
...
.........
BRAKH!.
"Hiyaa!."
Tangannya menggebrak meja dengan sangat keras, membuat Miwu dan Rambi ketakutan, dan bahkan keduanya saling berpelukan untuk melindungi satu sama lain.
"Kurang ajar!. Berani sekali dia menitipkan pesan seperti itu pada kalian!." Selir Manik Keshwari tidak terima, ia merasa diremehkan oleh Ratu Agung Selendang Merah. "Apakah dia merasa di atas angin?!. Hanya karena dia menjadi ratu?!." Amarahnya meledak begitu saja, ia sangat marah mendengarkan ucapan dua pembantunya itu.
"Gusti manik terlihat sangat menyeramkan. Kenapa dia begitu menyeramkan." Dalam hati Miwu sangat takut dengan hawa yang ditunjukkan oleh Selir Manik Keshwari.
"Dia ini memang wanita yang jahat sesungguhnya dibandingkan dengan gusti ratu agung. Rasanya aku sangat menyesal menjadi pelayan wanita jahat ini." Dalam hati Rambi mengutuk rencana jahat yang akan dilakukan Selir Manik Keshwari pada Ratu Agung Selendang Merah. "Rasanya aku tidak sanggup lagi bekerja untuknya." Dalam hati keduanya ingin segera pergi dari ruangan itu, atau parahnya meninggalkan tuan jahatnya.
"Kalian pergi lah dari sini." Selir Manik Keshwari menatap tajam pada kedua pembantunya. "Kalian memang sangat tidak berguna sama sekali. Dan jangan berani-beraninya kalian datang padaku lagi!." Suaranya terdengar sangat marah, sehingga ia mengusir kedua pembantunya.
"Hiyaaa!." Keduanya langsung berlari meninggalkan tempat itu.
"Aku bersumpah akan mengatakan semua kejahatan yang kau rencanakan pada ratu agung selendang merah!." Dalam hati Miwu mulai dendam pada Selir Manik Keshwari. "Gusti ratu agung lebih baik, dan lebih baik memperlakukan pembantunya dibandingkan kau wanita jahat yang sebenarnya!." Miwu benar-benar sangat mengutuk Selir Manik Keshwari.
"Aku bersumpah tidak akan melayani wanita jahat seperti dirimu!. Aku kutuk kau mendapatkan karma atas apa yang ingin kau lakukan pada gusti ratu agung." Rambi juga mengutuk itu. Keduanya meninggal tempat itu dengan suasana hati yang sangat tidak baik.
__ADS_1
Sementara itu, Selir Manik Keshwari mencoba membuka pelan surat gulungan itu. "Berani sekali wanita jahanam itu meninggalkan pesan itu pada mereka. Apakah dia mau merendahkan aku dihadapan kedua pembantu tidak berguna itu?. Akan aku bunuh wanita itu suatu hari nanti. Hanya aku yang akan menjadi ratu agung di kerajaan ini." Dalam hatinya mulai timbul keinginan yang tidak baik. Ia memiliki ambisi untuk menjadi seorang ratu agung yang memliki kuasa untuk mengatur ketiga istana sekaligus. Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?. Apakah rencananya akan berhasil?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...
Sementara itu. Lukita, Rembung, dan Cibatu bersama elang ajaib itu sedang menyiapkan sesuatu untuk menyergap keluarga Menanti. Mereka telah menyiapkan semuanya, dan malam ini mereka semua telah mempersiapkan segalanya.
"Hufffh!." Cibatu menghela nafasnya setelah semua pekerjaan yang mereka lakukan telah selesai.
Puk!!!.
Rembung menepuk pundak Cibatu agak sedikit keras, sehingga membuatnya terperanjat terkejut.
"Tidak baik terus menghela nafas. Kita harus segera melakukannya. Jika tidak kita akan terus seperti ini, maka kita tidak akan bisa tidur dengan tenang." Ia juga menghela nafasnya dengan pelan.
"Kalau begitu mari kita istirahat sejenak. Setidaknya kita telah mendapatkan apa yang kita cari. Tidak tidur selama beberapa hari itu sangat tidak baik untuk kesehatan." Lukita tersenyum kecil pada mereka. "Besok pagi kita akan menyergap mereka, jangan sampai kita hilang fokus untuk melakukannya. Akan berbahaya jika kondisi tubuh kita sakit saat membongkar kebusukan mereka nantinya." Itulah yang ditakutkan oleh Lukita.
"Yang dikatakan lukita sangat benar. Kita harus tetap menjaga kesehatan. Kalau begitu kita istirahat sejenak. Dua hari terbang tanpa istirahat, rasanya sayap ku pegal sekali." Elang ajaib itu mengepakkan tangannya seakan-akan itu adalah memang sayapnya.
Rembung, Lukita dan Cibatu malah tertawa cekikikan melihat tingkah elang ajaib itu. Rasanya sangat lucu di saat elang ajaib itu mengepakkan kedua tangannya.
"Jangan tertawa. Kalian manusia tidak akan bisa melakukannya dengan baik." Elang ajaib itu tidak terima karena ditertawakan oleh mereka. "Bagaimana pun juga aku ini adalah elang sakti. Akan aku cakar kalian nanti, jika sayap ku telah pulih kembali." Dengan kesalnya ia menakuti mereka.
"Hoo!." Cibatu dan Rembung langsung menghindar dengan cepat. Meskipun itu hanyalah candaan tapi tetap saja keduanya menghindari cakaran tangan elang ajaib. Selain itu keduanya malah semakin tertawa melihat raut wajah kesal Elang ajaib.
__ADS_1
"Hiyaa!. Aku mau dicakar elang ajaib." Cibatu malah larian karena dikejar oleh Elang ajaib.
"Jangan lari kalian!." Elang ajaib benar-benar kesal diejek oleh Rembung dan Cibatu.
"Hadeh!. Mereka ini ya?. Masih sempat saja bercanda ria dalam keadaan seperti ini." Dalam hati Lukita merasa lelah dengan apa yang ia lihat. Ya, anggap saja itu adalah hiburan setelah mereka melakukan hal yang melelahkan.
Rembung dan Cibatu masuk ke dalam kereta kuda yang telah dibuat untuk istirahat. Begitu juga dengan Lukita dan elang ajaib itu. Mereka ingin mengistirahatkan diri, karena besok mereka akan melakukan hal yang sangat besar. Jadi mereka tidak boleh lelah sebelum bertempur. Apakah yang akan mereka lakukan setelah itu?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu, di bilik putra mahkota.
Pangeran Arzaguna Basukarna masih memikirkannya. Ia tidak mengerti sama sekali, kenapa banyak orang yang membenci Ratu Agung Selendang Merah.
"Apakah ada niat buruk yang ingin mereka bongkar tentang yunda gusti ratu agung?." Pangeran Arzaguna Basukarna memandang langit-langit atap. Saat ini ia sedang berbaring di tempat tidur. Meskipun bilik ini sebenarnya hanya untuk putra mahkota yang bekerja sampai larut malam, namun saat ini anggap saja ia sedang bekerja sampai larut malam, hingga ia tidak bisa kembali menuju kediaman pribadi putra mahkota atau kediaman keluarga orang tua dari ibu.
"Dari dulu, aku melihat mereka yang berusaha untuk mencari kesalahan ratu agung." Ia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi jauh sebelum Raja Agung sakit. "Mereka menyebar kabar, bahwa yunda gusti ratu agung lah meracuni rakanda gusti raja agung. Tapi itu sangat mustahil. Karena aku menyaksikan sendiri bagaimana keharmonisan mereka. Jadi tidak mungkin yunda ratu agung melakukan kejahatan seperti yang dikatakan oleh mereka semua." Entah kenapa Pangeran Arzaguna Chandra memang tidak setuju dengan kabar buruk itu.
Kali ini ia membalikkan tubuhnya menghadap ke samping kanan. Ia mencoba mengingat semua apa yang terjadi di masa lalu. "Bahkan gusti ratu agung sangat baik padaku. Dia selalu memberiku semangat untuk melakukan kebaikan. Aku rasa memang ada orang yang membencinya." Ia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, namun pikirannya saat ini sedang kacau, sehingga sulit baginya untuk tidur. "Selain ibunda dan juga yunda dyatmika kamala, aku yakin keluarga indraswari juga membenci yunda ratu agung." Ia mengingat semua, memantau apa saja yang mereka lakukan. "Yunda gusti ratu agung, rakanda gusti raja agung pernah berkata. Justru orang baiklah yang banyak musuh. Orang jahat akan gelisah karena mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk berbuat jahat. Namun orang yang berpura-pura baik itu jauh lebih menyakitkan. Karena dia telah menipu kita dengan penampilannya. Jadi tetaplah waspada, jangan sampai lengah. Amati dengan naluri yang baik, gunakan kebaikan untuk menekan kejahatan sendiri yang ada di dalam diri sendiri." Itulah yang ia ingat ketika berkumpul dengan Raja Agung dan Ratu Agung Selendang Merah. "Rakanda gusti raja agung, berikan aku kekuatan untuk memutuskan semua itu dengan baik." Dalam hatinya mulai merasa gelisah. Ia hanya ingin mempercayai Ratu Agung Selendang Merah adalah orang yang baik.
Apakah yang akan terjadi setelah ini?. Apakah masih bisa melihat apa yang terjadi di dalam istana sebenarnya?. Simak terus ceritanya, jangan sampai ketinggalan kisah ini. Temukan jawabannya
...***...
__ADS_1