Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 34 Ayah?


__ADS_3

Michel terlebih dahulu menurunkan Thomas di rumahnya demi keamanannya. Kini Michel kembali melajukan mobilnya mengikuti kemana arah mobil merah tersebut membawanya.


Dan disinilah Michel sekarang, berada di depan sebuah rumah sederhana. Namun saat masuk, ia justru di arahkan ke ruang bawah tanah yang sangat luas dan terdiri dari beberapa ruangan besar.


"Aku di bawa kemana sebenarnya?" tanya Michel penasaran karena dari tadi mereka terus saja berjalan melewati beberapa ruangan.


Morgan sama sekali tidak merespon pertanyaan Michel, hingga saat mereka tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna merah.


"Masuklah nona." Morgan mempersilahkan Michel memasuki ruangan tersebut.


Dengan hati-hati dan waspada, Michel memasuki ruangan itu. Rupanya di dalam ruangan itu sudah ada pria yang menunggunya. Untuk sesaat, Michel tidak dapat melihat wajah pria itu sebab pria itu sedang memunggunginya sambil menatap sebuah foto wanita yang jelas ia sangat tahu karena pernah melihat foto itu sebelumnya.


Jika di lihat dari belakang, Michel dapat mengetahui bahwa pria itu sudah sangat dewasa sebab rambutnya yamg sudah ditumbuhi beberapa uban, meski begitu, tubuh pria itu masih nampak sehat, tegap dan kekar.


"Permisi tuan," sapa Michel akhirnya.


Pria itu segera berbalik saat mendengar suara Rachel.


Degh


Jantung Michel berdegup kencang seolah baru saja dikejutkan oleh sesuatu yang luar biasa.


"Ayah?" lirih Michel, ia jelas ingat wajah sang Ayah dari foto yang berhasil ia dapat saat meretas informasi tentang Edward.


Edward tersenyum mendengar suara lirih Rachel. "Apa kamu mengenalku?" tanyanya.

__ADS_1


Michel bergeming, ia masih mencerna apa yang terjadi saat ini, siapa yang di hadapannya saat ini, "bukankah ayah telah meninggal? lalu dia siapa?" batin Michel penuh selidik.


Melihat raut wajah Rachel yang penuh tanda tanya, bahkan kening Rachel yang kini mengerut, Edward kembali tersenyum.


"Aku tahu, saat ini kamu pasti sedang bingung, maka dari itu aku tidak akan menjelaskan siapa aku, tetapi aku akan menceritakan kembali apa yang terjadi 18 tahun yang lalu," ujar Edward.


*Flashback*


Setelah para bodyguard dirumah Edward habis dibunuh, terjadi aksi baku tembak antara klan Black Wolf dengan Edward dan Vera. Karena kalah jumlah, Edward dan Vera kalah, dan mereka kini diikat bersama di dekat sebuah tiang rumah oleh anak buah Darold. Sedangkan Darold hanya tersenyum licik melihat keadaan Edward dan Vera yang sudah berlumuran dar*h.


"Apa maumu sebenarnya Darold?" tanya Edward dengan nafas yang sudah tidak beraturan.


"Apa mauku? tentu saja untuk memberantas orang-orang yang ingin mengganggu bisnis bawah tanahku, dan bonusnya, aku akan menguasai perusahaanmu, hahaha." Darold tertawa jahat.


"Tidak Darold, aku tahu, kau tidak pernah tertarik dengan perusahaanku," kilah Edward.


Edward semakin geram saat mendengar Darold mencari putrinya, "sampai kapanpun, kau tidak akan bisa menguasai bisnisku, dan kau tidak perlu mencari putriku, dia tidak ada hubungannya dengan ini," gertak Edward.


"Hahahaha, kita lihat saja nanti, dan untuk putrimu, aku jamin dia akan bernasib sama seperti kalian." Darold semakin tertawa melihat raut wajah Edward dan Vera yang berubah khawatir saat mendengar ancaman Darold kepada putri mereka.


Setelah puas membuat Edward dan Vera geram sekaligus khawatir, Darold dan anak buahnya meninggalkan sebuah bom di dekat Edward dan Vera lalu keluar menjauhi rumah itu.


Tit tit tit, suara bom yang dalam 2 menit lagi akan meledakkan seluruh isi rumah Edward dan Vera.


"Sayang, maafkan aku tidak dapat menjagamu beserta anak kita, aku mencintaimu." Edward tertunduk menahan air matanya, ia tidak menyangka dengan akhir hidupnya yang menyedihkan.

__ADS_1


"Tidak sayang, aku sangat bahagia selama ini, kamu sudah selalu berusaha menjaga kami bahkan dengan nyawamu, mungkin memang saatnya kita pergi, aku yakin, putri kita akan baik-baik saja bersama Nola. Aku juga mencintaimu." Vera tersenyum manis menatap sang suami. Ingin sekali ia memeluk suaminya saat ini namun apa daya, tangannya dan pergelangan kakinya di ikat.


Mereka berdua saling mengunci tatapan masing-masing, dengan menampilkan senyuman manis mereka yang terakhir kalinya.


Duaarrrr


Edward menutup matanya rapat, telinganya berdengung bahkan kini mengeluarkan darah akibat suara ledakan yang sangat keras, kakinya terasa begitu sakit saat ini, namun ia merasa seperti ada yang melindungi tubuhnya dari ledakan tadi, bahkan ia merasa ada yang menindih tubuhnya saat ini.


Perlahan ia membuka matanya, rupanya tubuh Vera lah yang melindungi tubuh Edward, terlihat jelas saat ini seluruh tubuh Vera dipenuhi oleh dar*h.


"Sayang?" lirih Edward memeluk tubuh istrinya yang mulai tidak berdaya meski masih bisa membuka matanya.


Saat ini, Edward maupun Vera tidak dapat mendengar suara apapun akibat telinga mereka yang terluka. Namun, Edward dapat melihat gerakan bibir Vera di saat-saat terakhir hidupnya.


"Carilah anak kita, dan jagalah dia," begitulah gerakan bibir yang dapat di tangkap Edward dari Vera. Tak lama kemudian Vera menutup matanya.


"Tidak! sayang ku mohon bertahanlah," seru Darold dengan wajah yang kini telah basah dengan air mata dan dar*ah.


Edward menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh istrinya yang ia sudah tidak bernyawa lagi.


Hingga saat Edward mulai lelah menangis, ia mengangkat wajahnya, "aku akan mencari Rachel dan menjaganya sesuai dengan janjiku padamu sayang," ucap Edward lalu mencium kening Vera untuk yang terakhir kalinya, lalu berjalan pincang keluar meninggalkan rumah itu melalui jalan rahasia.


*Flashback off*


-Bersambung-

__ADS_1


Mohon maaf sebelumnya, jika ada yang bingung dengan penyebutan nama tokoh Michel dan Rachel, keduanya adalah nama untuk tokoh yang sama, namun di sesuaikan dengan sudut pandang tokoh lain, misalnya Edward yang memang mengenalnya dengan nama Rachel.


Terima kasih telah mampir, dan mohon dukungannya selalu biar author makin semangat.


__ADS_2