
"Ngga kok sayang... Mommy mengerti kenapa lian seperti itu"
"Tapi aku tidak mengerti dan tidak bisa mengerti" Sela radit
"Radit" Ucap zian sambil menatap putra nya itu tajam
"Dad.. Aku memang menyukai lian tapi aku sebagai adiknya kak dira tidak terima jika lian bersikap seperti itu pada kak dira.. Lian yang mengajak kak dira kemari dan dia juga yang membuat kak dira tidak betah, bayangkan saja bagaimana sakitnya berada di posisi kak Dira.. Bagaimana bisa gadis itu hanya mementingkan perasaan nya sendiri" Kesalnya
"Radit kau itu masih kecil dan kau memang tidak akan bisa mengerti" Ketus Dira
"KAK DIRA!!!!"
"Sudah-sudah jangan berdebat!! Radit, sebaiknya kau pergi bersih-bersih dulu lalu istirahat" Ucap zeela
Radit menghela nafas panjang, ia berdiri lalu bergegas mematuhi perintah ibu nya itu
Dira menekuk wajahnya kesal "Tau apa kau dasar bocah" Gumamnya
Zeela merapikan rambut dira yang berantakan "Sayang apa kau betah disini? Apa kuliah mu berjalan lancar?"
"Iya mom aku betah kok disini dan semuanya berjalan lancar" Tersenyum
Zeela menghela nafas panjang "Kalau mommy meminta mu pulang dan melanjutkan kuliah di Indonesia bagaimana?"
Dira tersenyum "Mom.. Aku tau mommy mengkhawatirkan ku, tapi mom.. kuliah di luar negeri adalah salah satu impian ku, aku janji setelah lulus kuliah aku akan langsung balik ke indo dan membantu Daddy menjalankan perusahaan tapi jika bisa Dira ingin membangun bisnis dira sendiri"
"Baiklah sayang.. mommy akan mendukung apapun keputusan mu selagi itu yang terbaik untuk mu" Dira mengangguk sambil tersenyum
__ADS_1
"Aku senang mommy Daddy dan Radit datang kemari" Memeluk ibu dan ayahnya
"Lain kali jangan menyembunyikan masalah mu dari kami yah" Ucap Zian sambil mengelus rambut putrinya
"Iya dad.. Oh iya, sebaiknya mommy dan daddy istirahat dulu.. Aku mau meneruskan kegiatan ku tadi, aku sedang membuat asinan buah"
"Baiklah" Ucap zian dan zeela bersamaan
Dira pun bergegas ke dapur
.
.
.
20 menit kemudian
"Mau bicara apa" Ucapnya sambil mengunyah asinan buah yang ia buat tadi
"Apa sampai sekarang lian tidak menghubungi kakak?"
Dira mengangkat bahunya tidak tau "Aku mengganti nomor"
Radit menatap kakaknya yang masih sibuk menikmati asinan buah "Seperti nya perasaan kakak sudah lebih baik.. Syukurlah" Bernafas lega
Dira menoleh menatap adik satu-satunya itu "Jangan membenci lian, semua orang pasti akan bersikap seperti itu jika berada di posisi nya"
__ADS_1
Radit menatap kakaknya cukup lama "Tidak... Semua orang memang akan merasakan sakit hati jika melihat orang yang kita sukai malah menyukai orang lain terlebih orang itu adalah sahabat kita sendiri tapi.. Tidak semua orang akan bersikap seperti lian, tiap orang memiliki tingkat ego masing-masing.. Jika aku berada di posisi lian, aku memang akan membutuhkan waktu.. Waktu untuk berfikir dan merenungkan semuanya.. Mengapa aku harus menghindari sahabat ku hanya karena orang yang aku sukai menyukainya? Kenapa aku harus merasa kesal hanya karena orang yang aku sukai menyukainya? Kenapa aku harus marah sedangkan ia tidak melakukan kesalahan apapun?"
"Pertanyaan-pertanyaan itu yang akan membuatku sadar.. Jika aku hanya akan menghancurkan hubungan yang sudah lama terjalin.. Lebih baik merendah, dengan begitu tak akan ada yang harus di korbankan akibat perasaan konyol ku ini"
Radit menghela nafas panjang "Kak.. Setelah ku pikirkan berulang kali" Menatap dira "Seperti nya lian iri padamu.."
"Iri??"
Radit mengangguk "Hanya rasa iri yang bisa membuat nya seperti itu"
Dira terdiam sesaat "Sudahlah tidak usah membahasnya lagi" lirih nya
"Apa kakak baik-baik saja jika kalian tak berkomunikasi satu sama lain?"
"Siapa yang akan baik-baik saja jika tali silaturahmi putus... Tapi mau bagaimana lagi, kami berdua hanya perlu waktu... Waktu akan membuat kita memperbaiki diri masing-masing, dan jika memang lian sudah mulai menyadari akan pentingnya persahabatan kami, dia pasti akan datang menemui ku tapi jikalau pun tidak.. Aku tidak masalah, aku yang akan mencoba sekali lagi datang padanya" tersenyum
Radit menggelengkan kepala "Biarkan dia yang datang padamu.. Mari kita lihat sampai mana lian bertahan tidak berkomunikasi dengan kak dira, jika seandainya lian tetap tidak datang pada kakak hingga beberapa tahun ke depan.. Maka ikhlaskan dan jangan terlalu berharap hubungan kalian sama seperti sebelumnya.. Karena kalian lebih cocok di sebut teman biasa dari pada sahabat"
Radit memeluk kakak satu-satunya itu "Lebih baik tidak punya teman daripada memiliki sahabat yang hanya mementingkan ego sendiri"
Air mata Dira jatuh begitu saja "Hei.. ucapan mu itu mengingatkan ku pada nya, dia juga berkata seperti itu padaku sebelum aku pindah kemari... Tapi radit, entah kenapa aku sangat yakin jika lian pun sama seperti ku, dia menyayangi ku dan tulus padaku"
"Sudahlah kak tidak usah di bahas... Sekarang kakak fokus dengan pendidikan kakak, dan jadilah kebanggaan bagi keluarga kita" Dira mengangguk sambil tersenyum dan membalas pelukan radit
.
.
__ADS_1
.
"Lian.. tunggu aku beberapa tahun lagi, aku akan datang padamu dan menghukum mu" Batin radit