
"Benar, kami telah melakukan pemeriksaan dan kemungkinan besar penyebabnya adalah cedera pada otak (traumatic brain injury)," terang dokter tersebut.
"Apa cederanya sangat parah dokter? kapan kira-kira Daddy bisa sadar dari komanya?" tanya Calvin.
"Untuk tingkat cederanya, kami masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut, dan untuk masa komanya, kita berdoa saja semoga pak Darold bisa segera sadar," jawab dokter.
Calvin tertunduk lesu mendengar perkataan dokter tersebut. Rossa menepuk pelan pundak Calvin memberi sedikit kekuatan. "Sabar yah sayang, kita doakan semoga Daddymu bisa segera sadar, sekarang duduklah agar tubuhmu bisa lebih rileks."
"Iya mommy." Calvin lalu duduk di sebuah sofa yang terrsedia di kamar VIP tempat Darold di rawat dan di ikuti oleh Rossa.
"Mommy"
"Hmm? ada apa sayang?"
"Mommy tahu, siapa wanita yang berbicara dengan daddy di video malam itu?"
"Kalau nggak salah namanya Rachelia, iya kan?"
"Betul mom, dan mommy tahu siapa Rachelia itu?"
"Kalau nggak salah dengar, Daddymu adalah dalang dari ledakan di rumahnya dulu, jadi dia mengungkap semua kejahatannya malam itu."
"Benar mom, tapi satu yang mom belum tahu dari wanita itu, dia juga adalah orang yang telah membantuku menemukan lokasi keberadaan mommy,"
"Apa? jadi dia.." Rossa sangat terkejut sampai ia sendiri tak mampu melanjutkan pertanyaannya.
Calvin mengangguk lemah menjawab pertanyaan yang bahkan belum selesai dikatakan Rossa, beberapa kali ia menghembuskan nafas kasar dan kembali tertunduk. Entah bagaimana perasaan Calvin saat ini, namun dari raut wajah yang di tangkap Rossa, Calvin seolah sedang berperang melawan perasaannya sendiri.
Rossa benar-benar turut merasa sedih melihat kesedihan putranya. Namun, ia juga merasa penasaran akan sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Calvin, apa kamu mencintai wanita itu?" Pertanyaan Rossa ini sukses membuat wajah Calvin seketika terangkat, bukannya menjawab, Calvin malah terdiam seribu bahasa. Namun, dari sorot matanya, Rossa dapat mengetahui jawabannya.
"Kamu tak perlu menjawab sayang, matamu sudah menjawab semuanya," tukas Rossa, membuat Calvin kembali tertunduk.
"Maafkan Calvin mom, Calvin salah," cicit Calvin.
"Tidak sayang, kamu sama sekali tidak salah, bahkan perasaan tulusmu itu pun tidak salah sama sekali. Masa lalu kalian saja yang tidak searah, sehingga menimbulkan dendam dan benci yang menjadi tembok besar diantara kalian."
"Benar mom, dan kami tentu tidak mungkin bersama, Calvin pun sadar diri akan hal itu."
Rossa lagi-lagi tidak bisa berkata-kata,ia hanya mampu mendengar dan memberikan kekuatan pada Calvin untuk saat ini.
--
Beberapa hari kemudian.
Rachel semakin lancar dalam menembak, bahkan tembakannya kini selalu tepat sasaran, berbagai jenis senjata milik ayahnya telah ia coba dan ia dengan cepat mampu menguasai teknik penggunaan masing-masing senjata.
"Ayah, ini sudah malam, Rachel ingin pamit pulang dulu, sudah beberapa hari ini Rachel tidak pulang," pamit Rachel kepada Edward yang saat ini sedang bersama Morgan di ruangannya.
"Baiklah sayang, Morgan akan mengantarmu," seru Edward.
__ADS_1
"Rachel bisa pulang sendiri ayah," tolak Rachel
"Tidak sayang, kamu telah mengumumkan identitasmu, dan pastinya itu tidak aman bagimu," ujar Edward tegas.
"Hmm.. baiklah ayah," gumam Rachel pasrah, lalu berjalan keluar diikuti Morgan di belakangnya.
Dan disinilah Rachel sekarang, berada di dalam mobilnya bersama pria gondrong itu. Suasana begitu hening, tak ada satupun di antara mereka yang bersuara. Baik Rachel maupun Morgan, keduanya seakan hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Ekhem.." Rachel berdehem mencoba memecah keheningan di dalam mobil itu, sementara Morgan hanya bergeming tak memberikan respon apapun, bahkan melirikpun tidak.
"Emm Morgan"
"Iya nona?"
"Hmm sejak kapan kamu bergabung dengan Red Sword?"
"Sejak berusia 16 tahun, nona"
"Lalu, berapa usiamu saat ini?"
"Usia saya 29 tahun nona"
"Oooh.. apa kamu sudah berkeluarga?" Rachel memukul mulutnya pelan saat menyadari pertanyaanya yang semakin mengarah ke hal pribadi. Dan aksinya ini di tangkap oleh ekor mata Morgan, hal itu membuatnya sedikit tersenyum samar.
"Belum nona," jawab Morgan kembali dengan muka datarnya.
"Oo" bibir Rachel membulat membuatnya semakin terlihat menggemaskan.
"Aku?" tunjuk Rachel kepada dirinya sendiri. "Yaa jelas belum berkeluarga lah," lanjutnya.
"Bukan, maksud saya, apa nona sudah memiliki kekasih?" ulang Morgan.
"Ooo.. Belum," jawab Rachel singkat.
Lagi-lagi jawaban Rachel membuat Morgan tersenyum samar, ia seketika teringat dengan pesan Edward padanya tadi sebelum Rachel datang.
*Flashback*
"Morgan, apa kmu sudah memiliki kekasih?" tanya Edward dengan suara bassnya.
"Belum tuan," jawab Morgan.
"Bagus!" jawab Edward singkat dengan senyumnya.
"Apa yang bagus tuan?" tanya Morgan yang sedikit bingung.
"Aku melihatmu sangat setia, dan cerdas, aku berencana menjodohkanmu dengan putriku," jawab Edward santai.
"A-apa?" Morgan mengerutkan keningnya yang sedikit tertutup oleh rambut panjangnya.
"Hahaha, kenapa kau terkejut begitu? Bukan kah kau juga menyukainya?" gelak Edward, namun Morgan justru tidak memberikan jawaban apapun, sehingga tawa Edward perlahan surut.
__ADS_1
"Aku sudah memperhatikanmu selama kau melatih putriku, tatapan matamu padanya sangat berbeda, aku pria, dan aku jelas tahu tatapan seperti apa yang kau berikan pada putriku itu."
Morgan kembali diam, ia saat ini bagaikan kucing yang tertangkap basah mengambil ikan di meja tuannya.
"Kenapa kau diam? Apa kau tidak setuju dengan keputusanku untuk menjodohkanmu dengan Rachel?"
"Ti-tidak tuan"
"Lalu apa kau setuju?"
"Jika Rachel tidak menginginkannya, maka aku tidak ingin memaksanya," jawaban dari Morgan ini tentu membuat Edward tersenyum.
"Berusahalah," ujar Edward dan Morgan hanya terdiam seribu bahasa.
"Oh iya, aku ingin kamu menjadi pengawal pribadi Rachel," tukas Edward, membuat Morgan seketika mengangkat wajahnya melihat Edward yang sejak tadi hanya tersenyum samar.
"Jangan salah paham dulu, aku ingin kau menjaga putriku, karena setelah kejadian ini, dia pasti akan semakin diincar oleh orang-orang Damon."
"Ba-baik tuan."
*Flashback off*
"Eh kita sudah sampai," ujar Rachel saat mobil mereka telah berada di halaman rumahnya. "Terima kasih sudah mengantarku," ucap Rachel langsung turun dari mobil, namun ia tidak menyadari bahwa saat ini Morgan juga turun dari mobil dan mengikutinya dari belakang.
"Halo rumah, akhirnya kita bertemu lagi, aku merindukanmu," seru Rachel antusias saat memasuki rumahnya, ia masih belum menyadari kehadiran Morgan di belakangnya, itu karena Morgan terbiasa berjalan tanpa menimbulkan suara apapun sebagaimana saat ia mengintai musuhnya.
Morgan tersenyum melihat tingkah Rachel, hingga ia tidak sadar menimbulkan suara, dan itu berhasil membuat Rachel terkejut dan langsung berbalik dengan kuda-kuda ingin menyerang.
"Morgan? Kenapa kamu mengikutiku sampai disini?" tanya Rachel dengan alis yang hampir bersatu.
"Maaf nona, aku diperintahkan tuan Edward bahwa mulai hari ini aku akan menjadi pengawal pribadi nona," jawab Morgan dengan wajah datarnya.
"A-apa? Bagaimana bisa ay..." ucapan Rachel terpotong saat ia mendengar suara kaca pecah.
Prang
Buru-buru Rachel dan Morgan mencari sumber suara itu, bahkan Morgan maju lebih dulu di depan Rachel, ia ingin memastikan apakah ada orang lain yang masuk ke dalam rumahnya. Namun, matanya tertuju pada jendela kacanya yang kini terlihat berlubang, dan dibawahnya sudah ada sebuah batu yang terikat sesuatu.
Rachel hendak mengambilnya, namun Morgan menahan tangannya dengan cepat.
"Biarkan saya yang memeriksanya nona," ujar Morgan, lalu dengan cepat ia mengambil batu itu dan melepaskan apa yang saat ini terikat pada batu itu dan membukanya.
"Ini foto, apa nona mengenalnya?" tanya Morgan memperlihatkan foto 2 orang yang sedang duduk di kursi dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Ayah, Ibu?" Pekik Rachel sangat terkejut melihat foto Nola dan Robert yang yang sedang terikat dengan wajah yang sedikit lebam seperti telah di pukuli.
"Morgan, mereka menangkap orang tua angkatku," ucap Rachel dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tenang nona," ujar Morgan mencoba menenangkan kekhawatiran Rachel, "lihat di belakang foto ini, sepertinya ada pesan," lanjutnya dan Rachel langsung membalikkan fotonya.
"Datanglah ke gedung kosong yang berada di dekat sungai Rise, jangan membawa polisi atau siapapun jika kau ingin nyawa mereka selamat!"
__ADS_1
-Bersambung-