Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 42 Itu bukan Kecelakaan


__ADS_3

Saat ini Rachel tidak lagi menggunakan identitasnya sebagai Michel, walaupun identitasnya yang tercatat secara resmi adalah Michel. Ia sengaja tidak mengubahnya dulu mejadi Rachel sebab ia tahu, setelah ini akan banyak orang yang mencari tahu tentang dirinya, Rachelia Edward.


Kacamata yang dulu selalu bersamanya pun tidak ia gunakan lagi malam ini. Meski begitu, Calvin dapat dengan mudah mengenali Michel yang kini telah berubah menjadi Rachel. Untuk sesaat, manik mata Rachel dan Calvin saling bertemu. Perasaan tidak menentu bergejolak di dalam hati keduanya. Tak ada satupun di antara mereka yang bersuara, apalagi saling menegur, walaupun begitu, tatapan mata Calvin maupun Rachel begitu sendu, seolah mereka sedang bersedih untuk alasan yang sama.


Calvin mulai tersadar saat orang-orang datang menghampiri mobil yang saat ini dalam keadaan terbalik, dimana Darold dan 3 orang polisi berada di dalamnya


"Daddy," teriak Calvin begitu khawatir, kini ia bahkan tidak lagi mempedulikan kehadiran Rachel di tempat itu.


"Daddy.. Please, Bertahanlah," gumamnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca sambil menatap sosok ayahnya yang masih berada di dalam mobil dan sedang berusaha di evakuasi.


Sementara Rachel, entah kenapa hatinya ikut bersedih melihat kesedihan Calvin, namun ia segera mengalihkan perasaan yang mengganggunya saat ini. Perlahan ia mundur dan menjauh dari tempat itu, ia lalu mengalihkan pandangannya pada mobil truk besar yang tadi menabrak mobil polisi tersebut, yang juga dalam keadaan rusak bagian depannya.


Dengan cepat Rachel berlari ke arah mobil besar itu, berharap ia bisa bertemu dengan sang supir dan mendapatkan petunjuk. Namun sayang, mobil besar itu kini dalam keadaan kosong. Ia hendak pergi, namun tiba-tiba matanya terpaku melihat tetesan darah di lantai mobil itu, bahkan darah itu juga berada di luar mobil dan mengarah ke suatu tempat, seperti memperlihatkan bahwa pemilik mobil itu juga sedang terluka namun ia memilih untuk melarikan diri.


Pandangan Rachel kini ia alihkan untuk mencari CCTV di sekitar tempat itu, namun, tidak ada satupun CCTV di daerah itu, bahkan tempat itu bisa dikatakan sangat sepi dan jauh dari pemukiman warga. Hanya ada lampu jalan yang membuat jalan itu terlihat sedikit terang. 'Sepertinya kecelakaan ini betul-betul di sengaja karena terjadi di tempat yang sepi dan sama sekali tidak memiliki CCTV,' begitulah fikirnya.


--


Di rumah sakit


Calvin mondar-mandir di depan ruang operasi. Ia begitu khawatir dengan kondisi ayahnya saat ini. Walau bagaimanapun kejahatan yang telah dilakukan, Darold tetaplah ayahnya yang sudah merawatnya dari kecil hingga dewasa.


"Calvin!" panggil Boy yang baru saja datang.


"Boy?" lirihnya saat melihat kedatangan Boy.


"Aku turut bersedih dengan apa yang menimpa ayahmu," ujarnya memegang pundak Calvin.

__ADS_1


"Terima kasih Boy," jawab Calvin tersenyum tipis meski di matanya menyimpan kesedihan yang begitu dalam.


"Oh iya, mengenai Rachelia Edward itu..-" ucapan Boy langsung di potong oleh Calvin.


"Biarkan saja dia, walau bagaimanapun, akar dari masalah ini adalah Daddyku, Rachel hanya mengungkapkan kebenaran," sela Calvin, "meski caranya begitu menyakitkan," lanjutnya tertunduk lesu.


Boy tak dapat bicara apa-apa, ia hanya bisa menepuk pelan pundak temannya itu, berharap ia bisa menyalurkan kekuatan untuknya.


Tring tring


Calvin melihat ponselnya yang kini tengah menampilkan nama "Mommy" sedang menelfonnya.


"Halo, Mom,"


"Halo sayang, mommy baru saja melihat berita tentang Daddymu, dimana dia sekarang? Apa dia tertangkap polisi?"


"Iya Mom, Daddy tadi sudah di tangkap, tapi tiba-tiba terjadi kecelakaan." Calvin berbicara dengan suara sedikit tercekat.


"Iya Mom,"


"Lalu kamu dimana sekarang?"


"Aku di rumah sakit, Mom,"


"Apa boleh Mommy kesitu?"


"Tidak Mom, jangan kesini sendirian, biar nanti Calvin yang menjemput Mommy."

__ADS_1


--


Sementara itu, di Markas Red Sword.


"Selamat sayang, misi pertama kamu akhirnya berhasil," ucap Edward menyambut kedatangan Rachel.


"Terima kasih ayah, ini juga karena bantuan ayah," ujar Rachel tersenyum, namun senyum itu tidak sampai di matanya.


Edward lantas mengerutkan keningmya yang kini tidak kencang lagi melihat ekspresi putrinya, "apa ada yang mengganggu pikiranmu saat ini? tanya Edward.


Rachel terdiam sejenak.


"Ayah, Rachel memang ingin balas dendam, tapi jika sampai menyebabkan nyawa melayang, Rachel tidak tenang," lirih Rachel menunduk.


"Apa maksudmu sayang? bukankah Darold sudah di tangkap polisi dalan keadaan hidup?" tanya Edward yang memang belum mengetahui informasi terbaru tentang Darold.


"Iya ayah, dia memang sudah di tangkap polisi, tapi sekarang dia dalam keadaan kritis akibat mobil polisi yang ia lewati di tabrak oleh mobil truk besar."


"Apa? lalu apa kamu melihat supir truk itu?"


"Tidak ayah karena kaca mobilnya tertutup rapat, tapi satu yang Rachel yakini, orang itu dalam keadaan terluka."


"Betulkah?" Edward menautkan kedua alisnya, "sepertinya itu bukan kecelakaan, tapi memang usaha pemb****an yang telah direncanakan sebelumnya," lanjutnya sembari mengapit dagunya dengan ibu jari dan jari telunjuk.


"Benar ayah, Rachel juga merasa seperti itu, siapa kira-kira pelakunya?" Rachel ikut mengapit dagunya dengan ibu jari dan jari tekunjuk.


"Bukankah sudah jelas sayang? dia adalah orang yang khawatir jika Darold buka suara mengenai dalang sesungguhnya di depan polisi?" tukas Edward.

__ADS_1


Rachel menoleh ke arah Edward dan mengangguk paham tentang siapa yang di maksud ayahnya itu.


-Bersambung-


__ADS_2