
Di Mansion Darold
Seorang pria tampan dan bertubuh tinggi atletis sedang berlari di atas treadmill yang berada di ruang khusus gym di mansionnya. Tubuhnya yang basah oleh peluhnya menambah kesan seksi pada pria itu.
"Maaf tuan muda, tuan besar memanggil anda untuk sarapan bersama." Seorang wanita paruh baya dengan seragam khusus pelayan datang memanggil Calvin.
"Baik bi, aku akan segera kesana 5 menit lagi," jawab Calvin seraya menghentikan aktivitasnya.
Calvin beristirahat sejenak guna merilekskan ototnya dan menstabilkan detak jantungnya yang berdetak kencang setelah berolahraga sebentar. Setelah dirasa cukup rileks dan keringat ditubuhnya telah kering, Calvin segera memakai baju kaosnya dan pergi menyusul sang ayah ke ruang makan.
"Pagi Daddy.." sapa Calvin tersenyum ramah pada sang ayah.
"Pagi, duduklah! kita sarapan bersama," seru Darold mempersilahkan Calvin duduk.
Merekapun mulai sarapan bersama tanpa banyak bicara. Sesekali Darold memperhatikan Calvin, putra semata wayangnya yang kini semakin dewasa. Karakternya yang ramah dan periang sungguh sangat mirip Ibunya. Karakter yang sangat berbeda jauh dengan karakter sang ayah yang dingin, tidak sesuai untuk orang yang akan dijadikan pemimpin di klan mafianya.
"Ekheeem." Darold berdehem memancing perhatian Calvin, dan itu berhasil membuat Calvin menoleh ke arah ayahnya.
"Calvin, kamu yakin tidak ingin bergabung dengan klan Black Wolf bersama Daddy?" Darold mulai membuka suara.
Calvin menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak Daddy, Calvin lebih suka bergabung di perusahaan Daddy," jawab Calvin sembari tersenyum.
"Baiklah, kali ini Daddy tidak akan memaksamu dan Daddy akan menghargai keputusanmu." Sebelumnya, Darold sudah beberapa kali membujuk Calvin untuk bergabung dengan klan mafianya, tapi Calvin selalu menolak dengan halus dan tetap konsisten pada pilihannya sejak awal untuk memilih perusahaan.
"Tapi, Daddy punya satu permintaan," lanjut Darold.
__ADS_1
Calvin menghentikan makannya sejenak mendengar penuturan ayahnya, "apa itu Daddy?" tanyanya kemudian.
"Bantu Daddy mencari seorang gadis yang bernama Rachelia Edward," tukas Darold, membuat Calvin mengerutkan dahinya.
"Siapa dia Daddy? kenapa Daddy mencarinya?" tanya Calvin penasaran.
"Kamu tak perlu tahu, cukup kamu bantu Daddy mencarinya, usianya saat ini sekitar 19 tahun," tegas Darold.
"Jika gadis ini adalah target Black Wolf untuk di bunuh, maaf Daddy, Calvin tidak bisa membantu," tutur Calvin hati-hati.
"Tidak, ini bukan mengenai Black Wolf, tenang saja, ini bukan sesuatu seperti yang kamu pikirkan," elak Darold sedikit berbohong.
"Hmm, baiklah kalau begitu Daddy, Calvin akan mencoba mencarinya," ujar Calvin sambil menyelesaikan makannya lalu minum.
--
Kini Calvin berangkat ke kampusnya dengan mengendarai motor kesayangannyan berjenis Energica Ego 45 limited edition, motor yang berhasil ia beli dengan hasil keringatnya sendiri saat bekerja paruh waktu di perusahaan ayahnya selama beberapa tahun sambil membuat komik yang selalu laris manis di beberapa toko buku besar.
Sesekali Calvin melirik jam tangannya, yang ternyata masih menunjukkan pukul 9 pagi, sementara jam kuliahnya hari ini pukul 11 siang.
"Ternyata masih ada dua jam lagi, daripada aku menunggu di kampus, yang akan berakhir dalam lingkaran para wanita yang suka menggoda saat berhadapan denganku, dan akan mengumpat saat berada dibelakangku, lebih baik aku menunggu di cafe itu, yah sekalian aku bisa menyelesaikan komikku" gumamnya sembari mengarahkan motornya ke sebuah cafe yang tidak jauh dari perusahaan ayahnya.
Calvin memilih tempat duduk di pojokan, agar ia bisa menunggu sambil membuat komiknya dengan tenang. Sambil menunggu pesanannya datang, Calvin mengambil tabletnya dari dalam tasnya, namun seketika pandangan Calvin tertuju pada sebuah kotak pensil yang sangat tidak asing di matanya berada di meja tepat disamping meja Calvin.
"Michel?" Calvin membaca nama yang tertara di gantungan kotak pensil itu. Entah kenapa untuk pertama kalinya jantungnya berdegup kencang saat menyebutkan nama itu.
__ADS_1
Calvin kemudian mengarahkan pandangannya pada si pemilik kotak pensil itu. Seorang gadis berambut coklat yang terkuncir rapih, memiliki kulit putih bak ratu Elsa di film Frozen, dengan kacamata bulat dan tebal seperti gadis culun sedang fokus dengan laptopnya. Namun begitu, Calvin dapat melihat dengan jelas wajah gadis itu sangat cantik alami meski ditutupi oleh kacamata tebal yang ia kenakan.
Calvin hendak mendekati gadis itu, namun pandangannya tertuju pada laptop gadis itu.
"Sepertinya gadis ini sangat ahli dalam menggunakan komputer," batin Calvin sedikit takjub pada gadis itu.
"Apa sebaiknya aku mengajaknya berkenalan? sepertinya dia Michel sahabat Shally, kotak pensilnya sama persis," batinnya lagi.
Dengan mengumpulkan keberaniannya, akhirnya Calvin memilih untuk menghampiri gadis itu.
"Ekhem.. permisi nona, apa aku boleh bergabung di meja ini?" tanya Calvin pada gadis itu.
Gadis itu nampak ragu, ia berpikir sejenak,
"Kenapa kamu tidak duduk disana saja? lihat, meja disana masih kosong," tolak gadis itu dengan hati-hati sambil menunjuk sebuah meja yang memang masih kosong.
"Aku tidak mencari tempat kosong nona, tapi aku sengaja memilih tempat ini karena ingin berbicara denganmu," jawab Calvin membuat gadis itu langsung mendongak melihat Calvin yang masih berdiri dan seketika tatapan mata mereka bertemu.
Degh
"Cantik sekali matanya," batin Calvin dengan jantung yang berdegup kencang seolah ingin segera melompat dari tempatnya.
-Bersambung-
Yuk dukung karya ini, dengan like, koment, gift dan vote. Terima kasih.
__ADS_1