
...***...
Saat itu Ratu Agung Selendang Merah tidak sengaja berpas-pasan dengan Pangeran Arzaguna Barata. Sepertinya ia sedang terburu-buru ingin melakukan sesuatu yang sama sekali tidak ia ketahui.
"Yunda gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Barata memberi hormat.
"Adik pangeran." Balasnya dengan senyuman ramah.
"Sepertinya yunda gusti ratu agung telah melakukan pekerjaan yunda ratu agung dengan sangat baik. Pasti rakanda gusti raja agung sangat bangga memiliki istri seperti yunda gusti ratu agung." Tatapan matanya sangat merendahkan Ratu Agung Selendang Merah.
"Adik pangeran tidak perlu memuji. Adik pangeran bahkan juga bekerja dengan sangat baik." Ratu Agung Selendang Merah mengetahui maksud dan tujuan Pangeran Arzaguna Barata.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya dariku dengan berkata seperti itu?. Jika kau ingin menyampaikan hal yang sangat penting, tidak perlu seperti itu nada bicaramu. Rasanya sangat menyebalkan sekali." Ia sangat kesal pada Ratu Agung Selendang Merah?.
"Jadi adik pangeran ingin aku mengatakannya?." Ia balik bertanya. "Baiklah, jika memang seperti itu. Maka ikutlah aku. Akan aku tunjukkan sesuatu padamu hal yang sangat menyakitkan." Dengan santainya sang Ratu berkata seperti itu.
"Heh!. Kau tidak akan bisa menakuti aku. Masih saja bersikap sombong." Dengan sangat kesalnya ia berkata seperti itu. "Aku tidak percaya jika kau ingin melakukan hal seperti itu padaku." Ada perasaan kecil yang ia rasakan saat itu.
"Kita lihat saja. Seberapa beraninya seorang pangeran arzaguna barata saat itu." Ratu Agung Selendang Merah merasa tertantang. "Ketika aku memperlihatkan apa yang terjadi sebenarnya." Ratu Agung Selendang Merah merasa sangat tertantang dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran Arzaguna Barata.
"Tidak usah banyak bicara, langsung perlihatkan saja apa yang ingin kau perlihatkan padaku." Sepertinya ia tidak ingin basa basi lagi. "Katakan saja jika katakan saja jika kau hanya menggertak diriku saja." Pangeran Arzaguna Barsukarna malah merendahkan kemampuan yang dimiliki oleh Ratu Agung Selendang Merah.
"Dengan senang hati." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum lebar dibalik cadar merahnya. "Tapi aku harap kau benar-benar tidak trauma dengan apa yang telah aku perlihatkan padamu nantinya." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil ketika berkata seperti itu.
"Heh!. Berani sekali kau merendahkan aku." Pangeran Arzaguna Barata sangat kesal, sehingga ia mendengus seperti itu.
Kemanakah Ratu Agung Selendang Merah akan membawa Pangeran Arzaguna Basukarna?. Apakah mereka akan melakukan hal yang sangat mengejutkan nantinya?. Simak terus ceritanya.
...***...
Sementara itu Lukita saat ini sedang bersama menteri keuangan Jibat. Mereka sedikit jalan-jalan di pusat kota untuk melihat hal yang menarik lainnya. Tidak biasanya Mentri keuangan Jibat jalan-jalan dengan seorang wanita muda, mungkin setidaknya seperti itu yang ada di dalam pikiran mereka ketika mereka mengenali menteri keuangan Jibat.
"Maafkan aku. Rasanya sangat berat sekali berpisah denganmu setelah ini." Menteri keuangan Jibat mengatakan perasaanya?.
"Eh?. Apa yang tuan katakan?. Saya hanyalah rakyat kecil, jadi jangan bersedih hati berpisah dengan saya." Lukita menang tidak mengerti arah ucapan Menteri Keuangan Jibat. "Lagi pula saya ini hanyalah pembantu gusti ratu agung. Saya hanyalah seorang pekerja jadi sudah sewajarnya saya pergi ke mana saja di tugaskan oleh majikan saya." Ucapnya lagi.
"Ucapanmu itu sangat kaku sekali nona lukita. Rasnya sangat sedih hatiku mendengar kau berkata seperti itu padaku." Hatinya sangat sedih dengan sikap Lukita setelah itu. "Apakah kau tidak bisa berbicara dengan santai denganku?." Saat itu tatapan matanya terlihat sangat memohon. Ia hanya ingin berbicara santai dengan Lukita, yang seakan-akan seumuran dengannya?. Apakah memang seperti itu?.
"Ahaha!. Jangan berkata seperti itu. Aku yakin kita masih bisa berteman dengan baik. Jadi tuan jibat jangan berkecil hati." Pikirannya masih polos, dan belum ternodai.
"Kau ini memang sangat menyebalkan dan tidak baik hati." Dalam hatinya sangat sedih, karena Lukita tidak mengerti apa yang ia ucapkan. "Kau menganggap aku sebagai teman?." Tentunya ia sangat sedih.
__ADS_1
"Aku tidak mau terlibat dalam masalah asmara yang menyulitkan. Bagiku tugas dari gusti ratu agung adalah segala." Dalam hati Lukita telah berjanji tidak akan melibatkan dirinya dalam masalah rumit. Bukannya bersikap polos?. Hanya saja memang tidak mau terlibat dalam masalah percintaan.
Namun saat itu Jendral Kuasa datang tanpa mereka sadari. Entah dari mana Jendral Kuasa mengetahui keberadaan mereka saat ini dimana.
"Ekhm!." Suaranya sangat keras, sehingga menarik perhatian mereka semua.
"Hmph!." Menteri keuangan Jibat sangat jengkel. "Jika kau memiliki masalah maka katakan dengan langsung. Jangan hanya main kode saja!." Suaranya sangat tidak bersahabat sama sekali.
"Sejak kapan dia berada di sini?." Dalam hati Lukita sangat heran melihat itu.
"Apa yang kau lakukan dengan nona lukita?. Kau ini seorang menteri keuangan. Apa yang akan terjadi jika tersebar kabar buruk tentangmu?." Jendral Kuasa malah mencurigai mereka.
"Terima kasih aku ucapkan atas peringatannya." Ingin rasanya ia mencincang Jendral Kuasa. "Lalu bagaimana denganmu?!. Bukankah harusnya hari ini kau juga melakukan sidang?!. Bagaimana mungkin kau masih berkeliaran di sini!." Saking jengkelnya ia hampir saja mengetuk kepala Jendral Kuasa dengan sekuat tenaga yang ia miliki.
"Hmph!." Jendral Kuasa memalingkan wajahnya. "Kau tidak usah mengingatkan aku akan tugasku sendiri. Kau jangan banyak keluyuran setelah melakukan sidang." Tentunya ia tidak akan mengatakan kenapa ia berada di sini saat ini.
"Huuffh!." Lukita menghela nafasnya dengan lelahnya. "Bagaimana mungkin kedua orang ini adalah laki-laki terhormat?. Rasanya mereka hanyalah dua orang anak kecil yang sedang berebut mainan saja." Lukita sangat hera dengan sikap keduanya yang sangat jauh dari pandangan orang-orang mengenai keduanya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Lukita hanya akan melihat pertengkaran kekanak-kanakan keduanya?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...
Deg!!!.
Pangeran Arzaguna Basukarna sangat terkejut dengan apa yang baru saja diperlihatkan oleh Ratu Agung Selendang Merah padanya. Mungkin saja ia bermimpi buruk?. Tetapi kenapa itu terasa sangat nyata. Nafasnya terasa sangat sesak mengingat apa saja yang terekam oleh matanya.
Brukh!!!.
"Kau pasti telah menggunakan sihir untuk memperdaya diriku!." Lututnya terasa tidak bertenaga lagi, sehingga ia menjatuhkan tubuhnya seperti orang sedang bersujud.
"Aku tidak menggunakan sihir sama sekali. Tapi itu adalah kekuatan yang aku miliki untuk menangkap semua yang kalian lakukan." Ratu Agung Selendang Merah menjawabnya dengan jujur.
"Diam!. Kau pasti menggunakan trik untuk membuatku mengakui semua kejahatan itu!. Kau ini memang wanita iblis!." Amarahnya sangat membuncah karena ia tidak terima dengan apa yang ia lihat tadi.
"Kau lah yang iblis. Bukan aku." Ratu Agung Selendang Merah masih bisa tenang.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?!. Kenapa kau memperlihatkan padaku!." Hatinya sangat sakit, nafasnya terasa sangat sesak. "Bagaimana mungkin kau mengetahui semuanya!." Teriaknya penuh amarah yang membara.
"Suatu saat nanti, aku akan menghukum kalian semua yang telah berani mencelakai suami yang sangat aku cintai." Ratu Agung Selendang Merah masih menahan amarah yang ia rasakan pada saat itu. "Akan aku tunjukkan pada kalian semua arti sakit hati berpisah dengan orang yang kalian cintai." Lanjutnya. Matanya yang memerah menyala itu menatap nyalang mereka semua.
"Kau pikir kau bisa melakukan itu?." Pangeran Arzaguna Barata mencoba untuk bangkit. Lututnya terasa sangat kaku untuk bergerak, ia telah mencobanya beberapa kali namun tetap tidak bisa.
__ADS_1
"Heh!. Kau pikir aku ini siapa?. Tentu saja aku bisa melakukannya. Setelah aku membersihkan orang luar. Barulah aku akan membersihkan kalian semua, termasuk kau!. Jika kau masih saja tidak mau berubah. Akan aku perlihatkan rasa sakit yang aku rasakan selama ini padamu." Ratu Agung Selendang Merah menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
"Kau!." Pangeran Arzaguna Barata sama sekali tidak bisa menyentuhnya. Karena setelah itu pandangannya terasa sangat berat, kantuk yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Aku telah mengetahui semua yang kau rencanakan. Tidak akan aku biarkan kau melakukan hal buruk lagi." Setelah berkata seperti itu Ratu Agung Selendang Merah pergi meninggalkan tempat.
"Wanita itu ternyata seorang iblis!." Pangeran Arzaguna Basukarna tidak menyangka sama sekali dengan apa yang diperlihatkan oleh Ratu Agung Selendang Merah.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Pangeran Arzaguna Barata baik-baik saja?. Simak terus ceritanya. Jangan lupa dukungannya pembaca tercinta.
...***...
Sementara itu. Di kediaman Selir Manik Keshwari.
Ayahnya baru saja sampai di rumahnya. Ia sangat khawatir ketika prajurit yang menjaga rumahnya mengabari jika anaknya sakit?. Saat ini anaknya ditemani oleh dua orang pembantu yang merawatnya dengan baik.
"Maafkan ayah. Karena pekerjaan ayah tidak bisa berada di sini." Buzara Keshwari sangat menyesal dengan apa yang terjadi pada anaknya.
"Tidak apa-apa ayah. Tugas ayah sangatlah penting. Maafkan saya karena telah merepotkan ayah." Suaranya terdengar lemah tidak berdaya untuk berbicara.
"Tidak apa-apa. Ayah akan kembali karena kau adalah putri yang sangat ayah cintai." Buzara Keshwari sangat khawatir pada anaknya.
"Terima kasih ayah." Ia hanya tersenyum kecil. Sangat terlihat dengan jelas bagaimana wajah pucat anaknya saat ini.
"Jika saya suamimu gusti raja agung berada di sini, pasti dia akan merawatmu dengan sangat baik." Ada kekecewaan yang ia rasakan pada saat itu.
"Sayangnya itu tidak akan terkabul ayah. Karena wanita itu sangat serakah. Dia yang telah menjauhkan saya dari suami saya sendiri." Ucapan itu seakan-akan ia yang paling menderita.
"Kau jangan berkecil hati anakku. Karena ayah akan menemuinya besok." Buzara Keshwari mengelus kepala anaknya dengan sayang.
"Baiklah ayah. Tapi ayah jangan terlalu serius padanya." Sandiwara yang sangat baik, memberikan kesan yang baik pada ayahnya.
"Kau ini memang sangat baik sekali putriku." Hatinya sangat sedih setelah mendengarkan ucapan anaknya. "Bahkan ketika kau disakiti olehnya, kau masih berbuat baik padanya." Namun ada kebanggan di dalam hatinya.
"Tentu saja. Itu karena saya adalah putri dari tuan terhormat tuan buzara keshwari." Dengan penuh percaya diri ia berkata seperti itu.
"Baiklah. Kau ini memang pandai memuji ayah." Buzara Keshwari sangat sayang pada anak satu-satunya yang ia miliki. Sedangkan istrinya telah lama meninggal karena sakit. Ia telah berjanji akan selalu melindungi anaknya dengan sepenuh hatinya.
Perasaan seorang ayah yang sangat mencintai anaknya. Itulah yang dirasakan oleh Buzara Keshwari saat itu. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apa yang akan dibicarakan Buzara Keshwari pada Ratu Agung Selendang Merah nantinya?. Apakah akan ada pertarungan diantara mereka nantinya?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1