
Calvin tiba dirumah saat semua lampu sudah dipadamkan. Setelah pertemuannya dengan Michel, ia memutuskan untuk melanjutkan membuat komiknya di cafe itu, hingga tanpa ia sadari, waktu terus bergulir hingga pukul 12 tengah malam.
Darold yang tadinya tidak sengaja melihat Calvin bersama seorang gadis, tentu menaruh curiga pada Calvin.
"Apa yang dilakukan Calvin dengan gadis itu hingga larut malam begini?" gumam Darold sembari mondar mandir menunggu kedatangan Calvin.
Tak lama berselang, deru motor Calvin terdengar berhenti di depan rumah.
Calvin berjalan dengan sangat hati-hati agar derap langkahnya tidak terdengar oleh sang Ayah. Jika ketahuan pulang malam seperti ini, sudah pasti dia akan kena murka dari sang Ayah.
Ceklek
Perlahan Calvin membuka pintu, ruang tersebut kini sudah gelap, sehingga ia berpikir bahwa Darold sudah tidur.
"Dari mana kamu Calvin?" suara bass sang Ayah membuat Calvin terlonjak kaget.
Calvin mengusap dadanya sembari menstabilkan detak jantungnya yang cepat karena kaget, "Eh Daddy, maaf Dad, Calvin tadi dari Cafe Rolex yang dekat perusahaan." Calvin menjawab sambil menunduk.
"Ngapain kamu sama gadis itu disana sampai larut malam begini?"
"Apa? gadis?"
"Iya, Daddy tadi tidak sengaja melihatmu duduk bersama seorang gadis di Cafe, apa yang kamu lakukan bersamanya hingga larut malam begini?" tanya Daddy sedikit geram, pasalnya Darold tidak ingin Calvin berhubungan dengan wanita manapun sebelum dia berhasil menemukan Rachel. Tentu saja ia takut Calvin akan bertemu Rachel dan menjalin hubungan dengannya.
Calvin mengernyitkan alisnya mendengar tuduhan ayahnya.
"Daddy salah paham, dan gadis itu namanya Michel, teman Calvin sekaligus sahabat Shally. Kami tidak bersama sampai larut malam, kami hanya bercerita sebentar lalu dia pulang, dan Calvin sendiri terlambat pulang karena Calvin menyelesaikan komik dulu sampai lupa waktu," jelas Calvin.
Darold terdiam sejenak.
"Bagaimana? apa kamu sudah menemukan Rachelia Edward?" tanya Darold kemudian.
"Belum Dad, tapi saat ini Calvin sedang berusaha mencarinya, Calvin juga sudah menyewa detektif," jawab Calvin.
"Ingat! sampai kamu menemukan Rachel, Daddy harap kamu tidak menjalin hubungan dulu dengan gadis manapun!" tegas Daddy.
__ADS_1
"Apa? bagaimana bisa se..." Calvin menghentikan perkataannya saat Darold pergi begitu saja tanpa mendengar keluhan Calvin terlebih dahulu.
"Hufth.. sepertinya kali ini Daddy tidak ingin dibantah," cicit Calvin berjalan gontai ke kamarnya.
"Jika Rachelia Edward itu tidak pernah ku temukan, bagaimana nasibku? Oh ya ampun, bisa-bisa aku jadi perjaka tua," gumam Calvin membaringkan tubuhnya diatas kasur sambil memandang langit-langit kamarnya.
"Dimana sih Rachelia itu? pokoknya dia harus segera ku temukan agar aku bisa secepatnya menikah dengan gadis yang ku cintai," lirih Calvin dengan tekad yang kuat.
--
Pagi hari
Michel berjalan santai menuju pintu masuk DA Group.
"Hey gadis culun!" panggil Rena yang bertemu Michel di halaman depan gedung DA Group.
Michel melewati Rena tanpa merespon apapun, bahkan melirikpun tidak.
"Dasar kurang ajar! hei gadis berkaca mata tebal!" Rena meniggikan suaranya membuat Michel menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Rena.
"Siapa lagi diperusahaan ini yang memiliki penampilan culun selain kamu!" sinis Rena.
"Oh," jawab Michel singkat, Rena menjadi bertambah emosi kepada Michel yang tidak ada takut-takutnya pada Rena.
"Hey.. berani sekali kamu meresponku seperti itu!" hardik Rena mendekati Michel dan hendak menjambak rambut Michel.
Sayangnya, tangan Michel lebih dulu menangkap tangan Rena.
"Katakan padaku, apa alasanku harus takut padamu," tegas Michel menatap tajam mata Rena.
Sementara Rena seketika membisu, lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Seolah-olah ia melihat orang lain dalam sorot mata Michel.
Tak mendapat respon dari Rena, Michel pun melepas tangan Rena begitu saja, lalu pergi meninggalkan Rena yang masih mematung setelah mendapat tatapan tajam dari Michel.
"Ada apa dengannya? kenapa sorot matanya begitu menakutkan?" gumam Rena lalu berjalan masuk ke gedung DA Group.
__ADS_1
-
Michel nampak fokus dengan komputernya. Sesekali ia melirik ke arah Franz dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hey anak baru!" panggil Alfred selaku atasan sekaligus pengawas infrastruktur yang bertanggung jawab pada data center, yang saat ini sedang bersama Robin dan Denis, personil data center.
"Iya pak!" sahut Michel dan Franz bersamaan.
"Kalian berdua ikut kami sekarang!" tegas Alfred lalu pergi, sementara Michel dan Franz langsung berlari mengekori Alfred, Robin dan Denis.
"Hari ini adalah jadwal rutin pemeliharaan data center, karena 2 personil data center yang lain sedang berhalangan, maka kalian berdua akan menggantikannya berdasarkan instruksi dari saya." Ujar Alfred sambil berjalan. Michel dan Franz saling berpandangan, entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing.
Kini mereka tiba di depan pintu masuk data center, perhatian Michel dan Franz tertuju pada Alfred saat memasukan ibu jarinya pada fingerprint lock yang berada di samping pintu. Seketika pintu terbuka dan mereka berjalan masuk hingga mereka sampai pada pintu kedua yang kali ini menggunakan kartu pengenal anggota khusus tim data center untuk membukanya.
Tak menuggu waktu lama, mereka akhirnya sampai di data center. Michel dan Franz yang baru pertama kali melihatnya merasa takjub.
Sumber : Rackh.com
Alfred mulai mengintruksikan untuk memulai pemeliharaan. Namun untuk Michel dan Franz, Alfred terlebih dahulu memberikan penjelasan seputar pemeliharaan data center.
"Jadi, pemeliharaan data center ini bertujuan untuk menurunkan resiko downtime, megurangi resiko kegagalan khususnya saat terjadi pemadaman listrik atau pengalihan sumber daya dari PLN ke genset, serta untuk memelihara peralatannya agar tahan lama," jelas Alfred panjang lebar.
Setelah menjelaskan panjang lebar, Alfred menyuruh Michel bersama Robin untuk mengecek UPS, generator cadangan, dan lainnya, sementara Franz dan Denis mereka mengecek mesin pendingin, dan lainnya.
Saat semua sedang sibuk-sibuknya, Michel diam-diam menjauh dari Robin, ia mencari tempat untuk memasukkan USB yang selalu ia bawa agar ia dapat menghubungkannya dengan ponselnya. Mengingat pintu masuk ke data center ini memiliki tingkat keamanan yang tinggi, dan Michel tidak memiliki pengalaman untuk menerobos masuk, maka Michel menggunakan kesempatan saat ini agar dapat menghubungkan data center dengan ponselnya saat itu juga.
Setelah mencari beberapa saat, akhirnya Michel menemukannya, dengan cepat namun hati-hati Michel memasukkan USB nya, proses menghubungkan pun mulai berjalan. Kini proses mengunduh telah berlangsung 65%, namun tiba-tiba Robin memanggilnya, suara Robin yang semakin dekat padanya membuat Michel gugup setengah mati.
"Michel.. dimana kamu?" panggil Robin semakin mendekat.
"Ya ampun bagaimana ini?" batin Michel khawatir dengan keringat dingin yang sudah memenuhi keningnya.
-Bersambung-
__ADS_1
Yuk dukung karya ini, dengan like, koment, gift dan vote. Terima kasih.