
...***...
Ratu Agung Selendang Merah dan Penasehat Raja Agung Dewandaru sedang memperhatikan bagaimana Amakami, Rintoki, Yumaru, dan Kurakuri saat ini membuka gulungan itu.
"Kami telah membukanya gusti ratu agung." Mereka berempat memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah. Sepertinya mereka semakin terlihat senang setelah membuka surat gulungan itu.
"Kalau begitu, tolong bacakan dengan keras, nama siapa yang tertera di sana. Supaya saya bisa mendengarkan dengan jelas." Dengan suara yang ramah Ratu Agung Selendang Merah memberi perintah pada mereka.
"Mohon maaf gusti ratu agung." Keempatnya memberi hormat lagi. "Sebelum hamba membacakan nama siapa yang tertulis di gulungan ini. Apakah hamba boleh bertanya pada gusti ratu agung?." Amakami terlihat bingung.
"Benar gusti ratu agung. Apakah kami boleh mengetahui alasannya?. Tentunya gusti ratu agung memiliki alasan yang kuat, kenapa melakukan ini." Rintoki juga bertanya.
"Hamba mohon, supaya gusti ratu memperkenankan kami mendengarkan penjelasan dari gusti ratu agung." Yumaru juga memberi hormat.
"Kami hanya tidak ingin yang lain salah paham dengan apa yang gusti ratu lakukan. Karena hanya kami yang mendapatkan surat ini. Sedangkan yang lainnya tidak dapat sama sekali. Kami hanya tidak ingin terjadi kesenjangan nantinya." Kurakuri terlihat sangat memohon juga?.
Ratu Agung Selendang Merah dan Penasehat Raja Agung Dewandaru saling bertatapan satu sama lain. Mereka sedikit mengerti dengan apa yang dikatakan oleh keduanya. Namun tidak menyangka akan bereaksi seperti itu?. Apakah yang akan terjadi setelah ini?. Simak terus ceritanya.
...***...
Di kediaman Selir Kamala Hastanti. Tidak terdengar kabar tentang mereka setelah pengangkatan ratu Agung, namun sepertinya mereka juga memiliki rencana untuk mendapatkan kedudukan yang bagus di istana?.
"Aku sama sekali tidak terima dengan keputusan mereka semua. Terutama surat yang ditinggalkan raja agung, rasanya sangat ganjal, dan juga dibuat-buat." Selir Kamala Hastanti sakit hati dengan keputusan yang ia dengar saat itu. Ia terpaksa menghadiri acara itu, supaya tidak dianggap sebagai pemberontak yang menolak undangan resmi dari kerajaan.
__ADS_1
"Ibunda benar. Aku juga tidak terima dengan keputusan mereka. Harusnya salah satu dari kami, itu berhak menjadi raja dan ratu agung. Tapi kenapa menantu tidak berguna itu yang mendapatkan kedudukan ratu agung?." Dyatmika Kamala juga kesal dengan keputusan itu.
"Tapi kita sama sekali tidak dianggap di istana ini. Lalu apa gunanya ibunda menikah dengan raja terhormat di negeri ini?. Tidak ada gunanya sama sekali ibunda. Kehadiran kita sama seperti hantu. Ada, tapi tidak terlihat!. Ini sama saja dengan penghinaan untuk kita ibunda!." Arzaguna Basukara sangat tidak terima dengan apa yang dialami oleh keluarga Kamala selama bertahun-tahun.
"Aku akan membalas penghinaan ini pada selir indraswari jayanti. Karena dialah orang yang harus bertanggungjawab untuk semua ini." Hatinya dipenuhi oleh kebencian yang sangat dalam.
"Ya, mereka selalu saja menghalangi kita untuk masuk ke istana. Mereka sangat sombong sekali ibunda. Aku sama sekali tidak suka dengan gaya mereka yang sangat angkuh, terutama anak perempuannya yang ****** itu." Dyatmika Kamala juga menunjukkan kemarahannya. "Harga dirinya terlalu tinggi, sehingga dia semana-mena terhadap diriku." Rasa sakit hati yang ia rasakan pada saat itu tidak akan ia lupakan begitu saja.
"Kita harus mencari cara untuk menyingkirkan mereka ibunda. Aku sudah tidak tahan lagi dengan apa yang telah kita terima. Bahkan ketika ayahanda meninggalkan, kita masih saja tidak diperbolehkan untuk menginjakkan kaki ke istana jika tidak ada acara penting." Arzaguna Basukara sangat marah dengan perlakuan mereka yang sangat berbeda.
"Ya, tentu saja itu harus. Mereka semua harus membayar semua yang telah mereka lakukan pada kita selama ini." Selir Kamala Hastanti sepertinya telah berhasil mematik apa ke dalam pikiran kedua anaknya. Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Simak terus ceritanya.
...***...
Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil di balik cadar merahnya, mendengarkan apa yang mereka katakan. "Baiklah, akan saya jelaskan alasan yang sebenarnya." Suaranya terdengar sangat santai sekali. "Akan aku katakan dengan jujur pada kalian berempat. Bahwa sebenarnya, orang-orang yang mendapatkan gulungan itu adalah para tersangka yang sebenarnya yang telah memicu pergolakan di daerah kawasan kumuh." Ratu Agung Selendang Merah tidak basa-basi lagi.
"Apa?!." Amakami, Rintoki, Yumaru dan Kurakuri sangat terkejut.
"Apa maksudnya ini gusti ratu agung?!. Apakah ini sebuah jebakan?!." Amakami terlihat sangat marah.
"Kenapa gusti ratu agung menjebak kami dengan cara seperti ini?. Apa kesalahan kami?!." Rintoki sama sekali tidak terima. "Tega sekali gusti ratu agung memperlakukan kami seperti ini!." Ia terlihat sedang mendramatisir keadaan.
"Jangan permainkan kami dengan cara licik seperti ini!. Apakah menurut gusti ratu agung kami adalah orang rendahan hingga melakukan itu?!. Jangan bercanda!." Kurakuri sepertinya langsung membuncah marah. "Tidak mungkin kami melakukan itu!." Bentaknya dengan suara yang sangat tinggi.
__ADS_1
"Kami telah lama bersama membangun negeri ini, tapi kenapa malah diperlakukan seperti ini!." Yumaru sama sekali tidak terima dengan apa yang telah terjadi.
Mereka tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah. Sehingga mereka menunjukkan kemarahan yang mereka miliki.
"Ekhm!." Penasihat Raja Agung Dewandaru berdehem sedikit keras untuk meredakan amarah mereka. "Tuan-tuan tidak perlu semarah itu, karena kami telah memiliki bukti yang sangat kuat untuk membuktikan jika tuan-tuan yang terhormat ini melakukan kesalahan yang sangat fatal." Penasihat Raja Agung Dewandaru memberi kode. "Jika tuan-tuan tidak terima, tuan-tuan bisa memprotesnya di pengadilan terhormat nantinya." Lanjutnya lagi. "Sebaiknya tuan-tuan tidak usah melakukan perlawanan yang tidak berarti."
Hingga saat itu mereka dikejutkan dengan beberapa orang yang datang di sana. Mereka semua tidak menduganya sama sekali, jika para pembantu itu adalah mata-mata?. Tapi yang lebih mengejutkan bagi mereka adalah, ketika mereka berubah bentuk ke semula?. Itu hanyalah samaran saja?. Bagaimana mungkin?.
"Kegh!. Sejak kapan kau menjadi mata-mata?." Amakami menunjuk kasar ke arah pembantunya.
"Maaf saja tuan. Saya bukan pembantu tuan, tapi saya adalah orang kepercayaan gusti ratu agung untuk melihat apa saja yang telah tuan lakukan selama ini." Ia hanya tersenyum ramah?. "Jadi maaf saja, saya tidak berkhianat pada tuan-tuan sekalian." Senyumnya itu terlihat kaku, dan sangat menyakitkan untuk dirasakan.
"Kurang ajar!." Dengan kasarnya ia lempar gulungan itu. "Beraninya kau menipuku selama ini!." Rintoki telah bersiap-siap dengan kuda-kuda, sepertinya ia ingin melakukan pemberontakan secara terang-terangan?.
"Aku harap kau tidak melakukan hal yang dapat membuatku memberikan hukuman yang lebih berat lagi." Dengan santainya Ratu Agung Selendang Merah berkata seperti itu sambil menopang dagunya.
"Diam!. Aku sama sekali tidak takut dengan apa yang kau katakan!." Rintoki telah siap dengan jurus yang akan ia mainkan.
"Aku tidak akan mengampuni dirimu!. Berani sekali kau mempermainkan kami dengan cara memanggil kami seperti ini!." Yumaru juga siap-siap dengan jurus yang ia mainkan?.
"Aku juga tidak terima dengan penghinaan ini. Sungguh membuatku sangat marah dan ingin segera mengamuk!." Kurakuri pun ikut memainkan jurus andalannya.
Tapi keempat orang-orang suruhan Ratu Agung Selendang Merah menghadang serangan itu. Sehingga Kurakuri tidak bisa mendekati Ratu Agung Selendang Merah?.
__ADS_1
...***...