Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 46 Kedatangan Orang Tak Terduga


__ADS_3

“Kamu siapa?” lirih Rachel


Orang misterius itu hendak menoleh ke arah Rachel, namun para anak buah Franz mulai menyerang kembali, kali ini dengan senjata tajam. Satu, dua, tiga hingga beberapa dari mereka dapat dilumpuhkan oleh orang misterius tersebut. Namun, tiba-tiba tubuh orang misterius itu di kunci dari belakang oleh salah satu dari mereka, saat orang misterius itu hampir di serang oleh seseorang dari arah depan, Rachel dengan cepat menendang orang itu hingga terjatuh, dan orang misterius itu langsung melepas kunciannya dan menyerang balik. Bukannya berkurang, anak buah Franz malam ini justru seperti beranak pinak, mereka kini mengelilingi Rachel dengan orang misterius itu.


“Katakan kamu siapa?” tanya Rachel lagi saat posisi mereka kini saling memunggungi.


“Aku Calvin,” jawabnya sambil melepas maskernya.


“Calvin? Kenapa..” pertanyaan Rachel terpotong saat mereka mulai di serang kembali. Sembari menangkis dan menyerang lawan, Rachel melirik Calvin yang begitu lincah menghadapi lawannya.


Cukup lama mereka bertarung dua orang melawan beberapa orang yang tidak ada habisnya itu. Hingga kali ini Rachel kembali tersungkur saat sebuah balok berhasil mengenai pundaknya.


“Kamu tak apa-apa, Rachel?” tanya Calvin yang begitu khawatir.


“Aku tak apa-apa?” jawab Rachel menatap Calvin, kedua netra mereka sejenak saling bertemu, namun seketika buyar saat terdengar suara tembakan, Calvin refleks memeluk Rachel untuk melindunginya jika saja tembakan itu ditujukan pada Rachel.


Degh


Jantung keduanya tiba-tiba kembali berdegup kencang saat tubuh mereka saling berimpit.


“Wah, rupanya ada sepasang kekasih disini,” seru Franz setelah menembakkan peluru ke langit. “Katakan permintaan terakhir kalian, sebelum peluru ini menembus kepala kalian,” lanjutnya dengan senyum devil.


Bukannya menjawab, Rachel justru bergeming, sementara Calvin melepas pelukannya dan membawa Rachel ke belakang tubuhnya tanpa ikut menjawab.


“Baik, jika tidak ada jawaban, ucapkan selamat tinggal,” ujar Franz sembari mengarahkan pistolnya ke arah dua orang itu.


Saat Rachel dan Calvin hendak berlari menghindari tembakan Franz, tiba-tiba mereka dibuat terkejut ketika ada yang menendang tangan Franz hingga pistolnya terlepas dari tangannya.


“Si*l!! Siapa lagi kali ini?” geram Franz sembari menoleh ke arah seseorang yang juga mengenakan pakaian serba hitam.


“Kau tahu, menyerang warga sipil adalah sebuah pelanggaran, kau bisa dihukum penjara jika kau melakukannya,” ujar orang tersebut yang ternyata seorang wanita.


“Siapa kau?” gertak Franz sembari memberikan kode kepada anak buahnya untuk bersiap menyerang wanita itu.

__ADS_1


Wanita itu lalu membuka maskernya, “kau tak perlu tahu nama asliku, yang jelas nama samaranku adalah Rena,”


“Apa? Rena?” lirih Franz dan Rachel bersamaan lalu memperhatikan wajah wanita itu baik-baik di malam yang hanya mengandalkan cahaya bulan.


“Benar, dia Rena,” batin Rachel yang kali ini dibuat terkejut dengan status asli orang yang di kenalnya.


“Hey Rena, siapa kali ini yang akan kau bela? Bukankah kau sangat membenci Michel, maksudku Rachel?” tanya Franz tersenyum sinis karena yakin Rena akan membelanya.


“Jika aku sedang dalam mode menyamar, maka aku akan membenci Rachel, tapi kali ini aku sedang tidak dalam mode menyamar, jadi aku akan membela yang benar,” jawab Rena santai.


“Siapa kau sebenarnya?” geram Franz lalu memberikan kode kepada anak buahnya untuk menyerang Rena. Sehingga pertarungan antara Rena dan beberapa orang terjadi. Sementara itu, Franz sedang mencari-cari pistol yang tadi sempat terjatuh, saat ia menemukannya dan hendak mengambilnya, tiba-tiba Rachel lebih dulu mengambilnya. Calvin sendiri sedang sibuk membantu Rena melawan anak buah Franz.


“Angkat tangan Franz, ku rasa permainanmu berakhir malam ini,” ujar Rachel sembari menodongkan pistol ke arah Franz. Namun Franz justru terlihat santai, ia tidak takut sama sekali dengan Rachel.


“Sekarang katakan padaku, kamu kan yang menabrak tuan Darold?” tanya Rachel.


“Kenapa? Apa kau ingin memasukkanku ke dalam TV seperti yang kau lakukan pada Darold?”


“Hmm gimana yah? coba deh kamu pikir, menurutmu apa kondisi saat ini sangat cocok untuk memasukkan orang ke dalam TV? Gelap dan bising.”


“Apa kamu lupa Franz, memilih tidak menjawab sama halnya dengan tidak menampik pertanyaanku. Bukan kah begitu?” tanya Rachel dan Franz bergeming.


“Baiklah, anggap saja kamu mengakui kesalahanmu. Sekarang aku akan bertanya lagi, apa hubunganmu dengan Damon Arthur?” tanya Rachel menciba memancing Franz.


Franz seketika terbelalak saat Rachel menyebut nama ayahnya. “Kau mengenal ayahku?” Pertanyaan itu Refleks keluar dari mulut Franz.


Rachel kembali tersenyum mendengar jawaban refleks Franz. “Tentu saja aku tahu, bahkan nama aslimu aku tahu, tuan Alfonso Arthur.


“Darimana kau tahu semua itu? Bahkan semua informasi tentang kami telah kami lenyapkan,”


“Apa kamu lupa, aku seorang peretas dan programmer, aku memiliki program aplikasi yang bisa mengembalikan semua data yang telah di hapus sebelumnya.”


Franz kembali terdiam, ia mengepalkan kedua telapak tangannya lalu memberi kode kepada anak buahnya yang memegang pistol agar segera menembak Rachel.

__ADS_1


Namun bukannya menembak, anak buah itu justru menghampiri Franz lalu mengikatnya.


“Hei apa-apaan ini!”


Rachel yang melihatnya tersenyum puas lalu memberi kode OK pada pria itu yang ternyata adalah Morgan.


*Flashback*


Sebelumnya di rumah Rachel


“Morgan, aku akan ke tempat ini sendiri,” ujar Rachel dengan mata yang berkaca-kaca.


“Nona, kau tidak boleh pergi kesana sendirian, mereka adalah mafia Black Wolf, itu berbahaya, lebih baik kami ikut,” seru Morgan.


Tanpa menjawab, Rachel pergi ke kamarnya mengambil kertas dan pulpen lalu menuliskan sesuatu di kertas itu.


“Morgan, berbicaralah seperti biasa, aku melihat ada penyadap suara di sela jendela itu,” tulis Rachel kepada Morgan.


“Lalu, apa rencanamu nona?” tulis Morgan bertanya.


“Kita akan kesana bersama, tapi pergilah lebih dulu, bawa beberapa anak buah ayah, dan gunakan pakaian serba hitam dan masker, aku tahu, para anggota Black Wolf akan selalu menggunakan pakaian hitam saat beraksi. Setelah itu, ganti posisi beberapa anak buah mereka dengan anak buah ayah, dengan menyuntikkan bius ini kepada mereka lalu bawa mereka ke sebuah tempat. Bergabunglah dengan anak buah yang lain, dan saat mendapat perintah menyerang, maka seranglah aku agar mereka tidak curiga, lalu saat ada kesempatan, tangkaplah Franz dan ikat dia. Sekarang berpura-puralah bicara seperti biasa,” tulis Rachel lalu membakar kertas itu.


Morgan mengangguk paham dengan rencana Rachel.


“Kau kembalilah ke tempatmu, aku akan pergi sendiri, percayalah padaku, aku bisa melindungi diriku” ujar Rachel tersenyum.


“Baiklah nyonya jika itu maumu, kalau gitu aku permisi dulu,” balas Morgan ikut tersenyum.


Setelah itu, Morganpun pergi dengan mobil Rachel untuk mengatur recana yang baru saja Rachel buat bersama anggota Red Sword yang lain. Sementara Rachel akan pergi dengan taksi sehingga ia akan terlihat benar-benar sendiri.


*Flashback off*


-Bersambung-

__ADS_1


 


 


__ADS_2