
...***...
Di ruang Pribadi Ratu Agung Selendang Merah.
Saat ini Ratu Selendang Merah dan Pangeran Arzaguna Basukarna sedang membahas sesuatu. Ia hanya mencemaskan keadaan Ratu Agung Selendang Merah. Tentunya ia takut terjadi sesuatu pada Ratu Agung Selendang Merah. Bagaimana pun juga, Pangeran Arzaguna Basukarna telah memperhatikan semua kondisi istana, juga termasuk mengamati apa yang terjadi, serta dilakukan oleh orang-orang yang ada di dalam istana ini.
"Dari sejak yunda gusti ratu agung menikah dengan rakanda gusti raja agung, saya perhatikan beberapa hal yang membuat saya berpikir, jika yunda gusti ratu agung bukanlah wanita yang jahat." Pangeran Arzaguna Basukarna berkata seperti itu. "Namun ada beberapa berita aneh yang saya dengar tentang yunda gusti ratu agung." Ia menundukkan wajahnya, ia terlihat sedang mencemaskan keadaan Ratu Agung Selendang Merah.
"Adik pangeran juga sangat baik." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil melihat ke arah Pangeran Arzaguna Basukarna. "Malam-malam seperti ini adik pangeran datang untuk mengatakan hal yang seperti itu. Itu sangat baik sekali. Maafkan aku jika aku telah membuat adik pangeran merasa tidak nyaman sama sekali." Ratu Agung Selendang Merah meminta maaf?. "Sungguh maafkan aku adik pangeran." Bahkan beberapa kali kalimat maaf ia ucapkan. "Jadi dia datang ke sini untuk mengatakan itu?. Sungguh anak yang baik. Berbeda sekali dengan mereka yang selama ini aku lihat." Dalam hati Ratu Agung Selendang Merah senang melihat bagaimana sikap baik Pangeran Arzaguna Basukarna padanya. Memang ia dan Pangeran Arzaguna Basukarna tidak memiliki masalah, bahkan ia bisa dekat dengan adik iparnya itu.
"Tidak apa-apa yunda gusti ratu agung. Saya hanya merasa benci saja. Karena mereka semua merencanakan hal yang sangat buruk pada yunda gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Basukarna sangat mencemaskan keadaan Ratu Agung Selendang Merah. "Dari dulu mereka sangat tidak suka pada yunda gusti ratu agung. Mereka sepertinya memiliki niat yang sangat tidak baik. Begitu juga dengan ibunda yang menginginkan saya menjadi raja agung ketika ayahanda raja agung meninggal." Pangeran Arzaguna Basukarna terlihat sangat sedih dengan apa yang terjadi pada saat itu.
"Semuanya telah terjadi, adik pangeran jangan bersedih. Aku percaya jika adik pangeran adalah orang yang sangat kuat." Ratu Agung Selendang Merah hanya bisa berkata seperti itu.
"Lalu apa yang akan yunda gusti ratu agung lakukan setelah ini?. Apakah saya tidak bisa membantu yunda gusti ratu agung untuk menyelesaikan masalah yang terjadi?. Saya sangat khawatir pada yunda gusti ratu agung. Banyak yang ingin menjahati gusti ratu agung." Dari raut wajahnya sudah terlihat jelas, bahwa Pangeran Arzaguna Basukarna sangat mencemaskan Ratu Agung Selendang Merah.
"Adik pangeran tidak perlu khawatir. Saat ini aku sedang fokus untuk kesembuhan rakanda pangeran. Serta menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi." Ratu Agung Selendang Merah hanya tersenyum kecil dibalik cadar merahnya. "Untuk sementara waktu, adik pangeran jangan sampai membuat permusuhan dengan ibunda kamala hastanti. Adik pangeran begitu baik, aku tidak mau adik pangeran kesulitan nantinya." Ya, tentunya Ratu Agung Selendang Merah tidak mau itu sampai terjadi.
__ADS_1
"Baiklah. Jika memang seperti itu yang terjadi. Tapi saya harap, suatu hari nanti saya bisa membantu yunda gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Basukarna tidak memaksakan diri.
"Ya. Begitu lebih baik." Ratu Agung Selendang Merah senang mendengarnya.
"Lalu bagaimana keadaan rakanda gusti raja agung saat ini?. Apakah beliau bisa diselamatkan?. Tolong katakan pada saya keadaannya." Pangeran Arzaguna Basukarna memang sangat baik. "Jika yunda ratu agung tidak bisa mengatakan keberadaan gusti ratu agung saat ini dimana, namun setidaknya katakan pada saya keadaan rakanda gusti raja agung. Meskipun saya mengetahui jika yunda gusti ratu agung adalah orang yang telah merawat rakanda gusti raja agung dengan sangat baik." Pangeran Arzaguna Basukarna tidak memaksa, tutur katanya sangat lemah lembut, dan bisa dipercayai.
Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil, ia mengetahui bagaimana sikap Pangeran Arzaguna Basukarna selama ini. "Keadaan rakanda gusti raja agung saat ini masih belum bisa dikatakan baik. Karena racun yang ada di dalam tubuhnya saat ini belum bisa aku atasi dengan baik." Ratu Agung Selendang Merah terlihat sangat sedih memikirkan keadaan suaminya.
"Jadi rakanda gusti raja agung terkena racun?." Pangeran Arzaguna Basukarna sangat cemas mendengarkan penjelasan dari Ratu Agung Selendang Merah. "Apakah saya tidak bisa membantu sama sekali yunda gusti ratu agung?. Saya juga ingin meringankan beban yunda ratu agung." Pangeran Arzaguna Basukarna terlihat sangat memohon.
"Maaf adik pangeran. Ini sudah malam, sebaiknya adik pangeran beristirahat lah di istana ini malam ini. Apa jadinya jika mereka semua melihat adik pangeran keluar dari istana ini malam hari." Ratu Agung Selendang Merah tidak mau melibatkan Pangeran Arzaguna Basukarna dalam masalah ini.
"Berhati-hatilah adik pangeran. Sepertinya ada seseorang yang sedang mengincar adik pangeran." Ratu Agung Selendang Merah memberikan beberapa saran pada adik iparnya.
"Baiklah. Yunda gusti ratu agung juga harus berhati-hati." Pangeran Arzaguna Basukarna kembali memberi hormat.
Setelah itu ia benar-benar pergi meninggalkan ruang pribadi ratu agung selendang Merah. Pangeran Arzaguna Basukarna cukup bagus mengamati seseorang, karena itulah Ratu Agung Selendang Merah percaya jika Pangeran Arzaguna Basukarna memiliki niat yang sangat baik. "Rakanda gusti raja agung. Masih ada orang baik yang ingin melindungi saya dari orang-orang jahat. Karena itulah rakanda raja agung tidak boleh menyerah dengan apa yang terjadi. Saya mohon pada rakanda raja agung untuk tetap sabar dan kuat." Dalam hatinya memikirkan sesuatu hal yang bisa ia lakukan untuk cepat menyembuhkan Raja Agung. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
__ADS_1
...***...
Di kediaman Selir Manik Keshwari.
Ia melihat kedua pembantu yang ia kirim ke istana dimana Ratu Agung Selendang Merah berada. Namun keduanya pulang dengan membawa kabar, tentunya juga membawa surat dari Ratu Agung Selendang Merah.
"Untuk apa kalian kembali lagi?. Bukankah aku belum menyuruh kalian untuk kembali?. Tapi kenapa kalian malah kembali?!." Dengan amarah yang membara Selir Manik Keshwari membentak keduanya, hingga membuat keduanya ketakutan. "Apakah kalian telah melakukan tugas yang aku berikan pada kalian dengan baik?." Hatinya hanya dipenuhi oleh kemarahan saja.
"Mohon ampun gusti. Kami diperintahkan oleh gusti ratu agung untuk mengantarkan ini pada gusti." Miwu dengan takutnya menyerahkan sebuah surat gulungan pada Selir Manik Keshwari.
"Apa?!." Selir Manik Keshwari langsung merebut surat itu dari tangan Miwu, membuat pembantunya semakin ketakutan. "Apakah benar surat itu darinya?!." Ia mengamati surat itu dengan baik. "Untuk apa dia mengirim surat ini padaku?!." Ia sangat geram ketika dua pembantunya itu mengatakan tentang surat untuknya?.
"Benar gusti. Saat itu kami dipanggil langsung oleh gusti ratu agung untuk menyerahkan surat itu." Miwu telah berkata yang sejujurnya. "Kami diperintahkan untuk mengirimkan surat ini pada gusti ratu." Miwu berusaha untuk memberikan penjelasan pada junjungannya itu.
"Lalu apa lagi yang dia katakan sebelum kalian meninggalkan istana?!. Katakan padaku!. Atau aku akan membunuh kalian!. Jika kalian berani berkata dusta padaku!." Saat ini hatinya sangat gelisah, jika memang Ratu Agung Selendang Merah menyuruh kedua pembantunya untuk menyerahkan surat itu padanya.
"Gusti ratu agung hanya berkata, agar gusti lebih berhati-hati dalam bertindak. Dan bacalah surat itu dengan baik. Hanya itu yang disampaikan gusti ratu agung kami." Miwu mewakili temannya Rambi menjawab pertanyaan dari Selir Manik Keshwari.
__ADS_1
Brak!!!.