
...***...
Ratu Agung Selendang Merah menatap tajam ke arah Selir Kamala Hastanti yang sedang merintih kesakitan. Begitu banyak alasan Selir Kamala Hastanti ingin melihat kesalahan yang akan dilakukan Ratu Agung Selendang Merah padanya.
"Apakah seperti ini cara seorang selir memperlakukan pelayan istana?. Apakah tanpa mereka seorang selir bisa melakukan semua pekerjaan istana?." Ratu Agung Selendang Merah terlihat sangat marah. "Sungguh, tidak ada tata krama yang baik yang diperlihatkan oleh seroang selir pada pelayannya." Ratu Agung Selendang Merah tidak memperlihatkan rasa sopannya. Ia sangat benci pada seseorang yang tidak bisa menghargai kerja keras dari anak buahnya.
"Gusti ratu agung." Mereka semua mendengarkannya dengan jelas. Mereka semua tidak menduga akan mendengarkan ucapan seperti itu dari Ratu Agung Selendang Merah.
"Kau!. Berani sekali kau membela mereka di hadapanku!. Apakah kau tidak memiliki perasaan malu karena telah memperlakukan aku seperti ini?!." Hatinya saat ini dipenuhi oleh kebencian yang sangat luar biasa.
"Sudahlah ibunda selir kamala hastanti. Untuk apa ibunda datang ke sini jika hanya untuk membuat keributan?." Ratu Agung Selendang Merah jadi lelah sendiri. "Jika anda hal perlu yang ingin disampaikan, makan datanglah kepadaku dengan cara yang baik-baik." Ucapnya sambil menghela nafas lelahnya. "Jangan permalukan diri sendiri dihadapan mereka dengan sikap ibunda selir dengan cara seperti itu!." Ratu Agung Selendang Merah juga terlihat sangat marah.
"Aku tidak sudi melakukan itu!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa!. Kau jangan berani melakukan hal yang aneh-aneh di belakangku!. Kau itu hanyalah ratu sementara!." Teriaknya dengan amarah yang membuncah. "Selain itu jangan pernah kau menyebut aku sebagai ibunda!. Aku katakan padamu dengan jelas!. Aku tidak sudi memiliki menantu seperti kau!." Selir Kamala Hastanti benar-benar mengeluarkan semua amarah yang ia rasakan. "Meskipun kau menikah dengan nanda raja agung!." Geram, marah, hatinya yang membenci telah menjadi satu. Tidak akan bisa lagi melihat kebaikan seseorang kecuali keburukan saja yang ia terima dari menantunya itu. "Aku bisa mengusir mu kapan saja jika aku mau!." Selir Indraswari sangat tampak mengancam Ratu Agung Selendang Merah. "Tapi tunggu saja pada waktu yang sangat tepat!." Hatinya sangat membara karena dipenuhi oleh kemarahan, serta dipenuhi oleh kebencian yang sangat dalam.
"Tidak usah berkata seperti itu ibunda selir."Balasnya dengan santainya. "Sebaiknya ibunda segera pergi dari sini. Karena ini bukan waktu yang tepat untuk mengunjungi istana utama." Ratu Agung Selendang Merah secara halus telah mengusir Selir Kamala Hastanti. "Bukankah ibunda telah mengetahui aturan itu?. Dan bahkan mereka semua juga mengetahui aturan itu dengan baik." Ratu Agung Selendang Merah melihat ke arah mereka semua yang kini sedang menunduk takut.
"Beraninya kau mengusir ku dari sini?!. Benar-benar orang yang tidak tahu diri!." Amarahnya telah membakar dirinya, hingga ia tidak dapat lagi mengendalikan dirinya. "Kau pikir kau siapa berani mengusir ku!."
Namun ketika selir Kamala Hastanti hendak melakukan sesuatu pada Ratu Agung selendang merah, merekah semua memperhatikan itu tentunya dapat melihat siapa yang lebih baik di istana ini. Mereka semua menatap Selir Kamala Hastanti dengan tatapan penuh dengan kebencian, mereka semua sangat tidak suka dengan sikap jahatnya.
"Kurang ajar!. Berani sekali merek menatapku seperti itu?!." Karena tidak tahan dengan tatapan mereka yang seperti ingin membunuhnya, Selir Kamala Hastanti langsung meninggalkan tempat. Ia tidak akan melupakan apa yang ia terima hari ini. "Kalian semua akan mendapatkan pelajaran dariku. Akan aku penggal kepala kalian semua jika anakku menjadi raja agung." Dalam hatinya bersumpah akan membunuh mereka semua. "Termasuk kau!. Aku pasti akan membunuhmu juga suatu hari nanti!. Tunggu saja pada hari itu terjadi." Selir Kamala Hastanti telah berjanji di dalam hatinya bahwa ia akan membunuh Ratu Agung Selendang Merah. Apakah ia mampu melakukan itu?. Simak terus ceritanya.
__ADS_1
Sementara itu Ratu Agung Selendang Merah memperhatikan mereka semua. Ia merasa bersimpati pada mereka semua, karena mereka adalah prajurit dan pembantu yang baik. "Bawa prajurit yang terluka. Obati luka mereka agar tidak terlalu dalam atau parah." Ratu Agung memerintahkan dua orang prajurit yang lainnya untuk membawa teman-temannya yang terluka.
Akan tetapi mereka malah terpaku dengan apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah. Mereka takut jika Ratu Agung Selendang Merah akan marah kepada mereka semua. Apakah sikap Ratu Agung Selendang Merah tadi hanya lah untuk meyakinkan jika ia ratu yang baik melindungi mereka semua?.
"Apa lagi yang kalian tunggu?. Apakah kalian tidak kasihan dengan teman kalian yang terluka?." Ratu Agung Selendang Merah kembali menatap mereka semua.
"Akan kami lakukan dengan baik gusti ratu agung." Mereka segera membawa kedua teman mereka yang terluka. Mereka tidak ingin membuat Ratu Agung Selendang Merah marah pada mereka semua.
"Maafkan kami gusti ratu jika kamu telah lalai melaksanakan tugas dari gusti ratu agung." Mereka semua memberi hormat, mereka sangat takut, jika Ratu Agung Selendang Merah akan marah pada mereka dan berencana membunuh mereka semua?.
"Sungguh maafkan kami gusti ratu agung. Kami berjanji tidak akan lalai lagi." Mereka terlihat ketakutan sekali, apalagi ketika melihat Ratu Agung yang sedang mengamati mereka dari jarak yang lumayan dekat. "Kami berjanji akan lebih baik lagi dalam mengerjakan tugas dari gusti ratu agung." Mereka terlihat sangat ketakutan.
"Kalian semua tenanglah, aku tidak akan menghukum kalian." Ratu Agung Selendang Merah menatap mereka semua. "Justru aku berterima kasih, kepada kalian yang telah menjaga istana ini dengan baik. Aku minta maaf, jika tugas yang aku berikan membuat kalian terluka." Ada perasaan yang tidak nyaman di dalam hatinya melihat mereka semua seperti itu. "Sekarang kalian lakukanlah tugas kalian dengan baik." Ratu Agung Selendang Merah tampak begitu ramah.
"Kami telah berusaha menjalankan tugas, jika kami terluka ini semua adalah bukti pengabdian kami pada gusti ratu agung." Itulah yang mereka katakan pada Ratu Agung Selendang Merah.
"Terima kasih aku ucapkan pada kalian yang terbaik hati telah melakukan tugas ini. Aku tidak akan melupakan semua kebaikan yang telah kalian lakukan untuk istana ini. Suatu hari nanti aku akan membalas semua kebaikan yang telah kalian berikan padaku." Ratu Agung Selendang Merah berkata seperti itu, membuatnya semakin dikagumi oleh mereka semua.
"Hormat kami untuk gusti ratu agung yang mulia. Semoga kebaikan senantiasa untuk gusti ratu agung." Setidaknya mereka sangat berterima kasih untuk itu.
"Aku hanya ingin mengucapkan terim kasih pada kalian. Semoga saja kalian selalu mendapatkan kebaikan karena telah merawat istana utama dengan baik." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil dibalik cadar merahnya. "Kalian boleh libur dua hari untuk istirahat. Jangan lupa untuk saling menjaga satu sama lain di istana ini." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Terima kasih atas kebaikan yang gusti ratu agung berikan pada kami." Mereka sangat senang mendengarnya.
"Kami akan melakukannya dengan baik gusti ratu agung."
"Jika ada sesuatu hal-hal yang sangat aneh, maka panggil saja gusti agung, maka panggil saja kami."
"Terima kasih kali lagi aku ucapkan. Suatu saat nanti, aku pasti akan membutuhkan bantuan kalian semua." Senyumannya terlihat sangat mengembang. "Kalau begitu kalian cepatlah istirahat, aku yakin kalian telah bekerja dengan baik hari ini. Jadi beristirahat lah dengan baik, supaya kalian bisa melakukan pekerjaan kalian dengan baik untuk besok." Itulah yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah pada mereka semua.
Setelah berkata seperti itu, Ratu Agung Selendang Merah pergi meninggalkan tempat. Mereka semua tidak menduga, bahwa jika Ratu Agung Selendang Merah akan membela mereka semua.
"Ratu agung Selendang merah sangat baik pada kita semua." Santosu ingin menangis karena perlakuan Ratu Agung Selendang Merah.
"Gusti ratu agung sangat perhatian pada kita semua. Berbeda sekali dengan selir yang pastinya akan membela keluarga mereka." Mitasu juga hampir saja menangis.
"Aku bersumpah akan melayani gusti ratu agung dengan sangat baik." Jendari, seorang prajurit yang berjaga di sekitar istana. Ia tidak pernah melihat ada seorang ratu yang baik hati seperti itu.
"Kalau begitu mari kita ikuti apa yang dilakukan oleh ratu agung selendang merah. Mari kita beristirahat, karena besok adalah hari yang baik." Zuparo merasa lebih baik, tadinya ia sangat takut jika Ratu Agung Selendang Merah akan menghukum mereka sampai mati karena tidak memperlakukan keluarga kerajaan dengan baik.
"Ya, aku juga ingin beristirahat. Akan aku bawa bahan makanan yang lebih lezat untuk kita santap. Gusti ratu agung, hamba akan melakukannya dengan baik." Akatemo merasa sangat bersemangat, ia semangat karena nyawanya masih berada di raganya.
Setelah itu mereka juga meninggalkan tempat, karena mereka juga telah lelah setelah bekerja dengan baik. Hampir saja mereka semua mendapatkan hukuman mati dari Ratu Agung Selendang Merah. Namun sepertinya Ratu Agung Selendang Merah dapat melihat mana yang salah dan mana yang benar, sehingga mereka terselamatkan dari Selir Indraswari Jayanti yang berniat jahat pada mereka semua. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...