Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 63 Kumpul Keluarga


__ADS_3

"Ini kan alamat rumahku, kenapa dia ada disana?" gumam Rachel, lalu mereka berempat saling menatap.


Beberapa detik kemudian mereka langsung berdiri berhamburan.


"Gawat, ayo kita kesana sekarang," ujar Rachel lalu berlari sambil menarik tangan Calvin.


"Ayo," sahut Rena ikut berlari bersama Morgan di belakang Rachel dan Calvin.


Mereka berempat kemudian berlari bersama keluar hotel dan langsung pergi dengan mobil Rachel menuju ke rumahnya saat ini.


"Morgan, tolong hubungi ayah, papa Robert dan mama Nola agar tetap di hotel untuk saat ini," pinta Rachel yang duduk di samping Calvin yang sedang mengemudikan mobil, sementara Morgan dan Rena duduk di belakang.


"Calvin, apa kamu tahu cara mengendarai mobil?" tanya Rachel.


"Tentu saja sayang, aku pandai meggunakan semua jenis kendaraan," jawab Calvin membuat Rachel sedikit malu saat mendengar panggilan sayang dari sang suami.


Mobil melaju kencang membelah padatnya jalan di pagi hari. Hanya 20 menit perjalanan, kini mereka tiba di dekat rumah Rachel.


"Apa kita sebaiknya masuk ke dalam rumah?" tanya Rachel meminta pendapat Rena.


"Tidak, kalian cukup disini saja, aku sudah menghubungi teman-temanku untuk datang kesini," cegah Rena.


"Tapi pelayanku ada di dalam, aku khawatir mereka akan melukainya," ucap Rachel sedikit khawatir.


"Coba kamu cek CCTV di rumahmu untuk melihat apa yang mereka lakukan saat ini," usul Rena.


Rachel mulai memeriksa CCTV rumahnya melalui laptopnya.


"Aku menemukannya, dia ada di ruang bawah tanah dengan menyandera dua pelayan rumah, mereka membawa senjata tajam," ucap Rachel.


Mereka semua kini memperhatikan layar laptop yang memperlihatkan aksi pria asing itu.


"Oh no! Ucap Rachel saat melihat seorang pria hendak melukai salah satu pelayannya, namun dengan cepat Rachel membunyikan alarm rumahnya yang tersambung dengan ponselnya.


Mendengar alarm berbunyi, pria yang ternyata berjumlah 3 orang itu langsung berjalan naik ke lantai satu meninggalkan dua pelayan itu.


"Lihat! Mereka naik ke lantai satu karena alarm di dalam rumah berbunyi," ujar Rachel.


"Sepertinya salah satu dari kita harus menyusup masuk untuk menyelamatkan pelayan rumah selagi ketiga pria itu naik ke lantai satu?" usul Morgan.


"Biar aku saja," ucap Rachel, "setidaknya aku mengetahui seluk-beluk rumah itu," lanjutnya.


"Tidak, itu berbahaya," cegah Calvin.


"Betul, itu berbahaya nona, biar saya saja," usul Morgan.


"Kalau begitu begini saja, aku akan meretas semua alat elektronik di dalam rumahku, kemudian aku akan hidupkan satu persatu untuk memancing perhatian mereka, saat mereka menjauh dari ruang bawah tanah, maka masuklah lewat pintu belakang," ujar Rachel.


"Nah itu ide yang bagus," ujar Rena.


Setelah berunding sejenak, akhirnya Morgan keluar dari mobil dengan menggunakan earpiece yang menempel di telinganya untuk mendengar aba-aba dari Rachel.


"Nona, apakah mereka memiliki teman lain yang berjaga di ruang bawah tanah?" tanya Morgan melalui earpiece saat sudah berada di pintu belakang rumah.


"Tidak, kamu bisa ke bawah sekarang karena 3 pria itu kini telah berjalan ke arah pintu depan," jawab Rachel.


"Baik nona," ucap Morgan langsung turun ke ruang bawah tanah tempat pelayan rumah itu di sekap.

__ADS_1


Saat salah satu pria hendak turun kembali, Rachel mulai menyalakan TV yang berada di kamarnya, membuat pria itu berbalik arah mencari sumber suara TV itu.


Tak menunggu lama, kini Morgan berhasil mengeluarkan dua pelayan itu dari ruang bawah tanah, sayangnya, salah seorang pria itu melihat Morgan dari lantai dua, sehingga mau tidak mau, Morgan harus bertarung melawan 3 pria itu.


"Morgan ketahuan," ujar Rachel khawatir.


"Biar aku membantunya," usul Calvin hendak turun namun Rachel menahan tangannya sebentar.


"Berhati-hatilah," ucap Rachel sedikit malu karena belum terbiasa bersikap manis kepada suaminya.


Calvin tersenyum dan mengangguk, lalu pergi masuk ke dalam rumah membantu Morgan. Rachel dapat melihat dengan jelas kini Calvin dan Morgan sedang bertarung, namun tak lama kemudian polisi datang. Calvin dan Morgan langsung menghentikan pertarungan mereka saat polisi memasuki rumah dan menangkap 3 pria itu.


Kini Calvin dan Morgan keluar dari pintu depan rumahnya dengan membawa dua pelayannya dengan selamat.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Rachel setelah dua pelayan itu masuk ke dalam mobil.


"Syukurlah kami baik-baik saja nona, mereka hendak membunuh kami, namun mereka urungkan saat mendengar suara alarm berbunyi," jawab salah satu pelayan itu.


"Syukurlah," ucap Rachel lega.


"Apa kalian mengenal tiga pria asing tadi?" tanya Calvin.


"Tidak tuan, hanya saja dia sempat menanyakan keberadaan nona Rachel, namun kami tidak menjawabnya sehingga mereka hampir membunuh kami," jawab salah satu pelayan.


"Sepertinya, masih ada orang yang memusuhiku," lirihnya, "terima kasih karena telah menjagaku," ucap Rachel kemudian, membuat dua wanita yang bekerja sebagai pelayan di rumahnya mengangguk sambil tersenyum.


"Rachel, Calvin dan Morgan, terima kasih karena lagi-lagi kalian membantuku menyelesaikan misiku," ucap Rena yang datang dari luar mobilnya setelah berbincang dengan rekan polisinya.


"Tidak masalah, lagi pula mereka memang menargetkanku jadi aku juga berterima kasih padamu atas informasimu," jawab Rachel.


"Apakah ini masih ada hubungannya dengan Franz? Bisa saja kan dia menyuruh seseorang dari balik jeruji," tanya Calvin.


 ---


Malam telah tiba, semua keluarga dan kerabat dekat kini berkumpul di rumah Rachel untuk menikmati makan malam bersama, termasuk Rossa, Morgan, Dicky, Rena, Shally dan suaminya.


Suasana makan malam tersebut berlangsung sangat hangat, semua saling berbaur. Bahkan tidak terlihat sikap Edward yang dulunya sangat memusuhi keluarga Darold.


Setelah makan malam, kini mereka semua berkumpul di belakang rumah sambil menyalakan api unggun. Semua orang berkumpul mengelilingi api unggun kecuali Edward, Rossa, Robert dan Nola.


Mereka duduk bersama sambil bercerita satu sama lain. Sesekali mereka tertawa bersama.


"Lihatlah, mereka tampak saling mencintai bukan?" ujar Rossa kepada Edward sambil menunjuk Calvin yang merangkul pundak Rachel dan Rachel bersandar di pundak Calvin.


"Ya aku tahu, itu sebabnya aku menikahkan mereka," jawab Edward, "sebenarnya dulu aku mengira Darold tidak memiliki keluarga karena tak pernah sekalipun ia memperlihatkan keluarganya," lanjut Edward.


"Itu karena aku di asingkan," jawab Rossa.


"Apa maksudmu di asingkan?" tanya Edward bingung.


"Yah, dulu saat aku mengandung Calvin, aku memutuskan untuk pergi dari kehidupan Darold yang ternyata adalah seorang mafia. Namun, ternyata Darold mengetahui tempat persembunyianku, sehingga tepat setelah aku melahirkan Calvin, Darold datang dan mengambil Calvin dariku, aku lalu di asingkan ke sebuah desa terpencil, aku baru kembali setelah Calvin datang menjemputku 4 tahun yang lalu melalui bantuan Rachel," terang Rossa.


Edward menganggukkan kepalanya, "kini aku tahu kenapa sikap Calvin sangat berbeda dengan ayahnya, rupanya itu berasal dari ibunya," tukas Edward.


"Terima kasih, semoga keluarga kita bisa tetap rukun tanpa ada lagi dendam yang tersimpan di dalamnya," ujar Rossa.


"Yah, aku sedang berusaha berbesar hati saat ini untuk bisa memaafkan Darold," jawab Edward.

__ADS_1


 


"Dicky, kapan kamu akan menikahi kekasihmu?" tanya Calvin tiba-tiba.


"Hei, kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu? aku pasti akan menikahinya, tenang saja," jawab Dicky.


"Pria itu tidak baik jika hanya membuat janji untuk menikahi tanpa ada kepastian yang jelas," timpal Rena.


"Kenapa kalian seperti menghakimiku?" dengus Dicky.


"Bukan menghakimi, hanya mengingatkan," ujar Calvin sambil mengeratkan rangkulannya di pundak Rachel.


"Hei, kalian ini tolong jaga perasaan kami yang jomblo," protes Rena yang melihat keromantisan Shally dan suaminya, maupun Calvin dan Rachel.


"Memangnya kamu jomblo yah? tuh, Morgan juga sama," ujar Rachel membuat mata Rena berbinar, ia lalu menoleh ke arah Morgan yang hanya duduk, diam dan dengar tanpa ekspresi.


Rena pun hendak pergi menghampiri Morgan namun tiba-tiba Dicky menahannya.


"Kenapa?" tanya Rena heran.


"Jangan kesana, please, kamu akan membuatku semakin terasingkan seorang diri jika kamu juga bergabung dengan Morgan. Cukup mereka saja yang berduaan," ujar Dicky sambil menunjuk pasangan Rachel maupun Shally.


"Astaga, makanya, cepat nikahi pacarmu, aku ingin berjuang dulu untuk mendapat pasanganku juga," tandas Rena lalu meninggalkan Dicky.


"Ya ampun, kenapa dari semua orang, hanya aku yang ganjil?" ucapnya sambil melihat Rena yang duduk bersama Morgan, Rachel bersama Calvin, Shally bersama suaminya, begitupun di tempat orang tua, Robert bersama Nola, bahkan kini Edward sedang duduk bersama Rossa.


"Hai..," sapa Rena kepada Morgan.


Morgan sendiri hanya menoleh lalu berbalik melihat api unggun di hadapannya tanpa menjawab.


"Terima kasih telah membantuku menangkap 3 pria tadi," ucap Rena basa-basi.


"Tidak masalah," jawab Morgan singkat


Rena menghembuskan nafasnya lalu ikut diam, ia saat ini seperti blank, tak tahu apa yang harus ia bicarakan dengan pria dingin di sampingnya ini.


"Apa kehadiranku disini mengganggmu?" tanya Rena lirih.


"Tidak, duduklah disitu, aku menyukainya," jawab Morgan.


"Hah?"


-Bersambung-


Halo kakak, yuk mampir di karya baruku TASBIH CINTA DI NEGERI QATAR


Deskripsi:


Sebuah luka di masa lalu kadang membuat kita takut kembali melangkah, padahal kita tidak tahu takdir apa yang sedang menunggu di depan sana.


Sebuah skenario menyakitkan membuat seorang gadis bernama Zulaikha menerima kenyataan pahit di mana pria yang ia cintai membatalkan pernikahannya . Luka dan kekecewaan mengantarkan ia ke negara Qatar untuk menenangkan diri dengan menonton piala dunia.


Dan siapa sangka, takdir malah mempertemukannya dengan seorang gadis yang mengajarkannya arti sebuah keteguhan hati. Dan berawal dari situ pula ia di pertemukan dengan seorang pria arogan dan dingin yang membuat hidupnya semakin di penuhi rasa sedih, marah, kecewa hingga cinta.


Mampukah Zulaikha melewati serangkaian butiran luka, sedih, marah, sabar, kecewa hingga cinta dan menjadikannya sebagai sebuah tasbih cinta yang mampu merubah hidupnya menjadi lebih baik?


Terima kasih :)

__ADS_1


Maaf nggak ada gambar sampulnya, HP Author lagi nggak bisa kepencet bagian tengahnya, jangankan gambar, emot pun tak bisa, eh malah curcol. :')


__ADS_2