
Di pesawat, Rachel tampak sedang gelisah, sejujurnya ia masih tidak tega meninggalkan Calvin dalam keadaan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, meeting besok tidak bisa di tunda, lagipula siapa dia? Dia bukan siapa-siapa bagi Calvin, begitu pikirnya.
Sementara Edward yang duduk di sampingnya sejak tadi juga hanya diam, ia sengaja tidak mengatakan apa yang sudah ia lakukan tadi bersama Robert, pokoknya Biarkan Calvin berjuang untuk membuktikan seberapa besar cintanya kepada Rachel, begitu pikirnya.
Sampai beberapa jam berlalu, kedua orang beda generasi itu hanya diam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga tak terasa, pesawat yang mereka tumpangi kini tiba di George Bush International Airport pada malam hari.
Waktu yang tepat bagi Rachel untuk beistirahat dan mempelajari materi meetingnya terlabih dahulu sebelum besok ia mulai meeting.
Matahari kini telah terbit, mengantarkan hari baru yang lebih baik dari hari sebelumnya. Sebuah harapan baru dimulai dan sebuah perjuangan baru di mulai. Rachel kembali mulai berkutat dengan kesibukannya seperti biasa mulai dari meeting, pertemuan dengan rekan bisnis dan sebagainya.
Bayang-bayang Calvin yang kerap kali muncul dalam benaknya sebisa mungkin ia tepis, mungkin ia memang berani mengakui perasaannya terhadap Calvin kepada ayahnya, namun untuk melakukan sesuatu yang dibenci ayahnya ia tidak berani, bukankah restu orang tua itu lebih penting, apa gunanya hidup bersama kekasih namun tidak ada restu di dalamnya? Mungkin itu hanya akan membuat hidupnya terkesan monoton dan jauh dari ketenangan.
Kini beberapa hari telah berlalu, kesibukan Rachel akhir-akhir ini semakin bertambah, membuat Rachel kadang kesulitan untuk mencari waktu luang hanya untuk sekedar beristirahat.
"Lucy, apa masih ada jadwal pertemuan di akhir pekanku kali ini?" tanya Rachel sambil meregangkan tubuhnya.
"Iya nona, dan itu datang dari ayah anda yang ingin nona melakukan kencan buta," jawab Lucy.
"Apa? Kencan buta? Sepertinya omongan ayah waktu itu tidak main-main," gumam Rachel sembari mengusap wajahnya kasar.
"Pukul berapa?" tanya Rachel kemudian.
"Pukul 9 pagi sampai 9 malam, nona?" jawab Lucy.
"Apa? Kenapa lama sekali? Memangnya aku mau menikah. Apa yang bisa ku lakukan dengan pria yang baru ku kenal selama itu," monolog Rachel merasa frustrasi sendiri.
Kini Rachel tiba di rumah pada malam hari, ia benar-benar tidak sabar ingin menemui ayahnya untuk protes. Dengan langkah cepat, Rachel berjalan kesana-kemari mencari Edward, hingga ia tiba di depan kamarnya.
Tok tok tok
"Masuk," ucap Edward dari dalam kamar.
"Ayah, ke..-" ucap Rachel sambil masuk ke dalam kamar ayahnya, namun segera di potong oleh Edward.
"Ssst.. Jika kamu kesini hanya untuk protes mengenai kencan buta besok, sebaiknya urungkan saja karena ayah tidak akan membatalkannya," ujar Edward cepat.
__ADS_1
"Tapi ayah..-" protes Rachel yang lagi-lagi langsung di potong oleh Edward.
"Jika kamu ingin menjadi anak yang berbakti pada ayah, maka lakukan yang ayah bilang tanpa protes apapun, TITIK," tukas Edward tak ingin ada bantahan lagi.
Mendengar perkataan Edward yang memang tidak ada lagi harapan untuk menolak, membuat Rachel memilih keluar dari kamar dengan muka masam dan kusut bagaikan kertas hasil cakaran matematika yang sudah full.
"Ya ampun, kenapa ayah jadi keras begini sih, mau protes pun tak boleh," dumelnya setelah sampai di kamarnya.
---
Pagi telah menyambut kembali seperti hari kemarin, membawa sejuta semangat untuk memulai aktivitas hari ini. Setelah melakukan rutinitas olahraga sekaligus latihan beladirinya, Rachel berdiri di depan cermin dengan meletakkan sebuah dress di hadapannya.
"Apa ini cocok?" ucap Rachel sambil bergerak kesana-kemari di depan cermin, "tidak, sepertinya ini terlalu mencolok, apakah yang ini?" monolognya sambil mengganti pakaian di hadapannya.
Entah sudah berapa kali Rachel mengganti pakaian dengan berbagai alasan, ia benar-benar bingung harus berpakaian seperti apa karena ini merupakan pertama kali baginya melakukan kencan dengan seorang pria, pria yang bahkan ia tidak tahu seperti apa rupa dan karakternya.
"Rachel, apa kamu sudah siap?" panggil Edward dari luar kamarnya.
"Rachel baru mau siap-siap ayah," sahut Rachel lalu berlari ke kamar mandi untuk bersiap.
"Wah, putri ayah sangat cantik, beruntung sekali pria yang akan kamu temui hari ini," puji Edward yang sejak tadi menunggunya di ruang tamu.
"Ayah apaan sih, oh iya foto pria itu mana? supaya Rachel bisa lebih mudah menemukannya," ujar Rachel sambil menengadahkan tangannya ke arah Edward.
"Ayah tidak punya foto. Yang jelas dia berada di dalam ruang VIP restoran Emereld, dia menggunakan kemeja cokelat sepertimu," jawab Edward, membuat Rachel memanyunkan bibirnya.
"Sudah sayang, bibirmu jangan di manyunkan seperti itu, yang jelas setelah dari sini kamu akan bahagia, sekarang pergilah," seru Edward.
Kini Rachel masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke restoran yang Edward maksud.
Kurang lebih 20 menit Rachel melajukan mobilnya hingga kini ia tiba di sebuah restoran mewah. Rachel melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran sambil mencari ruang VIP yang telah di sebutkan Edward, entah kenapa jantungnya berdegup kencang saat akan memasuki ruangan yang kini berada tepat di hadapannya.
Tok tok tok
Ceklek
__ADS_1
Rachel perlahan membuka pintu itu, dan ia dapat melihat pria di dalam ruangan itu.
"Selamat pagi, Rachel yah?" sapa pria itu menyambut kedatangan Rachel.
"Eh iya, boleh saya tahu, nama anda?" tanya Rachel.
"Perkenalkan, saya Archer," ucapnya sembari mengulurkan tangannya ke arah Rachel.
Rachel tampak ragu, namun pada akhirnya ia memberanikan diri menjabat tangan pria itu. Pria dengan kacamata tebal dan kumis tipis yang bertengger indah di atas bibirnya. Rambutnya yang disisir rapi dengan gaya rambut betel samping.
Pria itu memulai pembicaraan dengan Rachel, cukup banyak yang ia tanyakan kepada Rachel dan Rachel hanya menjawab apa adanya.
"Jika aku melamarmu, apa kamu akan menerimaku?" tanya pria itu kemudian, membuat Rachel yang saat ini sedang meminum jus seketika tersedak hingga terbatuk-batuk.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu sedikit khawatir, dan Rachel hanya mengangguk sembari meredakan batuknya.
"Maaf, aku tidak bisa menerimamu, aku belum mengenalmu," jawab Rachel kemudian.
"Kita bisa saling mengenal setelah menikah," jawab pria itu cepat.
Rachel menunduk, ia benar-benar dibuat bingung dengan pria asing di hadapannya yang langsung melamarnya, padahal ini adalah hari pertama mereka saling bertemu.
"Maaf, tapi aku tidak bisa," jawab Rachel singkat.
"Kenapa?" tanya pria itu.
Rachel bergeming, ia tidak tahu apakah ia harus jujur kepada pria itu bahwa ia sudah memiliki seseorang di dalam hatinya. Cukup lama ia terdiam sambil menunduk, hingga pria itu kembali bersuara.
"Jika pria bernama Archer ini kamu tolak, lalu jika aku yang melamarmu, apakah kamu akan menerimanya?" ujar pria itu yang kini menggunakan suara aslinya.
Rachel yang merasa suara itu tidak asing lantas mengangkat wajahnya dan lagi-lagi ia tersedak oleh salivanya sendiri. Jantungnya seketika memompa kuat, lidahnya terasa kelu, bahkan tubuhnya kini terasa kaku, ia seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapanya kali ini.
"Calvin," lirihnya bersamaan dengan air mata yang seketika menetes ke pipinya.
-Bersambung-
__ADS_1