RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 27


__ADS_3

...


...***......


Suasana ruangan itu menjadi lebih panas dari yang sebelumnya. Mereka yang sama sekali tidak menerima kenyataan itu, dan mereka yang merasa ditipu oleh Ratu Agung Selendang Merah.


..."Jadi kalian ingin melawanku?." Matanya menatap tajam ke arah mereka. "Akan aku habisi kalian!. Karena kalian telah berani masuk ke rumahku tanpa diundang." Ia sangat geram dengan apa yang ia terima saat ini. Ratu Agung Selendang Merah telah mengeluarkan hawa yang tidak baik. ...


"Serahkan masalah ini pada kami gusti ratu agung." Mereka juga telah siaga jika adanya pertarungan nantinya.


"Gusti ratu agung?." Dalam hati Penasihat Raja Agung Dewandaru sangat terkejut melihat itu.


"Jadi kita harus melawan mereka?." Yumaru memperhatikan sikap tenang Ratu Agung Selendang Merah yang memperhatikan mereka.


"Tentu saja kita harus melawan!. Sebelum kita membunuh wanita itu!." Amakami telah menunjukkan niat jahatnya.


"Baiklah, kita akan membunuh mereka terlebih dahulu, setelah itu baru kita bunuh wanita tidak berguna itu." Rintoki sangat setuju dengan apa yang dikatakan temannya.


"Kalau begitu ayo kita selesaikan dengan cepat." Amakami langsung melompat menebaskan pedangnya ke arah salah satu dari prajurit pilihan itu.


Srakh!!!.


Punggung salah satu prajurit itu terkena sabetan pedang Amakami, namun apa yang terjadi setelah itu?.


Booofh!!!.


Salah satu prajurit itu malah menjadi asap, dan berganti dengan boneka kayu?. Mereka semua terkejut melihat itu, begitu juga dengan Penasihat Raja Agung Dewandaru.


"Kau!. Jadi kau menggunakan boneka itu untuk memata-matai kami?." Amarah Amakami saat ini sedang meledak-ledak.

__ADS_1


"Wanita laknat!. Berani sekali kau mempermainkan kami!." Hati mereka sedang panas setelah mendapatkan penghinaan seperti itu?. Jadi ternyata yang menyamar dan menjadi pembantu mereka selama ini adalah boneka dari jurus Ratu Agung Selendang Merah?.


Mereka ingin menyerang Ratu Agung Selendang Merah?. Mereka ingin membunuh Ratu Agung Selendang Merah?.


"Gusti ratu agung, sepertinya mereka ingin menggunakan bahasa binatang, untuk menyelesaikan masalah ini." Bisik Penasihat Raja Agung Dewandaru sedikit khawatir dengan apa yang akan mereka lakukan. "Apa yang akan gusti ratu agung lakukan jika mereka ingin mengajak bertarung?." Penasihat Raja Agung sangat khawatir dengan keselamatan Ratu Agung Selendang Merah.


"Tenang saja. Jika mereka berani menyerangku, maka hukuman gantung menunggu mereka." Balas Ratu Agung Selendang Merah dengan pelan, hingga hanya Penasihat Raja Agung Dewandaru yang bisa mendengarkannya.


"Enteng sekali beliau berkata seperti itu?!. Apakah beliau sudah menduga ini akan terjadi?!." Dalam hati Penasihat Raja Agung Dewandaru waspada, jika terjadi hal yang sangat tidak terduga nantinya. "Tapi gusti ratu agung-."


Ratu Agung Selendang Merah memberikan kode pada Penasihat Raja Agung Dewandaru agar diam sejenak. "Aku telah memberi kalian satu kesempatan, tapi sepertinya kalian tidak mau menerima kebaikan yang telah aku tawarkan pada kalian." Ratu Agung Selendang Merah bangkit dari duduknya, ia maju ke depan, memperhatikan mereka berempat yang tidak sabar ingin menyerang Ratu Agung Selendang Merah. "Kalian telah melakukan banyak kesalahan, namun malah ingin menambah masalah lagi?. Apakah kalian tidak ingin memperbaiki apa yang salah itu?." Ratu Agung Selendang Mwrah berusaha untuk menahan dirinya agar tidak meledak. Apalagi setelah orang-orang boneka itu dikalahkan oleh mereka semua?.


"Gusti ratu agung?. Kenapa gusti ratu agung malah mendekati mereka?." Penasihat Raja Agung Dewandaru panik melihat itu. "Apakah gusti ratu agung ingin membahayakan diri gusti ratu agung?." Ia tidak dapat mencegah Ratu Agung Selendang Merah untuk mendekati mereka.


"Heh!. Aku tidak sudi menerima kebaikan orang bodoh seperti kau!. Karena kau adalah orang yang sangat lemah!." Amakami sangat menghina Ratu Agung Selendang Merah. "Kau tidak ada apa-apanya. Kau hanyalah wanita yang mendapatkan sebuah gelar karena raja agung saja!. Jadi kau tidak usah banyak bertingkah!. Wanita rendah seperti kau!. Aku yakin tidak akan mampu memimpin negeri ini dengan baik!. Wanita seperti kau tidak akan sanggup menerima tahta sebesar itu!." Ia mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas ia ucapkan.


"Kenapa kau malah mengeluarkan kata-kata tidak berguna seperti itu manusia bodoh!." Dalam hati Penasihat Raja Agung malah histeris sendiri mendengarkan ucapan itu. Apalagi matanya melihat hawa merah telah berkobar di tubuh Ratu Agung Selendang Merah untuk segera disalurkan dalam bentuk kemarahan yang sangat luar biasa.


Tanpa diduga, Amakami mendapatkan sebuah tendangan yang sangat keras, hingga tubuhnya terlempar dan menabrak dinding ruangan itu dengan sangat keras. Mereka tidak bisa membayangkan seberapa kuat tenaga dalam yang dikeluarkan Ratu Agung Selendang Merah hanya untuk memberikan sebuah tendangan kuat seperti itu.


Deg!!!.


Mereka semua semakin terkejut mendengarkan suara teriakan kesakitan Amakami, juga kondisinya yang tidak baik-baik saja. Penampilannya saat ini seperti seseorang yang habis ditonjok oleh orang satu kampung.


"Egkhakh!." Saking kerasnya tendangan yang ia terima, Amakami muntah darah, perutnya juga terasa sangat sakit setelah menerima tendangan mematikan dari seorang wanita?.


"Beraninya kau berkata seperti itu padaku?!." Sorot matanya terlihat sangat merah menyala, sehingga mereka yang berdiri di hadapannya saat ini terlihat seperti seorang iblis yang sedang menerkam mangsanya. "Rupanya kau tidak ingin hidup lebih lama lagi dengan berkata seperti itu padaku?!." Hawa merah itu juga menyelimuti tubuhnya dengan sempurna, sehingga hawa dari tubuh Ratu Agung Selendang Merah terlihat sangat mengerikan.


"Kau!." Mereka hampir saja menyerang Ratu Agung Selendang Merah, akan tetapi tubuh mereka terpental menjauh karena tidak sanggup menerima hawa tersebut. Hawa yang dapat menekan kekuatan siapa saja yang berusaha untuk mendekatinya.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian tidak melawan. Karena aku masih memiliki sisi yang baik hati." Ratu Agung Selendang Merah mencoba memperingati mereka, tapi sepertinya mereka sama sekali tidak menggubrisnya. "Aku telah memberikan kalian kesempatan." Ratu Agung Selendang Merah semakin terlihat mengancam mereka.


"Memang sangat mengerikan jika gusti ratu agung sangat marah." Dalam hatinya bergidik ngeri membayangkan, jika tendangan itu tadi mengenai tubuhnya.


...***...


Sementara itu Kemuning Indraswari kembali ke kediaman Selir Indraswari Jayanti dalam keadaan menangis. Kebetulan ia melihat kakaknya yang baru saja keluar dari rumah.


"Kakak!." Ia memeluk kakaknya dengan sangat erat sambil menangis sedih.


"Apa yang membuatmu menangis adikku?. Katakan pada kakakmu ini. Biar kakak yang menghajarnya." Ia belai rambut panjang adiknya dengan sayang.


Kemuning Indraswari melepaskan pelukannya, ia menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Apakah kakak benar-benar akan menghajar orang yang telah membuat aku menangis?." Dengan nada manja ia berkata seperti itu.


"Tentu saja kakak akan melakukannya. Katakan saja pada kakak siapa orangnya?." Tangannya menghapus air mata yang mengalir di pipi adiknya. "Kau ini memang sangat manja sekali." Ia mencubit pipi adiknya, sehingga adiknya sendiri berontak.


"Jangan cubit pipiku." Kemuning Indraswari semakin bermanja-manja pada kakaknya, sehingga menimbulkan gelak tawa yang menghibur bagi Arzaguna Barata. "Jangan ganggu aku, dengarkan apa yang akan aku katakan. Katanya kakak akan melakukannya?." Kali ini ia malah menangis sambil berai air mata. Benar-benar seorang wanita yang pandai bersandiwara dihadapan kakaknya.


"Ahaha!. Kakak akan mendengarkannya, jadi katakan siapa orangnya. Akan kakak hajar dia!." Arzaguna Barata kembali bertanya pada adiknya siapa yang telah membuatnya menangis seperti itu?.


"Dia adalah wanita cacat cadar itu. Dia yang telah mengancamku kakak!. Dia telah berani mengancamku hingga aku ketakutan seperti ini!." Hatinya yang sedang membara berkata seperti itu.


"Apa?!. Ratu agung tidak berguna itu berani mengancammu?. Sangat kurang ajar sekali dia berani menghinamu!." Amarahnya telah membakar tubuhnya setelah mendengarkan ucapan adiknya.


"Benar sekali kakak. Aku sangat takut dengan ancamannya. Sungguh membuatku ketakutan kak!." Kemuning Indraswari semakin menangis, menunjukkan kesedihan yang ia rasakan.


"Awas saja ratu agung tidak berguna, akan aku balas apa yang telah kau lakukan pada adik, serta ibundaku!." Hatinya dipenuhi dengan perasaan dendam yang membara, sehingga tidak mau menerima penjelasan apapun.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah benar itu yang mereka lakukan?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2