Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 8 Aplikasi Pertama


__ADS_3

Malam itu Shally sungguh sangat menyayangkan keadaan, sebab ia membawa Michel dan Calvin bersama dalam satu mobil tapi mereka tidak saling berkenalan, bahkan saling melihat wajahpun sepertinya tidak.


"Ini semua karena si kebo itu, bisa-bisanya yah dia tidur dari berangkat sampai pulang, ya ampun," gerutu Shally mengumpat Calvin yang saat ini berada di kamar sebelah.


-


"Uhuk.. uhuk.. sepertinya ada yang mengumpatku, pasti wanita, dasar wanita," ujar Calvin yang saat ini masih bermalas-malasan di tempat tidurnya.


Di kampusnya, Calvin memang sangat populer dikalangan wanita. Tak hanya pintar, wajahnya yang tampan, dengan hidung mancung, ditambah dengan kulitnya yang putih bersih, membuatnya terlihat sangat sempurna. Sehingga tak jarang, Calvin sering mendengar umpatan dari mereka karena mendapat penolakan dari Calvin.


"Kalau saat ini aku di mansion dan Daddy mendapatiku bermalas-malasan seperti ini, sudah pasti semua komikku jadi sasaran ancamannya," monolog Calvin.


Untuk beberapa saat, Calvin menutup matanya dengan menggunakan lengan tangan kanannya.


"Michel," gumam Calvin, entah kenapa nama itu seperti berputar-putar di kepalanya. Sejujurnya, ia sangat ingin melihat teman Shally yang bernama Michel sebab ia sangat penasaran. Namun entah kenapa, sepertinya takdir belum mengizinkannya untuk berkenalan.


"Suatu saat, jika kita ditakdirkan kembali bertemu, ku harap aku dapat langsung mengenalimu, meski saat ini aku hanya mengetahui namamu." Calvin berbicara sendiri hingga tanpa ia sadari, seutas senyum muncul di bibirnya.


--


Di tempat lain, nampak saat ini Michel sedang fokus membuat sebuah program aplikasi, dengan berbekal buku yang ia sempat pinjam di perpustakaan, Michel mencoba membuat sebuah program aplikasi yang bisa mengenali wajah seseorang diberbagai tempat melalui bantuan satelit. Jadi, aplikasi ini akan sangat membantu untuk mencari orang hilang kelak. Yang perlu disiapkan hanya foto orang yang dicari dan orang itu masih hidup.


Jari-jari lentik Michel bergerak cepat namun pasti membuat kode-kode untuk kesempurnaan aplikasinya ini.


"Jadi!" ucap Michel semangat, "sekarang aku akan mencobanya terlebih dahulu," gumamnya sambil mengambil foto mama Nola dan memasukkannya ke dalam aplikasi itu, kurang lebih 5 menit, lokasi mama Nola kini sudah terlihat di aplikasi tersebut.


"Yes, berhasil." Michel sangat girang melihat aplikasi pertama yang berhasil ia buat.


"Suatu saat nanti, aku akan menggunakan aplikasi ini untuk membantu mencari orang hilang, jika perlu aku akan memperkenalkannya pada polisi untuk memudahkan pekerjaan mereka," monolog Michel tersenyum girang.


--


3 tahun kemudian

__ADS_1


Tak terasa, hari ini merupakan hari kelulusan Michel. Michel lebih dulu lulus dari Shally sehingga itu cukup membuat Shally bersedih.


"Jika dari dulu aku tahu kalau kamu gadis jenius, tentu aku tidak akan berharap lulus bersama denganmu, karena kamu sungguh bukan tandinganku," celetuk Shally saat menghadiri acara kelulusan Michel.


Michel yang mendengar celoteh Shally tentu hanya bisa tertawa geli.


"Makasih yah sudah selalu bersamaku dan menerima kekuranganku selama disini," cicit Michel yang langsung dipotong oleh Shally.


"Kekurangan apanya? yang ada dari kamu itu semua kelebihan," seloroh Shally dan lagi-lagi membuat Michel tertawa geli.


"Habis ini, kami mau langsung pulang?" tanya Shally dengan tatalan yang mulai sendu.


"Iya, urusanku disini sudah selesai, dan aku merindukan kedua orang tuaku," jawan Michel.


"Apa kamu tidak akan kesini lagi?" tanya Shally mulai memperlihatkan matanya yang memerah.


"Tentu saja aku akan kesini lagi, tapi aku belum tahu kapan," jawab Michel jujur.


"Hufth." Shally menghembuskan nafasnya kasar.


"Benarkah?" tanya Shally dan di jawab anggukan oleh Michel.


Kini, Shally sedang mengantar Michel menuju bandara.


"Setelah ini apa rencanamu Michel?" tanya Shally sambil fokus mengemudikan mobilnya.


"Yah seperti orang pada umumnya, mencari kerja," jawab Michel singkat padat dan jelas.


"Usiamu saat ini masih 19 tahun, usia yang masih sangat muda dengan status sarjana, tentu banyak perusahaan yang akan memintamu bekerja ," ujar Shally dan dijawab senyuman oleh Michel.


Mereka terus saja berbincang, hingga tak terasa, mobil yang mereka tumpangi kini sudah sampai di bandara.


"Shally aku pamit dulu, terima kasih sudah menjadi sahabatku selama disini," pamit Michel seraya memeluk Shally.

__ADS_1


"Hey, kamu bicara apa sih, mau disini kek, mau di negara kamu kek, mau dimanapun itu, kita tetap sahabat sampai kapanpun," tukas Shally membalas pelukan Michel.


"Hehe iya iya.." Michel terkekeh, "bye Shally," lanjutnya sambil berjalan meninggalkan Shally.


"Jika kamu bertemu sepupuku, tolong sampaikan salamku," teriak Shally kepada Michel yang sudah menjauh.


Sementara Michel hanya mengangkat tangannya menunjukkan ibu jarinya pertanda 'Oke'. Padahal jangankan melihat wajahnya, dia laki-laki atau perempuan, Michel pun tidak tahu.


Selama di pesawat, Michel sesekali menyunggingkan senyum manis bahagianya. Setelah berjuang selama 3 tahun di Amerika tanpa pernah pulang ke negaranya, akhirnya ia bisa pulang. Ia sangat merindukan mama Nola dan papa Robert.


Michel sengaja tidak memberitahukan perihal kepulangannya, sebab ia ingin memberikan surprise kepada kedua orang tuanya itu.


--


"Sayang, kemarin temanku melihat ada beberapa orang mencurigakan yang masuk ke Desa kita lagi," kata Robert kepada Nola, istrinya.


"Oh yah? mencurigakan bagaimana?" tanya Nola.


"Mereka memakai pakaian hitam-hitam lengkap dengan jas dan kacamata hitam, katanya mereka mencari seseorang," jawab Robert.


"Jika memang demikian, berarti kemungkinan besar klan Black Wolf sudah mencurigai tempat ini, kita harus siap siaga," tukas Nola, "syukurlah karena saat ini Michel sedang di Amerika, jadi mereka tidak akan pernah bertemu dengannya," lanjutnya kemudian.


"Apa kamu masih akan tetap merahasiakan siapa Michel yang sebenarnya?" tanya Robert saat mendengar nama Michel.


"Entahlah, aku hanya takut jika Michel mengetahui bahwa dia adalah putri dari tuan Edward yang bernama Rachel, ia akan mencari tahu tentang kematian orang tuanya, aku tidak ingin Rachel mengikuti jejak mereka," jawab Nola.


Brugh


Nola dan Robert terkejut mendengar suara barang jatuh. Sontak mereka berdua yang sejak tadi berada di depan TV berbalik ke arah pintu depan.


Betapa terkejutnya mereka saat mereka melihat Michel tengah berdiri di pintu dengan wajah pucat dan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Michel," gumam Nola dan Robert bersamaan

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2