RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 32


__ADS_3

...****...


Cibatu dan Rembung. Mereka masih saja tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka tidak menyangka sama sekali, jika ada Seekor elang masuk ke dalam ruangan itu. Dan yang lebih membuat mereka terkejut adalah elang itu menjadi sosok wanita yang sangat cantik.


"Bagaimana mungkin seekor elang bisa masuk ke dalam ruangan ini?." Keduanya sangat histeris. "Apa yang telah terjadi sebenarnya?!." Keduanya sungguh tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.


Boooffh!!!.


"Malah berubah menjadi manusia!." Keduanya kembali histeris saat melihat itu. "Sungguh elang yang sangat mengerikan!." Mereka tidak menyangka sama sekali. Sedangkan Lukita melihat keduanya dengan tatapan membosankan.


"Huffh!." Lukita hanya menghela nafasnya saja melihat kedua pria terhormat itu histeris.


"Apakah itu elang ajaib atau sosok mu yang sedang menyamar?." Rembung masih belum percaya sama sekali. "Ka-katakan padaku dengan jelas." Rembung sedikit merinding.


"Pasti kau elang ajaib yang bisa berubah menjadi manusia!." Begitu juga dengan Cibatu yang terpaku melihat perubahan elang itu menjadi wanita yang sangar cantik. "Tapi kenapa berubah jadi wanita cantik pula?." Dalam hatinya benar-benar terpesona akan kecantikan wanita elang?. Hahaha!. Yang benar saja!.


"Tenanglah!. Aku harap kalian berdua tenang sebentar!. Apakah kalian tidak bisa melihatnya dengan baik?." Lukita jengah juga dengan kelakuan kedua laki-laki itu.


"Tapi itu sangat tidak masuk akal sama sekali." Keduanya tampak tidak bisa menerima apa yang terjadi. "Bagaimana mungkin ada elang bisa berubah jadi wanita cantik?!." Cibatu dan Rembung sangat terkejut melihat itu, mereka tidak percaya apa yang terjadi di depan mereka saat ini.


"Luapkan saja apa yang kalian lihat." Elang ajaib yang berubah menjadi sosok seseorang wanita itu ternyata bisa berbicara. "Dasar menyebalkan!." Ia mendengus kesal.


"Dia bahkan pandai berbicara?!." Keduanya semakin berteriak keras.


"Aku ini adalah elang ajaib suruhan gusti ratu agung!. Bersikap lah sopan kalian padaku!." Elang ajaib itu malah marah pada keduanya.


"Bagaimana mungkin seekor elang diutus oleh gusti ratu agung untuk memeriksa apa yang terjadi?. Ini sangat tidak masuk akal." Rembung masih saja tidak percaya?.


"Memang sangat tidak masuk akal." Cibatu juga ikutan.

__ADS_1


"Mereka ini ya?. Benar-benar membuat elang ajaib ini marah." Dalam hati Lukita sedikit merinding melihat hawa merah yang ditunjukkan oleh elang ajaib itu..


"Apakah kalian tidak bisa berdiam diri untuk sebentar?." Hawa wanita cantik itu terlihat sangat tidak menyenangkan sama sekali. "Aku terlalu lama mencari kalian, dan berharap kalian berada di sini!." Hawa merah itu semakin membesar, membuat Cibatu dan Rembung merinding melihat hawa merah itu.


"Dia marah?." Dalam hati keduanya tidak menyangka jika wanita cantik dari sosok elang ajaib itu bisa marah?.


"Apakah kalian tidak bisa percaya jika aku ini adalah utusan gusti ratu agung?. Apakah aku harus menyeret kalian agar kalian percaya jika aku adalah elang ajaib urusan dari gusti ratu agung untuk memeriksa beberapa orang yang telah menyeludupkan senjata?." Elang ajaib itu tampak semakin marah hingga tekanan angin sekitar terasa sangat berbeda.


"Baiklah, kami akan mendengarkan apa yang akan kau sampaikan pada kami." Rembung akhirnya memilih mengalah. Ia tidak tahan dengan tekanan angin yang tinggi itu.


"A-a-aku juga akan mendengarkan apapun yang akan kau katakan." Cibatu juga menyerah.


"Itu lebih baik." Dalam hati Lukita merasa lega. Ia merasa tidak nyaman sama sekali dengan hawa merah yang ditunjukkan oleh Elang ajaib itu padanya.


"Aku telah menyaksikan semuanya dengan mataku ini. Maka aku akan menjelaskan pada kalian, serta pesan apa yang disampaikan gusti ratu agung pada kalian untuk segera bertindak." Elang ajaib itu mencoba untuk menenangkan dirinya. Bagaimana penjelasan dari elang ajaib itu?. Hanya waktu yang akan menjawabnya.


...***...


"Hormat saya pada ayunda gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Basukarna memberi hormat.


"Silahkan duduk adik pangeran." Dengan suara yang sangat ramah Ratu Agung Selendang Merah mempersilakan Pangeran Arzaguna Basukarna untuk duduk.


"Terima kasih ayunda gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Basukarna merasa terhormat diperlukan dengan baik oleh Ratu Agung Selendang Merah.


"Apa yang ingin adik pangeran sampaikan kepada saya?. Apakah ada hal penting yang ingin adik pangeran sampaikan?. Sehingga adik pangeran datang ke sini?." Ratu Agung Selendang Merah bertanya karena penasaran.


Begitu juga dengan mereka yang menyimak apa yang Ratu Agung Selendang Merah dan Pangeran Arzaguna Basukarna katakan?. Mereka hanya bisa menyimak saja, karena itu adalah pembicaraan yang sangat sensitif.


"Apakah seorang adik ipar tidak boleh menemui kakak iparnya di sini?." Pangeran Arzaguna Basukarna terlihat sedikit sedih. "Apakah harus ada hal yang penting terlebih dahulu sehingga harus menemui kakak ipar-nya?." Raut wajah memelas itu membuat mereka semua tidak tahan melihatnya.

__ADS_1


"Duh!. Siapa sangka anak bungsu gusti raja agung terdahulu memiliki wajah menggemaskan seperti itu?." Dalam hati Turisuti merasa kagum serta menggemaskan.


"Ini pertanda baik?. Atau malah pertanda buruk?." Musi merasakan hawa yang tidak menyenangkan sama sekali.


"Aku rasa ini adalah pertanda buruk." Dalam hati Penasihat Raja Agung Dewandaru bergidik negri.


"Ini memang pertanda sangat buruk." Menikati bahkan juga merinding merasakan hawa sekitar.


"Tentu saja adik pangeran boleh datang kapan saja yang adik pangeran inginkan." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil dibalik cadar merahnya. "Karena istana ini terbuka untuk siapa saja, termasuk adik pangerannya ini menemui saya." Lanjutnya lagi. "Maaf jika aku berpikiran buruk. Tapi aku percaya bahwa adik pangeran memiliki urusan yang sangat penting." Ratu Agung Selendang Merah memang merendahkan diri.


"Ya memang pada awalnya saya datang ke sini untuk keperluan yang sangat penting." Pangeran Arzaguna Basukarna tidak basa-basi lagi. "Tapi saya takut menganggu ayunda gusti ratu agung." Ucapnya agak ragu. "Apalagi ini malam, tidak ada tamu lagi yang diperbolehkan untuk masuk istana. Kecuali jika seorang pangeran yang kemalaman karena tugas, sehingga ia tidak bisa kembali ke kediaman pribadi." Pangeran Arzaguna Basukarna mencari alasan agar tetap bisa bertemu dengan Ratu Agung Selendang Merah meskipun pada malam hari. "Demi keselamatan, bukankah itu diperbolehkan untuk masuk ke istana ini unik menginap?. Mungkin saya tidak salah dengan peraturan itu." Pangeran Arzaguna Basukarna terlihat sedikit gugup.


"Sungguh seorang pangeran yang sangat pintar. Dia ini memang anak mendiang gusti raja agung yang sangat pintar." Penasihat Raja Agung Dewandaru, Turisuti, Menikati dan Musi sangat kagum dengan sifat Pangeran Arzaguna Basukarna yang sangat berani.


Ratu Agung Selendang Merah sedikit menghela nafasnya. "Banyak akal juga rupanya." Dalam hatinya terkesan denganalasa yang diberikan Pangeran Arzaguna Basukarna. "Baiklah kalau begitu ikuti aku ke ruang pribadi, sehingga hanya kita saja yang bisa mengetahuinya." Ratu Agung Selendang Merah mengajak Pangeran Arzaguna Basukarna menuju ruang pribadi.


"Benar-benar diizinkan?." Penasihat Raja Agung Dewandaru, Turisuti, Menikati dan Musi sangat terkejut mendengarnya.


"Luar biasa sekali!." Penasihat Raja Agung Dewandaru tadinya hendak meninggalkan istana, akan tetapi ia begitu penasaran dengan kedatangan Pangeran Arzaguna Basukarna, sehingga ia memperhatikan apa yang terjadi. "Siapa sangka ratu agung akan  mempersilahkan adik iparnya masuk?." Dalam hatinya sangat terkejut melihat itu.


"Terima kasih atas atas waktunya ayunda gusti ratu agung pada saya. Semoga saya tidak mengganggu pekerjaan di bandara tua burung di sini." Pangeran Arzaguna Basukarna memberi hormat. "Syukurlah bisa masuk. Saya tadinya sangat takut, jika saya akan diusir ayunda gusti ratu agung." Dalam hati Pangeran Arzaguna Basukarna sangat cemas, jika dirinya akan diusir?.


"Ini pertanda apa?!." Mereka semua sama sekali tidak menyangka jika Gusti Ratu Agung Selendang Merah akan mengajak Pangeran Arzaguna Basukarna masuk ke dalam ruangan pribadi.


"Aku harus tetap waspada, jika terjadi sesuatu pada gusti ratu agung, maka aku akan segera bertindak." Penasihat Raja Agung Dewandaru memasang alarm tanda bahaya jika terjadi sesuatu pada Ratu Agung Selendang Merah.


"Kita harus mengawasi mereka dari jauh." Musi sangat cemas.


"Ya, kau benar." Turisuti sangat bersemangat.

__ADS_1


"Kalau begitu mari kita lakukan  bersama." Menikati sangat penasaran. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Mereka menguping pembicaraan itu, mereka menempelkan telinga mereka ke pintu, ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Begitu besar rasa penasaran yang mereka miliki. Apa yang akan mereka bahasa?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


...***...


__ADS_2