
...***...
Kediaman keluarga Menanti.
Pagi telah menyapa. Lukita, Rembung, dan Cibatu telah sampai di kediaman Keluarga Menanti. Teru Menanti dan Merekah Menanti sangat senang melihat kedatangan mereka bertiga. Saat ini mereka berada di halaman utama keluarga Menanti, dan kebetulan mereka semua sedang berkumpul. Itu adalah rutinitas keluarga Menanti sebelum melakukan pekerjaan mereka.
"Hoo. Kalian telah kembali." Teru Menanti terlihat sangat senang. Ia menikmati segelas air hangat manis yang disediakan istirnya. "Kenapa kalian lama sekali kembalinya?. Apakah kalian sedang bersenang-senang dengan mereka semua?." Lanjutnya lagi. Senyumannya begitu mengembang membayangkan bagaimana reaksi Ratu Agung Selendang Merah mengetahui jika orang-orang yang ia lindungi malah mati ditangan ketiga anak buahnya yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa hebatnya.
"Apa yang bisa aku dengar dari kalian?. Katakan pada kami." Merekah Menanti juga ikut berbicara. Senyumannya juga mengembang membayangkan keberhasilan anak buahnya dalam melakukan tugas yang diberikan anaknya Teru Menanti.
Rembung, Lukita, dan Cibatu saling memberi kode. Sepertinya mereka tidak mau berbasa-basi lagi. Rasanya sudah lelah untuk berbasa-basi untuk mereka di pagi hari.
"Mohon maaf tuan." Rembung, Lukita, dan Cibatu memberi hormat.
"Hah?."
Mereka semua terkejut karena kata maaf yang keluar dari mulut ketiga anak buah keluarga Menanti. Maaf untuk apa?. Apakah mereka telah melakukan kesalahan?.
"Kegh!." Istri Merekah Menanti, Muntari Menanti geram melihat mereka yang menunduk minta maaf. "Katakan pada kami!. Kenapa kalian meminta maaf?!." Suaranya terdengar sangat keras, ia membentak Rembung, Lukita dan Cibatu. "Aku tidak akan mengampuni kalian!. Jika kalian gagal melakukannya!." Kemarahannya muncul karena ia merasa ke arah sana tujuan mereka meminta maaf. "Apakah kemampuan yang kalian miliki hanya untuk dipajang saja?. Dasar pendusta!. Hanya mulut kalian saja yang besar, tapi kekuatan kalian tidak ada sama sekali?!." Muntari Menanti sangat marah dengan apa yang ia tebak?. Sikap minta maaf mereka yang seakan-akan memang begitu adanya.
__ADS_1
"Wanita kurang ajar!. Berani sekali dia meninggikan suaranya padaku!." Dalam hati Rembung sangat kesal, urat marahnya hampir saja meledak. "Dia ini memiliki mulut yang sangat pedas!. Akan aku hajar dia nantinya!." Dalam hati Rembung sangat mengutuk mulut Muntari Menanti yang telah berani berkata seperti itu padanya.
"Wanita ini jahat juga ternyata." Dalam hati Cibatu sedikit gugup dengan suara Muntari Menanti yang sedang membentak mereka. "Ingin rasanya aku merobek mulut pedasnya ini." Dalam hati Cibatu ingin mencabik-cabik mulut kasar wanita itu. Namun ia berusaha untuk menahan dirinya demi tujuan lain.
"Kau juga akan mendapatkan hukuman nantinya. Tunggu saja setelah ini!." Lukita merasa kesal mendengarkan suara tinggi dari nyonya Muntari Menanti. "Mulutmu yang pedas itu, pasti akan aku beri hukuman yang setara dengan pedang yang tajam." Dalam hati Lukita berjanji akan memberi pelajaran pada Muntari Menanti.
"Tenanglah istriku tercinta. Mari kita dengar penjelasan mereka." Merekah Menanti mencoba untuk bersikap sabar, akan tetapi sorot matanya terlihat sangat tajam. "Mungkin mereka memiliki alasan yang sangat kuat, kenapa mereka gagal?." Merekah Menanti hanya tersenyum kecil.
"Katakan pada kami apa yang terjadi sebenarnya. Atau kami tidak akan mengampuni kalian." Teru Menanti mengeluarkan belati kecil, sepertinya ia telah siap-siap untuk membunuh ketiganya. "Karena kalian telah berani melalaikan tugas yang telah kami berikan pada kalian!." Ia kita terlihat sangat marah?. Hingga ia ingin menikam ketiga pembantu baru mereka yang diperintahkan untuk membunuh orang-orang kawasan kumuh.
"Baiklah, kami akan melanjutkan apa yang ingin kami sampaikan." Rembung tersenyum kecil, ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap sombong dari mereka semua. "Akan kami katakan yang sebenarnya pada kalian." Rembung memberi kode pada Lukita dan Cibatu untuk melakukan sesuatu?.
"Sebenarnya kami adalah-!." Cibatu juga tidak tahan lagi.
Cibatu dan Rembung menarik pakaian mereka seperti ala ninja yang sedang menyamar. Sedangkan Lukita tetap pada wajah aslinya, karena wajahnya memang tidak diketahui oleh keluarga Menanti.
Deg!!!!.
Mereka semua sangat terkejut melihat apa yang terjadi di depan mereka semua. Apakah mereka saat itu tidak salah lihat?. Apakah mereka tidak salah mengenali wajah seseorang?. Tapi bagaimana bisa?. Apakah mereka sedang mengerjai mereka semua?.
__ADS_1
"Bukankah kau adalah jendral kuasa?." Teru Menanti tidak akan lupa dengan wajah serta pakaian itu. "Bagaimana mungkin jendral kuasa bisa melakukan itu?!." Teru Menanti terlihat sangat marah. Hatinya sedang diisi oleh kemarahan yang sangat luar biasa.
"Kau adalah menteri keuangan jibat?!." Merekah Menanti juga tidak lupa dengan wajah itu. "Untuk apa kau melakukan ini?!." Merekah tentunya juga sangat ingat dengan wajah itu, meskipun ia tidak sering bertemu, namun ia tentunya sangat kenal.
"Jadi kalian menyamar untuk masuk ke dalam keluarga kami?!." Muntari Menanti sangat terkejut melihat itu semua. "Berani sekali kalian melakukan itu pada kami!." Muntari Menanti sampai emosi setelah mengetahui mereka itu siapa.
"Heh!. Untuk apa kalian datang ke sini dengan menyamar?. Apakah ini adalah perintah dari gusti ratu agung?!." Teru Menanti masih mencoba menenangkan dirinya, agar tidak terlihat panik di hadapan Lukita, Jendral Kuasa, dan Mentri Keuangan Jibat. "Apakah wanita bodoh itu yang telah memberikan kalian perintah?!." Hatinya sangat panas setelah melihat itu semua.
"Tentunya ini semua adalah perintah dari gusti ratu agung." Jendral Kuasa mengeluarkan lencana serta surat penangkapan terhadap seluruh keluarga Menanti. "Gusti ratu agung telah mengetahui apa yang kalian lakukan pada hari itu!. Dan kami telah mendapatkan bukti atas apa yang kalian lakukan. Jadi kalian tidak bisa menghindar." Lanjutnya. Hatinya juga sedang dipenuhi oleh amarah yang sangat membara.
"Ini perintah langsung dari gusti ratu agung!." Menteri keuangan Jibat menatap tajam ke arah mereka semua.
"Kegh!. Kurang ajar!. Ini adalah jebakan!. Berani sekali kalian menjebak kami!." Merekah Menanti tidak terima sama sekali atas apa yang dilakukan oleh Jendral Kuasa pada mereka.
"Kalian sendiri yang mengatakan pada kami, bernyanyi dengan merdunya. Berkicau tentang remaja jahat kalian pada kami. Tentunya gusti ratu agung hanya ingin bukti yang kuat untuk memberikan hukuman pada kalian semua." Rembung masih ingat dengan apa yang mereka katakan pada saat itu.
"Kegh!. Kalian pikir kami akan menerima begitu saja?." Muntari Menanti menyerang mereka bertiga. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka juga ikut menyerang Jendral Kuasa, Lukita, dan Menteri Keuangan Jibat.
Terjadi pertarungan di halaman rumah keluarga Menanti. Seperti mereka sangat tidak terima atas apa yang direncanakan oleh mereka semua untuk membuktikan kesalahan apa yang telah mereka lakukan. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
__ADS_1
Next.
...***...