Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 50 Terhalang Masa Lalu


__ADS_3

Kata orang, cinta pertama itu paling susah move on nya, dan paling kecil kemungkinannya untuk berlabuh ke jenjang pernikahan.


Meskipun kadang kata orang tidak sepenuhnya benar, tapi kadang juga tidak sepenuhnya salah. Dan itu yang ku alami dan ku khawatirkan sampai saai ini.


(Rachelia Edward)


--------‐-----------------------------------------------------------


"Siapa orang itu sayang? Apakah kamu masih mencintainya saat ini?" tanya Edward lagi, namun Rachel hanya diam tak merespon.


"Rachel," panggil Edward saat melihat Rachel seperti sedang melamun.


"Lupakan saja orang itu ayah, lagipula kami tidak akan bisa bersama," jawab Rachel cepat.


Edward mengenyitkan alisnya, "memangnya dia kenapa sayang? Apa dia sudah memiliki kekasih?" tanya Edward dan Rachel menggelengkan kepalanya, "apa karena dia sudah menikah? Astaga sayang, jangan mencintai pria yang sudah menikah, masih banyak pria lain," lanjut Edward sedikit heboh dengan kesalahpahamannya sendiri.


"Ya ampun ayah, Rachel masih memiliki akal sehat, Rachel tidak mungkin menyimpan perasaan untuk pria beristri. Intinya pria ini masih lajang, Rachel jamin itu, tapi Rachel tidak bisa melanjutkan perasaan Rachel karena ada sesuatu yang menghalangi kami dan itu cukup aku dan dia yang tahu ayah, Rachel tidak ingin menambah beban pikiran ayah," terang Rachel, membuat kerutan di kening Edward semakin jelas.


"Rachel, kamu membuat ayah semakin penasaran sekarang, apa yang sedang kamu sembunyikan?" selidik Edward.


"Lupakan saja ayah, ayo kita habiskan makanan ini sampai tidak tersisa, Rachel lapar sekali," ujar Rachel mengalihkan pembicaraannya. Sungguh, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa jika Edward terus mendesaknya.


 --


Seorang pria dewasa berusia 24 tahun tengah duduk di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan ayahnya yang terbaring koma.


"Halo daddy, sudah 3 tahun daddy seperti ini, apa daddy tidak merindukan Calvin, Calvin sangat merindukan daddy, rindu omelan daddy saat Calvin pulang tengah malam, dan rindu nasehat bijak daddy saat Calvin sedang terpuruk. Oh iya, hari ini Calvin baru saja meluncurkan komik baru Calvin, dan ternyata tidak hanya dikalangan anak-anak saja yang menyukainya, tapi orang dewasa pun menyukainya. Maafkan Calvin, karena tidak melanjutkan perjuangan daddy memimpin DA Group, Calvin hanya merasa tidak pantas untuk melanjutkan kepemimpinan daddy di perusahaan itu." Calvin menghembuskan nafasnya kasar karena lagi-lagi ayahnya tidak memberikan respon apapun saat ia berbicara padanya.


Dokter pernah mengatakan padanya bahwa orang koma memang tidak dapat memberikan respon secara langsung terhadap stimulasi dari luar, namun 15-20% orang koma dapat mendengar apa yang terjadi di sekitarnya, bahkan tidak sedikit ada yang bisa menangis.


Meskipun hal itu tidak bisa di samaratakan dengan pasien koma lain, Calvin tetap berpikir positif tentang keadaan ayahnya. Itu sebabnya, ia sering sekali mengajak Darold berbicara walaupun ia tidak mendapat respon.

__ADS_1


"Oh iya daddy, Calvin punya rahasia besar yang sampai saat ini belum Calvin ceritakan pada daddy." Calvin terdiam sejenak. "Daddy tahu, sejak 3 tahun lalu, Calvin menjemput mommy di pengasingan, dan mommy selalu rutin menjenguk daddy setiap hari. Bahkan mommy yang selalu menemani daddy saat Calvin sedang sibuk di luar." Setelah menunggu beberapa detik, Calvin kembali menghembuskan nafasnya kasar. Ia berpikir Darold masih tidak memberikan respon terhadap suara Calvin, namun di detik berikutnya, bulir air mata tampak mengalir dari mata Darold yang terpejam.


Menyadari itu, Calvin semakin bersemangat. "Mommy, daddy menangis," ucapnya antusias kepada Rossa yang saat ini sedang duduk di sofa sambil mengupas kulit buah jeruk untuk ia berikan kepada Calvin.


"Benarkah?" Rossa yang tak kala antusias pun langsung berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Darold.


"Daddy mulai menangis saat Calvin menceritakan tentang mommy, sekarang coba mommy bicara pada daddy, barangkali itu bisa memancing responnya," ujar Calvin sembari berpindah tempat untuk memberi ruang kepada Rossa.


"Hai Darold, ini aku Rossa, apa kamu masih mengingat suaraku? Kamu tahu, dulu aku sangat membencimu setelah kamu mengambil Calvin dariku dan membawaku ke pengasingan. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai berdamai dengan rasa benciku itu karena aku sadar, membenci hanya akan merusak hati dan pikiranku. Jadi, meskipun kenangan buruk itu masih selalu ku ingat, tapi aku tidak lagi membencimu, bahkan jika kamu minta maaf, maka aku akan memaafkanmu. Maka dari itu, bangunlah, kamu harus minta maaf padaku, agar kita bisa berdamai kembali." Setelah Rossa berbicara, lagi-lagi air mata Darold mengalir hingga membasahi bantalnya.


"Dokter, lihatlah, daddy mulai merespon perkataan kami melalui menangis, apa itu bisa menjadi tanda bahwa daddy akan segera sadar?" tanya Calvin kepada dokter yang baru saja tiba setelah ia memanggilnya.


Dokter kembali memeriksa pupil mata Darold dengan cara mengarahkan senter pada matanya, namun pupil mata Darold masih tidak merespon terhadap cahaya. Namun, saat dokter memeriksa monitor rekaman EEG (elektroencephalography), ia mengamati garis gelombang yang di hasilkan dari aktivitas otak Darold, dan memang benar, saat Darold menangis, muncul beberapa gelombang baru yang menandakan adanya kemajuan terhadap aktivitas otaknya.


"Syukurlah, keadaan pak Darold semakin menunjukkan kemajuan, ajaklah selalu berbicara jika perlu katakan sesuatu yang dapat memancing responnya dengan cepat," kata dokter sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan rawat Darold.


"Kamu dengar sayang, katakan sesuatu yang dapat memancing respon daddymu, jika daddymu hanya menangis saat kamu menceritakan tentang mommy, coba ceritakan hal lain yang bisa mempengaruhi emosi daddymu itu," gumam Rossa sambil menepuk pundak Calvin.


Perlahan ia kembali mendekat ke arah Darold dan duduk di kursi tepat di samping tempat tidur Darold.


"Dad, maafkan Calvin jika sudah membuat daddy kecewa, namun Calvin benar-benar tidak berdaya melawan perasaan Calvin sendiri. Sebenarnya, Calvin mencintai seorang wanita, sudah lama Calvin mencintainya, bahkan setelah 3 tahun kami tidak pernah bertemu, perasaan Calvin masih tetap sama seperti sebelumnya. Daddy tentu tahu siapa wanita itu, dia adalah Rachelia Edward. Calvin sangat berharap, suatu saat daddy bisa merestui perasaan kami. Karena kami saling mencintai namun harus terhalang oleh kejadian di masa lalu." Calvin kembali menanti respon Darold, berharap usahanya kali ini membuahkan hasil.


Beberapa detik kemudian, tiba-tiba alarm pada monitor ICU yang terhubung pada tubuh Darold berbunyi karena detak jantung Darold yang tiba-tiba meningkat. Calvin tentu terkejut dan langsung memanggil dokter.


Sudah beberapa menit berlalu, Calvin masih terus mondar-mandir di luar ruangan menunggu dokter memeriksa keadaan Darold.


"Aduh, apa yang aku lakukan salah yah? Kok malah jadi begini sih," monolog Calvin dengan tangan yang selalu bergerak gelisah.


"Apa tadi kamu mengatakan sesuatu pada daddymu, sayang? tanya Rossa yang merasakan kegelisahan Calvin.


"Iya mom, sepertinya Calvin sudah salah." Calvin menjambak rambutnya merasa frustrasi.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan Darold. "Apa yang baru saja kalian katakan kepada pak Darold?" tanya dokter itu dengan raut wajah serius.


"Maaf dokter, aku.. aku hanya mengatakan hal yang mungkin daddy tidak terima," cicit Calvin menunduk.


"Kalau begitu, usahamu berhasil, pak Darold sudah sadarkan diri," ucap dokter itu yang kini tersenyum.


"Maafkan aku dok, aku salah, aku...." Calvin menghentikan ucapannya saat mulai memahami perkataan dokter, "apa? maksud dokter daddy sudah sadar?" tanya Calvin kembali ingin memastikan, dan dokter mengangguk.


"Benarakah?" pekik Calvin girang lalu berlari masuk ke dalam ruangan di susul oleh Rossa.


"Daddy..." panggil Calvin saat melihat Darold sedang melihat ke segala arah dengan tatapan yang begitu lemah.


"Calvin," panggil Darold melihat ke arah Calvin dengan suara lemah dan sedikit serak.


Mata Calvin kini berkaca-kaca, ia berjalan terus ke arah Darold dan langsung memeluknya. "Terima kasih daddy, terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini dan sudah sadarkan diri," lirihnya masih dalam keadaan memeluk Darold.


Tangan Darold perlahan terangkat mengusap punggung Calvin dengan lembut


"Sudah berapa lama daddy pingsan?" tanya Darold lirih, membuat Calvin melepas pelukannya.


"Daddy, daddy bukan pingsan, tapi daddy koma selama 3 tahun," ucap Calvin.


"Benarkah?" tanya Darold namun ia tidak terkejut sama sekali, seolah ia hanya sedang memastikan saja.


"Iya dad," jawab Calvin lalu bergeser agar Darold dapat melihat keberadaan Rossa yang berada sedikit jauh di belakangnya.


"Rossa?" lirih Darold dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


-Bersambung-


Note: Electroencephalography (EEG) adalah alat yang berfungsi untuk mempelajari gambar dari rekaman aktivitas listrik di otak, pemeriksaan dengan alat ini berguna untuk mendeteksi aktivitas listrik di otak dengan menggunakan cakram logam kecil yang dilekatkan pada kulit kepala. Aktivitas ini kemudian ditampilkan sebagai garis bergelombang pada rekaman EEG.

__ADS_1


Alat ini merupakan alat utama dalam mendiagnosis epilepsi, namun juga dapat digunakan untuk mendiagnosis beberapa penyakit lain yang berhubungan dengan otak, termasuk koma.


__ADS_2