Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 36 Sketsa Wajah


__ADS_3

Darold merasa gusar, sejak tadi ia berjalan mondar mandir di hadapan beberapa anak buahnya yang terlihat menunduk dengan raut wajah takut bercampur khawatir.


"Menahan satu orang saja kalian tidak bisa? Dasar kalian tidak berguna!!!" gertak Darold.


"Ampuni kami tuan, orang itu sangat lincah menyerang kami dalam ge.." Salah satu anak buah Darold berusaha mengutarakan alasan namun di potong oleh Darold.


"Banyak sekali alasanmu!" sela Darold emosi, membuat semua anak buah Darold diam seribu bahasa.


"Lalu mengenai pengejarannya, bagaimana mungkin 3 mobil mengejar satu mobil saja tidak bisa?


"Ampuni kami tuan, kami sudah berusaha menghadang mobilnya, namun tiba-tiba datang beberapa mobil merah yang menembaki mobil kami," ujar salah satu anak buah Darold.


"Mobil merah?" selidik Darold, sembari menautkan kedua alisnya.


"Iya tuan, seingat saya, ada sekitar 5 mobil merah yang tiba-tiba datang, sepertinya mereka dari klan Red Sword," kata salah satu anak buah Darold.


"Red Sword? bukannya Red Sword sudah hilang?"


"Tidak tuan, kami yakin mereka Red Sword, kita tahu sendiri ciri khas dari mobil Red Sword itu berwarna merah, dan memiliki stiker pedang di sampingnya."


"Berarti orang yang menolong Thomas adalah bagian dari Red Sword, apa ada diantara kalian yang berhasil melihat wajah orang yang membawa Thomas?"


"Saya sempat melihatnya tuan, saat mobil kami berada disampingnya, tepat sebelum Steve tertembak, dia seorang wanita"


"Wanita?" Darold mengapit dagunya dengan ibu jari dan jari telunjuknya, "Rachelia Edward. Benar, tidak salah lagi," lanjutnya dengan senyuman tipis yang sulit diartikan.


"Buat sketsa wajah wanita itu segera dan berikan padaku sebelum pukul 6 pagi ini!" perintah Darold lalu pergi meninggalkan markas Black Wold.


--

__ADS_1


Pagi hari sekitar pukul 06.00, di sebuah mansion mewah, terlihat seorang pria muda berjalan masuk dengan santai.


"Pagi ayah," sapa pria muda itu.


"Pagi juga nak, akhirnya kau datang juga. Bagaimana hasil penyelidikanmu?" tanya seorang pria paruh baya dengan tato srigala di lehernya.


"Aku sudah menduga ayah, dia benar-benar datang, dan sudah bisa ku pastikan bahwa dia adalah Rachelia Edward, gadis yang selama ini kita cari," jawab pria muda itu.


"Benarkah? Bagus sekali nak, ini adalah sketsa wajah yang dikirimkan Darold padaku, aku ingin memastikan apakah yang merusak rencana Darold malam tadi adalah orang yang sama dengan wanita yang kau maksud." Pria paruh baya itu memberikan sebuah kertas sketsa wajah wanita kepada putranya.


"Benar, wanita ini sama dengan wanita yang selama ini ku selidiki," ujar pria muda itu.


"Bagus, kalau begitu jalankan rencanamu segera!" seru pria paruh baya itu.


"Tunggu dulu ayah, aku masih ingin bermain-main dengan wanita ini." Pria muda itu menyeringai tipis sambil menatap sketsa wajah seorang wanita.


--


Setelah mandi dan sarapan, Michel memutuskan untuk langsung pergi ke tempat kerjanya karena rumahnya kali ini agak jauh dengan gedung DA Group.


"Hai, selamat pagi, Michel, kok penampilanmu kembali seperti dulu? padahal kemarin itu penampilan kamu keren loh," celoteh Franz sambil berjalan beriringan dengan Michel masuk ke gedung DA Group.


"Gimana Franz, apa kamu sudah tidak pernah dipanggil lagi oleh Darold?" Michel enggan menanggapi pertanyaan Franz.


"Udah nggak lagi, sepertinya kecurigaannya kepadaku sudah hilang,"


"Tentu saja, karena sekarang dia hanya curiga kepada Rachel," batin Michel.


"Hey, Michel, kok melamun sih?"

__ADS_1


"Eh iya maaf, aku merasa ngantuk dan lelah,"


"Oalah, kamu itu udah seperti orang yang habis berkelahi saja sama beberapa orang semalaman,"


Michel mengerutkan keningnya, kali ini ia merasa bahwa Franz mengetahui apa yang ia lakukan.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu Michel?" tanya Franz sembari tertawa kecil.


"Tidak, tidak ada apa-apa." Michel lalu berlalu pergi meninggalkan Franz, namun langkahnya tiba-tiba harus berhenti saat Rena dan Alena berhasil menghadang jalannya.


"Tunggu dulu gadis culun, kenapa kau buru-buru sekali?" tanya Rena dengan wajah polosnya.


"Aku tidak ada waktu untuk meladeni kalian, sebaiknya kalian menyingkir dari hadapanku! Ujar Michel ketus lalu berjalan melewati Rena dan Alena.


"Apa kau tidak malu, masuk kerja padahal akan dipecat?" tanya Rena dan seketika membuat Michel menghentikan langkahnya.


"Hey apa maksudmu Rena? Bagaimana mungkin pegawai rajin seperti Michel dipecat?" tanya Franz yang baru datang dan mendengar pembicaraan mereka.


"Ya rajin saja tidak cukup kali Franz, pegawai disini itu harus rajin dan memiiliki skill," terang Rena.


Michel berjalan ke arah Rena. "Kamu dapat informasi darimana kalau aku akan di pecat Rena?" tanyanya kemudian.


"Yaa nggak ada yang mengatakan kamu akan di pecat secara langsung sih, tapi aku lihat hasil evaluasi kinerja kita selama beberapa minggu ini, dan namamu selalu berada di urutan paling bawah. Kamu tahu sendirikan, disini kalau masih tahap evaluasi, lalu nilai kamu dibawah standar, maka kamu akan dipecat," jawab Rena panjang lebar.


"Oh gitu, tapi, selama belum mendapat kabar langsung dari atasanku, maka aku akan tetap datang untuk bekerja," jawab Michel santai lalu pergi meninggalkan mereka bertiga yang menatapnya dengan tatapan heran.


"Bukan kah dia terlalu santai setelah mendapat kabar dari kita?" tanya Rena yang justru tidak terlihat senang dengan respon Michel.


"Harusnya perusahaan juga menilai keaktifan pegawainya, supaya pegawai yang lebih aktif mengganggu pegawai lain seperti kalian itu yang lebih cocok dipecat duluan," lirih Franz lalu pergi meninggalkan Rena dan Alena.

__ADS_1


"Ish, dasar pria yang suka ikut campur," umpat Rena kesal, sementara Alena hanya diam menatap kepergian Franz.


-Bersambung-


__ADS_2