
Sebelumnya saat siang hari, Boy selaku teman Calvin sekaligus polisi yang mengawasi Franz dan Damon memberikan kabar mengejutkan kepada Calvin mengenai Franz yang melarikan diri dari penjara. Calvin tentu sangat terkejut dan entah kenapa, nama yang pertama kali muncul di pikirannya saat mendengar berita itu adalah Rachel. Ia khawatir jika Franz akan menemui Rachel dan melukainya.
Untungnya, Calvin sempat menyimpan nomor Rachel waktu itu. Jika tidak, tentu Rachel tidak akan memberikan nomornya pada Calvin.
"Halo?" ucap Rachel di seberang teleponnya.
"Halo, Rachel kamu dimana?" tanya Calvin.
"Calvin, darimana kamu mendapat nomorku?" Calvin mengernyitkan alisnya, bukannya menjawab pertanyaannya, Rachel justru bertanya balik.
"Apa kamu lupa? Siang itu kamu meminjamkan ponselmu kepadaku untuk menghubungi ponselku yang jatuh di dalam mobil," jawab Calvin.
Rachel terdiam di seberang telepon.
"Rachel? Kamu belum menjawab pertanyaanku,"
"Eh iya, aku ada di kotamu, orang tua angkatku akan merayakan anniversary mereka nanti malam," mendengar itu Calvin semakin terkejut.
"Astaga, kenapa keadaannya kebetulan begini," batin Calvin sambil mengusap wajahnya kasar.
"Apa aku boleh datang?" tanyanya kemudian, Calvin bermaksud untuk menjaganya.
"Datanglah jika kamu ingin di tendang oleh ayahku dan papaku, oh iya jangan lagi menghubungiku kecuali itu terkait kerja sama kita, aku tidak ingin dekat denganmu selama belum ada lampu hijau dari ayahku," tutur Rachel lalu segera mengakhiri panggilannya secara sepihak, sementar Calvin meringis mendengar perkataan Rachel.
"Kenapa dimatikan, astaga gadis ini kaku sekali, padahal aku baru mau memberitahukannya bahwa Franz kabur, dan dia harus berhati-hati," gumam Calvin.
Tak ingin tinggal diam, Calvin langsung menghubungi Dicky, sekretaris sekaligus temannya.
"Halo, Dicky,"
"..."
"Cari tahu dimana alamat rumah COO dari Edward Group," perintah Calvin. Calvin jelas tahu mengenai Edward group dan siapa pimpinanannya, sesaat setelah kepergian Rachel ke Amerika, Calvin sempat mencari tahu semua tentang Edward Group, dan ia tahu bahwa yang menjabat sebagai CEO adalah Rachel dan COO adalah ayah angkat Rachel, pria yang pernah ia lihat saat penangkapan Franz dan Damon.
Beberapa saat kemudian, alamat rumah Robert yang diminta Calvin telah ia dapatkan dari Dicky, tanpa menunggu lagi, Calvin langsung mengambil jaketnya dan kunci motornya.
Dan disinilah Calvin sekarang tepat menjelang pesta itu di mulai, Calvin memantau dari kejauhan rumah yang mulai ramai dengan tamu.
"Rachel," gumamnya saat ia melihat gadis yang sangat ia kenali keluar dari rumah itu dengan gaun hitam yang begitu anggun. Tanpa ia sadari, senyuman tersungging di bibirnya. Namun, Calvin tiba-tiba mengernyitkan alisnya saat melihat Rachel kesana kemari seperti sedang mencari seseorang.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian ia melihat Rachel kini telah berganti pakaian dan menaiki mobil beserta kedua orang tuanya dan seorang pria, mereka bahkan pergi terburu-buru dan meninggalkan tamu yang masih ada disana bersama sekretaris Robert.
"Mau kemana mereka?" ucap Calvin lalu segera mengikuti mobil yang di naiki Rachel.
Ia terus mengikuti dari jauh, hingga mereka tiba di jalan sepi dekat sebuah Villa. Calvin bisa melihat Rachel keluar dari mobil itu sendiri dan masuk ke dalam Villa.
"Apa yang dilakukan Rachel?" monolog Calvin lalu turun dari motornya dan mencoba mendekat, namun tak lama kemudian, kedua orang tuan angkat Rachel beserta seorang pria yang ia tahu bernama Morgan turun dari mobil dengan buru-buru dan langsung berlari masuk ke dalam villa itu, Calvin yang melihatnya pun juga langsung lari mengikuti mereka.
Dan disinilah ia sekarang, rupanya Franz berada disini dan menahan Edward, itu sebabnya Rachel masuk lebih dulu seorang diri.
"Aku juga bersamamu," ucap Calvin mengikuti perkataan Robert dan Nola, membuat semua orang termasuk Edward menoleh ke arahnya.
"Calvin?" lirih Rachel,
"Anak itu? Bukan kah dia anak Darold?" batin Edward.
Pertarungan pun bermula, semua yang datang membantu Rachel saat ini memperlihatkan kemampuan bela diri mereka, termasuk Robert dan Nola, meski usia mereka tidak muda lagi, namun dalam kemampuan bela diri, mereka tidak bisa di ragukan lagi.
Di tengah sibuknya bertarung, Franz mengambil kesempatan itu untuk mengarahkan pistolnya ke arah Rachel yang masih sibuk bertarung.
"Hentikan Franz!" teriak Edward.
Suara tembakan yang begitu menggema mengagetkan semua orang dan langsung melihat ke arah Rachel.
Rachel yang begitu terkejut sempat menutup matanya, namun ia sadar bahwa saat ini ia dalam keadaan baik-baik saja. Perlahan ia membuka matanya dan seketika matanya membelalak saat di hadapannya sudah ada pria yang menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Rachel.
"Calvin," lirihnya dengan air mata yang langsung menetes saat melihat wajah tampan yang kini terlihat pucat dan mulut yang telah mengeluarkan dar*h di hadapannya.
Senyuman manis sempat terukir di wajahnya sebelum ia ambruk di pelukan Rachel.
"Tidak!! Calvin!" teriak Rachel panik.
Sementara itu, Morgan yang melihat Franz tertegun melihat adegan di depannya langsung menyerang Franz dan mengunci tubuhnya hingga ia tidak berdaya.
Begitupun dengan Edward yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya.
Tak lama setelah itu, polisi dan ambulans datang di lokasi setelah Nola menghubunginya. Franz dan anak buahnya yang berhasil dilumpuhkan kini kembali diamankan polisi, sementara Calvin langsung dilarikan ke rumah sakit.
Edward dan yang lainnya kini masuk ke dalam mobil mereka.
__ADS_1
"Dimana Rachel?" tanya Edward.
"Dia ikut menemani pria tadi ke rumah sakit," jawab Nola.
"Apa kalian mengenal pria itu?" tanya Edward kembali.
"Saya lupa namanya tuan, tapi seingat saya, dulu dia membantu Rachel mengalahkan Franz dan menangkap Damon," jawab Morgan.
"Apa? Bagaimana bisa?" gumam Edward bingung.
"Ada apa tuan?" tanya Robert.
"Tidak ada apa-apa," kilah Edward, "Morgan, kita ke rumah sakit sekarang, ikuti ambulans tadi," perintah Edward, dan kini mobil mereka melaju ke arah rumah sakit.
Di rumah sakit
"Calvin, ku mohon bertahanlah," ucap Rachel berlari mengikuti Calvin yang telah di tempatkan di atas brangkar dan di dorong cepat menuju ke ruang operasi.
Kini ia duduk di depan ruang operasi dengan perasaan khawatir dan takut yang bercampur. Air matanya kembali mengalir membasahi pipinya.
"Rachel," panggil Edward sambil berjalan ke arahnya di ikuti Morgan, sementara Robert dan Nola sudah lebih dulu pulang untuk mengurus pestanya yang sempat ia tinggalkan tadi.
"Ayah?" lirih Rachel segera berdiri menyambut kedatangan Edward.
"Kenapa kamu disini? Pulanglah sekarang, biar Morgan yang menunggu disini," ujar Edward menarik tangan Rachel.
"Tidak ayah, Rachel ingin tetap disini," tolak Rachel.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah, ini bukan salahmu, jadi kamu tidak perlu menunggunya sampai seperti ini," ucap Edward.
"Ayah, Rachel begini bukan karena rasa bersalah," ucap Rachel.
"Jadi karena apa?" Edward mengerutkan alisnya.
Rachel melirik sekilas ke arah Morgan, ia lalu menghembuskan nafasnya kasar. "Maaf ayah, Rachel seperti ini karena Rachel mencintainya, dia yang Rachel maksud saat Rachel bercerita kepada ayah mengenai orang yang Rachel cintai," jawab Rachel.
"Apa?" pekik Edward tidak percaya, sementara Morgan seketika menunduk lesu, hatinya seolah patah saat itu juga. Rupanya gadis yang selama ini ia cintai sudah mencintai orang lain.
-Bersambung-
__ADS_1