
Esok harinya
Zian memanggil putri nya untuk berbicara
"Ada apa dad?" Tanya dira
"Daddy sudah mendiskusikan tentang kepergian mu ke usa semalam bersama mommy mu dan kami mengijinkan mu tapi... Kamu akan pergi bersama bibi iyem •Pembantu dirumah zian• Daddy akan membelikan apartemen untuk mu disana"
"Benarkah dad... Huwaaaa Daddy memang yang terbaik" Memeluk ayah nya
"Tapi ingat Dira... Jangan sembarang bergaul yah nak, kamu tau kan bagaimana kehidupan diluar negeri yang begitu bebas?"
"Tenang saja dad... Lagian kan Daddy tau sendiri, kalau aku ini tidak gampang bergaul.. Teman-teman ku saja bisa dihitung jari dan Daddy juga tau kan bagaimana sifat dan sikap orang-orang yang berteman dengan ku" Zian mengangguk sambil tersenyum
Dira dan zian menoleh kala mendengar suara Radit, mereka melihat Radit yang tengah merengek pada zeela sambil memeluk wanita kesayangan keluarga aditama itu
"Radittt bisa tidak sehari saja jangan membuat mommy pusing" Kesalnya pada anak bungsunya itu
"Kenapa lagi ini" Tanya Zian pada istrinya
"Tanya sendiri pada anak mu ini!!" Kesalnya
"Raditttttt" Menatap putranya tajam
Radit mendekat kearah ayah nya dan duduk tepat disamping ayahnya "Dad... aku juga mau sekolah di luar negeri, boleh yah??!!!" Memohon
"Tidak boleh" Tegasnya
"Ayolah dad... aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya sekolah di negara orang"
Zian menggelengkan kepala tanda tidak setuju "Daddy bilang tidak boleh, yah tidak boleh... Kau sekolah saja disini, Daddy tidak mau kau membuat masalah nantinya"
"iissss memangnya aku ini suka mencari masalah" Kesalnya "Ayolah dad... lagian Daddy ini harus adil pada ku dan kak dira.. Masa kak Dira di ijinkan, aku enggak" Cemberut
Dira berdecih mendengar penuturan adik nya itu "Kau itu masih kecil dan tempat mu itu masih dibawah ketek mommy dan Daddy" Tertawa "Lagian aku tau maksud mu ingin keluar negeri itu bukan untuk sekolah tapi untuk mengganggu lian" Ketusnya
"Mengganggu apanya?" Menatap kakaknya sinis "Niatku kesana benar-benar ingin sekolah"
Dira menggelengkan kepala "Alasan"
Zeela menghela nafas panjang "Radit.. mommy akan mengijinkan mu sekolah diluar negeri tapi tidak sekarang, mommy ingin kamu luluskan sekolah mu disini dulu dan terserah kamu mau lanjut kuliah dimana saja"
"Astaga mom, masih 4 tahun lagi.. Kelamaan mom"
"Radit" Zian menatap putranya itu tajam
Dira terkekeh melihat ekspresi masam adik tengil nya itu "Mom... Dad... Apa bisa mommy dan Daddy mengantar ku sampai ke usa nanti?!"
"Tentu saja sayang.." Zeela tersenyum
"Aku juga ikut... Pokoknya aku mau ikut" Ucap Radit membuat ketiganya terkekeh
__ADS_1
.
.
.
.
Seminggu kemudian Zian, zeela dan kedua anak mereka serta bibi iyem berangkat ke usa
Setelah perjalanan lebih dari sehari merekapun sampai di usa tepatnya di kota new York, Zian sudah membeli apartemen untuk putrinya dan orang terpercayanya sudah mengurus semuanya, mereka tinggal datang dan menempati apartemen itu... Setelah sampai di apartemen mereka langsung istirahat dan rencananya besok baru beberes dan membeli keperluan dira dan bibi iyem
Esok harinya
14:30 USA
Saat ini mereka tengah beberes setelah dari minimarket membeli bahan dapur
"Kak... Lian kapan kesini, kok dari tadi belum datang-datang juga" Tanya nya pada sang kakak yang tengah sibuk merapikan barang-barang
"Radit kau ini tidak sopan sekali... Sudah berapa kali aku harus memberitahu mu, jangan suka memanggil nya tanpa embel-embel kakak, Lian itu seumuran dengan ku asal kau tau" Ketusnya
"Dia bukan kakak ku kenapa aku harus memanggil nya dengan sebutan kakak?"
"Radittt kau ini yah" Hendak menjitak kepala radit
"Biar saya yang buka nyonya" Ucap bi iyem yang dibalas anggukan oleh zeela
Bi iyen pun dengan segera menuju pintu dan membuka pintu apartemen "Ehh non lian" Sumringah
"Halo bi apa kabar" Ramah
"Baik non.. silahkan masuk" Lian mengangguk lalu masuk kedalam apartemen
.
.
.
.
"LIAANNNNN" Radit sedikit berlari kearah Lian lalu memeluk tubuh Lian dengan erat "Aku sangat merindukan mu" Menelusup kan wajahnya di ceruk leher Lian
"Raditttt bocahh edannnnn" Dira hendak menarik radit namun Lian mengisyaratkan pada dira jika ia tidak masalah kalau radit memeluk nya
Lian membalas pelukan Radit sambil tersenyum gemas "Radit, bagaimana kau bisa tumbuh setinggi ini.. padahal dulu aku yang lebih tinggi dari mu" Sekarang lian bahkan hanya sebahu radit
"Karena aku sudah dewasa" Ucapnya masih memeluk lian
__ADS_1
"Halahhhh" Julid dira "Sudah-sudah.. kakak juga ingin memeluk lian" Menarik Radit menjauh dari Lian "Lian aku sangat merindukanmu" Memeluk Lian
"Aku juga merindukan mu Dira.. aku sangat senang kau datang kemari" Tersenyum
Lian menatap radit yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum "Haa Dira, aku merasa.. aku ini bertambah tua setelah melihat Radit yang sekarang" Terkekeh "Lihatlah tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang sudah mulai dewasa... Radit ku yang lucu dan menggemaskan tidak ada lagi, sekarang hanya Radit yang tampan dan cool" Sedih
"Dia itu sok dewasa Lian" Ucapnya lalu melepas pelukan nya
"Kau tidak suka aku tumbuh dewasa" Tanya nya pada Lian
Lian menggelengkan kepalanya "Jujur aku lebih suka radit yang manis dan lucu"
Radit menghela nafas panjang "Aku ini bukan anak kecil lagi"
"Kau itu masih kecil" Ucap Dira ketus
Lian terkekeh "Bagiku kau tetap adik kecil ku"
"Tapi aku tidak mau kau menganggap ku adik" Ucap Radit dengan wajah serius
Lian tampak tertegun
"Kau ini kenapa sih" Tanya dira ketus, Radit hanya memalingkan wajahnya
.
.
.
"Ehh Lian udah datang rupanya" Ucap zeela
"Halo aunty apa kabar" Meraih tangan zeela lalu mengecup tangan zeela "uncle Zian mana?"
"Aunty baik sayang... oh iya uncle zian kan pergi menemui papa mu, kamu tidak tau?"
"Oh ya? papa tidak bilang padaku jika akan bertemu dengan uncle Zian diluar... Oh iya aunty, aku bawa beberapa makanan, mama sendiri yang memasaknya, ia menitip salam pada aunty dan minta maaf karena tidak bisa berkunjung"
Beberapa tahun yang lalu Dion menikah lagi dengan seorang wanita cantik yang tak lain adalah sekretaris nya
"Aduuhh repot-repot segala.. sampaikan terimakasih aunty pada mama mu yah" Lian mengangguk sambil tersenyum
"Aunty disini sampai kapan?!"
"Besok kami sudah harus balik ke Indonesia soalnya papa nya Dira dan radit tidak bisa meninggalkan pekerjaan kantor lama-lama"
"Sayang sekali padahal aku berencana mengajak aunty dan yang lainnya jalan-jalan besok"
Zeela tersenyum "Lain kali saja jika kami kemari lagi" Lian mengangguk sambil tersenyum "Radit kenapa diam saja, tumben" Ucapnya saat melihat putranya itu hanya diam dengan wajah yang datar
"Lagi sariawan dia nya mom" Ucap Dira membuat lian terkekeh
__ADS_1