
Malam semakin larut, namun beberapa orang tampak masih sibuk dengan misi mereka. Bahkan hingga pukul 03.00 dini hari, Rachel dan Calvin masih senantiasa terjaga di atas motor.
Setelah melewati perjalanan panjang selama 40 menit, kini mereka tiba di dermaga, Rena dan beberapa rekannya rupanya telah menunggu kedatangan Rachel sejak tadi.
“Rachel” panggil Rena dengan suara sedikit pelan sambil menghampiri Rachel dan Calvin yang masih berada di atas motor.
“Rena?” ucap Rachel lalu turun dari motor bersama Calvin. “Bagaimana? Kamu menemukan Damon?” lanjutnya bertanya.
“Iya, Damon ada di kapal itu, kami melihatnya sedang berbicara dengan seseorang,” jawab Rena sambil menunjuk ke arah sebuah kapal.
Rachel menggangguk. “Apakah kamu punya rencana, Rena?” tanya Rachel.
“Iya, kami akan diam-diam naik di kapal itu dengan menyamar sebagai penumpang lain, dan kami akan menyergapnya saat dia lengah,” jawab Rena.
“Apakah Damon tidak memiliki pengawal bersenjata? Aku curiga mereka sedang bersembunyi, sambil memantau Damon,” ujar Rachel.
“Benar, itu bisa saja terjadi, itu sebabnya kami selalu siaga dengan senjata kami. Oh iya, Rachel, Calvin, apa kalian bisa menggunakan senjata?” tanya Rena.
“Iya aku bisa,” jawab Rachel dan Calvin bersamaan. “Apakah warga sipil seperti kami boleh menggunakannya?” lanjut Rachel bertanya.
“Tentu saja kalian boleh menggunakannya dalam keadaan terdesak untuk pertahanan diri, tapi jangan sampai membunuh, kalian mengerti maksudku kan?” tanya Rena.
“Aku mengerti,” jawab Rachel.
Mereka pun mulai menjalankan rencana mereka, sementara Rachel dan Calvin tetap tinggal untuk memantau jika saja Damon melarikan diri keluar dari kapal.
Beberapa menit kini berlalu, suasana kapal masih terlihat tenang, namun di menit berikutnya mulai terdengar suara baku tembak di dalam kapal. Rupanya, Damon memang telah menyiapkan anak buahnya dengan senjata lengkap untuk melindunginya.
Beberapa saat kemudian, terlihat Damon yang saat ini tengah di kelilingi oleh 3 anak buahnya yang siap siaga menembak jika ada yang mengancam. Mereka berjalan turun dari kapal itu dengan cepat.
“Calvin, tetaplah disini dan jaga aku, aku akan kesana menghadang mereka,” ucap Rachel.
“Tapi Ra...” Calvin tidak melanjutkan kata-katanya saat Rachel telah pergi tanpa menunggu tanggapan dari Calvin.
Dengan sembunyi-sembunyi, Rachel mendekati mereka untuk mencegah mereka jika saja mereka akan melarikan diri ke kapal lain. Dan benar saja, Damon kini hendak menaiki kapal lain namun tidak berhasil saat Rena menembak lengan salah satu anak buahnya. Aksi saling tembak pun kembali terjadi antara 2 anak buah Damon dengan Rena dan timnya.
Saat anak Rena dan timnya sedang sibuk baku tembak dengan anak buah Damon, Damon memanfaatkan situasi itu dengan berusaha lari ke tempat lain, namun ia tidak tahu bahwa aksinya itu di pantau oleh Rachel. Damon terus berlari menjauh, bahkan kini ia hampir keluar dari kawasan dermaga, namun langkahnya terhenti saat Rachel mencegatnya dari depan.
__ADS_1
“Maaf tuan Damon, sebaiknya anda menyerahkan diri anda pada polisi,” ujar Rachel.
“Rupanya kau yang bernama Rachel, minggir kau, jangan menghalangi jalanku,” sungut Damon lalu mendorong Rachel hingga ia sedikit oleng namun Calvin langsung datang menahan tubuhnya.
“Jadi anda yang membawa daddyku masuk ke dunia bawah tanah ini?” cetus Calvin menatap tajam Damon.
“Rupanya kau anak Darold yang tidak ingin bergabung dengan kami di dunia bawah tanah yah,” ucap Damon membuat Rachel terkejut sambil menatap Calvin. “Aku tidak pernah memaksa ayahmu, aku hanya menawarkan keuntungan untuknya, dia saja yang terlalu gila harta hingga mengikutiku,” lanjut Damon berkilah.
Rahang Calvin seketika mengeras dengan kedua tangan yang kini mengepal kuat. Calvin yang kini mulai terbawa emosi setelah mendengar perkataan Damon tentang ayahnya hendak melayangkan pukulannya, namun Rachel langsung menahan lengannya sambil menatap Calvin dan menggelengkan kepalanya.
“Jangan lakukan itu, biarkan Rena yang melakukan tugasnya,” ucap Rachel lirih, membuat tatapan Calvin mulai sendu, perlahan kepalan tangannya melemas.
Tak lama setelah itu, Rena datang bersama rekannya. “Tangkap dia!” perintah Rena kepada temannya. Damon kini tak dapat berkutik lagi, ia hanya bisa pasrah saat tangannya di borgol.
“Misi berhasil! Terima kasih atas bantuan kalian,” gumam Rena lalu menjabat tangan Rachel dan Calvin.
“Bagaimana keadaan ayahmu?” tanya Rachel membuka pembicaraan.
“Dia koma,” jawab Calvin singkat.
“Aku turut bersedih untuk itu, semoga ayahmu bisa segera pulih,” ucap Rachel jujur.
Tak lama setelah itu, ponsel Calvin berdering, membuat Calvin menepikan motornya terlebih dahulu untuk mengangkat telfon.
“Halo, ada apa Boy?” tanya Calvin kepada Boy yang saat ini sedang menjaga ayahnya.
“Datanglah kesini segara, daddymu kritis,” seru Boy dengan suara yang terdengar khawatir.
“Apa?” pekik Calvin lalu segera melajukan motornya ke arah rumah sakit.
“Ada apa Calvin?” tanya Rachel yang heran karena jalan menuju rumahnya kini di lewati Calvin begitu saja.
“Calvin?” ulang Rachel memanggil namanya karena Calvin tidak meresponnya, namun usahanya sia-sia, Calvin masih tidak meresponnya.
__ADS_1
Motor Calvin melaju kencang membelah jalan yang masih tidak ramai itu, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sakit. Rachel sedikit ragu untuk masuk ke dalam rumah sakit itu, namun melihat Calvin yang lari terburu-buru membuatnya penasaran hingga ia ikut berlari sedikit jauh di belakang Calvin.
Calvin kini tiba di depan sebuah kamar VIP tempat ayahnya di rawat. Di sana sudah ada Rossa dan Boy yang menunggunya sejak tadi.
"Apa yang terjadi pada daddy?" tanya Calvin dengan raut wajah khawatir.
"Kondisinya kritis nak, saat ini sedang di tangani oleh dokter," jawab Rossa.
Mendengar itu, Calvin terduduk sembari menjambak rambutnya sendiri merasa frustasi.
Rachel yang melihat kegusaran Calvin hanya bisa ikut mendoakan dari jauh, ia hendak berbalik untuk pulang, namun tiba-tiba suara pintu ruangan terbuka membuat langkahnya terhenti.
"Bagaimana keadaan daddy saya dokter? Dia baik-baik saja kan?" cecar Calvin pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu bersama beberapa perawat.
"Pak Darold sempat mengalami kritis, tapi syukurlah karena sekarang dia sudah jauh lebih baik," jawab dokter itu lalu pergi.
Calvin yang mendapat kabar itu seketika merasa legah, hatinya sempat dirundung rasa takut saat mendengar kabar sang ayah kritis, ia takut tidak bisa bertemu lagi dengan ayahnya.
Sebagai anak yang tumbuh dalam pengasuhan seorang ayah, membuat Calvin begitu menyayangi Darold, dan ia tidak bisa memungkiri itu meski berkali-kali ia kecewa dengan tindakan ayahnya yang 'kejam' kepada orang lain, termasuk membohonginya dan memisahkannya dengan sang ibu. Darold memang kejam jika berhadapan dengan orang lain di luar, namun sikap kejamnya tidak pernah ia bawa ke rumah untuk putranya, bahkan sedikitpun kulit Calvin tidak pernah dipukul oleh Darold.
Sementara Rachel yang sejak tadi memantau mereka dari jauh, mulai memahami apa yang terjadi, entah kenapa ia ikut bersyukur saat mengetahui Darold telah keluar dari masa kritisnya. Perlahan ia berbalik, lalu pergi meninggalkan rumah sakit tanpa sepengetahuan Calvin.
Calvin pun yang baru menyadari tentang Rachel langsung menelisik ke segala arah mencari sosok wanita cantik itu, namun tak kunjung ia temukan.
"Kamu mencari seseorang Calvin?" tanya Rossa yang melihat gelagat Calvin.
"Iya mom, tadi aku kesini bersama Rachel setelah menangkap Damon, tapi aku lupa akan dirinya karena terlalu memikirkan daddy sejak tadi," jawab Calvin.
"Carilah dia, mungkin dia masih ada di sekitar sini," seru Rossa membuat Calvin mengangguk lalu berlari mencari Rachel.
Namun sayang, bahkan sampai keluar rumah sakit pun Calvin tidak menemukan gadis itu.
"Mungkin dia sudah pulang, maafkan aku karena tidak mengantarmu pulang dan sampai jumpa, Rachel," ucapnya lirih lalu kembali masuk ke dalam rumah sakit. Ia tidak tahu kapan lagi ia akan bertemu Rachel.
"Semoga suatu saat kita bisa bertemu kembali, dalam keadaan tidak ada lagi tembok yang menghalangi kita," batin Calvin.
-Bersambung-
__ADS_1