Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 23 Keputusan Michel


__ADS_3

Franz berdiri merenung di balkon kamarnya. Dinginnya angin malam yang menerpa wajahnya, sama sekali tidak mampu mengusik pikirannya yang sedang terfokus pada sesuatu. Wajahnya nampak serius, keningnya berkerut. Kembali ia teringat percakapannya dengan Michel di saat terakhir sebelum mereka berpisah di Cafe Rolex.


*Flashback*


"Michel, apakah hanya sampai pada melapor polisi saja rencana balas dendammu?" tanya Franz lirih.


"Iya Franz, aku rasa dengan cara seperti itu ia bisa merenungi kesalahannya," jawab Michel lirih.


"Tapi Michel, bukankah seharusnya nyawa di balas dengan nyawa? ingat! dia telah MEMBUNUH kakakku Michel." Franz menekan kata membunuh dengan rahangnya yang mengeras menahan emosinya yang sudah terpendam sejak lama.


Michel menggelengkan kepalanya pelan, "maafkan aku, Franz, bukannya aku ingin membiarkan Darold begitu saja, aku sudah memikirkannya berulang kali, tapi ini adalah cara yang menurutku paling baik, memberikan dia kesempatan untuk merenungi kesalahannya di balik jeruji besi. Setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan berubah bukan?" tutur Michel.


"Tidak Michel, dia itu berbahaya, jika membunuh saja ia bisa lakukan dengan mudah, bagaimana dengan kejahatan lainnya? Mungkin kamu tidak tahu bagaimana rasanya saat kakak yang sangat kita banggakan dibunuh," tukas Franz merasa sedikit kecewa dengan keputusan Michel dalam membalas dendam kepada Darold Archer.


Michel tersenyum kecil mendapat prasangka yang tidak benar dari Franz. "Kamu tahu, Franz? dia juga telah membunuh kedua orang tuaku, tapi jika aku membunuhnya juga, bukankah tidak ada bedanya antara aku dan dia? dia tentu memiliki anak, dan aku tidak ingin mengotori tanganku dan merusak masa depanku dengan menanam kebencian yang berkelanjutan di masa depan," terang Michel.


Franz terdiam sejenak, ia tidak menyangka bahwa kedua orang tua Michel adalah korban dari kejahatan seorang Darold Archer. "Maafkan aku Michel, aku tidak tahu jika orang tuamu adalah korban Darold juga. Lalu apa maksudmu menanam kebencian yang berkelanjutan di masa depan, Michel?" tanya Franz.


"Tidak masalah Franz. Maksudku, jika aku membunuh Darold, tentu anaknya akan menaruh benci dan dendam padaku, entah saat itu juga atau di kemudian hari, dan bisa saja dia juga akan melakukan hal yang sama sepertiku, yaitu membunuhku atau bahkan yang lebih aku khawatirkan adalah dia akan membunuh keluargaku yang tidak bersalah. Tentu aku tidak ingin keluargaku dan keturunanku berada dalam masalah karena dendam dan kebencianku saat ini," papar Michel panjang lebar.

__ADS_1


Franz tertegun mendengar pemaparan Michel, jauh di dalam lubuk hati kecilnya, ia mengakui bahwa apa yang dikatakan Michel itu benar, namun disisi lain, kebenciannya terhadap Darold Archer menolak semua kebenaran itu.


*Flashback off*


"Aaaaakh," geram Franz sambil menjambak rambutnya sendiri. "Untuk sementara ini, aku akan mengikuti rencana yang dibuat Michel, setelah berhasil, maka aku akan memikirkan langkah selanjutnya yang akan aku ambil untuk Darold." Franz menyeringai sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya dan memandangi foto Darold yang terpasang di dinding kamarnya dengan lingkaran merah.


--


Keesokan harinya di DA Group


Rena sejak tadi menanti kedatangan Michel di depan pintu masuk perusahaan. Sesekali ia melirik jamnya yang sudah menunjukkan pukul 07.40 pagi.


Hari ini Rena benar-benar ingin membuat Michel malu, jika perlu ia sangat ingin Michel di keluarkan dari perusahaan secara tidak terhormat. Entah kenapa, kehadiran Michel di kantor yang sama dengannya membuat hidupnya selalu merasa risih. Dan itu membuat Rena sangat membenci Michel.


Tidak lama kemudian, Michel terlihat memasuki gerbang perusahaan dengan berjalan santai. Buru-buru Rena bersembunyi di balik pohon kecil yang menghiasi halaman perusahaan.


Michel melewati pohon tempat Rena bersembunyi. Saat melihat Michel telah melewatinya, Rena segera keluar dari tempat persembunyiannya lalu mengikuti Michel dari belakang dengan cepat.


"Halo Michel, gimana kabarmu?" sapa Rena ramah, namun tangannya saat ini sedang memasukkan sesuatu ke dalam saku jaket yang sedang digunakan oleh Michel.

__ADS_1


Merasakan ada yang bergerak di saku jaketnya, Michel memilih untuk berpura-pura tidak tahu terlebih dahulu.


"Hmm, baik," jawab Michel malas.


"Ya udah, aku mau ke ruanganku dulu, byee" kata Rena melambaikan tangannya seperti tidak terjadi apa-apa.


"Tunggu!!" tahan Michel.


Rena seketika menghentikan langkahnya, jantungnya berdetak kencang, "semoga tidak ketahuan," batin Rena khawatir dengan kening yang sudah mengeluarkan keringat dingin.


Sambil mengambil sesuatu dari dalam sakunya yang ternyata sebungkus narko***a, Michel berjalan menghampiri Rena.


Di tariknya tangan Rena kemudian Michel meletakkan bungkusan itu ke tangan Rena.


"Ambil kembali barangmu, aku tahu kamu sangat membenciku, tapi aku tidak terima jika harus keluar dengan cara difitnah seperti ini. Jika kehadiranku membuatmu kepanasan dan tidak tenang, bukankah sebaiknya kamu yang keluar dari perusahaan ini?" desis Michel, lalu berbalik meninggalkan Rena yang masih berdiri mematung.


Baru beberapa langkah, Michel kembali berhenti lalu menoleh ke arah Rena. "Bahkan jika kamu memang ingin mengluarkanku dari perusahaan ini, maka lakukanlah dengan cara yang elegan, bukan dengan cara kotor seperti ini. Karena bagaimana kamu bertindak, secara tidak langsung itu menunjukkan bagaimana kualitas dirimu," tukas Michel lalu pergi meninggalkan Rena.


Rena terperangah dengan perkataan Michel yang terakhir, lagi-lagi ia dibuat bungkam.oleh perkataan Michel. "Apa katanya? kualitas diriku?" Rena tersenyum kecut namun seketika raut wajahnya berubah menjadi serius dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Lihat saja gadis culun, suatu hari nanti, aku pasti akan memberimu pelajaran," monolog Rena sembari mengepalkan kedua tangannya.


-Bersambung-


__ADS_2