Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
Ekstra Part 3


__ADS_3

Pagi kini berganti malam, menampakkan langit yang gelap di antara bintang-bintang yang terang. Seorang wanita dewasa namun masih terlihat begitu cantik dan anggun turun dari mobil mewah yang berhenti di depan rumah keluarga Calvin.


Jadi ini rumah pria itu," gumamnya lalu masuk ke halaman rumah yang memang tidak memiliki pagar. Yah, dia adalah Marie, setelah mendapat informasi dari Alice, ia langsung mencari waktu untuk bisa pergi tanpa sepengetahuan Alice.


Tok tok tok


"Iya, anda mencari siapa nyonya?" tanya pelayan rumah itu setelah membuka pintu.


"Saya ingin bertemu dengan Zayyand, jika tidak ada, saya ingin bertemu dengan ibunya," jawab Marie.


"Baik, silahkan menunggu di dalam nyonya, saya akan memanggilnya sebentar," ucap pelayan itu lalu pergi memanggil Rachel, kebetulan saat itu Zayyand masih belum pulang ke rumah.


"Bukan kah anda nyonya Marie?" tanya Rachel saat tiba di ruang tamu.


"Benar, apa anda mengenal saya?" tanya Marie heran.


"Siapa yang tidak mengenal anda, anda adalah pebisnis handal di bidang kosmetik, dan dulu anda pernah mencari pelatih beladiri khusus wanita, saya pernah hampir menawarkan diri namun tiba-tiba saya memiliki urusan mendadak jadi saya alihkan ke teman saya," jelas Rachel.


"Wah, kebetulan sekali, saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda," ujar Marie yang memiliki usia hampir sama dengan Rachel.


"Oh yah? Apa itu?" jawab Rachel ikut duduk di sofa bersama Marie.


"Begini, apa anak anda bernama Zayyand?" tanya Marie.


"Iya betul, darimana anda tahu?" tanya Rachel.


"Putri saya ahli komputer, dia mencari tahu semua tentang putra anda setelah putra anda menolongnya dari kejadian yang membuatnya trauma hingga saat ini, bisa di katakan putri saya itu sangat mengagumi putra anda, hampir semua pria membuatnya takut hingga keringat dingin saat bertemu, namun tidak dengan putra anda, putri saya justru merasa aman bersamanya,"


Rachel mengangguk masih menyimak perkataan Marie.


"Nah, maksud saya kemari, bisa kah saya meminta tolong kepada putra anda untuk menjaga putri saya? Tahun ini dia akan mulai kuliah, namun ia masih sangat takut untuk memulai aktivitasnya di luar karena takut bertemu banyak pria, bagaimana?" tanya Marie


"Bagaimana yah, saya tidak yakin putra saya bisa menjaga putri anda 24 jam, sebab dia sendiri sedang sibuk kuliah," jawab Rachel.


"Tidak masalah, saya akan menguliahkan putri saya di tempat yang sama dengan putra anda agar putra anda bisa leluasa menjaganya dari orang yang ingin mengganggunya," tukas Marie.

__ADS_1


"Saya akan mendiskusikannya dengan suami dan putra saya terlebih dahulu, kalau boleh tahu siapa nama putri anda?" tanya Rachel.


"Alice, Alice Hoxha," jawab Marie, membuat Rachel menganggukkan kepalanya.


Tak lama setelah itu, Zayyand pulang dan langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Mama, papa, Zayyand pulang," ucapnya sambil menghampiri Rachel dan mencium tangan dan pipinya.


Marie hanya diam tertegun melihat sosok pria muda tampan yang begitu manis di hadapan ibunya.


"Kebetulan kamu datang, sayang, ada yang ingin kami bicarakan padamu," ujar Rachel sambil menarik tangan Zayyand untuk ikut duduk di sofa bersama mereka.


"Ada apa, ma?"


"Kenalkan, ini nyonya Marie, kedatangannya kesini ingin memintamu untuk menjadi penjaga putrinya yang bernama Alice, dia memiliki trauma terhadap pria sehingga ia tidak mau keluar rumah sama sekali. Tapi dia tidak takut sama sekali padamu, sehingga dia akan merasa aman jika keluar bersamamu," ujar Rachel tanpa menceritakan semuanya dengan rinci. "Apa kamu bersedia nak? kami tidak akan memaksamu," lanjutnya.


Zayyand mengernyitkan alisnya, ia merasa apa yang dikatakan ibunya sangat aneh, "bagaimana bisa ia adalah satu-satunya pria yang tidak membuat Alice takut? Tunggu dulu, Alice? Apa dia Alice yang tadi pagi?" batinnya berpikir.


"Boleh saya melihat fotonya nyonya?" tanya Zayyand.


"Oh iya tentu saja," jawab Marie sambil memperlihatkan foto Alice yang mengenakan kacamata di ponselnya.


"Jika kamu tidak bersedia tidak masalah, saya tidak memaksa," ucap Marie lesu.


"Saya bersedia nyonya," jawab Zayyand, membuat Rachel maupun Marie terkejut.


"Kamu serius Zay?" tanya Rachel.


"Iya ma, Zay serius," jawab Zayyand yakin.


"Syukurlah, terima kasih banyak, datanglah ke rumah kami minggu depan," ujar Marie sambil memberikan alamatnya kepada Zayyand, dan tak lama setelah itu ia pun pulang dengan raut wajah puas.


Zayyand mengambil kartu nama yang berisi alamat rumah Alice, senyuman tipis perlahan terukir di wajahnya.


"Kenapa kamu menerima tawarannya? Apa uang mu tidak cukup untuk membiayai hidupmu sampai kamu menerimanya?" selidik Rachel.

__ADS_1


"Bukan begitu ma, ini bukan masalah uang, ini hanya karena rasa penasaranku pada gadis ini," jawab Zayyand menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Penasaran? Bisa kamu jelaskan kepada mama Zay?" tanya Rachel ikut penasaran."Belum saatnya, nanti Zay akan ceritakan setelah rasa penasaran Zay terobati," jawab Zayyand sambil nyengir, membiat Rachel hanya bisa geleng-geleng kepala.


 


Satu minggu kemudian


Sesuai kesepakatan, Zayyand kini berada di jalan menuju rumah Marie untuk mulai menjalankan tugasnya menggunakan motornya.


Sementara di mansion, Alice tampak begitu cemas, rasa khawatir berlebihannya kembali saat Marie menyuruhnya untuk masuk kuliah. Meski ia tahu kampusnya sama dengan kampus Zayyand, namun itu tidak juga membuat hatinya tenang, sebab yang ada di pikirannya adalah dia akan bertemu benyak pria di sana.


"Mom, please, Alice bisa belajar di rumah sendiri kok, tidak perlu kuliah," rengek Alice.


"No, Alice, apa kamu tidak ingat apa kata dokter kemarin, kamu harus belajar menghadapi mereka agar kamu terbiasa," tegas Marie.


"Tapi mom,..-" ucapan Alice terpotong saat seorang pelayan datang mengabarkan bahwa ada seorang pria yang datang dan sedang menunggunya di ruang tamu.


Mendengar kata pria, tubuh Alice seketika bergetar tidak karuan, ia dengan cepat mengambil kacamatanya dan memakainya agar ia terlihat culun.


"Bagus, Alice sekarang turunlah bersama mommy, mommy yakin kamu akan semangat kuliah saat kamu mengetahui siapa yang menunggumu di bawah," ujar Marie lalu menarik tangan Alice.


"Tapi mom, Alice benar-benar takut," rengek Alice sambil berusaha melepas cengkraman tangan Marie di pergelangan tangannya, namun semua usahanya sia-sia.


Tanpa mempedulikan rengekan Alice, Marie terus saja berjalan sambil menarik Alice yang terus saja meronta-ronta ingin melepaskan diri.


Hingga mereka tiba di ruang tamu, tempat dimana Zayyand sudah duduk menunggunya.


"Alice ayo duduk bersama mommy," seru Marie kepada Alice yang kini begitu takut dan selalu menunduk tanpa ingin melihat siapa pria yang ada di hadapannya saat ini.


Zayyand yang melihat keadaan Alice mengernyitkan alisnya, "musibah apa yang sudah menimpanya hingga tubuhnya bergetar seperti itu saat akan di hadapkan dengan pria?" pikirnya dalam hati.


"Nah, silahkan perkenalkan dirimu pada gadis ini, agar dia bisa lebih tenang," pinta Marie mempersilahkan.


"Baik nyonya, halo Alice, namaku Zayyand, ku rasa kamu telah mengenalku," ucap Zayyand, membuat mata Alice seketika membulat saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya, ia kemudian mengangkat wajahnya untuk memastikan apakah benar Zayyand yang ia kenali adalah Zayyand yang berada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


Degh


Jantung Alice seketika berpacu kencang saat kedua netranya bersirobok dengan netra pria di hadapannya saat ini.


__ADS_2