RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 21


__ADS_3

...***...


Ratu Agung Selendang Merah saat ini hendak menuju istana bagian Timur, istana yang biasanya tempat rahasia yang digunakan Raja-raja sebelumnya untuk memutuskan masalah yang tidak bisa dikatakan pada siapapun juga. Saat ini Ratu Agung Selendang Merah bersama Penasihat Raja Agung Dewandaru sedang menuju ke sana. Karena mereka telah yakin siapa saja yang telah menjadi dalang dari penyebab utama para penduduk kawasan kumuh akan melakukan pemberontakan. Namun saat itu Kemuning Indraswari datang menghampirinya. Ia sengaja mencari keributan dengan berkata yang tidak sopan pada Ratu Agung Selendang Merah.


"Oh adik kemuning indraswari. Apa yang adik lakukan di sini?." Ratu Agung Selendang Merah masih beramah tamah pada adik iparnya. "Tidak biasanya adik datang ke sini." Sebagai kakak ipar yang baik, ia mencoba untuk bersikap ramah pada adik iparnya.


"Heh!." Ia mendengus kasar, tatapan matanya yang tidak bersahabat itu menunjukkan sikap tidak sukanya. "Tidak usah kau bersikap baik padaku. Sedangkan kau selama ini sama sekali tidak peduli dengan apa yang aku lakukan!." Hatinya sedang dipenuhi oleh kedengkian, sehingga ia tidak bisa melihat kebaikan sedikitpun dari kakak iparnya. "Selama kau menikah degan rakanda gusti raja agung, kau bahkan tidak peduli sama sekali padaku!. Kakak ipar macam apa kau ini?. Bahkan kau sama sekali tidak menunjukkan wajahmu padaku!. Apa yang kau sembunyikan selama ini dari kami dengan berpenampilan serba tertutup seperti itu?." Hatinya yang dipenuhi sikap curiga, hanya melihat keburukan seseorang saja, tidak peduli apa yang telah dilalui selama hampir dua tahun ini.


Mulutnya terus mengeluarkan kata-kata yang sangat merendahkan Ratu Agung Selendang Merah. Sungguh itu bukan mulut dari seorang putri Raja yang sangat terhormat, hanya karena ia sangat membenci kakak iparnya?. Apakah memang seperti sikapnya?.


"Aku tidak perlu menanggapi apa yang ia katakan." Dalam hati Ratu Agung Selendang Merah mengabaikan ucapan itu. Ia tidak mau terpancing dengan ucapan kecil seperti itu. "Belum saatnya." Dalam hatinya mencoba untuk menahan dirinya.


"Gusti ratu agung sungguh sedang diuji kesabarannya." Dalam hati Penasihat Raja Agung Dewandaru sedang melihat bagaimana Ratu Agung Selendang Merah sedang mencoba menahan dirinya agar tidak lepas kendali oleh amarahnya?.


...***...


Sementara itu Lukita sedang jalan-jalan sebentar di luar rumah keluarga Menanti. Ia telah meminta izin untuk menikmati suasana luar sebelum mendapatkan sebuah perintah. Ketika ia sedang berjalan-jalan ia tidak sengaja bertemu dengan seorang pemuda.

__ADS_1


"Yho?. Nona cantik. Apakah kau adalah anak buah yang baru saja di rekrut oleh keluarga menanti?." Seorang pemuda duduk bertengger di atas sebuah pohon yang cukup tinggi. Lukita mendongakkan kepalanya untuk melihat pemuda itu.


"Jika ia, kau mau apa?. Apakah kau memiliki masalah dengan itu?." Ia hanya tersenyum kecil, setelah itu ia melompat mendekati pemuda itu. Dengan santainya ia ikut duduk di atas pohon itu sambil berbincang-bincang dengannya.


"Heh!. Aku tidak punya masalah denganmu." Pemuda itu mendengus kesal. Sedangkan Lukita malah tertawa kecil melihat ekspresi pemuda itu. "Hanya saja aku memiliki masalah dengan mereka." Lanjutnya dengan raut wajah semakin tampak sedih.


"Tapi sepertinya tuan berasal dari keluarga terpandang. Pakaian tuan sangat mewah sekali." Lukita tampak meneliti penampilan pemuda itu. "Memangnya masalah apa yang terjadi antara tuan dengan keluarga menanti?." Lukita sangat penasaran dengan apa yang telah dialami pemuda itu.


"Heh!." Pemuda itu memalingkan wajahnya. " Meskipun aku adalah seorang bangsawan. Apakah aku tidak boleh menjadi pendekar?. Apakah hanya kalangan atas saja yang boleh menjadi pendekar?. Dengan kesalnya ia berkata seperti itu.


Bletak!!!.


"Berisik!. Kau pikir kau menjadi pendekar bayaran dari keluarga menanti itu untuk kebaikan?." Tangannya malah menjitak kepala Lukita, hingga ia berhenti tertawa. "Kau pikir orang-orang yang berada di dekat lingkungan menanti tidak mengetahui?. Jika mereka bangsatnya kaum bangsawan yang hanya bisa mempermainkan senjata mereka pada orang-orang kaum kumuh untuk dijadikan kelinci percobaan mereka?." Pemuda itu mengatakan hal yang sangat penting pada Lukita.


"Oh, jadi begitu?. Sepertinya ini sangat berguna sekali." Dalam hatinya akan mengingat ucapan pemuda itu. "Hum." Lukita tersenyum lebar, ia mengusap kepalanya yang terasa berdenyut sakit. Setelah itu ia melompat turun ke bawah dengan santainya.


"Oi!. Kenapa kau malah pergi?. Apakah kau ingin melaporkan pada keluarga menanti atas apa yang aku katakan tadi?." Pemuda itu tampak cemas karena Lukita meninggalkannya. "Bukankah kau tadi bertanya apa masalah yang terjadi antara aku dengan keluarga menanti?!." Entah kenapa ia terlihat kesal dengan sikap Lukita.

__ADS_1


"Tenang saja. Aku tidak akan melaporkan apapun pada mereka." Lukita tersenyum kecil. "Hanya saja-." Agak ragu ia mengatakannya.


"Hanya saja apa?." Pemuda itu juga melompat turun mendekati Lukita. Perasaannya tidak nyaman sama sekali.


"Jika memang kau ingin menjadi pendekar yang baik dan ingin menolong kaum kumuh, maka berlatih lah dengan baik." Lukita menepuk pundaknya. "Suatu saat nanti-." Bisiknya dengan pelan, namun bisikan itu membuat pemuda itu terkejut.


"A-apakah memang seperti itu?." Pemuda itu tidak menyangka akan mendengarkan penjelasan itu.


"Ya, tentu saja itu benar. Aku sama sekali tidak berbohong padamu. Karena itulah kau harus berjanji padaku, jika saatnya itu telah tiba aku akan meminta bantuan padamu." Setelah berkata seperti itu Lukita langsung melompat meninggalkan pemuda itu. Tampaknya pemuda itu terpaku di tempat, ia masih mencerna apa yang dikatakan Lukita.


"Baiklah!. Kalau begitu aku akan berjanji padamu!. Jika suatu hari nanti aku akan datang menemui gusti ratu agung untuk menjadi prajurit terkuat untuknya!." Teriaknya dengan semangatnya. Meskipun ia tidak melihat sosok Lukita, tapi ia sangat yakin, jika pendekar wanita itu dapat mendengarkan apa yang telah ia katakan pada saat itu. "Jadi memang negeri ini sedang merasakan kesedihan?." Dalam hatinya bertanya-tanya. "Jika memang seperti itu, maka aku akan menjadi tameng negeri ini dengan baik." Dalam hatinya telah membuat keputusan dengan tekad yang sangat kuat. "Akan berlatih dengan lebih keras. Karena aku akan membela kebenaran, membela gusti ratu agung suatu hari nanti dengan tanganku ini." Dalam hatinya telah membuat tekad yang sangat kuat. "Aku bersumpah!. Akan melakukannya dengan bersungguh-sungguh." Itu adalah janji akan ia lakukan untuk perdamaian di Kerajaan ini.


"Aku yakin kau memiliki keinginan yang sangat kuat, sehingga kau mampu melakukannya suatu hari nanti." Dalam hati Lukita hanya tersenyum kecil setelah mendengarkan ucapan pemuda itu dengan sungguh-sungguh.


Next.


...***...

__ADS_1


__ADS_2