
Sebelumnya di pagi hari yang cerah
Bugh bugh bugh
Suara pukulan pada sebuah samsak tinju terdengar di penjuru rumah pagi itu.
Sejak pukul 5 subuh, latihan demi latihan Michel lakukan. Gadis yang masih berusia 19 tahun itu mulai terbiasa mandiri. Meski Nola tak lagi bersamanya saat ini, namun latihan di pagi hari dan sore hari sudah menjadi rutinitas yang tidak bisa ia tinggalkan lagi, kecuali jika saat itu dia sedang sangat sibuk.
Tubuh Michel kini dipenuhi oleh peluh keringatnya. Perutnya pun kini mulai meronta-ronta untuk diberi jatah. Tak ada pilihan lain selain pergi keluar mencari makan, sebab Michel sendiri belum menyiapkan bahan makanan dirumah yang baru ia tempati beberapa hari yang lalu.
Tak hanya ingin makan saja, Michel memutuskan untuk membawa serta tas yang berisi laptop dan peralatan lainnya ke sebuah Cafe dekat rumahnya.
Dan disinilah Michel pagi ini, sebuah Cafe yang lumayan ramai dikunjungi oleh orang-orang yang ingin sarapan sejenak sebelum berangkat kerja. Sembari menikmati susu hangat dan roti lapisnya, jari-jari Michel senantiasa menari lincah di atas keyboardnya.
Merancang sebuah program yang sudah beberapa hari ini ia lakukan, namun belum juga ia temukan hasil yang maksimal. Meski begitu, Michel tetap berusaha memasukkan kode-kode lain agar programnya itu bisa sesuai ekspektasinya.
"Ekhem.. permisi nona, apa aku boleh bergabung di meja ini?"
Suara bariton seorang pria berhasil membuat Michel terkejut. Ia lantas melihat sekilas orang yang berada dihadapannya saat ini.
Michel nampak ragu untuk menjawab pertanyaan pria itu, ia berpikir sejenak.
"Kenapa kamu tidak duduk disana saja? lihat, meja disana masih kosong," tolak Michel dengan hati-hati sambil menunjuk ke arah sebuah meja yang memang sedang kosong.
"Aku tidak mencari tempat kosong nona, tapi aku sengaja memilih tempat ini karena ingin berbicara denganmu," jawab Calvin. Benar, pria itu adalah Calvin, seorang mahasiswa semester akhir jurusan bisnis yang sedang menuggu jadwal kuliahnya sambil nongkrong di Cafe yang sama dengan Michel.
Perkataan Calvin tadi tentu membuat Michel terkejut, sehingga membuat Michel mendongak melihat ke arah pria yang masih berdiri dan seketika tatapan mata mereka bertemu.
Seorang pria tampan dengan rambut hitam sedang berdiri dihadapannya. Namun, Michel sama sekali tidak terpengaruh.
"Maaf, aku rasa kita tidak dekat bahkan tidak saling mengenal untuk sekedar saling berbicara," tolak Michel.
__ADS_1
"Maka dari itu, mari kita berkenalan dulu sebelum saling berbicara," tukas Calvin tersenyum semanis mungkin.
Mendengar perkataan Calvin, Michel justru merasa kesal, ia merasa bahwa Calvin sama saja dengan pria lain yang hanya ingin merundungnya.
"Maaf, lain kali saja, aku harus pergi sekarang," ujar Michel menbereskan barang-barangnya dan langsung beranjak dari tempat duduknya lalu pergi.
Calvin menatap nanar punggung Michel yang semakin menjauh.
"Wah..baru kali ini aku mengajak seorang wanita berkenalan lebih dulu dan langsung ditolak mentah-mentah," ujar Calvin tersenyum kecut.
--
Sepanjang peralanan, mulut Michel tak henti mengumpat Calvin. Lagi dan lagi, Calvin kembali di umpat oleh wanita.
"Apa-apaan dia, sok ganteng sekali!" umpatnya kembali.
Belum jauh Michel melangkah, tiba-tiba suara bariton Calvin kembali mengganggu pendengarannya.
"Apa lagi ini? kenapa dia memanggilku? apa jangan-jangam dia sengaja ingin menculikku?" pikiran buruk Michel berputar-putar dikepalanya seiring dengan langkah kakinya yang semakin di percepat.
"Astaga wanita itu, bukannya berhenti saat dipanggil, dia malah mempercepat langkahnya," dumel Calvin, "kalau gitu aku kejar saja dia, kapan lagi aku bisa bertemu dengannya untuk memberikan ini," lanjut Calvin mulai berlari mengejar Michel sambil membawa sebuah kotak pensil.
Melihat Calvin mulai mengejarnya, Michel semakin mempercepat langkahnya hingga ia ikut berlari.
"Berani sekali pria itu mengikutiku seperti ini, awas saja kamu, akan ku beri pelajaran." Michel menyeringai lalu masuk ke dalam sebuah lorong.
"Hosh hosh hosh.. kemana... kemana perginya wanita itu? cepat sekali larinya." Calvin menghentikan sejenak larinya untuk mengatur nafasnya yang mulai tersengal-sengal.
"Sepertinya dia masuk ke dalam lorong ini," ujar Calvin seraya melangkah masuk ke dalam lorong.
Baru beberapa meter melangkah, tubuh Calvin seketika dibanting ke tanah oleh wanita yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.
__ADS_1
Bugh
"Auuu punggungku." Calvin meringis sambil memegangi punggungnya yang sakit setelah dibanting ke tanah.
"Siapa kamu? kenapa kamu mengikutiku?" tanya Michel penuh selidik.
"Astaga..aku tidak bermaksud mengikutimu, aku hanya ingin memberikan kotak pensilmu yang tertinggal di cafe tadi.. ini!" keluh Calvin sembari memberikan kotak pensil itu kepada Michel.
Mata Michel seketika membola melihat tempat pensilnya berada di tangan Calvin.
"Ya ampun maafkan aku," ucap Michel lalu mengambil kotak pensilnya dan menunduk dengan rasa bersalahnya.
"Makanya kalau ada apa-apa ditanya dulu baik-baik, jangan langsung main lari dan main banting aja,". Kesal Calvin sembari berdiri dan memperbaiki pakaiannya yang berantakan akibat terbanting tadi.
"Maafkan aku tuan, aku pikir tadi kamu berniat jahat padaku," cicit Michel masih dengan menunduk.
"Iya iya, kalau gitu aku harus pergi sekarang," tutur Calvin lalu pergi meninggalkan Michel yang perlahan mengangkat wajahnya melihat ke arah Calvin.
Michel menatap punggung Calvin yang semakin menjauh.
"Sepertinya dia memang pria yang baik, dia tidak memanfaatkan situasi ini untuk berkenalan kembali denganku setelah ku tolak tadi." Michel lalu berbalik dan kembali ke rumahnya.
-
"Hufth.. apes bangat sih nasibku pagi ini, sudah ditolak berkenalan, eh malah dibanting lagi sama dia," keluh Calvin saat sudah tiba di kampusnya.
"Tapi lumayan hebat juga dia, bisa membantingku yang memiliki tubuh tinggi jauh dari dia dengan begitu mudah." puji Calvin sambil tersenyum.
-Bersambung-
Yuk dukung karya ini, dengan like, koment, gift dan vote. Terima kasih.
__ADS_1