
Langit kini mulai menggelap, menampilkan hamparan bintang dilangit yang kian berkilauan bagaikan intan yang indah, memanjakan manik mata berwarna kelabu dari seorang gadis yang sedang duduk menyendiri di roof top rumahnya.
Semilir angin yang terasa menusuk sampai ke tulang rupanya tidak begitu ampuh untuk mengusiknya dari lamunan kebimbangan. Bimbang memikirkan nasib cintanya yang begitu menyedihkan. Saling mencintai namun tak bisa saling memiliki, bukan kah itu sangat tragis?
"Bagaimana nasib hatiku ke depannya? Apakah masih setia pada orang yang sama atau akan teralihkan pada orang lain?" monolognya sambil memandang langit.
"Bagaimana kabarnya disana? Apa yang dia lakukan? Apakah dia masih memiliki perasaan padaku?" Entah kenapa deretan pertanyaan itu tiba-tiba saja melintas di dalam pikirannya.
"Tidak-tidak, astaga apa yang ku pikirkan." Gadis itu menggelengkan kepalanya beberapa kali berusaha menepis semua pertanyaan itu dari pikirannya.
"Apa yang kamu lakukan disini sayang?" suara bariton Edward berhasil membuat Rachel terlonjak dari duduknya.
"Ya ampun, ayah mengagetkanku?" Rachel berbalik menghadap ke arah Edward yang saat ini sedang berjalan ke arahnya.
"Padahal ayah hanya bicara pelan, apa yang sedang kamu pikirkan sampai kamu terkejut seperti itu?" tanya Edward.
Rachel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung harus menjawab apa kali ini.
"Emm, ayah, aku punya cerita, apa ayah mau dengar?" tanya Rachel setelah berpikir sejenak.
"Ceritakanlah sayang, ayah siap mendengarnya," jawab Edward membuat Rachel mengulum senyum.
"Begini, aku punya teman, terus temanku ini tidak sengaja bertemu dengan seorang pria karena sebuah urusan. Seiring berjalannya waktu, mulai tumbuh benih cinta di antara keduanya, namun ternyata orang tua dari pria itu adalah musuh dari orang tua temanku ini. Sehingga mereka terpaksa saling menjauh, tapi semakin menjauh, temanku ini semakin tersiksa. Jika misalnya ayah berada di posisi orang tua temanku, apa yang akan ayah lakukan?"
"Kalau ayah sebagai orang tuanya, ayah akan mendukung dia untuk memegang keputusannya agar saling menjauh, kalau perlu, ayah akan mencarikan jodoh untuk dia agar dia bisa melupakannya,"
Mendengar jawaban Edward, Rachel langsung menghembuskan nafasnya kasar, "sudah ku duga," batinnya.
"Oh gitu yah, berarti sama sekali tidak ada harapan bagi temanku itu untuk bisa bersama dengan pria yang dia cintai," guman Rachel.
"Tidak juga, karakter orang tua kan beda-beda, ada yang memilih berdamai dengan musuh demi kebahagiaan anaknya, tapi ada juga yang tetap teguh ingin mencarikan jodoh untuk anaknya." tukas Edward.
Rachel mengangguk paham, "baiklah ayah, Rachel sudah paham," jawab Rachel sedikit tidak bersemangat.
---
__ADS_1
Calvin dan Rossa masih setia menunggu di depan ruang operasi. Sudah lebih 5 jam Darold berada di dalam ruang operasi itu.
Tiba-tiba seorang perawat dengan memakai baju oka lengkap dengan tutup kepala dan masker keluar dengan sedikit berlari. Calvin hanya memandangnya dengan penuh tanda tanya, tak lama kemudian, perawat itu kembali dengan membawa kantong darah. Rasa cemas dan khawatir kembali mengusik Calvin.
"Mom, apa yang terjadi? Kenapa mereka mengambil darah tambahan?" tanya Calvin.
"Tenanglah sayang, kita doakan saja semoga daddymu baik-baik saja," ucap Rossa sambil mengusap punggung Calvin pelan.
Satu jam kemudian, dokter yang melakukan operasi kepada Darold keluar. Calvin yang sudah sejak tadi menunggu langsung mengahampiri sang dokter.
"Dokter, bagaimana operasinya?" tanya Calvin.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, namun pasien tidak bisa di selamatkan karena pendarahan yang cukup parah," jawab dokter itu, seketika membuat kedua kaki Calvin terasa lemas. Tubuhnya luruh ke lantai dengan tatapan kosong.
"Calvin," ucap Rossa langsung memeluk tubuh Calvin. Tubuh yang mulanya tenang, lama-kelamaan terasa bergetar dengan terdengarnya sedikit isak tangis yang tertahan dari mulut Calvin.
"Keluarkan saja suaramu sayang, jangan di tahan," lirih Rossa, membuat suara tangisan Calvin mulai keluar dan menggema di depan ruang operasi itu.
Kenapa? Salahkah jika Calvin menangis? justru Calvin akan semakin salah jika ia menahan tangisnya, sebab itu hanya akan membuat hatinya menjadi rapuh.
Kehilangan sosok ayah yang begitu menyayanginya sejak kecil benar-bear membuat Calvin terpukul hingga beberapa minggu lamanya.
"Calvin, apa kamu akan sibuk terus dengan bisnismu ini?" tanya Rossa saat mereka sedang sarapan bersama.
"Apa maksud mommy?"
"Bukankah saat daddymu di operasi kamu mengatakan bahwa daddymu memberikan pesan kepadamu untuk mencari Rachel, kenapa kamu belum berusaha mencarinya sampai sekarang?"
Calvin langsung menunduk lesu saat mengingat pesan mendiang ayahnya yang terakhir kalinya.
"Sepertinya Rachel telah memiliki kekasih mommy, Calvin tidak ingin mengganggu hubungannya kali ini," lirih Calvin.
Rossa mengernyitkan alisnya, "apa kamu sudah mencari tahu dan memastikannya?"
"Tahun lalu aku ke pernikahan Shally, Rachel juga datang ke acara Shally, dan dia datang bersama kekasihnya," ucap Calvin.
__ADS_1
"Benarkah begitu?" selidik Rossa dan Calvin mengangguk.
"Kalau begitu, carilah wanita lain, sekarang usiamu sudah 25 tahun, usia yang sudah cukup dewasa untuk menikah, atau kamu ingin mommy yang mencarikannya untukmu?" tukas Rossa.
"Terserah mommy saja bagaimana baiknya, Calvin akan langsung ke kantor kalau begitu," ucap Calvin lalu mengecup kening Rossa dan pergi.
"Baiklah jika itu maumu," lirih Rossa kemudian sambil tersenyum penuh arti.
Kini Calvin tiba di kantornya yang tidak terlalu besar, ini di karenakan perusahaa Calvin masih merupakan perusahaan yang baru berkembang.
"Selamat pagi pak Calvin," sapa sekretaris Calvin bernama Dicky.
"Pagi, bagaimana dengan pengajuan kerja sama kita dengan beberapa perusahaan yang pernah kita bicarakan itu Dicky?" tanya Calvin.
"Kita sudah mendapat feedback dari beberapa perusahaan, dari 5 perusahaan luar negeri yang kita ajukan, ada 3 yang menerima penawaran kita," jawab Dicky.
"Okey, perusahaan apa saja itu?"
"Vera Solution, C&Z company, dan Barley company," papar Dicky.
"Baiklah, atur pertemuanku untuk ketiga perusahaan itu," seru Calvin.
"Saya sudah mengaturnya pak, untuk Vera solution, jadwal yang telah mereka setujui adalah minggu depan, yang lain masih menuggu konfirmasi," terang Dicky.
"Baiklah, teirma kasih dicky," ucap Calvin lalu mulai bekerja seperti biasa.
"Oh iya, pak Calvin, saya baru saja menerima telfon dari nyonya Rossa, kalau siang ini, bapak ada jadwal kencan buta dengan seorang gadis pilihan nyonya," tambah Dicky membuat Calvin seketika batuk akibat tersedak salivanya sendiri karena begitu terkejut.
"Apa? Kencan buta? Yang benar saja," pekik Calvin tidak percaya.
"Iya, kata nonya, keputusannya mutlak," ujar Dicky sambil menahan senyum membuat Calvin hanya bisa tepuk jidat.
Siang hari, sesuai dengan janji yang telah di buat Rossa, ia akan bertemu dengan seorang gadis, anak dari teman Rossa saat masih sekolah. Dengan berbekal foto yang dikirimkan oleh Rossa, Calvin masuk dan mencari gadis yang dimaksud.
Beberapa kali ia menoleh kesana kemari mencari gadis itu, namun tak juga ia temukan, hingga ia merasa seseorang menepuk pundaknya dari belakang dan ia pun berbalik.
__ADS_1
"Calvin yah?" tanya seorang gadis yang mirip dengan foto yang ada di ponselnya.
-Bersambung-