Ratapan Hati

Ratapan Hati
Bab 37


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang sebentar, Lian pun ikut membantu keluarga aditama membereskan barang-barang dira.. Setelahnya mereka berjalan-jalan sebentar menikmati suasana sore hari di kota new york


-------


"Radit ayo kita berfoto" Tawar Lian


Radit terdiam sejenak "Oke tapi kita berdua saja yang berfoto, aku tidak mau ada makhluk lain yang ikut berfoto" Ucapnya sambil menatap Dira sinis


"Tck dasar bocah edan" Ucap Dira kesal


"Ayo sini" Lian menarik radit agar mendekat "Siap yah.. satu, dua, tiga"


.


.


Cup!!!!


Radit langsung menoleh kearah Lian dan mengecup pipi Lian, alhasil foto itu menampakkan lian yang sedang tersenyum manis kearah kamera dan radit yang tengah mengecup pipi lian


"RADIIIIIIITTTTTTTTTT" Pekik zeela dan dira bersamaan


"Untung saja dion tidak ikut" Gumam zian


Zeela menghampiri putra nya itu lalu menjewer kupingnya "Kamu ini yang benar-benar.. Berani sekali kamu cium-cium anak gadis" Geramnya


"Ihhh apa sih mom.. diluar negeri itu cium-ciuman sudah hal yang biasa, lagian aku hanya mengecup pipinya.." Menatap lian yang diam mematung "Oh iya lian, walaupun ciuman itu sudah hal yang biasa disini tapi aku tidak membenarkan kamu cium-ciuman yah.. Awas yah kalau kamu nakal disini, aku akan menghukum mu" Ancam nya pada Lian


"Kamu yang harus dihukum, dasar bocah edaann" Mengencangkan jeweran nya ditelinga radit


"AWWW MOM SAKITTTT"


"Aunty sudah.. Radit kesakitan" Ucap lian


Radit tersenyum "Duh ayang beb perhatian banget, makin cinta kan aku"


"RADIIITTTTTTTT!!!!!!"


Zian hanya terkekeh melihat kelakuan putranya itu ditambah istri dan anak gadisnya yang sudah ingin menelan hidup-hidup anak laki-laki nya itu


"raditt.. raditt.. " Gumamnya sambil menggelengkan kepala, Lian pun ikut terkekeh


"Sudah ah.. ayo kita jalan-jalan kesana" Ucap Radit lalu menggandeng tangan lian


Zeela memijit pelipisnya "Ya tuhan anak itu benar-benar" Menatap zian "Daddy, apa kau juga seperti itu saat masih muda?" Menatap zian tajam


"Enggak kok sayang" Menggelengkan kepala


"Lalu anak itu ikut kelakuan siapa.. Aku kan tidak seperti itu" Ketus


Zian memeluk pinggang istri nya "Sudah ku bilang dia itu sedang puber sayang, biarkan saja.."


"Biarkan bagaimana... Bisa bahaya tau dad, tadi saja dia sudah berani mencium Lian"


"Dia tidak akan berani melakukan hal lebih sayang... Tenang saja"


Zeela menghela nafas panjang "Tadi apa yang kau bicarakan dengan dion dad?!"


"Aku hanya membicarakan tentang bisnis dan dion mengatakan tak perlu khawatir tentang Dira karena dion akan mengerahkan anak buahnya untuk menjaga Dira dari jauh... Dan katanya ia senang, dira melanjutkan pendidikan nya disini dengan begitu lian tidak kesepian, dion terlalu membatasi pertemanan lian hingga lian sulit mendapatkan teman disini yang sesuai dengan kriteria dion"


Zeela terdiam sejenak "aku tau pasti dia sangat khawatir jika putrinya kenapa-napa.." Zian mengangguk


"Dion mengatakan tetangga-tetangga komplek di tempat tinggal nya sebelum nya memiliki anak gadis juga dan rata-rata pergaulan mereka benar-benar mengerikan karena itu dion memilih pindah dari komplek itu.. Ia takut mereka mempengaruhi lian nantinya"


Zeela mengangguk "Ku harap lian dan Dira bisa menjaga satu sama lain"


Zian mengangguk sambil tersenyum "Ayok kita susul anak-anak sayang" Menggandeng tangan istrinya

__ADS_1


-------------


Setelah jalan-jalan, mereka mengantar lian pulang


.


.


.


Dion dan istrinya tengah menunggu kedatangan keluarga aditama dan putri sulung mereka itu... Tak berlangsung lama dion mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, ia pun dengan segera membuka pintu


Ia melihat putrinya keluar dari mobil dengan wajah sumringah sambil menggandeng tangan anak sahabatnya itu.. Dion tersenyum lega, ini pertama kalinya ia melihat Lian sesenang itu


"Halo uncle" Sapa Dira ramah


"Halo princess Dira... Uncle senang kau datang kemari" Mengelus rambut dira "Wow kemana saja kalian pergi dan apa yang kalian lakukan sampai-sampai putri ku ini tak melunturkan senyum di wajahnya"


Lian memeluk ayahnya "Papa.. apa aku boleh sering-sering menginap di apartemen Dira?"


"Boleh sayang" Ucapnya membuat lian tersenyum senang


Dion menoleh kearah Radit yang tengah tersenyum sambil menatap Lian "Radit kau kah itu?!"


"Iya uncle" Tersenyum


Dion menatap radit dengan tatapan tak percaya "Ternyata waktu begitu cepat berlalu, terakhir kali kita ketemu radit masih piyik bahkan lian lebih tinggi dari radit... Tapi lihatlah sekarang... Putra mu semakin tampan" Ucapnya pada zian


"Tentu... Daddy nya saja tampan masa anaknya tidak" Sombongnya


Dion hanya tertawa lalu menoleh kearah zeela "Wahh zeela kau tak berubah sama sekali, masih muda dan cantik"


Zian langsung menatap Dion tajam "Tak perlu memuji-muji nya"


"Dad.. Lebih baik di puji tau dari pada di hina" Mencubit perut Zian


Dion memutar bola matanya malas "Ayo masuk.. Istriku sudah memasak makanan yang banyak dan enak untuk kalian"


Mereka Mengangguk lalu masuk kedalam rumah dion


.


.


.


.


Setelah makan malam dan berbincang-bincang sebentar, keluarga Dira pun memutuskan untuk balik ke apartemen


"Aku akan datang ke apartemen Dira besok... penerbangan kalian siang kan?" Tanya dion


"Emm jam 1 siang... Kalau begitu kami balik dulu" Ucap Zian


"Hati-hati" Zian hanya mengangguk sambil tersenyum dan merekapun bergegas masuk kedalam mobil


"Lian sayang, kamu tunggu disini sampai mobil mereka pergi yah mama dan papa masuk duluan" Lian hanya mengangguk sambil tersenyum, Dion dan istrinya pun masuk kedalam rumah


Lian melambaikan tangan nya kala Dira membuka jendela mobil.. "Lian sampai jumpa besokkkk" Teriaknya sambil melambaikan tangan, Lian hanya mengangguk sambil tersenyum


Setelah mobil keluarga aditama berlalu pergi, Lian pun masuk kedalam rumah...


...........


Di sisi lain


Radit tengah gelisah karena memikirkan kepulangan nya besok ke Indonesia, yang artinya ia akan kembali berpisah dengan lian

__ADS_1


"Tidak bisa... aku harus berbicaralah dulu dengan nya" Batin Radit "Daddy... bisa kembali ke rumah Lian nggak, aku ketinggalan sesuatu disana"


"Apa yang ketinggalan?! Besok saja, Daddy akan menghubungi Lian untuk membawa barang mu yang ketinggalan"


"Tidak, aku ingin mengambil nya sekarang.. Plis dad" Memohon


Zian menghela nafas panjang "Ya sudah.."


Zian pun memutar balik kembali menuju rumah Lian


.


.


.


.


.


.


.


¶Kediaman Keluarga Willer


"Aku tidak akan lama" Ucapnya lalu turun dari mobil


Radit bergegas menuju pintu rumah Lian lalu mengetuk nya... Tak berlangsung lama pintu itu pun terbuka


"Loh radit..." Terbelalak "Kenapa balik lagi? Apa kau ketinggalan sesuatu" Tanya Lian


Radit tidak menjawab, sebaliknya ia menarik Lian ke taman halaman rumah yang sedikit tertutup karena pepohonan


"Ada apa Radit?"


Radit mengambil nafas sejenak "Lian aku mencintaimu" Menatap lian dalam


Lian menunduk sejenak lalu menatap radit "Radit... Kau ini sudah seperti adik bagiku.." Tersenyum "Lagian kau ini masih terlalu muda untuk cinta-cintaan.. Kau belum mengerti apa arti cinta yang sebenarnya.. Kau hanya sekedar suka padaku lebih tepatnya kagum, bukan cinta"


"Radit... orang-orang dewasa saja banyak yang belum tau arti cinta.. Dan sekarang kau anak belasan tau masih piyik sudah mengatakan cinta" Ucap Lian sambil terkekeh


"Apa itu lelucon bagimu?" Menatap Lian datar


"Maybe.. k-"


Lian terbelalak kala Radit meraih pinggang nya dengan cukup kasar hingga wajahnya terbentur di dada radit "Radit apa yang kau lakukan" Mencoba melepaskan pelukan Radit


"Mari kita lihat jika kau masih menganggap perkataan ku lelucon" Ucapnya lalu mengecup bibir lian


Sedangkan lian hanya diam mematung..


Radit melepas pautan nya lalu menatap lian dengan tatapan dingin dan datar "Jika kau menganggap ku lelucon hanya karena umur ku, baiklah... Aku akan menemui mu beberapa tahun lagi, dan saat itu akan kupastikan kau tak akan lagi memandang ku anak kecil, adik, atau apapun itu.... tapi kau akan memandang ku sebagai seorang pria" Ucapnya lalu melepas tangannya dari pinggang Lian dan berlalu pergi


.


.


.


.


Di sisi lain


Sedari tadi ada yang melihat kejadian itu, siapa lagi kalau bukan Dion, Sedari tadi dion tengah menikmati suasana malam hari di balkon kamarnya, ia mengernyitkan dahi kala melihat Radit datang lagi dan membawa putrinya ke taman halaman rumah... Ia terbelalak dengan apa yang Radit lakukan pada putrinya


"Bocah edaann" Mengepalkan tangannya

__ADS_1


__ADS_2