Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 31 Membawa Thomas


__ADS_3

Sore itu, Thomas sedang bersiap-siap untuk pulang. Tak lupa ia memakai jas dan membawa tasnya keluar dari ruang kerjanya.


"Tak ku sangka, setelah 18 tahun lamanya hilang, Rachelia datang kembali. Dia benar-benar mewarisi sifat sang ayah yang berani dan cerdas. Akhirnya tugasku perlahan terselesaikan," lirih Thomas tersenyum sambil berjalan menuju mobilnya yang berada di halaman parkir.


Baru hendak membuka pintu, Thomas langsung di bekap oleh pria berpakaian hitam dan dibawa masuk ke dalam sebuah mobil berwarna hitam.


"Halo Thom, lama tidak berjumpa," sapa William tersenyum kepada Thomas yang kini duduk di kursi belakang bersama 2 pria yang berada di sisi kiri dan kanannya.


"William? aku rasa kita sudah tidak punya urusan lagi, lalu kenapa kau membawaku seperti ini?" tanya Thomas dengan nada ketusnya.


"Entalah Thom, hari ini aku hampir frustasi karena sebuah masalah yang menimbulkan munculnya masalah baru, kau tahu apa itu?" ujar William.


"Aku tidak tahu dan aku tidak peduli," sinis Thom.


"Hahaha, rupanya kau semakin berani Thom, ku pikir setelah kematian Edward, kau akan menjadi kelinci tidak berdaya, ternyata dugaanku salah," gelak William.


"Tidak usah basa-basi William, katakan saja apa maumu dan bosmu itu kali ini?" sungut Thomas.


"Tunggulah sampai kita sampai di tempat tujuan kita, maka kau akan tahu apa tujuanku membawa mu kali ini," jelas William lalu memberikan kode kepada anak buahnya untuk mengikat tangan serta menutup mulut dan mata Thomas.


Kurang lebih 45 menit mereka menempuh perjalanan, kini mereka tiba di sebuah tempat yang sepi, dimana disana hanya ada sebuah rumah sederhana yang sudah tidak memiliki penghuni, disekeliling rumah itu hanya ada rumput liar yang sudah sangat tinggi.


Thomas yang saat ini matanya sedang tertutup digiring masuk oleh anak buah William, mereka mendudukkan Thomas disebuah kursi kayu dan mengikat tangan dan kakinya pada kursi tersebut.

__ADS_1


"Ya ampun, apa lagi kali ini yang akan terjadi padaku?" batin Thomas mulai merasa cemas bercampur takut. Dia jelas tahu bahwa orang yang membawanya ini adalah orang yang bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan.


Tap tap tap


Suara langkah kaki membuat Thomas semakin cemas, meskipun mata Thomas masih tertutup, ia bisa tahu bahwa ada seseorang yang sedang mendekat ke arahnya saat ini.


Dengan kasar, penutup mata dan mulut Thomas dibuka, dan sekarang Thomas dapat melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini. Meskipun pencahayaan di dalam ruangan itu tidak terlalu baik, namun Thomas jelas tahu betul wajah pria yang ada di hadapannya saat ini. Pria dewasa yang sudah sangat matang, namun aura wajanya masih memperlihatkan sosok yang sama menakutkannya seperti belasan tahun yang lalu.


"Halo Thom, kita bertemu lagi," sapa Darold dengan senyum devilnya.


Thom hanya terus menatap tajam Darold tanpa merespon.


"Hey, ada apa dengan tatapan matamu itu? kau sangat tidak cocok dengan tatapan itu Thom," ejek Darold santai sembari tertawa pelan.


"Aku ingin memastikan, apa benar wanita yang mendatangimu pagi ini adalah Rachelia Edward?" tanya Darold penuh selidik.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau maksud, Darold," jawab Thomas berusaha santai.


"Jangan berpura-pura bodoh, Thom, kau jelas tahu apa maksudku," geram Darold.


Thomas tersenyum, "bahkan jika memang dia Rachelia, aku tidak akan memberitahukannya padamu,"


Emosi Darold kini terpancing, dengan sorot matanya yang tajam, ia mendekat ke arah Thomas, seketika sebuah pukulan berhasil mendarat di wajah Thomas, wajah Thomas terhempas ke belakang, darah segar mengalir dari sudut bibir dan hidungnya.

__ADS_1


"Aku sudah lama mencari anak dari Edward itu, selagi aku memintanya baik-baik, katakanlah padaku, maka kau akan selamat keluar dari tempat ini," ancam Darold.


"Karena aku tahu kau mencarinya, maka aku tidak akan memberitahukannya padamu, Darold" tegas Thomas dengan tatapan tajamnya seolah kali ini ia tidak takut sama sekali pada Darold. Namun, ini sudah tekadnya untuk melindungi putri dari Edward.


Darold tersenyum miring, ia lalu pergi dan memanggil para anak buahnya yang sejak tadi sudah bersiap diluar ruangan itu dengan membawa senjata tumpul.


"Masuklah, dan beri pelajaran orang itu sampai dia buka suara," perintah Darold.


Sebanyak 10 pria dengan senjata tumpul kini masuk ke dalam ruangan itu, diikuti William di belakangnya.


"Hajar dia!" perintah Darold, namun seketika lampu di ruangan tersebut padam.


"Oh ****!"


Tak lama setelah lampu padam, sejumlah bubuk fosfor yang menyala dalam gelap mengenai tubuh para anak buah Darold, dan seketika terdengar suara baku hantam. William dan Darold yang ingin menyalakan ponselnya tiba-tiba merasakan tangan mereka di tendang hingga ponsel mereka terlepas dari tangan. William dan Darold sempat bingung dengan yang terjadi saat ini, tak ingin tinggal diam, William segera mencari saklar lampu di ruangan itu, namun karena kondisi yang sangat gelap, membuat William kesulitan dalam menemukan saklarnya.


Darold yang melihat cahaya dari tubuh anak buahnya bergerak kesana kemari, bahkan tidak jarang ada yang terhempas jauh pun sedikit meringis.


"William cepatlah," teriak Darold agar William bisa bergerak cepat mencari saklar lampu ruangan itu.


Dengan meraba-raba dinding, William akhirnya berhasil menemukan saklar lampu dan langsung menyalakan kembali lampu di ruangan itu. Namun sayangnya, semua anak buah mereka telah tergeletak tidak berdaya di lantai, sementara Thomas yang tadi di ikat kini telah hilang.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2