
"Eh tunggu dulu, apa kita pernah bertamu saat kamu tidak memakai kacamata? Aku merasa wajahmu seperti tidak asing," selidik Zayyand.
Alice membuang napas kasar, "jadi kamu masih tidak mengingatku?"
Zayand mengerutkan alisnya, dan kini seolah ia sedang berpikir keras sambil sesekali menatap wajah Alice.
Merasa di tatap oleh Zayyand, Alice seketika menunduk, jantungnya berdebar tidak karuan. Alice tahu, tatapan Zayyand saat ini hanyalah tatapan biasa saat ia sedang berusaha mengingat Alice dan bukan tatapan apapun sebagaimana yang Alice harapkan.
"Apa penampilanmu yang culun adalah dampak dari trauma itu?" tanya Zayyand dan Alice mengangguk pelan.
"Jadi benar, insiden satu tahun lalu yang kamu maksud adalah insiden yang itu? Itu sebabnya hanya aku yang bisa membuatmu merasa aman?" tanya Zayyand lagi dan Alice mengangguk.
Zayyand membuang napas kasar, ia tidak tahu kenapa ia seperti merasa kecewa dengan jawaban Alice.
"Apa kamu sudah mengingatku?" tanya Alice saat melihat Zayyand hanya menunduk lesu.
"Iya, aku sudah mengingatmu," jawab Zayyand seraya mengangkat wajahnya.
"Kamu tahu? Apa yang membuatku mengingatmu?" tanya Zayyand lagi.
"Tidak," jawab Alice singkat.
Zayyand menarik bibirnya kemudian melangkah mendekati Alice, "karena mata birumu yang indah." Wajah putih Alice seketika memancarkan semburat merah, tak ingin ketahuan, ia langsung kembali menundukkan kepalanya merasa salah tingkah.
"Kenapa? Apa kamu tidak takut padaku saat aku berada sedekat ini padamu?" tanya Zayyand.
"Ti-tidak, karena aku percaya kamu pria baik dan menghargai wanita," jawab Alice terbata-bata, jantungnya kian bertalu-bertalu membuat aliran darahnya seolah mengalir begitu cepat menciptakan rasa yang tidak bisa ia jelaskan.
Zayyand kembali tersenyum, "terima kasih sudah mempercayaiku," ucap Zayyand lalu kembali mundur agar Alice kembali merasa nyaman.
Siang hari di sebuah restaurant.
Dua wanita tampak sedang berbincang serius.
"Terima kasih telah bersedia datang kesini, nyonya Rachel."
"Tidak masalah, nyonya Marie." Rachel tersenyum ramah.
"Begini, saya sengaja mengundang anda kesini karena ingin mendiskusikan sesuatu dengan anda mengenai anak kita."
Rachel mengerutkan alisnya, "apa yang ingin anda diskusikan, nyonya?"
"Sebelumnya, saya mohon maaf karena selalu meminta bantuan anda. Tadi pagi saat Zayyand datang menjemput Alice, tubuh Alice yang awalnya bergetar hebat karena takut, seketika rileks, seolah rasa takut itu hilang tanpa jejak, nah karena itu, saya ingin menanyakan terlebih dahulu, apa Zayyand memiliki kekasih?" tanya Marie setelah ia menjelaskan panjang lebar.
"Setahu saya, Zayyand tidak tertarik untuk pacaran," jawab Rachel.
"Benar kah? Jadi Zayyand tidak tertarik menjalin hubungan?" tanya Marie sedikit lesu. Sejujurnya Marie menginginkan Zayyand menjadi kekasih Alice agar dia bisa lebih leluasa untuk menjaganya dan membawanya konsultasi ke psikiater untuk mengobati traumanya.
"Itu untuk pacaran, dia lebih suka dengan hubungan pernikahan," jelas Rachel.
"Apa?" pekik Marie tidak percaya, ternyata di zaman sekarang masih ada pria yang seperti Zayyand, dimana mereka hidup di lingkungan yang bebas, bahkan hidup bersama tanpa ikatan pernikahan pun tidak menjadi masalah.
Ia kembali meragukan niatnya, apakah Zayyand ingin menikah dengan putrinya yang memiliki trauma itu.
"Ada apa nyonya?" tanya Rachel yang sejak tadi melihat Marie melamun.
"Eh tidak apa-apa nyonya, sejujurnya saya menginginkan Zayyand menjadi kekasih Alice agar dapat leluasa selalu bersama dengan Alice, tapi saya sedikit ragu untuk menyatakan keinginan saya agar Zayyand menikahi Alice, barangkali Zayyand telah memiliki seseorang yang ingin ia nikahi," tutur Marie.
__ADS_1
Rachel tersenyum tipis, "kenapa anda tidak tanyakan secara langsung kepada Zayyand? Jika Zayyand setuju maka tidak ada alasanku menolak, saya yakin dengan pilihan Zayyand," ujar Rachel.
Saat ini Zayyand sedang mengantar Alice kembali ke rumahnya. Selama beberapa saat mereka terdiam sejenak.
"Zay, apa kamu memiliki kekasih?" tanya Alice membuka percakapan di atas motor.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Aku hanya berpikir apa tidak apa-apa kamu menjagaku seperti ini, apa dia tidak akan cemburu, gitu,"
Zayyand hanya diam.
"Lalu, apa kamu memiliki seseorang yang kamu sukai?" tanya Alice lagi.
"Aku tidak tahu apakah ini suka atau bukan, hanya saja aku selalu penasaran tentang dirinya,"
Raut wajah Alice seketika berubah lesu, "ooh gitu," jawabnya singkat.
"Lalu kamu bagaimana?" Kini Zayyand yang mulai bertanya.
"Aku memiliki seseorang yang aku sukai,"
Sama halnya dengan Alice, wajah Zayyand juga terlihat lesu.
"Kenapa bukan dia saja yang menjagamu?" tanya Zayyand.
"Apa aku harus menjawabnya sekarang?" tanya balik Alice.
"Jawab saja agar aku tidak penasaran lagi," ujar Zayyand.
"Karena dia yang menjagaku sekarang,"
"Kamu," jawab Alice singkat menahan malunya.
Ciiiiiit
Zayyand seketika menghentikan motornya secara mendadak, membuat tubuh Alice terhempas ke depan dan menabrak punggung Zayyand.
"Auw," pekiknya saat hidungjua terasa sakit akibat berbenturan dengan punggung Zayyand.
"Maaf, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Zayyand yang saat ini jantungnya berdegup kencang.
"Iya, kenapa berhenti mendadak?" tanya Alice sambil mengusap hidungnya yang memerah bak buah tomat.
"Aku ingin memastikan sesuatu, apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Zayyand sambil mengarahkan kaca spion motornya ke arah Alice.
"Nggak, aku nggak akan mengulanginya, aku sudah cukup malu untuk mengakuinya kembali," tolak Alice sambil menunduk dengan pipi yang merona merah.
Zayyand menarik bibirnya, ia merasa gemas dengan gadis yang berada di belakangnya saat ini.
"Aku juga ingin mengungkapkan sesuatu, apa boleh?" tanya Zayyand.
"Apa itu?"
"Kamu tahu orang yang membuatku penasaran, padahal aku baru berjumpa dengannya kemarin?" tanya Zayyand dan Alice menggeleng pelan.
"Itu kamu," jawab Zayyand tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca spion yang menangkap bayangan gadis itu. Alice yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat wajahnya terkejut dan itu membuat Zayyand mengulum senyum.
__ADS_1
"Aku?" tanya Alice sambil menunjuk dirinya, ia masih belum sadar jika sejak tadi Zayyand memperhatikannya melalui spion.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Alice, Zayyand langsung melajukan motornya menuju rumah Alice.
Beberapa menit kemudian, Zayyand dan Alice tiba di mansion Alice, dimana Marie sudah menunggu mereka sejak tadi di depan pintu.
"Akhirnya kalian datang juga," ucap Marie, "masuklah Zayyand, ada yang ingin aku bicarakan," ujar Marie, mebhat Zayyand akhirnya ikut masuk ke dalam mansion itu.
Kini mereka tiba di dalam mansion. Zayyand dan Alice kini di arahkan duduk bersebelahan.
"Ada apa mom," tanya Alice.
"Zayyand, apa kamu memiliki seseorang yang ingn kamu nikahi?" tanya Marie.
"Apa maksud nyonya?" tanya Zayyand.
"Begini, bagaimana pendapatmu jika aku ingin menikahkanmu dengan Alice," mata Zayyand dan Alice seketika membelalak.
"Apa maksud mommy?" tanya Alice sangat terkejut.
"Diamlah sayang, aku menanyakan ini pada Zayyand, bagamana menurutmu?" Marie bertanya kembali.
Zayyand menunduk sejenak, ia lalu menoleh ke arah Alice.
"Saya bersedia nyonya," jawab Zayyand, membuat Alice semakin terkejut sementara Marie tersenyum bahagia.
"Baiklah, kalau begitu, minggu depan kalian akan menikah, lebih cepat lebih baik agar aku tidak perlu mengkhawatirkan Alice lagi.
Satu minggu kemudian, Zayyand dan Alice akhirnya telah resmi menikah di usia mereka yang masih muda.
"Terima kasih karena sudah mau menikahiku," cicit Alice saat mereka tengah duduk berdua di sebuah taman malam itu.
Zayyand tersenyum, ia lalu menoleh ke arah Alice, "apa kamu bahagia menikah denganku?" tanya Zayyand sambil menatap lekat bola mata biru itu.
"Tentu saja aku sangat bahagia, aku telah lama menyukaimu," jawab Alice terus terang dengan jantung yang berdebar hebat.
"Benarkah? Terima kasih sayang," ucap Zayyand tanpa mengalihkan pandangannya dari Alice. Mambuat Alice semakin salah tingkah dengan wajah yang kini merona merah.
Zayyand yang sejak tadi juga merasakan hal yang sama akhirnya memberanikan diri untuk semakin mendekatkan wajahnya kepada Alice. Semakin dekat hingga membuat Alice refleks memejamkan matanya.
Cup
Satu kecupan hangat berhasil mendarat di kening Alice. Cukup lama Zayyand mencium kening Alice.
"Ini adalah sentuhan kulit kita yang pertama," ucap Zayyand lembut lalu turun mencium hidungnya, "ini yang kedua," beralih mencium kedua mata Alice secara bergantian, "ini yang ke tiga dan ke empat, "lalu turun hingga menyentuh benda ranum milik Alice dan mengecupnya dengan lembut, "ini yang kelima dan seterusnya tidak akan terhitung lagi," ucap Zayyand lalu menjauhkan wajahnya dari Alice hanya untuk melihat bagaimana reaksi wajah wanita yang kini telah menjadi istrinya.
Zayyand kini tersenyum lebar saat Alice semakin terlihat salah tingkah, "aku mencintaimu, Alice," ucap Zayyand.
Alice refleks melihat ke arah Zayyand, "A-aku juga mencintaimu, Zayyand," ucap Alice.
Keduanya kini saling menatap dalam senyuman dan tatapan penuh cinta.
-Selesai-
Oke, untuk kisah Zayyand dan Alice, author hanya paparkan secara singkat saja karena memang hanya part tambahan untuk kisah Zayyand.
Terima kasih banyak karena telah setia menemani "Rahasia si Gadis Culun" hingga selesai.
__ADS_1
Sayonaraa.. 😊😊😊
UQies