Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 39 Darold Hilang


__ADS_3

Pagi yang cerah nan indah, seindah wajah cantik seorang gadis yang sedang tersenyum-senyum sendiri sambil menikmati sarapan paginya dengan earphone yang menempel sempurna di telinganya.


Dengan bantuan Morgan, tangan kanan Edward, ia berhasil memasang penyadap suara di rumah dan ruang kerja Darold. Sebenarnya ia ingin turun tangan membantu Morgan, namun rupanya Edward tidak mengizinkannya.


Saat ini, Michel sedang mendengar percakapan Darold dan William di rumahnya. Dalam percakapan itu, Michel mendengar bahwa malam ini Darold akan mengadakan rapat rahasia dengan klan Black Wolf terkait rencananya untuk menangkap Rachelia Edward.


"Baiklah, sebelum anda menangkapku, aku pastikan anda yang tertangkap lebih dulu," gumamnya sambil menyeringai lalu menyelesaikan sarapanya dan langsung bergegas ke tempat kerjanya, tak lupa ia mengenakan kacamata bulatnya sebagai ciri khas seorang Michel.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, Michel kini telah tiba di DA Group tepat pukul 07.30. Ia sengaja datang lebih awal untuk menghindari pertemuannya dengan Rena yang hanya akan membuat mood di pagi harinya menjadi rusak.


Dengan langkah santai, ia berjalan meninggalkan area parkiran mobil, namun di tengah jalan, langkahnya terhenti karena panggilan seseorang yang suaranya sudah sangat ia kenali.


"Michel.." panggil seorang pria dari belakang.


Michel refleks berbalik ke arah sumber suara, "Calvin?" lirihnya saat melihat Calvin yang kini berjalan ke arah dirinya.


Tak ingin menambah siksa batinnya dengan bertemu Calvin, Michel hendak pergi, namun tangan kekar Calvin berhasil meraih tangan Michel sehingga dengan terpaksa ia harus berhenti.


"Lepaskan tanganku!" ketus Michel saat melihat Calvin masih memegang erat pergelangan tangannya.


"Maaf, bisa kah kita bicara sebentar?" tanya Calvin lirih sembari melepas tangan Michel.


"Bicaralah sekarang," jawab Michel singkat.


Calvin menghela nafas kasar, ia benar-benar merasa tidak nyaman dengan sikap Michel kepadanya saat ini, "sebelumnya aku ingin bertema kasih kepadamu, karena bantuanmu kemarin, aku berhasil bertemu dengan ibuku," ucapnya kemudian, sementara Michel hanya bergeming, meski di dalam hatinya yang paling dalam ia juga merasa bahagia dan legah.

__ADS_1


"Michel, apakah tidak ada kesempatan bagiku untuk bisa dekat denganmu?" Calvin kembali bertanya dengan wajah sendu.


"Maafkan aku, sebaiknya kita memang seperti ini, tidak perlu dekat," jawab Michel lirih.


"Please Michel, jangan seperti ini, aku benar-benar bingung dengan sikapmu ini, aku tulus mencintai kamu," terang Calvin, membuat jantung Michel semakin berdegup kencang.


"Maafkan aku Calvin," jawab Michel hendak pergi, namun langkahnya kembali terhenti oleh pertanyaan Calvin.


"Tapi kenapa? setidaknya beri aku alasan kenap kamu ingin menjauhiku," tukas Calvin.


Dengan lesu, Michel berbalik ke arah Calvin, "jika kamu penasaran dengan alasanku menjauhimu, maka tunggulah jawabannya malam ini, kamu akan mendapatkan jawabannya," jawab Michel lalu pergi meninggalkan Calvin yang menatapnya menjauh dengan tatapan sendu.


"Apa yang ingin kamu tunjukkan padaku Michel? apa yang kamu rahasiakan?," batin Calvin pergi meninggalkan tempat itu.


Hingga akhirnya, tujuan terakhir Calvin tertuju pada perusahaan yang ia yakini milik ayahnya, tempat Michel bekerja. Setelah menunggu 30 menit, akhirnya ia berhasil bertemu Michel, namun kembali kekecewaan ia bawa pulang.


--


Kini matahari telah tergelincir ke ufuk Barat, menyisakan warna orange dan biru yang indah di pandang mata. Michel dengan pakaian serba hitam duduk di dalam mobilnya yang sejak tadi telah terparkir di depan gerbang gedung DA Group.


Tak lama setelah itu, mobil Darold keluar dari gerbang dengan di ikuti oleh satu mobil yang selalu mengawalnya.


"Target telah keluar," lapor Michel pada Morgan dan timnya melalui earpiece.


Michel mulai melajukan mobilnya mengikuti mobil Darold dan pengawalnya dari jarak jauh. Saat memasuki jalan sepi, tiba-tiba beberapa mobil merah melaju melewati mobil Darold dan langsung menghadang jalannya.

__ADS_1


Darold tentu tidak keluar dari mobil, sebab para pengawalnya yang keluar dari mobil terlebih dulu untuk melindunginya. Pertarungan antara tim Morgan dengan pengawal Darold kini tak dapat di elakkan.


Saat melihat semua anak buahnya yang bertarung mulai kewalahan, Darold segera meraih ponselnya hendak menghubungi anak buahnya yang lain, namun tiba-tiba gerakannya terhenti saat seorang gadis dengan pakaian serba hitam, lengkap dengan masker dan topi hitam masuk ke dalam mobilnya dan duduk tepat di sampingnya.


"Siapa kau?" tanya Darold sedikit terkejut, namun gadis tersebut hanya bergeming. Tangan Darold mulai merayap hendak mengambil pistol yang ia simpan di balik jaznya, namun belum sempat ia mengambilnya, ia merasakan sesuatu menusuk lehernya.


Dengan cepat ia berbalik dan mengarahkan pistol yang berhasil di raihnya pada wanita itu, namun kesadarannya perlahan-lahan mulai hilang.


--


Di markas Black Wolf


William dan para anak buah Darold telah menunggu kedatangan Darold sejak tadi. Namun sampai saat ini, belum ada tanda-tanda kedatangannya.


William mencoba menghubungi ponsel Darold, namun sayang, ponselnya sedang tidak aktif. William kembali mencoba menghubungi pengawal Darold, namun hasilnya sama saja. Seolah Darold dan semua anak buah yang mengawalnya hilang entah kemana.


"Pak William, apa yang terjadi dengan bos kita?" tanya Marco yang merupakan anggota Black Wolf yang sudah lama bersama Darold dan William.


"Aku tidak tahu, sepertinya terjadi sesuatu padanya. Tidak biasanya Bos kita ini terlambat datang jika sudah menetapkan waktu rapat," jawab William.


"Apa sebaiknya kita mencarinya? Ini sudah 1 jam dari waktu yang ditentukan untuk rapat," ujar Marco.


-Bersambung-


Note: Earpiece adalah sebuah alat komunikasi rahasia, biasanya di gunakan oleh pasukan pengawal khusus presiden yang diletakkan di telinga.

__ADS_1


__ADS_2