waktu itu pria jahat memakanku, tentu aku sudah tidak ada di dunia ini dan merasakan trauma mendalam yang menyiksa batinku," tutur Alice sambil menunduk.
"Apa yang sudah di lakukan pria jahat kepadamu sampai kamu sangat takut seperti ini?" tanya Zayyand kembali.
"Lupakan saja, aku tidak ingin mengungkit luka lama," gumam Alice.
"Maaf jika pertanyaanku telah membuatmu merasa tidak nyaman," lirih Zayyand, "sekarang, ikutlah denganku, aku akan mengantarmu ke ruang kelas yang sesuai dengan jadwal kuliahmu pagi ini," lanjutnya mulai melangkahkan kakinya lebih dulu menyusuri koridor kampus di ikuti Alice.
Zayyand terus melangkah ke arah kelas yang ia maksud, hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan kelas itu. Namun, karena Alice yang berjalan sambil menunduk karena risih dengan banyak pria, membuatnya menabrak punggung Zayyand yang memiliki postur tubuh tinggi hingga membuatnya mundur ke belakang.
Zayyand yang merasa mendapat tubrukan di punggungnya langsung berbalik, dan mendapati Alice kini sedang mengusap kening dan hidungnya yang memerah bagai tomat.
__ADS_1
Senyuman tipis kembali terlihat di wajahnya, ia merasa lucu dan gemas melihat ekspresi Alice. "Masuklah, ini kelasmu, jika ada apa-apa, langsung tekan tombol pada alat ini, ini akan langsung terhubung kepadaku dan juga memperlihatkan dimana lokasimu," ujar Zayyand sambil memberikan sebuah alat yang pernah di buat oleh Rachel.
"Baik, terima kasih," ucap Alice setelah mengambil alat itu.
Alice kemudian masuk ke dalam kelasnya, meskipun tubuhnya tidak lagi bergetar hebat seperti dulu saat baru saja mendapat trauma, namun ia masih merasa khawatir berlebihan. Sambil berjalan, ia menautkan kedua tangannya untuk meminimalkan tangannya yang sedikit bergetar.
Rasa tidak nyaman menjalar dalam dirinya, apalagi saat tatapan teman sekelasnya kini mengarah pada dirinya yang berpenampilan culun.
Alice mengambil salah satu kursi di bagian depan, namun seorang gadis merebutnya lebih dulu.
"Hei, ini kursiku," ucap gadis itu ketus.
"Oh maaf," ucap Alice lalu mencari tempat kosong yang berada di belakang. Merasa ada yang aneh dari teman di kelasnya, Alice mencoba bersikap acuh dan terus berjalan.
Perlahan ia duduk di kursi yang berada di pojok belakang. Tak lama setelah itu, beberapa teman wanita datang mengerumuninya.
"Hei, siapa namamu?" tanya salah seorang gadis.
"Aku Alice," jawab Alice sambil tersenyum.
"Terima kasih," jawab Alice sambil tersenyum tipis, namun senyuman itu hilang saat ia merasa rambutnya kini di tarik kuat.
"Hei, hentikan, itu menyakitiku," ujar Alice sembari melepas tangan temannya dari rambutnya.
"Oops, ku kira kau menyukainya, dasar gadis idiot, culun," sarkas gadis itu dengan melemparkan tatapan sinis, membuat teman-temannya yang lain tertawa.
"Lihatlah, kacamatanya sungguh lucu," ujar salah satu gadis yang berada di hadapannya sambil menarik kacamata Alice hingga terlepas.
Seketika mereka semua terdiam, mereka benar-benar tidak percaya akan sosok wajah asli gadis yang mereka sebut culun.
"Kenapa kalian diam? Apa kalian hanya berani mengganggu gadis yang terlihat culun? Ku harap kalian hentikan itu," tegas Alice lalu mengambil kacamatanya dan memakainya kembali.
Tak lama setelah itu, dosen masuk ke dalam kelas mereka dan membuat kerumunan tadi bubar. Pelajaran hari itu pun dimulai, hingga tak terasa jam kuliah Alice hari itu berakhir. Alice berjalan keluar kelas seorang diri dengan sedikit khawatir, sebelumnya ia telah mengirimkan pesan kepada Zayyand kalau jadwal kuliahnya telah selesai, namun Zayyand tidak meresponnya.
"Hallo Alice," sapa gadis yang tadi menarik rambutnya.
Alice tak merespon dan terus melanjutkan jalannya. Namun, lagi-lagi kacamata Alice di rebut oleh gadis itu, membuat Alice dengan cepat mencegat tangannya, "sudah ku katakan jangan menggangguku," desis Alice dengan mencengkram kuat tangan gadis itu hingga ia meringis kesakitan.
__ADS_1
"Hei, jangan sakiti kekasihku," ujar seorang pria yang datang bersama 2 teman pria mendekati Alice yang saat ini tidak memakai kacamata.
Tubuh Alice seketika bergetar kembali, cengkaramannya melemah dan melepaskan tangan gadis yang tadi mengambil kacamatanya.
"Brian, cantik sekali gadis ini," ucap salah satu pria itu sambil mendekati Alice.
"Ja-jangan mendekat," pekik Alice berjalan mundur dengan wajah pucat, tangannya lalu masuk ke dalam saku untuk menekan tombol alat yang di berikan Zayyand kepadanya tadi pagi.
"Kenapa kau begitu takut cantik," ucap salah satu pria itu hendak menyentuh wajah Alice namun sebuah tangan menahan tangan itu.
"Hei apa-apaan kau ini? Lepaskan tanganku!" gertak pria itu.
"Jangan seenaknya menyentuh wanita bro," ujar Zayyand yang tiba-tiba sudah berada di samping Alice tanpa melihat Alice, ia hanya melihat rambutnya dari belakang dan langsung mengenalinya saat mendapat panggilan darurat dari Alice, sementara Alice dengan cepat sembunyi di belakang Zayyand.
"Apa urusanmu? dia akan menjadi wanitaku," ucap pria itu dengan lantang.
"Siapa bilang, dia wanitaku, hanya aku saja yang bisa berada di dekatnya," ujar Zayyand.
"Apa?" pekik pria itu hendak memberikan pukulan pada Zayyand, namun slaahbsatu temannya menahannya.
"Hei, tenanglah, ingat kita masih berada di lingkungan kampus," seru temannya mengingatkan.
"Pergilah, jangan ganggu lagi wanitaku maupun wanita lain," tegas Zayyand, membuat tiga pria itu kesal dan langsung pergi meninggalkan mereka.
"Kamu tak ap..-" ucapan Zayyand terputus saat ia berbalik dan melihat Alice yang kini berada di hadapannya tanpa kacamata.
"Maaf, sepertinya aku salah orang," ucap Zayyand salah tingkah lalu hendak pergi, membuat Alice mengenyit bingung.
"Eh, kamu mau kemana?" ujar Alice sambil menarik baju Zayyand.
"Aku ingin mencari temanku, Alice," jawab Zayyand.
Alice seketika menahan senyumnya, "Aku Alice," jelasnya.
Zayyand terdiam, ia lalu berbalik ke arah Alice lalu menatap lekat wajah gadis bermata biru di hadapannya, "benar, matamu sama," ujarnya sambil nyengir bodoh.
"Eh tunggu dulu, apa kita pernah bertamu saat kamu tidak memakai kacamata? Aku merasa wajahmu seperti tidak asing," selidik Zayyand.
__ADS_1