
"Calvin," lirih Rachel bersamaan dengan air mata yang seketika menetes ke pipinya.
Yah, saat ini pria bernama Archer itu telah melepas kacamata dan kumis palsu yang sejak tadi ia gunakan, rambut yang tadi terlihat culun kini telah ia perbaiki sehingga kini tampak seperti rambutnya sebagaimana biasa.
Melihat wajah terkejut Rachel, pria yang ternyata adalah Calvin justru tersenyum bahagia. Ingin rasanya ia langsung memeluk gadis di hadapannya itu, tapi ia tahu Rachel tidak akan menyukainya sehingga ia lebih memilih menahannya.
"Kenapa kamu ada disini? jika ayahku tahu kamu bisa dimarahi olehnya," cicit Rachel kemudian setelah menetralkan perasaannya meski tidak dengan degupan jantungnya yang masih setia bertalu-talu.
"Apa maksudmu? Aku disini memang untuk kencan dengan calon istriku," jawab Calvin santai, mendengar kata calon istriku dari mulut Calvin, wajah putih Rachel seketika merona merah.
"Tapi bagaimana bisa? Ayahku yang mengatur ini untuk kencan buta," ujar Rachel masih tidak percaya.
"Apa ayahmu belum memberi tahumu bahwa beliau telah merestui kita untuk menikah? Itu sebabnya aku meminta bantuan tuan Robert agar membantuku berbicara dengan ayahmu untuk mengatur ini semua, ini surprise dari kami bertiga," terang Calvin.
Mendengar penjelasan Calvin, Rachel refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya, seolah masih tidak percaya. Tak berselang lama, ponsel Rachel berdering, nama 'Ayah' terpampang jelas di layar ponselnya.
"Halo, ayah," Rachel menjawab dengan suara sedikit tercekat.
"Sayang, apa kamu sudah mendapat surprise dari pria itu?" tanya Edward di seberang telepon.
"Su-sudah ayah," jawab Rachel.
"Oke, ayah hanya ingin mengkonfirmasi ulang jika kamu masih tidak percaya dengan apa yang kamu hadapi saat ini, ayah telah merestui kalian untuk menikah, berbahagialah sayang, ini hadiah dari ayah atas kesabaranmu dalam menjaga perasaan ayah hingga cintamu sendiri kamu korbankan," jelas Edward, air mata Rachel kini kembali luruh.
"Terima kasih ayah," cicit Rachel.
"Apa kamu bahagia sayang?" tanya Edward.
Rachel menatap Calvin yang masih tersenyum di hadapannya, "iya ayah, Rachel sangat bahagia," jawab Rachel dengan lelehan air mata bahagia yang kian mengalir.
"Baiklah, nikmati surprise selanjutnya dari pria di hadapanmu, ayah sudah serahkan semuanya kepada dia," ujar Edward lalu memgakhiri teleponnya.
"Bagaimana? Kamu sudah percaya kan sekarang?" tanya Calvin dan Rachel mengangguk.
"Baiklah, sekarang aku ingin bertanya kembali, Rachelia Edward, will you marry me?" Calvin mengulang pertanyaannya.
Rachel mengangguk, "yes, I will," jawab Rachel membuat mata Calvin kini ikut berkaca-kaca. Penantiannya selama kurang lebih 4 tahun kini berbuah manis. Tidak ada lagi tembok yang menghalangi mereka. Yang ada saat ini hanyalah cinta yang mekar dengan begitu indah di antara keduanya.
Setelah menyelesaikan makan, Calvin kini membawa Rachel ke sebuah salon.
__ADS_1
"Kita mau ngapain disini?" tanya Rachel bingung.
"Masuklah, maka kamu akan tahu jawabannya," jawab Calvin.
Rachel pun mulai berjalan masuk bersama Calvin, di dalam salon rupanya telah menunggu seorang penata rias handal yang siap merias wajah Rachel.
Rachel pun di bawa ke sebuah kamar untuk di rias dan dipakaikan gaun hasil pilihan Calvin atas pertimbangannya bersama Rossa, begitupun dengan Calvin yang kini mengganti pakaiannya dengan setelan tuxedo pilihannya sendiri.
Rachel begitu takjub saat melihat pantulan dirinya di dalam cermin, wajah cantiknya kini kian cantik saat memakai riasan, rambut cokelat yang tadinya tergerai kini di sanggul sedemikian rupa dengan menambahkan mahkota kecil di atas kepalanya sehingga kini ia tampak seperti seorang putri. Tubuhnya yang ramping kini di balut dengan gaun berwarna putih yang sangat indah.
Calvin sengaja memilih gaun yang tertutup karena ia tahu bahwa Rachel tidak menyukai pakaian yang terbuka.
Di samping ketakjubannya, Rachel juga merasa sedikit bingung, apa yang akan ia lakukan? Kenapa ia memakai gaun ini? Apakah ini hanya fitting baju atau bagaimana? Deretan pertanyaan muncul di benaknya.
Tak lama setelah itu, Rachel pun di bolehkan untuk keluar dari kamar rias, ia berjalan perlahan dan mendapati Calvin yang juga baru saja keluar dari kamar ganti dengan setelan tuxedo berwarna hitam.
Kedua netra mereka saling bertemu, Calvin yang melihat Rachel tampak begitu cantik tidak dapat berkata-kata, rahangnya terbuka tanpa ia sadari.
"Ekhem, awas lalat masuk," tegur Rachel seketika membuyarkan ketakjuban Calvin sekaligus membuyarkan suasana dramatis yang menampilkan dua orang yang saling mencintai sedang memandang dengan penuh cinta.
"Eh, hehe, kamu udah siap? Yuk," ajak Calvin mengalihkan salah tingkahnya.
"Udah ikut saja," ujar Calvin lalu menarik tangan Rachel dengan lembut.
Tanpa perlawanan sedikitpun, Rachel mengikuti kemana Calvin membawanya. Kurang lebih 30 menit, kini mereka tiba di sebuah hotel mewah.
Calvin turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobil untuk Rachel. Perlahan Rachel keluar dari mobil dan sekali lagi ia mendapat surprise dimana ayah Edward, papa Robert, mama Nola, mommy Rossa, telah menyambut kedatangan mereka di depan hotel.
Rachel menoleh ke arah Calvin dengan perasaan haru yang tidak terkira. Sementara Calvin yang melihat tatapan haru dari Rachel hanya tersenyum sembari mengangguk.
"Hari ini adalah hari bersejarah bagiku, dimana aku melamarmu dan menikahimu di hari yang sama," tutur Calvin.
"Menikah? Secepat ini?" tanya Rachel dengan mata membola.
"Ini tidak cepat, aku sudah menunggu selama kurang lebih 4 tahun hingga sampai pada momen ini, apakah kamu tidak menyukainya?" tanya Calvin dengan raut wajah serius.
"Ti-tidak, hanya saja aku sedikit terkejut, aku seperti bermimpi," cicit Rachel.
__ADS_1
"Ini bukan mimpi sayang, kemarilah, sebentar lagi prosesi sakral nikah kalian akan dimulai," ucap Rossa lalu membawa Rachel masuk ke dalam hotel bersama mama Nola, sementara para pria berjalan di belakang.
"Ayah, papa, terima kasih sudah membantuku," ucap Calvin saat berjalan bersama Edward dan Robert.
"Hei, kenapa kau ikut memanggilku ayah dan Robert papa?" tanya Edward sedikit ketus.
"Hehe, sebentar lagi kan Rachel akan menjadi istriku, itu berarti panggilanku akan sama dengan Rachel," jawab Calvin sambil nyengir.
"Itukan berlaku sebentar lagi dan bukan sekarang," ketus Edward lalu meninggalkan Calvin dan Robert.
"Sabarlah, tuan Edward memang orangnya sedikit keras, tapi jauh di dalam hatinya, dia memiliki sifat penyayang," ucap Robert membuat Calvin sedikit tenang.
Setelah melalui semua tahap prosesi sakral pernikahan, kini Rachel dan Calvin telah resmi menjadi pasangan suami istri.
"Rachel, boleh kah aku mencium keningmu?" tanya Calvin di saat mereka akan naik ke panggung pengantin.
Wajah Rachel seketika merona, "ta-tapi sekarang banyak orang, aku malu," cicit Rachel.
"Memang banyak, tapi saat ini mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing," ujar Calvin tersenyum.
Rachel menoleh kesana kemari sebelum akhirnya ia mengangguk malu.
Calvin tersenyum sumringah kemudian ia mendekatkan bibirnya ke arah kening Rachel.
Cup
Calvin mencium kening Rachel dengan lembut cukup lama, menyalurkan rasa rindu yang teramat dalam terhadap gadis yang sangat ia cintai selama ini. Begitupun Rachel yang menutup mata ikut merasakan sentuhan lembut Calvin di keningnya. Namun, ia merasa aneh saat kecupan itu perlahan turun dan mencium hidungnya, dan perlahan turun mendekati bibirnya, namun tiba-tiba..
"Ekhem.. Bisakah aksi kalian ini kalian lanjutkan nanti di kamar? Para tamu menunggu kalian untuk memberikan ucapan selamat kepada kalian," celetuk Shally yang baru tiba bersama suaminya.
"Ehh Shally, kapan kamu datang?" tanya Rachel sedikit salah tingkah.
"Baru saja, aku baru tahu ternyata selama ini kamu tinggal di kota yang sama denganku dan kamu tidak pernah menyapaku? Dan apa ini? Rupanya kalian memiliki hubungan di belakangku tanpa sepengetahuanku? OMG teman macam apa kalian?" dumel Shally dalam satu tarikan nafas, membuat Rachel dan Calvin saling menatap sejenak dengan perasaan bersalah.
"Astaga, sepupuku yang baik hati, maafkan kami, kami memiliki alasan kenapa selama ini kami tidak memberi tahumu semuanya. Jangan marah please," bujuk Calvin membuat Shally yang tadinya menampakkan wajah kesalnya langsung tersenyum.
"Okelah, aku tidak akan marah kepada kalian, asal malam ini Rachel tidur bersamaku," tandas Shally sambil menaik turunkan alisnya, membuat Calvin dan suami Shally seketika melotot.
"Apa?" pekik Calvin dan suami Shally bersamaan.
__ADS_1
Sementara Shally dan Rachel saling memberikan tatapan jahil satu sama lain.
-Bersambung-