Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 45 Jebakan Maut


__ADS_3

“Bagaimana hasil penyelidikanmu Boy?” tanya Calvin. Saat ini mereka sedang berada di tangga darurat, Boy sengaja mengajak Calvin berbicara disana untuk menghindari jika ada mata-mata  yang mendengar pembicaraan mereka.


“Begini Calv, aku dan temanku sudah menelusuri jejak panggilan daddymu, dan kami menemukan nomor yang mencurigakan, orang ini seolah selalu memerintah daddymu. Jadi aku memutuskan untuk menelusuri jejak panggilan nomor itu dan menyadapnya, dan kau tahu, dia adalah orang yang memerintahkan seseorang untuk menabrak daddymu malam itu, dan yang paling penting, dia juga saat ini sedang berencana memb***h Rachelia Edward.” Boy berbicara lirih.


“Apa? Bukankah penabrakan ini juga merupakan rencana dari Rachelia Edward? Aku melihatnya malam itu di lokasi kejadian,” tanya Calvin sambil mengernyitkan alisnya.


Boy menggelengkan kepalanya, “Bukan, berdasarkan pengamatanku setelah mendengar pembicaraan maupun melihat pesan teks dari nomor ini, Rachelia maupun daddymu saat ini adalah target dari orang yang sama, kau harus menjaga daddymu Calv,” terang Boy, “Oh iya, satu lagi, aku baru saja menemukan infomasi bahwa malam ini, Rachel akan di bu**h," lanjut Boy membuat jantung Calvin berdegup kencang.


“Apa?” Calvin sangat terkejut, “Boy, aku ingin meminta bantuanmu sekali lagi,” lanjut Calvin kemudian.


--


 


Hari semakin malam, di tambah kurangnya pencahayaan di gedung tua kosong itu, membuat suasananya semakin gelap. Tak ada sama sekali suara yang terdengar, bahkan tidak ada sama sekali tanda-tanda keberadaan orang di gedung itu.


"Apa benar ini tempatnya? Kenapa aku seperti merasa sedang mendatangi rumah hantu untuk uji nyali?" batin Rachel bermonolog.


Perlahan Rachel melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung kosong itu, dengan tangan kanan memegang senter, dan tangan kiri memegang beberapa benda yang terlihat seperti kerikil.


Setiap melewati satu ruangan, Rachel akan menjatuhkan satu kerikil, hingga tiba di ruangan terakhir, ia mendapati kedua orang tua angkatnya sedang duduk dengan kondisi tangan dan kaki di ikat. Robert dan Nola terlihat pucat dan sangat lemah, bahkan mungkin saat ini mereka sedang pingsan.


Hati Rachel begitu sakit mendapati kondisi kedua orang tua angkat yang sudah ia anggap seperti orang tua sendiri dalam kondisi seperti itu.


“Papa, mama,..” lirih Rachel, rasanya ia ingin langsung menghampiri Robert dan Nola lalu memeluknya. Namun ia sadar, ia tidak boleh gegabah apalagi langsung berlari ke arah mereka, bisa saja ada jebakan di sana yang sewaktu-waktu dapat langsung membunuhnya.


Rachel cukup lama terdiam di tempatnya, matanya senantiasa memantau ke segala arah, namun ia sama sekali tidak merasakan tanda-tanda adanya orang lain di dalam ruangan itu selain dirinya dan kedua orang tua angkatnya.

__ADS_1


Sembari menelisik ke seluruh ruangan, mata Rachel terfokus pada sebuah balok kayu agak panjang yang tergeletak di lantai dan ia pun segera mengambilnya. Sebelum melangkah, Rachel mengerakkan balok kayu itu ke segala arah, dari bawah hingga ke atas ia ayunkan beberapa kali, dan benar dugaan Rachel, balok kayu yang ia gerakkan saat itu berhasil mengenai sebuah tali, sesaat kemudian sebuah pisau terbang dari arah samping dan lewat di hadapan Rachel sejajar dengan kepalanya.


Rachel meringis saat netranya menatap pisau yang kini telah tertancap di sebuah papan tepat disampingnya, “Wih.. bahaya sekali, hampir saja nyawaku melayang,” batin Rachel tetap berusaha tenang.


Meski telah melewati 1 jebakan maut, Rachel tetap masih menggunakan cara awalnya untuk melihat adanya jebakan lain.


Saat semakin mendekat ke arah Nola dan Robert, sebuah tali kembali berhasil disentuh oleh balok kayu milik Rachel, dan sebuah tembakan  tiba-tiba berbunyi dan mengenai dinding di samping Rachel yang sejajar dengan kepalanya.


Sekali lagi Rachel meringis melihat dinding di sampingnya yang kini telah berlubang akibat peluru yang entah dari mana asalnya, “astaga.. ya ampun, niat sekali orang ini mengambil nyawaku melebihi malaikat maut,” batin Rachel mengelus dadanya mencoba menetralkan degupan jantung yang kian berpacu dengan cepat.


Setelah memastikan tidak ada lagi jebakan, Rachel langsung membuka ikatan di tangan dan kaki mereka. Baru saja terlepas, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari seseorang yang kini masuk di ruangan itu.


Prok prok prok


"Luar biasa, kau dapat melewati jebakan maut ini dengan mudah," ucap pria yang sangat tidak asing di mata Rachel.


"Hahaha, rupanya kau masih mengenalku Michel, oops maksudku Rachelia Edward." Mata Franz seketika berubah tajam saat menyebut nama asli Rachel.


"Rupanya kecurigaanku benar," lirih Rachel lalu membawa Nola dan Robert yang mulai tersadar ke belakangnya.


"Aku akui kamu sangat hebat menganalisis sekitarmu, tapi sepertinya kamu gagal dalam menganalisis diriku,"


"Terserah, sekarang apa maumu membawaku kesini? Apakah kau ingin mengambil alih tugas malaikat maut?" sarkas Rachel.


"Tidak, lebih tepatnya aku ingin mengantarmu ke neraka, dengan iringan doaku" jawab Franz tersenyum sinis.


"Baik, lakukanlah..." ucap Rachel santai, "jika kau bisa," lanjutnya tersenyum sinis lalu melemparkan benda berbentuk kerikil ke arah Franz, segera ia menekan tombol yang ia simpan di saku celananya. Seketika kepulan asap tebal keluar dari benda kecil itu dan membuat Franz kesulitan melihat.

__ADS_1


Kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh Rachel untuk membawa Robert dan Nola keluar dari gedung itu. Franz mencoba kembali mengejarnya, namun tiap ia melewati sebuah ruangan, kepulan asap kembali keluar, sehingga menghambatnya untuk berlari karena tak bisa melihat jalan. Rachel yang berhasil membawa keluar Nola dan Robert harus kembali menelan salivanya saat diluar gedung sudah banyak pria bertubuh besar yang menunggunya. Mereka semua tampak menggunakan baju hitam sehingga tidak begitu terlihat jelas di malam hari.


Franz yang tadinya kesulitan untuk mengejar Rachel kini berhasil keluar dari gedung itu. "Sudah ku katakan, aku akan mengantarmu ke neraka malam ini, jadi kau tidak akan bisa keluar dari sini. Semua jalan telah ku tutup sehingga tidak akan ada yang bisa membantumu," terang Franz.


"Michel," panggil Nola lirih, "maafkan kami yang sudah membuatmu dalam bahaya seperti ini," lanjut Nola dengan suara lemah.


"Tidak ma, akulah yang salah karena sudah membuat kalian terseret dalam masalah ini," ucap Rachel tanpa berbalik ke arah Nola dan Robert yang ada di belakangnya karena sedang siaga. "Apa mama dan papa masih bisa berjalan sedikit lagi?" tanya Rachel.


"Masih bisa nak, kami akan membantumu," jawab Robert.


"Tidak pa, saat Michel bertarung, kalian pergilah cepat ke semak-semak di arah jam 5 itu untuk bersembunyi, sepertinya disana kalian akan aman," ujar Rachel sedikit berbisik.


"Tapi Michel,"


"Kita tidak punya banyak waktu, ma, pa, Michel mohon," pinta Rachel.


"Tunggu apa lagi? Cepat eksekusi!" perintah Franz, membuat beberapa pria itu langsung mengampiri Rachel dan menyerangnya. Rachel cukup lincah untuk menangkis serangan mereka yang kemungkinan berjumlah lebih dari 10 orang itu. Saat ada cela, Rachel mencoba menyerang balik, kali ini ia langsung menyerang ke titik vital lawan agar lawannya segera lumpuh.


Namun sayang, seperti istilah, mati satu tumbuh seribu. Begitulah keadaan Rachel malam ini, sudah banyak lawan yang berhasil ia lumpuhkan, namun anehnya, lawannya semakin banyak yang datang entah dari mana.


Serangan demi serangan berhasil ia tangkis namun serangan itu semakin bertambah hingga membuatnya kewalahan dan akhirnya tersungkur saat seorang pria berhasil menendangnya. Di saat pria berbaju hitam itu hendak menghampirinya, tiba-tiba seseorang dengan baju yang sama lengkap dengan masker datang dan menendang pria itu. Tentu saja Rachel terkejut dan tidak menyangka bahwa salah satu lawannya justru melindunginya.


"Kamu tidak apa-apa? Maafkan aku yang datang terlambat," ujar orang itu lalu membelakangi Rachel untuk melindunginya.


"Kamu siapa?" tanya Rachel lirih.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2