Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 22 Bersifat Rahasia


__ADS_3

Malam hari di Cafe Rolex


Seorang pria sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Dengan laptop dan beberapa lembar materi berada di meja. Jangan lupakan piring berisi cemilan, 1 gelas Americano dan 2 gelas kosong lainnya yang menjadi bukti bahwa sudah cukup lama pria itu ada disana.


"Hufth." Calvin menghembuskan nafas kasar sembari mengacak-ngacak rambutnya.


"Gara-gara dosen killer itu, niat hati ingin menjenguk Michel, malah berakhir disini, sendirian lagi, nasib nasib" gerutunya.


Baru selesai menggerutu sendiri, mata Calvin tiba-tiba berbinar saat melihat sosok yang sangat ingin ia lihat sejak kemarin kini berada dihadapannya. Tangannya refleks merapikan kembali rambutnya yang tadi berantakan.


"Hai Michel," sapa Calvin dengan semangat yang kembali berkibar setelah tadi sempat layu.


"Hai Calvin," sapa Michel, lalu duduk di meja favoritnya yang bersebelahan dengan meja Calvin.


"Aku gabung yah," ujar Calvin lalu duduk di hadapan Michel.


Michel melihat Calvin lalu beralih melihat meja Calvin yang penuh dengan kertas, "Calvin, bukannya kamu ada tugas?"


"Udah selesai kok?" bohong Calvin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan itu berhasil ditangkap oleh Michel, sehingga Michel tahu bahwa saat ini Calvin sedang berbohong.


"Oh iya, aku ingin mengembalikan jaketmu yang kemarin aku pinjam, terima kasih banyak." Michel memberikan paper bag berisi jaket kepada Calvin.


"Iya, lagian kalau kamu mau ambil juga nggak papa kok," tukas Calvin dan Michel hanya tersenyum kikuk.


"Hmm Calvin, aku mau minta maaf sebelumnya,"


"Iya, ada apa?"


"Sebentar lagi, teman kantor aku akan datang, kami ingin membicarakan masalah kantor yang bersifat rahasia, jadi aku minta tolong, saat dia datang nanti kamu bisa tidak memberikan kami ruang untuk berbicara berdua saja?"


"Hah?" Calvin bergeming, ia mencerna apa yang dikatakan Michel barusan.

__ADS_1


"Oh i-iya, nggak papa kok, nanti kalau teman kamu datang, aku akan kembali ke tempatku," lanjut Calvin kemudian.


"Mohon maaf banget yah Calvin." Michel sungguh merasa tidak enak pada Calvin.


"Iya, santai saja. Teman kamu perempuan..-" ucapan Calvin terhenti saat suara bariton seorang pria menyapa Michel.


"Hai Michel, maaf aku terlambat," sapa Franz lalu duduk disamping Michel.


Calvin menoleh dengan mulut yang masih terbuka, "astaga... ternyata laki-laki, ganteng lagi," monolog Calvin dalam hati.


"Hai Franz, kenalkan ini temanku Calvin," sapa Michel lalu memperkenalkan Calvin pada Franz. Mendengar namanya disebut, Calvin langsung tersadar dari lamunannya.


"Franz," ucap Franz mengulurkan tangan untuk berkenalan.


"Calvin," ucap Calvin menerima uluran tangan Franz. Cukup lama Calvin menahan tangan Franz dengan kuat, bahkan Franz sudah berusaha menarik tangannya namun sepertinya Calvin enggan melepasnya.


"Ekhem," suara Michel menyadarkan Calvin dan seketika melepas tangan Franz.


"Ini orang ada masalah apa sih sama aku?" batin Franz menatap tajam pria yang saat ini sedang menatap tajam padanya.


"Bagaimana Michel, apa yang kamu dapatkan?" lirih Franz memulai pembicaraan mereka.


"Sini aku perlihatkan." Michel membuka laptopnya dan memperlihatkan folder yang berisi semua bukti kejahatan Darold di perusahaan.


"OMG," ucap Franz menutup mulutnya agar tak terdengar oleh orang-orang.


Saat ini Calvin sangat penasaran apa yang sedang mereka bicarakan, posisi Michel dan Franz saat ini duduk menghadap ke Calvin, sehingga secara otomatis laptop Michel membelakangi Calvin, dan itu bukan sesuatu yang baik untuk Calvin, karena selain ia tidak bisa mengintip di laptop mereka, Calvin juga harus melihat wajah dan ekspresi mereka berdua saat berbicara.


"Franz, apa kamu tahu cara meretas?" tanya Michel lirih.


"Nggak, aku hanya ahli dalam bidang merakit atau memperbaiki hardware komputer, kalau mengenai jaringan dan software aku tidak terlalu ahli," jawab Franz jujur.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu ingin sekali mengambil data di data center kemarin, emang kamu tahu caranya?"


"Kalau cara menyambungkannya sih aku tahu, tapi aku butuh teman yang lebih ahli untuk membimbingku,"


"Oke sekarang gini, aku sudah mengirimkan surel ke pihak kepolisian kemarin, dan sekarang aku sedang menantikan responnya, jika pihak polisi menanganinya, berarti tujuan kita selesai. Tapi jika besok atau beberapa hari ke depan, aku atau kamu tiba-tiba dipanggil pihak perusahaan atau pihak Darold, berarti ada oknum polisi yang bekerja sama dengan Darold," papar Michel lirih.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan jika mereka benar-benar memanggilku, Michel?" tanya Franz sedikit khawatir.


"Tenang saja, kamu hanya perlu merahasiakan apa yang sudah ku lakukan, sisanya, jawablah dengan jujur. Kemungkinan mereka juga akan mengecek gadget dan laptopmu, jika gadget dan laptopmu tidak pernah kamu gunakan untuk aktivitas meretas, maka kamu akan aman," terang Michel lirih membuat Franz mengangguk paham.


"Oh iya Franz, di kantor bagaimana penilaianmu terhadapku? jawab dengan jujur yah" tanya Michel lagi.


"Hmm.. maaf yah sebelumnya. Jujur saja, kalau aku melihatmu di kantor, kamu itu culun dan agak lambat loading, jadi kadang para atasan kesal melihat kinerja kamu yang lambat dan sering salah," tutur Franz.


Michel tersenyum mendengar kejujuran Franz, berarti usahanya selama ini berjalan dengan baik. "Bagus, jika seandainya kamu ditanya mengenai aku, maka jawablah seperti itu."


"Tapi, kamu aslinya ternyata genius yah, aku salut sama kamu," puji Franz tersenyum.


"Hussst, jangan pernah mengungkit itu Franz," celetuk Michel


"Baik Michel, maafkan aku." Sekali lagi Franz tersenyum melihat wajah putih Michel yang merah merona saat dipuji.


Sementara dihadapan mereka, ada sosok yang sejak tadi menatap sinis ke arah Franz yang selalu tersenyum memandangi Michel.


"Apa yang mereka bicarakan? kenapa dia tersenyum? kenapa wajah Michel memerah seperti itu? apakah pria itu menggodanya?" Batin Calvin sembari meremas kertas yang ada di depannya.


Menyadari kalau sejak tadi dirinya di tatap sinis oleh Calvin, Franz tentu merasa risih.


"Michel, itu teman kamu kenapa melihatku seperti itu sih, risih bangat aku," bisik Franz kepada Michel.


Sementara Michel langsung beralih melihat Calvin, dan benar saja, wajah Calvin saat ini seperti ingin memangsa Franz saat itu juga.

__ADS_1


Michel hanya mengedikkan bahu sambil menahan tawa menanggapi pertanyaan Franz.


-Bersambung-


__ADS_2