RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 50


__ADS_3

...***...


Ratu Agung Selendang Merah saat ini sedang mencoba mengobati suaminya. Ia secara diam-diam telah mempelajari ilmu pengobatan selama ini. Itu karena selama ini sangat khawatir, jika terjadi sesuatu pada suaminya, ia bisa mengobati suaminya dengan cepat. Sehingga ia tidak terlalu tergantung pada ahli obat manapun. Senyumannya mengembang ketika melihat keadaan suaminya agak membaik. Wajah suaminya yang pucat sedikit berseri dari yang sebelumnya.


"Rakanda raja agung bersabarlah untuk sementara waktu ini. Saya janji akan mendapatkan tanaman obat kehidupan secepatnya untuk melakukan pengobatan rakanda gusti raja agung." Hatinya sangat iba melihat kondisi suaminya yang seperti ini. Ia tidak mengerti dengan cara apa lagi yang akan ia gunakan supaya suaminya cepat sembuh. "Saat ini kerajaan sedang mengalami banyak masalah. Saya ingin membantu rakanda gusti raja agung untuk menyelesaikan masalah ini. Maafkan saya, jika suatu hari nanti saya membuat rakanda sedih karena saya telah memiliki semua bukti atas kejahatan yang telah dilakukan ibunda rakanda gusti raja agung serta kedua saudara rakanda gusti raja agung." Akan tetapi di satu sisi ia juga bingung bagaimana caranya menjelaskan pada suaminya mengenai apa yang terjadi nantinya. "Rakanda gusti raja agung harus kuat untuk menghadapi semua cobaan ini." Ratu Agung Selendang Merah mencium tangan suaminya dengan penuh kasih sayang dan cintanya sebagai seorang istri. Ia teringat dengan apa yang diucapkan oleh suaminya ketika sehat.


"Terkadang kita perlu menguatkan hati. Ketika orang yang kita cintai telah melakukan kejahatan, serta tindakan yang tidak pantas." Raja Agung saat itu berkata dengan senyuman yang menawan. "Bahkan contoh paling kecil adalah, ketika ia tidak menghormati kita lagi. Maka kita harus bisa mengambil keputusan yang tepat." Lanjutnya.


"Ya, saya akan bertindak dengan benar rakanda gusti raja agung." Ratu Agung Selendang Merah berusaha untuk menahan air mata kesedihan yang ia rasakan saat ini. Hatinya sangat iba dengan apa yang ia rasakan, dan saat melihat kondisi suami yang sangat ia cintai, serta yang ia banggakan dalam keadaan parah seperti ini?. Bagaikan disayat sembilu hatinya saat ini.


Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?. Apakah yang akan ia katakan pada suaminya nantinya jika suaminya telah sembuh kembali?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


...***...


Keesokan harinya.


Lukita dan Cibatu yang kini menyamar saat ini membawa keuangan atau bahan makanan yang dibawa dari istana. Mereka sengaja membawanya bersama beberapa orang prajurit. Saat itu mereka melewati kediaman Yangka Patari. Tiba-tiba saja penjaga di sana memanggil mereka semua untuk masuk. Mereka hanya nurut saja, karena ingin melihat apa yang akan mereka lakukan pada mereka semua?.

__ADS_1


"Tuan, sepertinya ini bahan makanan serta uang dari istana untuk orang-orang kumuh." Penjaga itu berkata pada tuannya.


"Apakah memang benar seperti itu?. Katakan padaku." Yangka Patari sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan penjaga rumahnya.


"Ya, memang seperti itulah tuan." Cibatu yang menjawab pertanyaan Yangka Patari "Kami diperintahkan gusti ratu agung untuk mengantar ini semua ke kawasan kumuh." Lanjutnya dengan senyuman yang sangat ramah.


"Ohoho!. Kalau begitu kalian masuk lah. Mari kita berbicara sedikit." Yangka Patari dengan raut wajah yang sumringah menyuruh mereka untuk masuk ke rumahnya. Akan tetapi pada saat itu Lukita dan Cibatu saling bertatapan satu sama lain. Keduanya terlihat bingung dengan apa yang dilakukan Yangka Patari.


"Apakah kita akan perlu berbasa-basi dulu?." Bisik Lukita.


"Kita ikuti saja." Balas Cibatu sedikit ragu.


"Terima kasih tuan. Tuan sangat baik sekali." Akhirnya keduanya hanya pasrah saja diseret seperti itu oleh Yangka Patari. Mereka juga ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Yangka Patari.


"Sepertinya dia memang mengulur waktu untuk kami, sementara itu ada beberapa orang yang telah siap-siap untuk melakukannya." Dalam hati Lukita merasa curiga dengan sikap ramah dari Yangka Patari. Matanya juga menangkap orang-orang yang sangat mencurigakan. Sepertinya mereka telah mereka orang-orang profesional yang telah menggeluti pekerjaan itu dengan baik. "Tapi aku tidak akan membuatkan kalian melakukan itu dengan lancar." Dalam hati Lukita mencoba melakukan sesuatu.


Mereka masuk ke dalam dan berbincang-bincang. Entah apa yang akan mereka perbincangkan?. Namun Lukita tidak akan membiarkan orang-orang yang berpura-pura bekerja di halaman rumah Yangka Patari melakukan apa yang mereka inginkan. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


Sementara itu, di hutan kawasan Kumuh.


Saat ini Jendral Kuasa dan Pangeran Arzaguna Basukarna sedang mengintai apa yang telah dilakukan oleh beberapa orang pekerja yang menggali tanah di sana?.


"Seperti yang dikatakan yunda gusti ratu agung. Mereka menggali lubang dengan cara yang tidak wajar. Di tebing bukit seperti ini akan membuat tanah menjadi longsor." Pangeran Arzaguna Basukarna melihat dengan langsung bagaimana mereka yang melakukan itu.


"Gusti pangeran benar. Pantas saja gusti ratu agung marah." Jendral Kuasa mengamati itu. "Tapi ini baru bukan?. Sebab aku tidak melihat ini sebelumnya." Dalam hatinya sedikit waspada. Akan berbahaya jika kejadian ini telah lama berlangsung, dan ia baru menyadarinya?. Ratu Agung Selendang Merah akan marah besar padanya nantinya.


"Apakah kita akan menghentikan mereka sekarang?." Pangeran Arzaguna Basukarna tidak sabar untuk bergerak, menghentikan apa yang mereka lakukan.


"Kita harus menghentikannya sekarang. Akan berbahaya jika kita biarkan mereka melakukan sesuka hati mereka." Sepertinya Jendral Kuasa juga tidak tahan lagi.


"Baiklah. Memang harus seperti itu." Pangeran Arzaguna Basukarna mengikuti saja. Karena untuk pertama kalinya ia melakukan pekerjaan secara langsung. "Rasanya aku sangat gugup. Apa yang akan aku lakukan pada mereka nantinya?. Apakah pekerjaan ini akan terasa mudah?. Atau aku akan kesulitan karena mereka melawan nantinya?." Dalam hati Pangeran Arzaguna Basukarna mencoba untuk menekan perasaan gugup yang ia rasakan saat ini. Apakah ia bisa melakukannya?. "Aku yakin aku bisa melakukannya." Dalam hatinya mencoba untuk menguatkan tekadnya, bahwa ia mampu melakukan itu dengan sangat baik.


Jendral Kuasa segera keluar dari tempat persembunyiannya. Ia memang tidak tahan lagi, apalagi ia ingin segera menyelesaikan masalah ini. "Tidak akan aku biarkan si jibat berduaan saja dengan lukita." Dalam hatinya sangat tidak rela. "Aku akan menangkap kalian semua. Karena kalian, aku terpisah tugas dengan nona lukita." Ia sangat mengutuk apa yang dilakukan mereka semua.

__ADS_1


Apakah yang akan mereka lakukan pada para pekerja itu?. Simak terus ceritanya.


...***...


__ADS_2