RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 39


__ADS_3

...***...


Sepertinya pertarungan di kediaman Menanti masih berlanjut. Pada saat itu Lukita sedang berhadapan dengan wanita yang ada di kediaman Menanti. Sayangnya mereka terlalu meremehkan kemampuan yang dimiliki oleh Lukita, dan lihat apa yang terjadi?.


"Egkhakh!." Enticha Menanti sedikit meringis karena kedua pundaknya dijadikan pijakan oleh Lukita.


Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Lukita pada saat itu?. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu?.


"Tidak semudah itu kau melukaiku." Sorot mata Lukita begitu tajam, seakan-akan ia hendak menelan musuhnya. "Aku ini juga jago loh?." Ucapnya dengan santainya. Seakan-akan ia sedang menikmati pertarungan itu.


"Kurang ajar!. Turun kau makhluk rendahan!." Enticha Menanti hendak menjatuhkan Lukita dengan mencengkram kedua kaki Lukita. "Berani sekali kau bertengger di atas ku!." Akan tetapi pijakan itu terasa sangat menekan kedua pundaknya. Hingga ia tidak bisa menjatuhkan Lukita.


"Beraninya kau!." Muntari Menanti, dan Boushe Menanti sangat geram melihat itu. Keduanya maju dan berhenti tepat di belakang, juga di depan Lukita. Kemarahan telah menyelimuti hati keduanya, rasa tidak terima membuat amarah mereka semakin memuncak ketika mereka menyaksikan salah satu keluarga mereka terpojok seperti itu.


"Beraninya kau melakukan itu!." Keduanya telah menyiapkan pukulan seribu penghancur batu. Muntari Menanti dan Boushe Menanti menggunakan ilmu meringankan tubuh, sehingga tubuh keduanya seakan-akan melayang dengan cepat melompat ke arah Lukita.


"Tidak semudah itu kalian melukaiku." Lukita mengangkat tubuh Enticha Menanti dengan sangat kuat, sehingga yang terkena pukulan keras itu adalah Enticha Menanti.


"Keghakh!." Terdengar teriakan yang sangat keras dari Enticha Menanti. Pukulan yang sangat keras itu mengenai telak ke tubuh Enticha Menanti.


Deg!!!.


Muntari Menanti dan Boushe Menanti sangat terkejut mendengar suara teriakan itu. Begitu juga dengan yang lainnya yang tadinya bertarung dengan sangat serius.


"Uhuk!." Enticha Menanti terbatuk memuntahkan darah, tubuhnya terasa sangat sakit mendapatkan dua pukulan seribu penghancur batu sekaligus.

__ADS_1


"Enticha!." Keduanya sangat panik ketika Enticha Menanti ambruk setelah memuntahkan darah. Keduanya segera menopang tubuh Enticha Menanti.


"Putriku!." Merekah Menanti segera melompat mendekati anaknya yang tampak kesakitan. "Apakah kau baik-baik saja?!." Ia sangat panik ketika melihat keadaan anaknya yang seperti itu.


"Hebat juga lukita itu dapat mengalahkan salah satu dari mereka." Dalam hati Menteri Keuangan Jibat kagum melihat itu. Ia tidak menduga akan melihat pemandangan yang sangat luar biasa ketika ia sedang fokus untuk bertarung.


"Adik!." Teru Menanti juga mendekati adiknya yang tampak terluka. "Adik!." Hatinya memanas ketika melihat ada darah di sudut mulut adik perempuannya itu.


"Kegh!. Sakit sekali." Keluhnya, dan ia tidak dapat menahan sakit yang ia rasakan saat itu.


"Hebat juga wanita itu." Dalam Jendral Kuasa merasa kagum dengan apa yang dilakukan Lukita tadi. "Cara bertarung yang sangat luar biasa sekali." Meskipun ia bertarung ,tapi ia masih sempat memperhatikan sekitarnya.


"Kau!. Wanita kumuh sialan!. Beraninya kau melukai anakku!." Muntari Menanti sangat marah, suasana hatinya sangat membuncah.


"Hm." Lukita tersenyum kecil. "Bukan aku yang melakukannya. Kalian lah yang melakukannya." Balas Lukita dengan santainya.


"Meskipun aku berasal dari kaum kumuh, namun hatiku tidak kumuh seperti kalian yang beraninya berbuat aniaya pada kami." Lukita menatap mereka dengan tatapan yang sangat mengerikan, membuat mereka semua merinding melihatnya.


Namun saat itu Ratu Agung Selendang Merah datang tanpa mereka sadari?. Bagaimana  mungkin Ratu Agung Selendang Merah datang disaat mereka seperti itu?.


"Apakah seperti ini cara kalian menyambut ratu agung di saat berkunjung?." Ratu Agung Selendang Merah menatap mereka yang terdiam karena kedatangannya. "Sungguh sangat luar biasa sekali." Matanya memperhatikan bagaimana kondisi mereka pada saat itu.


"Gusti ratu agung." Lukita langsung mendekati Ratu Agung Selendang Merah, dan memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah.


"Gusti ratu agung." Jendral Kuasa pun memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah. "Hormat hamba gusti ratu agung." Ia segera sujud layaknya seorang prajurit yang sangat menghormati junjungannya.

__ADS_1


"Gusti ratu agung." Menteri keuangan Jibat juga memberi hormat. "Maafkan kami gusti ratu agung. Jika keadaannya seperti ini ketika gusti ratu agung datang."


"Sepertinya kalian telah melakukan pekerjaan kalian dengan baik." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil dibalik cadar merahnya. "Terima kasih saya ucapkan. Karena berkat kalian saya bisa menghukum mereka yang telah berani melakukan kejahatan di kawasan kaum kumuh." Ratu Agung Selendang Merah menatap tajam ke arah mereka semua.


"Kau hanyalah ratu sementara!." Merekah Menanti sangat tidak terima dengan apa yang tejadi, karena itulah ia sangat marah. "Kau tidak berhak melakukan ini pada kami!." Merekah Menanti sangat emosi ketika melihat itu.


"Beraninya kalian menjebak kami dengan cara seperti ini!. Akan aku bunuh kalian semua di sini semuanya!." Teru Menanti sangat kesal dengan itu.


"Putrimu telah terluka. Apakah kalian masih ingin melawan saya?." Ratu Agung melihat Enticha Menanti yang sedang terluka. "Tidakkah kalian merasa iba padanya?." Lanjut sang satu sambil menatap ke arah mereka semua.


"Diam kau!. Anakku terluka itu karena wanita kumuh yang kau perintahkan telah melukai anakku!. Kau harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi!." Merekah Menanti sangat marah, hingga ia tidak lagi menunjukkan sikap sopannya di hadapan gusti ratu agung.


"Kau yang harus kami bunuh!." Mereka bersuara seperti itu?.


"Mohon ampun gusti ratu agung." Menteri keuangan Jibat memberi hormat. "Hamba rasa ini hanyalah akal busuk mereka saja yang ingin menjebak gusti ratu melalui nona lukita." Lanjutnya. "Jangan dengarkan mereka. Segera hukum saja mereka gusti ratu agung."


"Hamba setuju dengan apa yang dikatakan menteri keuangan jibat. Mereka sudah sepantasnya mendapatkan hukuman itu gusti ratu agung." Jenderal Kuasa menambahkan ucapan itu.


"Diam kalian!." Mereka hampir saja menyerang Menteri keuangan Jibat dan Jenderal Kuasa, jika Ratu Agung Selendang Merah tidak memberi aba-aba pada mereka untuk tetap diam di tempat. Hati mereka masih panas pada saat itu.


"Jadi kalian masih ingin melawan?." Ratu Agung Selendang Merah melihat ke arah mereka semua. "Aku sendiri memiliki catatan kejahatan tentang kalian. Aku harap kalian tidak bertindak dengan gegabah." Ratu Agung Selendang Merah memberi peringatan pada mereka keluarga besar Menanti. " Ratu Agung Selendang Merah hampir kehilangan kesabarannya.


"Sebaiknya kalian menyerah saja." Lukita, Jendral Kuasa, dan Menteri keuangan Jibat menatap tajam ke arah mereka semua.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.

__ADS_1


Next halaman.


...***...


__ADS_2