
Malam yang indah kini telah tiba, hamparan bintang turut menyaksikan suasana indah malam pernikahan Rachel dan Calvin. Namun, keindahan itu hanya berlangsung sementara tatkala Shally datang menjemput Rachel untuk makan malam hingga tidur bersamanya.
"Melepas rindu dengan sahabat untuk terakhir kalinya," kata pamungkas Shally yang membuat Rachel tidak bisa menolaknya dan Calvin hanya bisa pasrah menerimanya.
Waktu makan malam romantis pun kini tinggal kenangan, alih-alih istri yang menemani makan malamnya, kali ini justru suami dari sepupunya yang kini menemaninya makan malam.
Muka suntuk bagaikan kertas yang dilipat tampak jelas di wajah Calvin. Entah sudah berapa lama mulutnya berkomat-kamit menggerutu sendiri, yang jelas suami Shally kini menjadi saksi bisu itu. Bagaikan patung yang menyaksikan kekesalan pengantin pria yang istrinya di bawa lari oleh istrinya.
Tidak hanya sampai disitu, mulut Calvin kembali berkomat-kamit tatkala masuk ke dalam kamar hotelnya yang telah di hias sedemikian rupa agar tampak romantis namun ia tak menemukan Rachel di sana.
"Dasar sepupu luck nut, tega sekali dia membuat sepupu sendiri merana di malam pertamanya," dumel Calvin yang saat ini sedang berbaring di atas kelopak bunga mawar yang di tabur di atas kasur. "Padahal aku sudah berusaha keras menyiapkan semua ini, tapi dia datang merusak akhir dari rencana indahku malam ini," lanjutnya lalu menendang-nendang angin di atasnya.
Sementara di kamar lain, dua orang wanita sedang tertawa bersama mengenang masa-masa kuliah mereka sambil berbaring di atas kasur.
"Eh Rachel, bagaimana kabar suamimu? Apa dia tidak menghubungimu?" tanya Shally.
"Nggak kok, aman," jawab Rachel sambil menahan tawa, rupanya ia sudah memasang penyadap suara di kamarnya untuk mendengar omelan Calvin malam ini, dan benar saja, sepertinya sudah lebih 1001 kata omelan yang terlontar dari mulut pria yang kini bersatus suaminya yang ia dengar melalui headset sejak tadi.
"Kata suamiku barusan, dia udah mau tidur, Calvin gimana?" tanya Shally.
"Dia juga udah tidur kok," jawab Rachel karena tidak mendengar suara apapun di kamarnya itu.
"Kok kamu tahu? Sejak tadi aku melihatmu tidak menghubunginya," selidik Shally.
Tanpa berbicara, Rachel hanya mengedikkan bahu menjawab pertanyaan Shally.
---
Matahari terbit di ufuk timur, mengantar sinar yang hangat menerangi bumi. Calvin terbangun dari tidurnya saat sinar itu perlahan mengusik matanya yang masuk melalui celah gorden.
Setelah membersihkan dirinya, tujuan utamanya kali ini adalah kamar Shally, kali ini ia benar-benar akan menjemput Rachel.
Tok tok tok
"Iya ada apa Calvin?" tanya Shally dengan suara khas bangun tidur setelah membuka pintu.
"Dimana Rachel?" tanya Calvin.
"Aku tidak tahu, waktu bangun tadi ia sudah tidak ada di sampingku," jawab Shally santai.
"Hei, bercandamu tidak lucu, cepat katakan dimana Rachel?" ulang Calvin dengan alis yang mengerut.
"Aku serius, waktu bangun tadi dia sudah tidak ada," jawab Shally dengan wajah serius, "coba hubungi dia, sepertinya dia membawa ponselnya," lanjut Shally.
Tanpa berkata-kata lagi, Calvin langsung kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya. Ia lantas menghubungi Rachel namun setelah beberapa kali mencoba Rachel tidak juga mengangkat telepon darinya.
"Astaga dia dimana sebenarnya," batin Calvin mulai bingung.
__ADS_1
"Tak ingin tinggal diam, Calvin lalu berlari keluar kamarnya, ia berencana mencari Rachel di luar hotel, siapa tahu Rachel sedang keluar sebentar. Kini ia tampak seperti anak yang kehilangan ibunya, berlari sambil melihat kesana-kemari untuk mencari sosok wanita yang ada dipikirannya saat ini.
"Hosh hosh hosh, kamu dimana sih?" monolog Calvin dengan napas yang tersengal-sengal akibat berlari.
"Calvin." Suara panggilan dari seorang wanita seketika membuat Calvin menoleh ke arah sumber suara. "Kamu sedang apa disini, dan kenapa napasmu seperti habis berla..-" lanjut wanita itu yang tiba-tiba terpotong saat Calvin langsung memeluknya.
"Kamu kemana saja tadi? Aku khawatir mencarimu?" lirih Calvin tanpa melepas pelukannya dari wanita yang ternyata adalah Rachel, wanita yang telah resmi menjadi istrinya.
"Aku tadi lagi lari pagi terus lanjut olahraga sebentar di taman," jawab Rachel.
"Lain kali jika seperti itu, tolong kabari aku agar aku tidak panik mencarimu seperti tadi," ucap Calvin lagi.
Rachel melepas pelukan Calvin, "jadi kamu seperti ini karena panik mencariku?" tanya Rachel menatap lekat manik mata Calvin, membuat Calvin mengangguk lemah.
"Maafkan aku, aku hanya takut mengganggu tidurmu jika aku menghubungimu tadi," cicit Rachel sambil mengusap pipi Calvin dengan lembut.
"Tidak apa-apa, tapi lain kali jangan lakukan lagi," jawab Calvin lalu mengecup kening Rachel, dan kembali menatap bola mata kelabu milik sang istri.
Dari kejauhan, Edward dan Morgan yang juga baru saja selesai lari pagi melihat pasangan pengantin baru itu.
"Morgan, maafkan aku karena tidak bisa menyatukanmu dengan putriku, hati tidak bisa di paksa bukan?" ucap Edward.
"Tidak apa-apa tuan, aku mengerti," jawab Morgan.
"Semoga nanti kau bertemu dengan wanita yang juga mencintaimu," tukas Edward sambil menepuk pundak Morgan lalu kembali berlari meninggalkan Morgan yang masih diam mematung memperhatikan Rachel dan Calvin yang kini masuk kembali ke dalam hotel.
"Permisi!" sapa seorang wanita dari belakang Morgan, membuat Morgan langsung berbalik.
Morgan mengernyitkan alisnya melihat wanita di hadapannya yang hanya diam dengan mulut terbuka.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Morgan, membuat wanita itu seketika tersadar .
"Eh iya, apa anda mengenal Rachel? Dia kemarin menikah disini, sayangnya aku tidak sempat datang di acaranya," ujar wanita itu.
"Kalau boleh tahu, nona siapanya Rachel?" tanya Morgan, sebagai asisten pribadi Rachel, tentu Morgan harus tetap profesional untuk menjaga bosnya dari bahaya yang tak terduga.
"Oh iya, aku lupa, namaku Sisca Ariena, tapi Rachel mengenalku dengan nama Rena, aku teman kerja Rachel dulu, apa anda mengenal Rachel?" tanya Rena.
"Tentu, mari ikuti saya," jawab Morgan lalu berjalan masuk ke dalam hotel diikuti oleh Rena di belakangnya.
"Kalau boleh tahu, anda siapanya Rachel?" tanya Rena setelah mereka memasuki lift.
"Saya asisten pribadinya," jawab Morgan singkat.
"Ooo," jawab Rena dengan membulatkan bibirnya, membuat Rena terlihat begitu imut di cermin lift dan Morgan dapat melihatnya.
"Oh iya, boleh aku tahu siapa nama anda?" tanya Rena.
__ADS_1
Morgan baru saja akan membuka mulutnya untuk menjawab namun pintu lift yang terbuka membuatnya kembali menutup mulut.
Rena hanya bisa menghembuskan nafasnya lesu saat Morgan tidak menjawab pertanyaannya dan malah berjalan pergi lebih dulu, ia hanya bisa ikut berlari kecil menyeimbangkan langkah kaki Morgan yang panjang.
Kini mereka tiba di depan kamar Rachel dan Calvin.
Tok tok tok
Morgan mengetuk pintu. Dan tak lama kemudian, pintu itu dibuka oleh Rachel.
"Ada apa Morgan?" tanya Rachel yang belum melihat kehadiran Rena karena tertutupi oleh tubuh Morgan yang tinggi dan kekar.
"Nona ada yang ingin bertemu dengan anda," jawab Morgan lalu bergeser sehingga tampaklah tubuh Rena di belakangnya.
"Rena," lirih Rachel.
"Hai Rachel, bagaimana kabarmu?" tanya Rena.
"Baik, oh iya silahkan masuk," ucap Rachel mempersilahkan Rena masuk, sementara Morgan hendak pergi namun Rachel menahannya, "kamu juga masuklah dulu," ujar Rachel.
Rena dan Morgan akhirnya masuk ke dalam kamar Rachel.
"Oh iya, selamat atas pernikahanmu yah, maaf karena aku tidak sempat datang kemarin," ujar Rena setelah ia duduk di sofa yang berada di kamar Rachel.
"Iya, padahal aku kemarin mencarimu karena kata Calvin dia sempat mengundangmu," jawab Rachel.
"Iya maafkan aku. Oh iya, kedatanganku kesini juga memiliki tujuan lain, apa kamu bisa membantuku?" tanya Rena.
"Apa yang bisa ku bantu?" tanya Rachel.
Rena mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya, "Aku sekarang sedang menjalankan misi baru, aku sedang mencari orang ini, dia adalah pembunuh berantai yang lari dari negara kita dan bersembunyi di Amerika, bisakah kamu membantuku menemukannya?" tanya Rena.
"Pembunuh berantai? kamu ingin istriku membantumu menangkap pembunuh berantai? Itu sangat berbahaya, kami saja belum menjalankan misi kami dan kamu memintanya untuk membantumu menjalankan misimu? Oh no no," celetuk Calvin yang baru keluar dari kamar mandi.
"Tenanglah, aku tidak meminta istrimu menangkapnya, aku hanya ingin meminta bantuan istrimu untuk menemukannya karena aku tahu istrimu ahli dalam melakukan itu, bukan kah begitu Rachel?" jawab Rena santai.
"Coba ku lihat fotonya," ucap Rachel sembari membuka amplop yang di berikan Rena.
Alis Rachel seketika mengerut saat melihat foto itu, "Morgan, bukan kah orang ini yang beberapa hari lalu datang ke rumah untuk memperbaiki instalasi listrik?" tanya Rachel sembari memberikan foto itu kepada Morgan.
"Benar nona, saya menghubungi pihak listrik dan dia yang datang," jawab Morgan.
"Baiklah, mari kita lihat dimana dia sekarang?" ujar Rachel lalu membuka laptopnya dan kembali menggunakan aplikasi pertama yang pernah ia buat.
Hanya menunggu 5 menit, lokasi pria itu kini telah di temukan, dan Rachel kembali mengernyitkan alisnya saat melihat alamat lokasi pria itu.
"Ada apa?" tanya Calvin ikut duduk di samping Rachel.
__ADS_1
"Ini kan alamat rumahku, kenapa dia ada disana?" gumam Rachel, lalu mereka berempat saling menatap.
-Bersambung-