Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 26 Dia Berada Disekitarmu


__ADS_3

Malam semakin larut, udara suhu dingin di kota itu semakin menusuk sampai ke tulang-tulang. Kini waktu telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Namun sampai saat ini, mata Michel seperti belum ingin beristirahat, sangat sulit rasanya untuk memejamkan matanya walau hanya sekejap.


Ingatannya pada nama Calvin Archer masih setia terngiang-ngiang didalam kepalanya sampai saat ini. Ada perasaan aneh yang ia rasakan saat mengetahui nama belakang Calvin. Meskipun ia tahu, nama belakang yang sama tidak menjamin mereka memiliki hubungan keluarga.


"Akh.. daripada gelisah karena penasaran, lebih baik aku langsung memastikannya!" gumamnya lalu mengambil laptop kesayangannya. Jari-jarinya kembali bergerak lincah di atas keyboard menutupi suara hewan malam yang terus berbunyi di malam yang semakin sunyi. Ia menelusuri informasi keluarga Calvin Archer. Dan benar saja, rupanya Calvin memang adalah anak dari Darold Archer, pria yang menjadi dalang kematian kedua orang tuanya.


Entah kenapa hati Michel terasa seperti dicubit saat mengetahui fakta itu. Satu bulir air matanya berhasil lolos ke pipinya.


"Ada apa denganku? kenapa fakta ini begitu menyakitkan bagiku, rasanya seperti ada yang patah bahkan sebelum bersemi?" lirihnya sembari menyeka air matanya yang hampir lolos lagi ke pipinya.


Cukup lama Michel memandangi foto keluarga Calvin bersama Darold, hingga ia mulai menyadari permintaan Calvin malam tadi di Cafe saat ia tidak melihat sosok wanita yang disebut ibu dalam foto tersebut.


Michel kembali menelusuri jejak kehidupan Darold Archer, cukup lama ia mencarinya, seolah-olah informasi tentang ibu Calvin sengaja di sembunyikan. Hingga akhirnya Michel berhenti di foto lawas milik Darold saat menikah, ia juga menemukan nama dari wanita itu.


"Namanya Rossa, sangat cantik, dia sangat mirip Calvin," ujarnya dengan mata berbinar memandangi wajah ibu Calvin yang perkiraan usianya saat itu 23 tahun. Dengan sigap Michel mengambil foto itu lalu memasukkannya ke dalam aplikasi yang pernah ia buat 3 tahun yang lalu saat masih berada di AS.


Sekitar 5 menit aplikasinya bekerja mencari wajah yang cocok dengan foto itu, meskipun wajahnya difoto berbeda dengan wajahnya yang sekarang karena pertambahan usia, namun aplikasi yang dibuat Michel ini mampu menyesuaikan foto dengan usianya saat ini.


Kini aplikasi itu menunjuk sebuah titik yang berada jauh dari kota yang ia tempati saat ini.

__ADS_1


"Ternyata Darold selama ini memang membohongi Calvin tentang ibunya, dan dugaan Calvin benar, ibu Calvin memang masih hidup, tapi kenapa lokasinya jauh sekali, dan sangat terpencil? mungkinkah ibu Calvin sengaja bersembunyi disana? ataukah ibu Calvin justru diasingkan oleh Darold agar Calvin tidak bisa bertemu dengannya? bisa saja itu terjadi karena Darold berbohong mengenai kematian ibunya, tapi kenapa?" lirih Michel seraya mengerutkan keningnya, begitu banyak pertanyaan yang ingin ia cari tahu jawabannya saat itu, namun karena waktu semakin larut, lebih baik ia menundanya dulu.


Sebelum menutup laptopnya, tak lupa Michel mencatat alamat lokasi tempat ibu Calvin berada, lengkap dengan titik kordinatnya untuk memudahkan Calvin mencarinya nanti.


"Mungkin ini adalah interaksi terakhir kita, semoga setelah ini kita tidak terlibat urusan lagi," gumamnya lalu kembali berbaring di tempat tidurnya dan langsung tertidur pulas.


-


Pagi ini Michel sudah kembali memulai aktivitasnya. Seperti biasa saat hari minggu, ia akan memghabiskan paginya dengan olahraga dan latihan bela diri. Meskipun tidurnya hanya 2 jam malam tadi, tapi kebiasaan paginya sudah tidak bisa ia tinggalkan lagi.


Hampir 1 jam Michel berolah raga, hingga akhirnya ia memutuskan untuk istirahat dan sarapan.


"Hufth," Michel menghela nafas panjang. Semenjak mengetahui nama belakang Calvin, setiap menyebut nama Darold, Michel akan langsung teringat pada Calvin, pria yang sudah berhasil dekat dengannya selama beberapa minggu ini.


Meski begitu, walau bagaimanapun rencananya harus tetap berjalan. Biarlah ia menjauhi Calvin asal hidupnya bisa lebih tenang tanpa ancaman dari siapapun. Dan yang lebih penting, ia ingin hidup dengan identitas aslinya.


--


Di sisi lain, saat ini Calvin sedang bertemu kembali dengan Boy, detektif yang membantunya mencari informasi tentang Rachelia Edward.

__ADS_1


"Bagaimana penelusuranmu, Boy?" tanya Calvin lirih.


"Kami sudah menemukan penyebab ledakan itu bro, ternyata ledakan itu adalah ledakan yang sengaja dibuat oleh kelompok mafia bernama, jika tidak salah namanya Black Wolf,"


"Apa?" Calvin cukup terkejut, pasalnya ia tahu bahwa Black Wolf adalah mafia yang dipimpin oleh ayahnya, dan tidak ada yang tahu itu kecuali dirinya dan anggota Black Wolf itu sendiri.


"Aku tidak tahu, apa masalah Edward dengan kelompok mafia ini sehingga mereka nekat menyerang rumahnya saat itu."


"Lalu bagaimana dengan Rachelia Edward, Boy?"


"Dari hasil penelusuranku, Rachelia Edward dibawa lari oleh bodyguardnya sendiri saat menyadari penyerangan itu. Mungkin ini permintaan dari Edward maupun istrinya untuk menyelamatkan putrinya."


"Berarti kemungkinan besar Rachelia Edward masih hidup?"


"Iya bro, tapi aku tidak tahu Rachelia Edward dibawa kemana saat itu, karena jejaknya benar-benar bersih, tapi aku yakin, anak itu pasti sedang bersembunyi atau minimal ia menggunakan identitas palsu agar ia tidak ditemukan oleh mafia itu"


Calvin mengernyitkan alisnya, "identitas palsu?"


"Iya bro, bisa saja dia sebenarnya berada di sekitarmu, hanya saja kau tidak menyadarinya," tukas Boy.

__ADS_1


-Bersambung


__ADS_2