Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 7 Panjang Umur


__ADS_3

"Hai Calvin sepupuku sayang, maaf yah jemputnya telat sedikit," sapa Shally dengan senyuman tanpa dosanya.


"Telat sedikit apanya, udah satu jam loh aku menunggu kamu disini," dumel Calvin seperti anak kecil.


"Ish.. dasar bocah manja," goda Shally membuat Calvin mendengus memonyongkan bibirnya.


"Udah udah nggak usah dimonyong-monyongin bibirnya, udah kayak bebek aja kamu," gelak Shally.


Mereka akhirnya pergi ke sebuah restoran terbuka yang ada di pinggir laut untuk makan siang.


"Shally.. aku mau minta tolong," ujar Calvin kepada Shally.


"Minta tolong apa? tumben, biasanya nggak mau di tolong," cicit Shally melirik Calvin sejenak lalu beralih ke makanannya.


"Kalau ini diluar kemampuanku Shal, please!" kata Calvin sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Iya iya.. apa yang bisa ku bantu," tanya Shally menoleh ke arah Calvin.


"Tolong bantu aku mencari Mommyku." Shally mengerutkan keningnya mendengar permintaan Calvin.


"Apa? bukankah Mommymu sudah meninggal?" tanya Shally heran.


"Kata Daddy memang gitu, tapi firasatku mengatakan kalau Mommyku masih hidup," terang Calvin yakin.


"Kenapa kamu bisa memiliki firasat seperti itu? apa ada yang mencurigakan dari kematian Mommymu?" tanya Shally benar-benar bingung dengan maksud calvin.


"Iya, Daddy selalu mengatakan kalau Mommy sudah meninggal, tapi satu kalipun aku tidak pernah diajak melihat makam Mommy," jawab Calvin lesu.


"Jadi itu yang menjadi alasan kamu kesini? bukan untuk liburan kan?" cecar Shally dengan memicingkan matanya curiga.


"Aku memang ingin liburan, Shally, tapi berhubung aku tahu kamu mahir dalam memainkan komputer dan meretas, aku juga ingin minta bantuanmu. Yaa istilahnya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui," terang Calvin cengar-cengir.


Shally nampak berpikir sejenak.


"Apa kamu memiliki foto Mommy?" tanya Shally.


"Aku hanya punya satu foto ini, ini ku dapat di laci meja yang berada di ruang kerja Daddy," uajr Calvin sembari memberikan foto hitam putih seorang wanita yang ia tidak tahu namanya. Namun, belum sampai di tangan Shally, foto itu justru terlepas dari tangan Calvin karena tiupan angin yang kencang dan jatuh di laut.


Melihat foto ibunya jatuh, Calvin hendak melompat turun ke laut, namun di cegah oleh Shally.


"Jangan lakukan itu, karena hanya sia-sia, lihat itu!" seru Shally lalu menunjuk foto yang perlahan mulai pudar karena termakan air laut.


"Ya ampun, apa yang harus ku lakukan? Shally bantulah aku mencari Mommyku," rengek Calvin dengan raut wajah putus asanya.

__ADS_1


"Apa kamu tahu nama lengkapnya?" tanya Shally merasa prihatin dengan sepupunya, namun Calvin hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Oh ya ampun Calvin, kamu pikir aku dukun yah? cari orang itu butuh foto atau minimal nama lengkapnya." Shally menepuk jidatnya sendiri.


"Yaa sempat orang tuamu memiliki foto pernikahan Mommy dan Daddy," kilah Calvin.


"Calvin.. Calvin.. kamu kan tahu sendiri kalau rumahku dulu pernah habis terbakar, jadi jangankan foto pernikahan orang tuamu, foto bayiku saja sudah habis termakan api.


"Aduh.. gimana dong ini." Calvin menjambak rambutnya sendiri merasa frustasi.


"Kamu sabar saja, suatu saat pasti kamu akan bertemu dengan Mommymu," ujar Shally mencoba menenangkan.


"Ck.. " Calvin hanya berdecak kesal dengan sepupunya itu.


"Eh Calvin, umur kamu berapa sekarang?" tanya Shally.


"Masih nanya, ya 18 tahun lah, usia kita kan sama," jawab Calvin malas.


"Ayolah, perbaiki sedikit moodmu, cowok kok mood swing banget sih," ejek Shally menahan tawanya.


"Hey, kenapa sih kamu suka sekali membawa-bawa gender kalau lagi ngejek," dumel Calvin yang tidak habis pikir sama sepupunya satu ini.


"Hahaha, aku kasi tahu kamu yah, kamu yang udah 18 tahun gini masih aja manja dan mood swing, temanku umurnya baru 16 tahun, dia udah kuliah dan merantau sendiri kesini, cewek lagi," terang Shally.


"Tuh kan bawa-bawa gender lagi, ngeselin banget tahu nggak," gerutu Calvin sambil memasang wajah kusut dan manyun.


Dret dret (suara hape Shally)


Shally tersenyum lebar melihat siapa yang menelfonnya.


"Wah panjang umur nih anak," gumamnya lalu mengangkat ponselnya sambil melirik Calvin yang masih bertahan dengan muka kusutnya.


"Halo, Michel, kebetulan banget kamu nelfon," ujar Shally bersemangat.


"Iya hallo Shally, memangnya ada apa?" tanya Michel diseberang telfon.


"Ini sepupuku mencarimu, katanya dia ingin berkenalan denganmu," jawab Shally asal membuat Calvin membulatkan matanya menatap tajam Shally yang tersenyum tanpa dosa.


"Oh hehe, lain kali aja yah," tolak Michel halus. "Oh iya Shal, aku mau minta tolong, apa kamu bisa temani aku sebentar sore ke perpustakaan?" lanjutnya bertanya.


"Sore ini? oh boleh banget kok, nanti aku jemput kamu yah, oke.. bye.." Shally mengakhiri telfonnya.


"Calvin, ayo temani aku ke perpustakaan," ajak Shally sangat bersemangat. Entah kenapa, dia sangat ingin memperkenalkan Michel dengan Calvin.

__ADS_1


"Ah nggak nggak, aku kesini untuk liburan, bukan untuk nongkrong di perpustakaan, malas," tolak Calvin.


"Ya ampun Calvin, sebentar aja kok, mau yah mau yah?" rengek Shally.


Calvin nampak berpikir.


"Nggak usah mikir, ayo.." Shally langsung menarik Calvin masuk ke dalam mobilnya.


"Ya ampun, ini namanya penculikan Shally," dumel Calvin.


Selama perjalanan, mulut Calvin tak berhenti komat-kamit mengomel karena ditarik paksa oleh Shally, sementara Shally hanya tertawa tanpa dosa melihatnya.


"Hey ini bukan perpustakan Shal," protes Calvin saat menyadari Shally memberhentikan mobilnya di sebuah rumah.


"Ya ampun.. cowok kok cerewet sekali." Shally mulai kesal dengan Calvin. "Aku mau menjemput Michel dulu," lanjutnya kemudian keluar dari mobil.


Calvin yang mendengar Shally mengatainya cerewet akhirnya mendengus seraya mengarahkan pandangannya kesana kemari mencari Shally yang sudah pergi.


Namun karena merasa bosan dan lelah, akhirnya tertidur pulas dikursi kursi depan.


"Michel, lets go," ajak Shally saat melihat Michel keluar rumah.


"Okey," jawab Michel.


"Sepupuku ada di mobil loh, nanti kalian kenalan yah," ujar Shally sambil berjalan ke arah mobilnya.


Michel tak menjawab apapun, ia hanya tersenyum.


"Nah.. ini dia se..." ucapan Shally terpotong saat melihat Calvin sedang tidur nyenyak menggunakan kacamata hitamnya lengkap dengan hoodie yang menutupi kepalanya. Bahkan terdengar dengkuran halusnya.


"Astaga anak ini, tunggu yah Michel, biar aku bangunkan dulu," kata Shally mengulurkan tangannya untuk membangunkan Calvin namun tangan Shally ditahan oleh Michel.


"Nggak usah Shal, mungkin dia lelah, kamu kan tadi menjemputnya di bandara, berarti perjalanannya kesini itu panjang, terang Michel dan Shally mengangguk.


Mereka bertiga akhirnya berangkat ke perpustakaan, namun yang masuk ke dalam perpustakaan hanya Michel dan Shally, sementara Calvin masih asik mendengkur di dalam mobil.


Calvin terbangun saat menjelang malam, sementara Michel dan Shally masih belum keluar juga dari perpustakaan.


"Astaga kenapa mereka tidak membangunkanku, udah dipaksa pergi, ujung-ujungnya malah jadi penjaga mobil, ck dasar wanita," dumel Calvin berbicara sendiri di dalam mobil.


Sudah hampir 20 menit Calvin terjaga di dalam mobil, ia yang mulai haus mengarahkan pandangannya ke segala arah untuk mencari air minum, namun saat menoleh ke kursi belakang, ia melihat kotak pensil Michel yang tertinggal, disana terdapat gantungan kunci yang bertuliskan namanya.


"Michel." Calvin membaca nama di gantungan kunci tersebut.

__ADS_1


-Bersambung-


Yuk dukung karya ini, dengan like, koment, gift dan vote. Terima kasih.


__ADS_2