Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 52 Bicara Empat Mata


__ADS_3

Pernikahan Shally malam ini berlangsung cukup meriah hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11 malam.


"Morgan, sepertinya kita harus pulang, aku akan pamit terlebih dahulu kepada Shally, kamu tunggu aku di mobil" ujar Rachel.


"Baik nona," jawab Morgan lalu mereka berpisah.


Rachel mulai pergi ke arah Shally yang saat ini tampak sedang berbicara dengan seorang pria yang hanya terlihat punggungnya saja.


"Shally, aku ingin pamit pulang," ujar Rachel membuat Shally langsung menoleh ke arahnya.


"Ah, kamu datang tepat waktu sekali, aku ingin memperkenalkanmu kepada sepupuku," jawab Shally lalu memutar tubuh pria yang ada di hadapannya untuk berbalik ke arah Rachel, "kenalkan, ini Calvin sepupuku," lanjutnya begitu antusias.


Degh


Jantung Calvin dan Rachel seketika berdebar hebat tatkala netra mereka saling bertemu, setelah 3 tahun lamanya, kini mereka di pertemukan kembali secara tidak terduga.


"Rachel," ujar Rachel memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


Calvin mengernyitkan alisnya merasa bingung dengan sikap Rachel yang seperti sedang bersandiwara tidak mengenalinya, di tambah lagi untuk pertama kalinya, Rachel mengulurkan tangan kepadanya, padahal selama ia mengenalnya, Rachel tidak pernah sekalipun mau bersentuhan dengannya.


"Calvin," ucap Calvin kemudian sambil meraih uluran tangan Rachel. Cukup lama Calvin menjabat tangan Rachel, ia ingin melihat bagaimana reaksi Rachel saat ia menjabat tangannya dalam waktu yang lama. Dan benar saja, Rachel tampak begitu risih saat ia hendak melepas tangannya namu Calvin menahannya.


"Oh iya Rachel, dimana kekasihmu?" pertanyaan Shally seketika membuat Calvin tertegun dan melepas tangan Rachel.


"Oh di-dia sedang berada di mobil menungguku, aku pulang dulu yah, bye," ucap Rachel lalu bergegas pergi meninggalkan Shally dan Calvin yang kini menatap sendu ke arahnya.


Sementara Rachel yang kini berada di mobil hanya terdiam saat Morgan mulai melajukan mobilnya pulang ke rumah.


Tangannya saling menggenggam dan ia merapatkan kedua tangan itu pada dadanya yang sampai saat ini masih terasa berdebar hebat. Suasana di mobil cukup hening, Morgan yang melihat sikap Rachel yang sedikit berbeda hanya bisa diam dan tak ingin mengomentarinya sebab ia sudah tahu jawaban apa yang akan ia terima seperti waktu itu, "nggak papa", jawaban umum yang seringkali wanita lontarkan saat mereka dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Hingga tidak terasa mobil mereka sampai di halaman rumah Rachel.


"Ayah aku pulang," ucap Rachel saat mendapati ayahnya sedang duduk menonton TV di ruang keluarga.


"Bagaimana pestanya sayang," tanya Edward.


"Ramai dan Meriah," ucap Rachel lalu ikut mendudukkan bokongnya di sofa tepat di samping Edward.


"Ada apa? Apa dadamu sakit?" tanya Edward saat melihat Rachel masih setia memegang dadanya yang masih sedikit berdebar.


"Eh ti-tidak ayah, Rachel hanya lelah," jawab Rachel yang memang juga sedang sangat lelah.


"Oh istirahatlah kalau begitu sayang," seru Edward sambil kembali menatap layar TV di hadapannya, namun Rachel tidak mennggapi.


"Rachel?" ulang Edward sambil menoleh ke arah putrinya yang kini sudah mengeluarkan suara dengkuran halus.


"Astaga anak ini," gumam Edward menggelengkan kepalanya. Ia pun mengangkat tubuh Rachel ala bridal style lalu membawanya ke kamar Rachel yang bernuansa putih.


"Semoga kelak kamu bertemu dengan pria yang mampu membuat ayah tenang saat kamu berada di sisinya," lirih Edward setelah meletakkan tubuh Rachel perlahan di kasur lalu mengecup keningnya.


--- 

__ADS_1


Satu minggu kemudian


Keadaan Darold bukannya semakin membaik, ia malah tampak semakin sering mengalami sakit kepala hebat.


"Dokter, apa yang terjadi dengan daddy?" tanya Calvin pada dokter yang baru saja memeriksa keadaan Darold.


"Setelah kami melakukan pemeriksaan CT scan, ternyata terjadi Pendarahan otak pada kepala pak Darold. Pendarahan ini terjadi secara tiba-tiba di dalam jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah yang kemungkinan disebabkan oleh kelemahan struktural dinding pembuluh darah," jelas dokter.


"Lalu apa yang harus kita lakukan dok? Tolong selamatkan daddyku," pinta Calvin dengan wajah yang tampak begitu cemas.


"Mengingat pendarahan otak pak Darold cukup parah dan sudah menekan otaknya, maka kami akan mengambil langkah operasi. Operasi pendarahan otak ini dilakukan untuk menguraikan darah yang menyumbat dan menekan otak," tukas dokter.


"Apa daddy akan sembuh setelah operasi itu?" tanya Calvin.


"Kami dokter, kami hanya bisa melakukan tindakan yang terbaik, mengenai hasil akhirnya kita berdoa saja," terang dokter lagi.


Calvin tertunduk lesu. Ia benar-benar sangat khawatir dengan kondisi ayahnya. Bahkan saat ini ia hanya mondar-mandir seorang diri di luar ruangan Darold. Ia jelas tahu, di usia ayahnya yang semakin terbilang senja, mengambil langkah operasi tentu memiliki resiko besar. Namun, jika di biarkan, Darold akan tersiksa dan bisa kembali koma, atau yang lebih parah lagi, Darold bisa saja meninggal.


"Calvin, ada apa? Bagaimana hasil pemeriksaan dokter tadi?" tanya Rossa yang hendak keluar mencari Calvin namun justru mendapati putranya sedang mondar-mandir di depan ruangan.


"Mom, daddy,"


"Iya, kenapa dengan daddymu?"


"Daddy kembali mengalami pendarahan otak, dan harus segera di operasi,"


Rossa ikut terkejut mendengar penuturan putranya. "Calvin, tenanglah." ucap Rossa dengan wajah sendu menatap putranya yang begitu frutrasi.


"Dokter pasti telah mempertimbangkan segala kemungkinannya sehingga mengambil jalan operasi," ujar Rossa lagi mencoba menenangkan Calvin.


"Kita berdoa saja, semoga operasinya lancar, dan daddymu di beri kesembuhan," tukas Rossa lalu memeluk Calvin.


Beberapa jam berlalu, kini tiba saatnya Darold di bawa ke ruang operasi.


"Suster, sebelum aku di bawa kesana, tolong biarkan aku berbicara empat mata dengan putraku," pinta Darold, membuat dua suster yang hendak membawanya mengangguk paham lalu memanggil Calvin yang berada di luar ruangan.


Tak lama kemudian, Calvin masuk ke ruangan itu. "Daddy?"


"Calvin kemarilah, ada yang ingin daddy katakan."


"Kenapa tidak menunggu sampai operasi daddy selesai, agar daddy tidak kesulitan berbicara sambil menahan rasa sakit di kepala daddy."


"Ini penting, yang di operasi nanti itu kepala daddy, daddy takut mereka menghilangkan ingatan daddy mengenai apa yang ingin daddy katakan padamu," canda Darold sedikit tersenyum namun hanya sebentar karena kepalanya yang sakit.


"Dad, ku mohon jangan bercanda seperti itu," pinta Calvin.


"Calvin, daddy ingin memastikan sesuatu, tolong jawablah dengan jujur," tukas Darold.


"Apa itu dad?"


"Apa benar kamu mencintai Rachelia Edward?"

__ADS_1


Degh


"Apa? Daddy tahu darimana?" lirih Calvin.


"Kamu jangan berpura-pura bodoh Calvin, jelas-jelas kamu sendiri yang mengatakannya waktu itu,"


Calvin terdiam sejenak, ia baru mengingat bahwa Darold mulai sadar setelah ia mengatakan rahasia itu kepadanya.


"Maafkan Calvin dad,"


"Daddy tidak butuh permintaan maafmu, daddy hanya ingin kamu menjawab jujur pertanyaan daddy tadi,"


"Iya dad, Calvin mencintainya," jawab Calvin akhirnya sembari menunduk lesu.


"Sejak kapan?"


"Sejak dia masih memakai nama Michel,"


"Dimana dia sekarang?"


"Calvin tidak tahu dia ada dimana sekarang,"


"Kenapa kamu tidak mencarinya? Dasar anak bodoh!" cetus Darold.


Mendengar perkataan Darold, Calvin langsung mengangkat wajahnya menatap manik mata ayahnya, "A-apa maksud daddy?"


"Jika kamu mencintainya, seharusnya kamu mencarinya dan mengejar cintanya, jangan jadi orang seperti daddy yang dibutakan oleh gengsi dan pada akhirnya menyesal di kemudian hari," papar Darold.


"Bukankah waktu itu daddy melarangku dekat dengannya karena dia telah membuat daddy tertangkap?"


"Itu dulu saat hati daddy masih keras seperti batu, tapi semenjak mengalami koma, entah kenapa hati daddy seperti melunak," ucap Darold lalu memalingkan wajahnya karena tak ingin dilihat oleh Calvin dalam keadaan mata yang berkaca-kaca.


Koma selama 3 tahun membuat Darold menyadari kesalahannya, di tambah Calvin yang setiap hari mengajaknya berbicara dengan pembicaraan yang positif.


Calvin kembali terdiam setelah mendengar perkataan Darold. Ada rasa bahagia di dalam hatinya saat ini yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.


"Dad, terima kasih banyak," ucap Calvin kemudian lalu memeluk tubuh Darold.


"Oh iya, dimana mommymu?"


"Mommy ada di luar, apa mau Calvin panggilkan?"


"Tidak perlu, cukup sampaikan saja permintaan maafku padanya atas semua kesalahanku selama ini."


"Kenapa daddy tidak katakan langsung pada mommy,"


"Diamlah, dan lakukan perintah daddymu ini," ujar Darold membuat Calvin terkekeh geli melihat wajah salah tingkah ayahnya itu.


"Oh iya, satu hal lagi, jika nanti kamu bertemu dengan Rachel, sampaikan permintaan maafku dengan tulus padanya," tukas Darold.


"Dad, sembuhlah segera, dan sampaikan langsung semuanya kepada Rachel," ucap Calvin namun Darold tak lagi menanggapinya karena rasa sakit yang teramat di kepalanya hingga membuatnya tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Daddy?"


-Bersambung-


__ADS_2