Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 59 Calvin Seperti Orang Gila


__ADS_3

"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh di wajahku setelah insiden semalam?" tanya Calvin karena sejak tadi ditatap oleh Rachel.


"Tidak, aku hanya sedang memeriksa kejujuranmu," jawab Rachel lalu memalingkan tatapannya.


"Hei, apakah aku terlihat seperti orang yang suka berbohong," tanya Calvin.


"Tidak tahu," jawab Rachel tanpa menatap Calvin.


Ceklek


"Calvin, syukurlah akhirnya kamu sadar juga," kata Rossa yang baru saja tiba setelah pulang untuk mandi dan berganti pakaian. "Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Rossa sambil berjalan ke arahnya.


"Calvin baik-baik saja mom," jawab Calvin menatap Rossa lalu beralih menatap Rachel.


"Karena keadaan Calvin sudah lebih baik, dan anda sudah datang, saya izin pamit pulang dulu," ucap Rachel lalu berbalik hendak pulang.


"Tunggu Rachel," seru Calvin, "apa kamu tidak ingin merawatku lebih lama lagi?" tanya Calvin kemudian.


Langkah kaki Rachel terhenti, ia lalu berbalik ke arah Calvin dan Rossa, "maaf, mommymu sudah datang, dan keadaan kamu juga sudah lebih baik, tidak ada lagi alasanku untuk tetap disini," jawab Rachel lalu segera keluar dari ruangan itu.


Calvin yang melihat tubuh Rachel hilang di balik pintu hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.


"Yang sabar sayang, jika memang dia ditakdirkan untukmu, maka kalian pasti akan bersatu," tutur Rossa mengusap lengan Calvin untuk menenangkan Calvin.


"Iya mom," jawab Calvin lesu.


 ---


Rachel kini tiba di rumah orang tua angkatnya.


"Mama?" panggil Rachel saat melihat Nola berada di dapur.


"Iya, kamu baru pulang? Bagaimana keadaan temanmu itu?" tanya Nola.


"Iya ma, Rachel baru pulang, syukurlah keadaannya sudah lebih baik, ma. Oh iya, ayah dimana?" tanya Rachel setelah kesana kemari mencari ayahnya.


"Entahlah, tadi ayah dan papa kamu tiba-tiba pergi tanpa mengatakan apapun pada mama, oh iya, tinggallah lebih lama disini, mama ingin mengajakmu jalan-jalan."


"Maaf ma, Rachel tidak bisa lama-lama karena besok Rachel ada meeting penting, dan Rachel harus bersiap pulang sekarang juga, siang nanti pesawat yang akan Rachel tumpangi terbang."


"Loh kok buru-buru sekali?"


"Yaa mau gimana lagi ma, target Rachel harus sampai disana sebelum subuh agar Rachel bisa mempelajari materi meeting nya terlebih dahulu."


"Yah, sayang sekali kalau begitu."


"Ma, kok ponsel papa nggak di angkat yah? Rachel mau bicara sama ayah kalau Rachel akan pulang siang ini,"

__ADS_1


"Mungkin ponsel papa kamu lagi mode silent lagi, kenapa kamu nggak langsung hubungi nomor ayahmu?"


"Ponsel ayah rusak semalam, dan sepertinya ayah belum membeli ponsel baru."


"Kita tunggu saja mereka, palingan tidak lama lagi mereka kembali."


"Baiklah, ma."


 ---


Di rumah sakit


Pagi yang begitu cerah, secerah hati Calvin saat mengingat kebersamaannya dengan wanita yang sangat ia cintai meski hanya sebentar. Cukup lama ia senyum-senyum sendiri, hingga saat ingatannya beralih pada kemarahan Edward ketika ia datang untuk meminta maaf, senyuman indah itu perlahan berganti dengan raut wajah bimbang.


"Apakah ada kemungkinan tembok di antara aku dan Rachel akan hilang?" batinnya lalu mengusap kasar wajahnya.


"Calvin, Mommy mau ke minimarket depan sana sebentar, ada yang harus mommy beli, kamu nggak papa kan mommy tinggal? Cuma sebentar kok," ujar Rossa seketika membuyarkan lamunan Calvin.


"Eh iya nggak papa lah ma, Calvin kan bukan anak kecil, kalau ada apa-apa, Calvin bisa langsung panggil perawat," jawab Calvin sedikit tertawa.


"Baiklah, kalau begitu mama pergi dulu yah," ucap Rossa lalu keluar dari ruangan itu menyisakan Calvin seorang diri.


Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar dari luar.


Ceklek


"Tu-tuan," ucap Calvin tergagap lalu segera bangkit dari tidurnya, meski perutnya terasa sakit saat bangkit, namun Calvin berusaha keras menahannya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Robert yang berjalan mendekat bersama Edward.


"Sudah lebih baik, tuan," jawab Calvin canggung.


"Dimana Rachel?" tanya Edward datar.


"Rachel tadi pagi sudah pulang tuan," jawab Calvin, membuat Edward mengangguk.


"Kau tahu, apa tujuanku datang kesini?" tanya Edward.


"Tidak tuan," jawab Calvin.


"Baiklah, aku kesini ingin berbicara serius denganmu mengenai putriku," tukas Edward.


"Silahkan tuan," Calvin mempersilahkan.


"Apa kau mencintai Rachel?"


"Iya tuan, saya mencintai Rachel."

__ADS_1


"Sejak kapan?"


"Sejak Rachel masih menggunakan nama Michel."


"Seberapa besar cintamu kepadanya?"


Calvin terdiam sejenak, jika di tanya tentang hal itu, Calvin sendiri tidak mampu menggambarkan dengan kata-kata tentang seberapa besar cintanya kepada Rachel, yang ia tahu, dari dulu sampai detik ini perasaan cintanya kepada Rachel tidak pernah berubah.


"Jika di tanya tentang hal ini, jujur, saya tidak mampu menjawab, tapi mungkin luka di perut saya ini bisa menjadi bukti seberapa besar cinta yang saya miliki untuknya, bahkan jika nyawa yang menjadi taruhannya, saya siap."


Edward terdiam sejenak, "baiklah, mari kita buktikan kebenaran dari kata-katamu itu," ujar Edward lalu mengeluarkan sebuah pistol dari dalam saku celananya dan mengarahkannya ke kepala Calvin.


Calvin tentu sangat terkejut, namun ia perlahan menutup matanya tanpa melakukan perlawanan apapun atau bahkan memberikan pembelaan apapun. Ia berfikir mungkin dengan begini kesalahan yang pernah ayahnya perbuat bisa ia tebus tanpa meninggalkan dendam apapun lagi.


Edward tersenyum miring sebelum akhirnya ia menjauhkan pistol itu dari kepala Calvin.


"Dasar bodoh! Jika kau membiarkan dirimu mati, lalu siapa yang akan menjaga putriku?" ujar Edward seketika membuat Calvin membuka matanya, sejenak ia mencerna apa yang baru saja dikatakan Edward.


"Apa maksud anda tuan?" tanya Calvin yang ingin memastikan maksud Edward.


"Astaga kau ini, aku benar-benar tidak mengerti apa yang disukai Rachel darimu sampai ia rela menjagamu semalaman penuh hingga tidak ingin pulang bersamaku," tukas Edward membuat Robert tersenyum tipis.


"Apa tuan telah merestui hubunganku dengan Rachel?" tanya Calvin lagi.


"Apa maksudmu hubungan? Rachel bukanlah gadis yang ingin menjalin hubungan dengan pria selain hubungan pernikahan," kilah Edward.


"Baik tuan, aku akan segera menikahi Rachel," jawab Calvin dengan senyuman bahagia yang tak bisa lepas dari wajahnya.


"Cepatlah lamar dia, jika kau lambat bertindak, aku akan mencarikan pria lain untuk menikahi Rachel," ancam Edward.


"Baik tuan, aku akan segera pergi melamarnya," ucap Calvin lalu hendak mencabut selang infusnya namun Robert segera menahannya.


"Astaga, kau ini polos sekali, jika kau memaksakan dirimu pergi sekarang, lantas kau mati di tengah jalan, tentu misi tuan Edward untuk mencarikan Rachel pria lain akan lebih cepat terlaksana," sela Robert membuat Calvin nyengir bodoh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Terima kasih banyak tuan, setelah saya sembuh saya akan langsung menemui Rachel," ucap Calvin sembil menunduk, "lalu apakah dengan anda merestui saya menikahi Rachel berarti anda juga telah memaafkan ayah saya?" lanjutnya bertanya.


"Mengenai hal itu masih ku pikirkan, aku tidak bisa memaafkan ayahmu dengan mudah, karena setiap kali mengingat namanya aku langsung teriangat pada mendiang istriku," jawab Edward lesu.


"Semoga suatu saat anda bisa memaafkan ayah saya, tuan," tukas Calvin.


-


Setelah kepergian Edward dan Robert, Calvin terus saja tersenyum, ia bahkan kini tampak seperti orang gila yang tersenyum sendiri tanpa sebab.


"Aku harus menghubungi Rachel," monolognya lalu segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Rachel, namun setelah beberapa kali mencoba, bukannya suara Rachel yang ia dengar, melainkan suara operator yang mengatakan jika ponsel Rachel sedang tidak aktif.


-Bersambung-

__ADS_1


Note: Author mau jelaskan mengenai penggunaan panggilan ayah dan papa, ayah adalah panggilan Rachel untuk Edward, dan papa adalah panggilan Rachel untuk Robert. Jadi kedua kata itu memang author gunakan untuk menunjukkan dua orang yang berbeda.


__ADS_2