
...***...
Di Kediaman Yangka Patari.
Mereka semua melihat kearah pintu, Yangka Patari sangat terkejut ketika prajurit istana telah menangkap orang-orang yang ia suruh untuk melakukan tugas mereka.
"Tuan!. Ampuni kami!. Kami ketahuan oleh mereka semua!." Dengan penuh ketakutan salah satu dari mereka berbicara pada Yangka Patari sebagai tuan mereka yang telah menyuruh mereka untuk melakukan pekerjaan itu. Nama siapa sangka mereka telah ketahuan dan tertangkap basah.
"Ba-bagaiama mungkin mereka sampai ketahuan?." Dalam hati Yangka Patari sangat ketakutan karena anak buahnya ditangkap. Apakah yang akan ia lakukan dalam keadaan panik seperti itu?
"Heh!." Cibatu mendengar kesal melihat tingkah mereka saat ini. "Sekarang kau telah ketahuan melakukan kejahatan yang selama ini kau lakukan." Cibatu tanpa perasaan ampun ia melotot ke arah mereka.
Glugh
"Sial!. Aku harus bagaimana dengan kondisi seperti ini?." Yangka Patari berniat kabur karena ia tidak mau ditangkap oleh mereka. "Maaf saja, aku tidak akan bertanggung jawab. Karena aku masih ingin menikmati kebebasan." Ia menyeringai lebar?.
"Sebaiknya kau tidak usah berniat untuk menghindar dari apa yang telah terjadi. Karena itu akan sia-sia." Lukita melihat gelagat aneh dari orang itu. Karena itulah ia menghadang Yangka. "Kau telah terbukti telah melakukan kejahatan mencuri dana yang telah dikirim gusti ratu agung untuk rakyat kawasan kumuh." Lukita berusaha untuk menekan dirinya agar tidak terpancing amarah yang merugikan dirinya.
"Ini fitnah!. Aku tidak pernah menyuruh mereka untuk melakukan itu." Yangka Patari masih mencoba untuk membela dirinya, ia tidak mau mengakui jika anak buah itu adalah suruhannya. "Berani sekali kau berkata dusta tentang diriku!. Mana mungkin aku menyuruh orang-orang yang tidak berguna itu melakukan pekerjaan itu." Ia masih saja ingin membela dirinya?.
"Kalian dengar itu?. Apakah kalian dengar apa yang dia katakan?. Dia ingin menyelamatkan dirinya sendiri." Lukita tersenyum dengan ramahnya sambil bertanya kepada beberapa anak buah yang diamankan oleh prajurit istana. "Demi menyelamatkan dirinya sendiri, ia tidak mengakui, jika kalian adalah suruhannya." Lukita menatap mereka semua.
"Kau!. Berani sekali kau berkata seperti itu!." Yangka Patari sakit hati mendengarkan ucapan Lukita.
"Apakah kalian terima setelah apa yang kalian lakukan tapi si rakus ini ingin menyelamatkan dirinya sendiri?." Cibatu bertanya kepada mereka karena itu sangat tidak adil untuk mereka. "Apakah kalian masih ingin bekerja dibawah orang biadab seperti dia?." Cibatu memberikan gambaran pada mereka semua.
"Diam kau!. Berani sekali kalian memanasi mereka semua!." Yangka Patari sangat kesal mendengarkan apa yang dikatakan Lukita dan Cibatu.
Sementara itu, mereka yang mendengarkan apa yang dikatakan Lukita dan Cibatu memang merasakan itu. memang seperti itulah kenyataannya. Mereka hanya disuruh melakukan pekerjaan sia-sia, dan sekarang Yangka Patari ingin melarikan diri?. Apakah mereka masih bisa menerima itu semua dengan lapang hati?. Apakah mereka tidak sakit hati mendengarkan ucapan Yangka Patari?. Tentunya mereka sangat sakit hati mendengarkan ucapan yang tidak bertanggung jawab sama sekali.
"Kau memang tuan laknat!. Tidak tahu diri!. Telah kami kerjakan apa yang kau minta!. Tapi kau malah menyelematkan diri sendiri!." Salah satu anak buah itu berkata dengan nada tinggi dan kasar karena ia tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Yangka Patari.
"Kau memang laknat tuan!. Beraninya kau melakukan diri sendirian tanpa memikirkan nasib kami!." Hati mereka sangat panas, mereka hanyalah suruhan, tetapi tuan mereka malah melarikan diri sendiri dan tidak bertanggung jawab atas apa yang telah ia suruh.
__ADS_1
"Kau memang tidak tahu diri!. Akan aku bunuh kau!. Berani sekali kau pergi sendirian setelah apa yang terjadi?. Kau pikir kau memiliki kekuasaan yang besar untuk melarikan diri?!." Mereka telah mengeluarkan apa yang selama ini mereka tahan dan mereka pendam di dalam hati mereka masing-masing. Sepertinya kemarahan telah menguasai diri mereka. Kebencian yang sangat mendalam yang mereka rasakan.
"Baiklah, sepertinya kalian semua harus segera kami amankan. Kalian semua harus bertanggungjawab atas apa yang telah kalian lakukan selama ini." Cibatu memerintahkan prajurit istana untuk mengamankan mereka semua, karena ini adalah bukti kejahatan yang telah mereka lakukan dalam menggelapkan dana dari kerajaan.
"Aku tidak mau!. Jangan bawa aku!." Yangka Patari mencoba melarikan diri dari tanggung jawabnya.
"Diam!. Jika kau masih tidak mau dibawa, maka akan aku bunuh kau di sini." Lukita menahan gerakan Yangka Patari. "Kau pikir kau bisa melarikan diri?! Bebas berkeliaran setelah apa yang kau lakukan selama ini?!. Jika kau berani kabur, maka akan bunuh kau di sini sekarang juga!." Ia tempelkan pisau itu ke pinggang Yangka Patari.
"Hiyaah!. Jangan bunuh aku!." Yangka Patari sangat ketakutan dengan ancaman yang ia dengar.
"Heh!. Dasar tidak berguna." Lukita mendorongnya supaya ia segera ditangkap, Lukita bosan berhadapan dengan Yangka Patari lama-lama.
"Bawa mereka semua ke istana!. Jangan sampai ada satupun dari mereka yang tinggal!." Perintah Cibatu pada mereka semua.
"Baik pak!." Mereka segera melakukan perintah Cibatu.
"Kerja yang bagus nona cantik." Cibatu mengacungkan jempolnya ke arah Lukita.
...***...
Istana Utama.
Pangeran Arzaguna Basukarna dan Jendral Kuasa telah berhasil membawa kelima laki-laki yang telah melakukan kejahatan.
"Hormat hamba gusti ratu agung." Jendral Kuasa memberi hormat.
"Hormat saya yunda gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Basukarna juga memberi hormat.
"Syukurlah kalian telah kembali dengan aman." Ratu Agung Selendang Merah sangat senang melihat kedatangan keduanya. "Bagaimana pengalaman pertama adik pangeran saat melihat secara langsung apa yang terjadi?." Ratu Agung Selendang Merah bertanya dengan nada ramah pada Pangeran Arzaguna Basukarna.
"Rasanya saya sangat gugup. Saya tidak bisa menahan diri saya untuk tidak mencegah mereka melakukan kejahatan itu." Itulah yang dirasakan Pangeran Arzaguna Basukarna saat ini.
"Pangeran arzaguna basukarna telah melakukannya dengan baik gusti ratu." Jendral Kuasa kembali memberi hormat. "Rasanya hamba sangat malu pada diri hamba dengan apa yang telah hamba lakukan selama ini." Ya, ia memang Mali terhadap dirinya yang tidak bertindak dengan baik selama ini. "Tanpa adanya perasaan ragu gusti pangeran arzaguna basukarna bertindak. Menegaskan pada mereka supaya bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan." Ia merasa kagum dengan tindakan Pangeran Arzaguna Basukarna.
__ADS_1
"Jendral kuasa?." Pangeran Arzaguna Basukarna, Ratu Agung Selendang Merah, dan Penasihat Raja Agung Dewandaru terkejut mendengarnya. Tidak biasanya Jendral kuasa memuji seseorang seperti itu.
"Sepertinya kau mengalami perubahan jendral kuasa." Ratu Agung Selendang Merah dapat melihat itu. "Kau lebih perhatian pada sekitarmu. Itulah kenapa aku marah padamu saat itu. Karena kau mengabaikan korban serta orang-orang yang kehilangan keluarga mereka dalam kejadian sadis itu." Ratu Agung Selendang Merah telah mengatakannya.
"Sungguh ampuni kelalaian hamba gusti ratu agung. Hamba bersumpah akan melakukan yang terbaik untuk melindungi negeri ini dengan tangan hamba, atas kepercayaan yang gusti ratu agung berikan pada hamba." Ada perasaan menyesal yang ia rasakan. Kenapa ia tidak segera bertindak pada saat itu. Ada banyak nyawa melayang dengan sia-sia karena kelalaiannya dalam menjaga keamanan kawasan Kumuh.
"Itulah yang aku harapkan." Ratu Agung Selendang Merah sangat senang mendengarnya. Ia benar-benar merasa sangat lega dengan perubahan sikap Jendral Kuasa. "Untuk sementara waktu kita menunggu kedatangan indusakti dari kediaman hasedoki muritachi. Mungkin tidak akan lama, karena ia mengalami sedikit kendala." Ratu Agung Selendang Merah mempersilahkan mereka untuk istirahat untuk sejenak.
"Kalau begitu kami akan mengamankan mereka gusti ratu agung." Jendral memberi hormat. "Hamba mohon pamit, karena hamba takut mereka akan melarikan diri." Kemungkinan itu bisa terjadi jika mereka tidak memperkuat keamanan.
"Baiklah, untuk keamanan aku serahkan padamu." Ratu Agung Selendang Merah mempersilakan Jendral Kuasa untuk bertugas.
"Akan hamba laksanakan dengan baik gusti ratu agung." Jendral Kuasa pergi meninggalkan tempat setalah memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah.
"Adik pangeran istirahat saja. Sisanya serahkan pada jendral kuasa." Ratu Agung Selendang Merah mempersilahkan Pangeran Arzaguna Basukarna untuk segera istirahat.
"Baiklah yunda gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Basukarna memberi hormat. "Saya juga pamit. Semoga berikutnya saya bisa membantu yunda gusti ratu agung untuk menyelesaikan masalah." Lanjutnya.
"Terima kasih atas bantuan yang adik pangeran berikan. Semoga saja bantuan adik pangeran memberikan kesan yang baik untuk mereka semua." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil dibalik cadar merahnya.
"Saya akan melakukannya dengan baik demi negeri yang telah dibangun oleh eyang gusti raja agung. Saya berjanji akan melakukannya dengan sepenuh hati saja." Pangeran Arzaguna Basukarna memberi hormat.
"Itulah yang diharapkan rakanda gusti raja agung. Adik pangeran sangat baik, semoga saja adik pangeran bisa melakukan yang terbaik. Kami selalu menunggu bantuan dari adik pangeran." Ratu Agung Selendang Merah merasa bersyukur, karena masih ada keluarga istana yang berbaik hati membantunya.
"Akan saya lakukan yunda gusti ratu agung. Kalau begitu saya pamit dahulu." Setalah memberi hormat, Pangeran Arzaguna Basukarna meninggalkan tempat. Masih ada pekerjaan yang akan ia lakukan setelah ini.
"Syukurlah gusti ratu. Perlahan-lahan ada yang berubah ke arah yang lebih baik." Penasihat Raja Agung Dewandaru juga merasa senang melihat itu. "Jika memang seperti itu, suatu hari nanti gusti ratu tidak perlu khawatir lagi tentang masalah kerjasama untuk membangun kembali negeri ini." Lanjutnya
"Ya, semoga saja mereka bisa semua bisa membangun negeri ini lebih baik lagi. Sehingga ketika rakanda gusti raja agung nanti terbangun, kerajaan ini telah mengalami perubahan." Ratu Agung Selendang Merah tidak sabar melihat suaminya untuk segera sehat kembali. "Saya tidak tahan lagi dengan apa yang telah mereka lakukan. Rakanda gusti raja agung, cepatlah bangun." Dalam hati Ratu Agung Selendang Merah.
Apakah yang akan dilakukan oleh Ratu Agung Selendang Merah selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
...***...
__ADS_1