
Tidak terasa 10 tahun telah berlalu.
Hyat.. Hyat.. Hyat
Suara 3 anak remaja yang sedang berlatih bela diri terdengar di halaman rumah mewah milik Calvin dan Rachel pagi itu.
Yah, Zayyand, Javier dan Aurora tampak sedang berlatih sangat kompak dengan di awasi oleh Morgan dan Calvin.
Sementara Rena dan Rachel sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan bersama. Sudah beberapa hari ini Morgan, Rena dan Aurora menginap di rumah Rachel karena mereka sedang liburan ke Amerika, sementara rumah mereka berada di negara yang berbeda.
"Ren, tambahlah masa liburan kalian disini, Zayyand dan Javier sangat senang dengan kehadiran Aurora, mereka seperti memiliki adik untuk di lindungi," ujar Rachel.
"Andai bisa, aku juga ingin seperti itu, sayangnya Aurora harus sekolah lusa, jadi mau tidak mau, malam nanti kami harus pulang," jawab Rena.
Setelah mereka menyelesaikan acara memasaknya, mereka kini menyiapkan makanan di meja makan bersama, kali ini tidak ada pelayan yang membantunya seperti biasa karena Rachel ingin menikmati waktu memasak bersama Rena yang kini telah menjadi sahabatnya.
"Istirahatlah dulu dan mari kita sarapan bersama," panggil Rachel setelah berada di halaman belakang rumahnya.
"Baik ma," jawab Zayyand dengan semangat.
Mereka berlima kini datang bersama di meja makan dimana sudah ada Rachel dan Rena yang menunggu mereka. Acara makan bersamapun berlangsung dengan begitu hikmat.
"Ma, pa, hari ini Zayyand dan Javier mau ngajak Aurora jalan-jalan sebelum nanti malam dia pulang, bolehkan?" tanya Zayyand di sela sarapan mereka.
"Loh, kok malah nanya kami, yang kalian mau bawa itu kan Aurora, jadi harusnya kalian minta izin sama orang tuanya dong, kalau mereka setuju ya kami juga setuju," jawab Rachel sambil melirik Rena.
"Oh iya, Zayyand lupa, gimana tante, om, boleh yah kami pinjam Aurora, kapan lagi kan kami jalan-jalan bertiga?" tanya Zayyand.
"Gimana sayang?" Rena bertanya ke Morgan yang kali ini sedang memasang wajah serius.
"Jika kalian berjanji akan menjaga Aurora dengan baik, tanpa membuatnya lecet sedikitpun, maka om akan mengizinkannya," ujar Morgan membuat ketiga remaja itu sontak memekik girang.
__ADS_1
"Yes!!! Thank you om," ujar Zayyand.
Pukul 10 pagi itu, Zayyand, Javier dan Aurora berangkat bersama, dimana Zayyand yang bertugas mengemudikan mobil menuju ke tempat tujuan pertama mereka, yaitu objek wisata.
Mereka bertiga begitu menikmati perjalanan wisata ini. Termasuk Aurora, gadis berusia 16 tahun itu tampak antusias mengikuti Zayyand dan Javier yang sudah seperti kakak baginya.
"Kak Zay, aku mau pipis nih," ucap Aurora tiba-tiba.
"Eh, iya sebentar aku cari toilet umum dulu," jawab Zayyand sambil menoleh ke kanan dan kiri, hingga ia menemukan toilet yang sesuai dan memarkirkan mobilnya.
"Apa kamu bisa pergi sendiri?" tanya Javier.
"Tentu, tunggu aku disini," jawab Aurora lalu keluar dari mobil.
Zayyand dan Javier menunggu di mobil. Saat sedang menunggu, sayup-sayup Zayyand mendengar suara wanita sedang menangis ketakutan. Zayyand menutup mata untuk mempertajam pendengarannya, dan ia semakin yakin bahwa suara itu adalah suara wanita yang sedang menangis ketakutan.
"Jav, kamu tunggu sebentar disini, aku harus memeriksa sesuatu," ujar Zayyand lalu pergi mencari sumber suara itu.
Perlahan ia mendekati sebuah ruangan tertutup yang ia curigai menjadi tempat suara itu berasal. Zayyand merapatkan telinganya ke pintu ruangan itu.
Zayyand mendorong pelan pintu di hadapannya secara hati-hati hingga ia dapat mengintip ke dalam. Matanya seketika membulat saat ia melihat seorang gadis yang kemungkinan seumuran dengan Aurora sedang diikat, dan terdapat seorang pria yang sedang membuka kancing bajunya satu per satu. Gadis itu berusaha keras melawan, namun usahanya sia-sia, ia hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil memohon belas kasihan dari pria yang berada di hadapannya saat ini.
Tangan Zayyand mengepal kuat melihat adegan di hadapannya, sorot matanya memperlihatkan kemarahan. Bukan tanpa alasan, sejak kecil ia telah di ajarkan oleh Rachel untuk menghargai wanita dan tidak menyentuhnya sembarangan. Melihat pria di hadapannya memperlakukan wanita dengan kurang ajar tentu membuatnya tidak terima.
Brak
Suara pintu terbuka dengan keras karena di tendang oleh Zayyand.
"Hei siapa kau?" tanya pria itu terkejut.
Bukannya menjawab, Zayyand justru berjalan mendekati pria itu masih dengan tangan mengepal dan tatapan tajam. Tanpa memberi aba-aba, ia langsung menghajar wajah pria itu hingga tubuh pria itu tersungkur. Saat hendak bangkit, Zayyand kembali menghampirinya dan menghajarnya secara bertubi-tubi.
__ADS_1
"Kau tidak sepatutnya memperlakukan wanita seperti ini bo**h, ingat, kau terlahir dari rahim seorang wanita, jadi sepantasnya kau menghormati dan memuliakan wanita," desis Zayyand di tengah-tengah serangannya.
"Ampun, tolong hentikan," pekik pria itu lemah, membuat Zayyand menghentikan aksinya.
Dengan napas tersengal-sengal, Zayyand berdiri lalu berbalik ke arah gadis yang saat ini juga sedang menatapnya dengan tatapan sendu dan memelas, wajahnya basah oleh air mata.
Zayyand mendekat untuk membuka ikatan di tangan dan kaki gadis itu tanpa melihat ke arah tubuhnya yang sudah dalam keadaan setengah terbuka.
Tak lama setelah itu polisi datang ke tempat itu dan mengamankan pria tadi, sementara gadis yang menjadi korban telah pergi lebih dulu atas permintaan gadis itu sendiri. Katanya, jika ia ikut diperiksa polisi, itu hanya akan membuka aibnya atas apa yang baru saja terjadi padanya.
Zayyand kini kembali ke mobil setelah hampir 30 menit ia meninggalkannya.
"Kak Zay, darimana saja sih? kita pikir kakak tersesat, mana ponsel kakak tidak bisa dihubungi lagi," gerutu Aurora. "Oh iya, jaket kak Zay dimana?" tanyanya kembali karena melihat Zayyand yang kini datang tanpa memakai jaket seperti kebiasaannya yang suka memakai jaket saat bepergian.
"Maaf, tadi ada beberapa masalah sedikit," jawab Zayyand singkat sambil mengingat wajah gadis dengan bola mata biru yang baru saja ia tolong.
Mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan mereka, hingga mereka tiba di sebuah objek wisata yang memanjakan mata sekaligus bisa memacu adrenalin wisatawannya.
Zayyand, Javier dan Aurora sangat menyukai sesuatu yang menantang seperti itu, terutama Aurora yang sangat jauh dari kata manja, meski terkadang Morgan begitu memanjakannya.
Setelah puas menikmati wisatanya, Zayyand dan Javier kini mengajak Aurora untuk menonton perlombaan balap kuda untuk memanjakan Aurora yang hobi berkuda, hal.itu tentu saja membuat Aurora.merasa begitu bahagia hari ini.
Tidak terasa, waktu kini telah menunjukkan pukul 5 sore, itu artinya sudah waktunya bagi mereka untuk kembali ke rumah. Dan benar saja, setibanya di rumah, Rena maupun Morgan telah bersiap untuk kembali ke negara mereka.
Sementara itu di sebuah mansion, semua pelayan merasa terkejut dengan keadaan tuan putri mereka yang pulang ke rumah dengan penampilan yang sedikit berantakan, dimana wajahnya sedikit lebam, rambutnya berantakan, dan kini ia mengenakan jaket pria.
"Nona Alice, apa yang terjadi?" tanya salah satu pelayan.
"Tidak apa-apa," jawab gadis itu singkat lalu segera masuk ke dalam kamarnya tanpa banyak bicara seperti biasanya.
__ADS_1
Ia perlahan berjalan ke depan cermin lalu memandangi pantulan dirinya. Air matanya seketika mengalir saat mengingat kejadian buruk yang baru saja menimpanya. Ia benar-benar tidak menyangka begitu banyak orang yang berniat jahat padanya hanya karena wajahnya. Memang benar, semua orang mengakuinya cantik bak boneka, namun siapa sangka, kecantikannya justru sering membawanya ke dalam bahaya. Hanya satu pria yang justru bersikap sebaliknya di hadapannya, pria yang hanya melihat wajahnya sekilas, tidak ingin melihat tubuhnya meski tadi kesempatan untuk melihat tubuh indah gadis itu sangat besar.
"Terima kasih," ucap gadis itu sambil memegang jaket yang saat ini masih ia pakai.