
"Sebenarnya, ayahku Edward masih hidup,"
"Apa? Bukannya orang tuamu sudah meninggal?" tanya Calvin heran.
Rachel pun menceritakan kejadian saat ledakan di rumahnya seperti yang pernah Edward ceritakan padanya.
Calvin terdiam menyimak cerita Rachel sambil ikut merasa sedih atas kejadian itu, ia tidak menyangka kejadian itu lebih parah dari perkiraannya.
"Maaf," ucap Calvin menunduk.
Rachel tersenyum, "aku sudah lama berusaha berdamai dengan kejadian itu, ku pikir aku bisa memaafkanmu dan daddymu, karena tidak ada gunanya menyimpan kebencian dalam hati, hanya saja..-" ucapan Rachel terjeda, membuat Calvin mengangkat wajahnya menatap Rachel.
"Hanya saja, kamu harus bertemu langsung dengan ayahku untuk menyampaikan permintaan maaf itu, sekaligus jika kamu ingin menghilangkan tembok penghalang di antara kita," lanjut Rachel kemudian.
--
Siang kini berganti malam, entah sudah berapa lama Calvin berdiri di balkon kamar hotel tempat ia menginap. Pikirannya tengah berputar-putar tentang pembicaraannya dengan Rachel siang tadi.
"Aku harus segera menemui ayahnya," gumamnya lalu segera mengambil jaket dan kunci mobilnya. Dengan kecepatan sedang, Calvin melajukan mobilnya ke arah rumah Rachel sesuai dengan alamat yang di berikan Rachel siang tadi.
Tok tok tok
"Selamat malam, apa tuan Edward ada?" tanya Calvin setelah seorang wanita paruh baya yang merupakan pelayan di rumah itu membukakan pintu untuknya.
"Ada, sebentar saya panggilkan dulu, silahkan masuk tuan," ucap pelayan itu dengan ramah lalu pergi memanggil Edward. Calvin perlahan masuk dan mengamati rumah yang cukup mewah dengan desain interior klasik ala Eropa dengan warna dominan putih.
Tak lama kemudian, datang seorang pria paruh baya yang masih terlihat kekar dan tampan, wajahnya dan bola mata yang sangat mirip dengan Rachel membuat Calvin langsung yakin bahwa dia adalah Edward, ayah Rachel.
"Ada perlu apa mencariku?" tanya Edward tersenyum ramah.
"Perkenalkan, saya Calvin Archer, anak Darold," ucap Calvin, seketika senyum ramah di wajah Edward hilang tak berbekas.
"Ada perlu apa kamu ingin bertemu denganku?" tanya Edward kini dengan nada dingin.
"Saya ingin menyampaikan amanah dari mendiang ayah saya sebelum beliau meninggal,"
"Meninggal?"
"Iya tuan, beliau meninggal satu tahun yang lalu, dan beliau meminta kepada saya untuk menyampaikan permintaan maaf atas kesalahannya di masa lalu dan beberapa tahun yang lalu,"
Edward tersenyum miring, "maaf?" ulangnya dengan tatapan tajam. Sementara Calvin hanya diam berusaha agar tetap tenang.
__ADS_1
"Sebaiknya kau pergi sekarang, selagi aku masih bersikap baik padamu," seru Edward yang mulai terlihat kesal.
"Tapi, ku mohon tuan, ayahku telah berubah, ia telah menyadari semua kesalahannya selama ini, itu sebabnya dia memintaku untuk menyampaikan permintaan maafnya kepada tuan," terang Calvin sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Terlambat, nasi sudah jadi bubur," ketus Edward, namun tiba-tiba ia terkejut saat Calvin beranjak dari duduknya dan berlutut di hadapannya.
"Ku mohon maafkan ayah saya tuan, agar ia bisa tenang disana," cicit Calvin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Hey, apa yang kau lakukan? pergilah, tidak ada gunanya kau seperti itu," gertak Edward.
Calvin bergeming, namun saat melihat sorot mata Edward yang memerah menahan amarah, perlahan Calvin berdiri, ia sadar bahwa tidak ada gunanya memohon pada orang yang sedang terbakar amarah, "baiklah tuan, saya akan pergi, semoga suatu saat tuan bisa memafkan ayah saya, saya berkata jujur dan tulus," lirihnya lalu segera pergi.
"Ck, berani sekalu dia datang kesini untuk minta maaf setelah apa yang dilakukan ayahnya," decak Edward kesal.
Sementara disisi lain, ternyata sejak tadi Rachel mendengar pembicaraan Calvin dan ayahnya.
"Berusahalah Calvin, semoga suatu saat ayahku bisa memaafkan daddymu," batinnya lalu hendak kembali ke kamarnya.
Dret dret dret, suara ponsel Rachel yang bergetar membuatnya sedikit terkejut, karena ia takut ketahuan oleh Edward bahwa ia tadi sedang menguping, maka ia segera berlari ke kamarnya untuk melihat siapa yang menelfonnya.
Senyuman seketika terukir di wajah cantiknya tatkala nama yang tertera di ponselnya adalah Robert.
"Halo sayang, kabar papa baik, kamu bagaimana?" sapa Robert di seberang telfon.
"Rachel juga baik pa,"
"Oh iya, papa dan mama mu ingin mengadakan pesta anniversary pernikahan kami hari minggu nanti, bisa kah kamu dan ayahmu datang kesini?" tanya Robert.
"Tentu saja, aku dan ayah pasti datang," jawab Rachel antusias.
"Baiklah, kalau begitu kami akan menunggu kalian disini,"
"Siap, pa," ucap Rachel lalu mengakhiri telfonnya.
Rachel hendak segera tidur, namun sayup-sayup ia mendengar suara seseorang menangis di balkon tepat di samping balkon kamarnya.
Merasa penasaran, Rachel berjalan ke arah balkonnya, untuk melihat apa yang terjadi. Dan benar saja, saat ini, Edward sedang berdiri di balkon kamarnya yang berada tepat di samping kamar Rachel. Ia tampak sedang memegang foto ibunya sambil sesekali menyeka matanya yang telah mengeluarkan butiran-butiran bening.
"Sayang, hari ini anak dari orang yang membunuhmu datang kepadaku, dia mengatakan bahwa Darold telah meninggal, dan dia meminta maaf atas kesalahannya, aku tidak akan memaafkan dia. Karena perbuatan dia, kamu meninggalkanku, kamu tahu betapa tersiksanya aku selama ini karena kehilanganmu? Setiap kali aku mendengar nama Darold, aku pasti akan teringat bagaimana tragisnya kamu bersimbah dar*ah di hadapanku, bagaimana kamu akhirnya meninggalkan aku,-" ucapnya terpotong sambil menyeka kembali air matanya.
"Aku sangat merindukanmu sayang, begitupun dengan putri kita, dia sangat merindukanmu, tenanglah disana, aku akan menepati janjiku untuk menjaga putri kita itu dengan baik," lanjut Darold lalu masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Rachel yang mendengar perkataan Edward tanpa ia sadari juga mengeluarkan bulir bening yang cukup banyak, hingga membasahi pipinya.
"Maafkan Rachel ayah, ibu," ucap Rachel di tengah isaknya.
--
Hari ini, Rachel, Edward dan Morgan baru saja turun dari pesawat. Acara anniversary kedua orang tua angkat Rachel sangat membuat Rachel antusias.
"Bahagia sekali kamu sayang, ada apa?" tanya Edward yang ikut tersenyum melihat wajah putrinya yang sejak tadi tersenyum.
"Tentu saja Rachel bahagia ayah, sebentar lagi Rachel akan bertemu mama Nola dan Papa Robert, Rachel sangat merindukan mereka," jawab Rachel sambil merangkul pinggang ayahnya.
Dret dret dret, suara ponsel Morgan, membuat Morgan menghentikan langkahnya.
Morgan mengernyitkan alisnya saat melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Roy, orang yang selama ini ia tugaskan untuk memantau keadaan disekitar lapas tempat Franz dan Damon di tahan.
"Halo Roy, ada apa?" sapa Morgan
"..."
"Apa? Cari dia sekarang sampai ketemu!" serunya lalu mengakhiri telfonnya.
Tanpa menunda-nunda, Morgan langsung menemui Edward yang sedang menemani Rachel menuju ke tempat pengambilan bagasi.
"Tuan, ada kabar penting yang harus saya sampaikan," ucap Morgan membuat Edward langsung menjauhkan diri dari Rachel yang sedang sibuk menunggu bagasinya.
"Katakan," seru Edward saat mereka telah menjauh.
"Franz, dia kabur dari penjara," ucap Morgan lirih.
"Apa? Sejak kapan?" pekik Edward.
"Sejak satu minggu yang lalu, tuan," jawab Morgan.
"Astaga, Morgan, tolong jaga putriku, aku khawatir kali ini Franz akan membalas dendam ke putriku,"
"Baik tuan, apakah nona Rachel harus tahu tentang hal ini?" tanya Morgan.
"Tidak, jangan sampai dia tahu, aku khawatir Rachel akan kembali mencarinya lebih dulu, meskipun aku tahu kemampuannya, tapi sebagai ayahnya, aku tidak ingin Rachel memgambil resiko, Franz sama seperti Damon, dia berbahaya." tukas Edward dan disetujui oleh Morgan.
-Bersambung-
__ADS_1