RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 65


__ADS_3

...***...


Ratu Agung Selendang Merah telah berada di biliknya. Saat itu ia sedang memikirkan apa yang telah terjadi selama ini. Hatinya masih belum bisa tenang mengingat apa yang telah terjadi selama ini.


Kembali ke masa itu.


Penasihat Raja Agung Dewandaru menatap mereka semua. Matanya melirik ke arah Ratu Agung Selendang Merah yang belum bersuara sama sekali. Apakah suasana seperti ini karena ini adalah pertama kali baginya?. Tapi sepertinya itu hanya berlaku untuk ratu agung saja. Karena yang lainnya tidak sabar lagi untuk mengetahui apa yang telah ditulis oleh Raja Agung pada mereka semua.


"Kalau begitu bacakan isinya. Supaya kami semua mengetahui siapa yang akan menggantikannya untuk sementara waktu." Pangeran Arzaguna Barata tidak sabaran. "Jangan terlalu lama menyampaikan pesan dari rakanda raja agung." Desaknya lagi.


"Bacakan, supaya kami bisa mendengarkan apa yang disampaikan oleh gusti raja agung dalam suratnya." Selir Indraswari Jayanti juga memaksa Penasihat Raja Agung Dewandaru untuk membacakan surat itu.


"Cepat bacakan." Selir Kamala Hastanti juga ikut berbicara sambil memerintah.


"Baiklah. Hamba akan membacakannya." Penasehat Raja Dewandaru membuka gulungan itu dengan hati-hati. "Mereka terlihat sangat antusias sekali. Kecuali ratu agung yang tampak tenang." Dalam hatinya kembali mengamati mereka semua. Sedangkan mereka menunggu dengan perasaan berdebar-debar, nama siapa yang dituliskan Raja Agung pada gulungan kertas itu.

__ADS_1


"Saya sebagai raja agung. Sepertinya ada seseorang yang telah berniat menjahati saya. Saya tahu bahwa saya tidak akan mungkin memimpin kerajaan untuk sementara waktu ini. Jika surat kecil ini dibacakan oleh penasehat raja dewandaru, maka keadaan saya benar-benar parah." Ia memberi jeda ucapannya. Sehingga menjadi tanda tanya bagi mereka semua. Karena yang mereka tunggu adalah nama siapa yang disebut oleh Raja Agung. "Untuk sementara waktu, saya menunjukkan ratu agung untuk memimpin istana ini beserta kerajaan ini. Saya percayakan semuanya pada ratu agung. Karena itulah tolong sembuhkan saya, supaya saya bisa kembali memimpin kerajaan ini. Saya tidak ingin membebankan ratu agung dengan masalah yang belum saya selesaikan. Salam dari saya raja agung." Setelah selesai membacakan surat dari Raja Agung, ia menatap mereka semua. "Kira-kira seperti itulah yang ditulis oleh raja agung." Penasehat Raja Dewandaru menggulung kembali gulungan itu.


Di saat yang bersamaan, mereka semua memperhatikan seseorang yang selama ini selalu bersembunyi di balik cadar merah. Ia adalah Ratu Agung Selendang Merah, istri sah Raja Agung. Satu-satunya Istri sah Raja Agung yang belum diketahui identitas aslinya oleh siapapun juga.


"Tidak mungkin!." Selir Indraswari Jayanti tidak terima dengan hasil keputusan itu. "Tidak mungkin putraku menunjuknya!. Ini pasti ada kesalahan!." Amarahnya membuncah karena bukan salah satu dari anaknya. "Tidak mungkin anakku arzaguna aswangga menunjuk wanita itu menjadi penggantinya!." Sakit hati, itulah yang ia rasakan saat ini.


"Ya, itu benar!. Tidak mungkin rakanda agung menunjuk wanita yang tidak jelas identitasnya ini ditunjuk oleh rakanda agung untuk menggantikannya." Pangeran Arzaguna Barata tidak terima. "Itu semua pasti telah diatur olehnya!. Wanita itu pasti telah merencanakan sesuatu untuk menjadi ratu agung!. Aku yakin dia yang telah mencelakai rakanda gusti raja agung!." Tangannya menunjuk ke arah Ratu Agung Selendang Merah. Sehingga mereka semua menatap Ratu Agung Selendang Merah penuh kebencian yang mendalam. Namun Ratu Agung Selendang Merah hanya diam saja, tidak menanggapi apa yang mereka katakan padanya.


"Aku juga tidak terima dengan keputusan itu!. Pasti itu diubah oleh seseorang!. Pasti ada yang telah menggantikan tulisan asli dari nanda raja agung!." Selir Kamala Hastanti juga tidak terima.


"Saya juga istri dari raja rakanda raja agung. Saya harusnya juga berhak untuk memimpin istana ini, tapi kenapa malah ratu agung yang tidak jelas siapa dirinya itu." Selir Raja agung baru Manik Keshwari juga tidak terima?.


"Kegh!." Selir Raja Agung baru tidak bisa bersuara, apalagi tatapan mata mereka yang menghakimi diri agar diam.


Mereka semua merasa berhak untuk mendapatkan paksa ratu agung. Tapi pada kenyataannya raja agung memilih ratu agung untuk memerintah kerajaan untuk sementara waktu.

__ADS_1


"Meskipun aku selir kedua dari mendiang raja agung azraguna chandra. Aku juga berhak, karena anakku memiliki kemampuan untuk memimpin kerajaan ini." Selir kedua mendiang  Raja Agung Arzaguna Chandra bersuara.


"Saya pasti tidak akan mengecewakan siapapun saja yang memberikan saya kesempatan pada saya untuk memimpin istana berserta kerajaan ini." Putri Mustika Gendari memberi hormat pada mereka semua.


"Kalian berdua sebaiknya diam saja." Selir Indraswari Jayanti, Selir pertama dari mendiang Raja Agung Arzaguna Chandra menatap tajam ke arah mereka. "Yang paling berhak itu adalah putriku. Putriku sedarah sekandung dengan ananda raja agung. Jadi sebaiknya kalian tidak usah banyak bicara dan banyak keinginan, serta bermimpi!." Selir Indraswari Jayanti tersenyum lebar menatap mereka semua.


Hingga terjadi keributan di bilik Raja Agung pada saat ini. Mereka semua merasa tidak suka dan tidak senang atas apa yang dikatakan oleh Selir Indraswari Jayanti. Saat itu juga Penasehat Raja Agung Dewandaru memperlihatkan bagaimana sikap mereka. "Diam!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. Membuat mereka semua terkejut, terdiam karena tidak menyangka jika Penasehat Raja Agung Dewandaru berani membentak mereka semua?.


"Kalian semua tidak usah meragukan apa yang telah ditulis oleh yang mulia raja agung. Aku sendiri yang menyaksikan yang mulia raja agung menuliskan surat ini." Penasehat Raja Dewandaru sangat kesal melihat sikap protes mereka. "Apakah kalian meragukan keputusan dari raja agung?. Apakah kalian tidak menghormati keadaan raja agung saat ini?. Sungguh sangat memalukan sekali atas apa yang kalian lakukan." Penasehat Raja Agung Dewandaru menatap tajam ke arah mereka semua. "Apakah kalian pikir, siapa yang selalu setia di saat raja agung sakit?. Hingga dalam keadaan seperti ini?. Apakah kalian tidak menyadari kenapa raja agung mempercayakan semua ini pada ratu agung?. Apakah kalian masih belum menyadarinya?." Penasehat Raja Agung Dewandaru membuka kembali ingatan mereka.


Dibalik cadar merah itu, Ratu Agung Selendang Merah menangis sedih. Karena ia yang selalu memperhatikan raja, dan merasakan ada bahaya yang mengancam Raja Agung. Namun pada akhirnya Raja Agung kalah dengan rasa sakit yang ia rasakan. " mereka semua akan mendapatkan hukuman dariku setelah ini aku akan membuat mereka mengakui apa yang telah mereka lakukan pada rak anda raja agung." Dalam hatinya telah bertekad akan melakukan sesuatu pada mereka semua memberi pelajaran kepada siapa saja yang telah menyakiti suaminya.


Kemabli ke masa ini.


Itulah yang terjadi saat itu. "Mereka yang saat itu sama sekali tidak memahami apa yang terjadi sebenarnya. Sungguh sangat keterlaluan sekali mereka itu." Hatinya sangat geram mengingat semuanya. Sungguh, rasanya kesabaran yang ia miliki telah pada batas normal. "Aku tidak akan membiarkan mereka memiliki ambisi untuk menguasai negeri ini." Dalam hatinya.

__ADS_1


Next.


...***...


__ADS_2