Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 43. Berlatih Menembak


__ADS_3

Sinar sang surya perlahan menampakkan berkas cahayanya setitik demi setitik di iringi dengan alunan suara indah ayam jantan di tengah perkotaan, mengingatkan kepada para penghuni bumi untuk memulai kembali aktivitasnya.


Dua mata indah seorang gadis perlahan membuka, bola mata kelabu itu bergerak mengamati seluruh sudut ruangan yang tampak berbeda dari biasanya.


"Ah, ternyata aku semalam tertidur di tempat ayah," gumam wanita yang kini telah memutuskan untuk menggunakan identitas aslinya, Rachelia Edward.


Hari ini Rachel memutuskan untuk menghabiskan waktunya bersama sang ayah. Kembali bekerja di DA Group tentu sudah tidak memungkinkan lagi bagi Rachel, kecuali jika ia adalah gadis bermuka tebal yang tak mempedulikan tanggapan heboh yang akan ia terima setelah pengakuannya malam itu di tengah publik.


Tok tok tok


"Masuk," gumam Rachel dengan suara khas bangun tidurnya.


"Kamu sudah bangun sayang?" ujar Edward sembari membuka pintu, "baguslah kalau kamu sudah bangun, bersiaplah sayang, ayah akan membawamu ke suatu tempat," lanjutnya sambil berjalan masuk lalu meletakkan sebuah nampan berisi roti lapis dan susu di atas nakas, tak lupa Edward mengecup kening sang putri dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih ayah, oh iya kita mau kemana?" tanya Rachel.


"Nanti kamu akan tahu sayang, bersiaplah," tukas Edward lalu pergi keluar kamar.


Setelah menghabiskan roti lapis dan susu, Rachel mulai bersiap-siap. Pagi ini, ia menggunakan setelan casual dengan celana kulot panjang dan baju kaos lengan pendek, tak lupa ia menguncir rambut coklat panjangnya seperti biasa.


"Aku sudah siap ayah," ujar Rachel menemui Edward yang sudah menunggunya sejak tadi di ruangannya.


"Baiklah ikuti ayah."


Merekapun pergi menyusuri lorong yang tempatnya masih berada di bawah tanah. Kurang lebih 5 menit perjalanan, kini mereka tiba di sebuah lapangan yang cukup luas. Disana ada banyak anggota Red Sword yang sedang berlatih. Ada yang berlatih kekuatan fisik, ada yang berlatih bela diri hingga ada yang berlatih menembak.


"Wah.. ayah, kita dimana?" tanya Rachel yang begitu takjub.


"Kita sekarang sedang berada di lapangan khusus untuk para anggota Red Sword berlatih. Tujuan ayah membawamu kesini adalah untuk melatih kamampuanmu dalam menembak," terang Edward seraya menatap Rachel yang juga sedang menatapnya. "Dan yang melatihmu menembak adalah Morgan, dia orang kepercayaan Ayah yang sudah bersama ayah sejak masih remaja, dan dia sangat ahli dalam menembak," lanjutnya sambil menarik Morgan ke sampingnya.


"Baiklah ayah, lalu ayah akan kemana setelah ini?" tanya Rachel.

__ADS_1


"Ayah akan selalu disini menemanimu berlatih," jawab Edward sambil mengusap rambut halus Rachel.


Dan latihan pun dimulai. Meski Rachel telah memiliki pistol sendiri yang Edward berikan, namun ia belum pernah menggunakannya karena memang ia masih sedikit takut untuk menggunakan pistol.


Morgan mulai melatih Rachel, di mulai dari cara memegang pistol kecil, "posisikan tangan nona seperti ini jika ingin menembak dengan satu tangan, dan kalau ingin menembak dengan dua tangan, maka tangan kanan nona seperti ini dan tangan kiri nona seperti ini," ujar Morgan sambil meletakkan tangan Rachel di pistol itu sesuai dengan yang ia arahkan.


Rachel benar-benar memperhatikan apa yang diajarkan Morgan kepadanya, bahkan hanya dengan sekali penjelasan dari Morgan, Rachel langsung dapat mengingat dan memahaminya.


"Nah, sekarang silahkan nona menembak ke arah target yang ada di depan." Morgan mengarahkan Rachel dengan berdiri tepat di sampingnya.


Percobaan menembak Rachel pun di mulai.


Dorr... masih meleset.


Dorr... masih meleset.


Dorr... sedikit lagi mengenai target.


Dorr... meleset sedikit.


"Ternyata menembak versi nyata sangat berbeda dengan menembak versi game," celoteh Rachel membuat Morgan sedikit menarik bibirnya.


"Biar saya bantu arahkan nona, maaf sebelumnya." Morgan meminta izin terlebih dahulu lalu memposisikan tubuhnya tepat di belakang Rachel, lalu kedua tangannya ia ulurkan tepat di sisi kanan dan kiri Rachel dan membantunya memegang pistol. Morgan yang memiliki tinggi badan jauh di atas Rachel membuat dagu Morgan tepat berada di atas kepala Rachel.


Pria gondrong itu mulai menjelaskan mengenai teknik dalam mengarahkan bidikan. Rachel tentu saja merasa risih berada dalam jarak yang sangat dekat dengan seorang pria, seolah ia sedang berada di dalam kungkungan pria itu, bahkan tubuh Morgan yang menyentuh punggung Rachel membuatnya justru semakin tidak fokus.


"Baiklah, aku mengerti, sekarang biarkan aku mencobanya sendiri," ucap Rachel agar Morgan menjauh darinya.


Dorr... plak...


"Yes, akhirnya kena juga," seru Rachel menujukkan kebahagiannya. Edward yang sejak tadi memperhatikannya juga tersenyum senang.

__ADS_1


"Maafkan aku Vera, aku terpaksa melatih putri kita memembak, aku tidak bermaksud melanggar janjiku untuk tidak menyeret Rachel dalam duniaku, aku hanya ingin berjaga-jaga dari serangan musuh yang sudah mengetahui identitasnya." batin Edward sambil menatap sendu Rachel yang kini sedang tersenyum puas setelah tembakannya tepat sasaran.


--


Di DA Group


Semua orang tengah heboh membicarakan Michel setelah semuanya terungkap malam itu. Bahkan Robin yang dulu selalu menunjukkan ketidak sukaannya pada Michel ikut di buat terkejut dan tidak percaya.


"Franz, apa betul Michel yang kita kenal di sini adalah Michel yang muncul di berita semalam?" tanya Robin.


"Betul pak," jawab Franz singkat.


"Berarti selama ini dia hanya menyamar dan berpura-pura bodoh di depan kita?" tanya Robin semakin dibuat tidak percaya dan Franz kembali memgangguk.


"Astaga anak itu, ku pikir dia cupu, ternyata suhu." Gumam Robin yang merasa kagum dengan keberanian Michel dalam mengungkapkan kebenaran.


--


Di Rumah Sakit


Seorang wanita paruh baya sedang berjalan di lorong rumah sakit bersama putranya. Hari ini, Calvin betul-betul memenuhi janjinya untuk membawa Rossa ke rumah sakit.


Rossa turut merasa sedih melihat kondisi mantan suaminya yang dulu sangat kuat dan tangguh kini terbaring lemah tak berdaya dengan banyaknya alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.


"Bagaimana keadaan Daddy saya dok? Tanya Calvin saat dokter datang memeriksa Darold di ruangannya.


"Begini, karena tabrakan mobil itu, kepala pak Darold mengalami benturan yang sangat kuat, sehingga itu membuatnya koma."


"Apa? Koma?"


'Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2