RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 56


__ADS_3

...***...


Kembali ke istana Utama.


Saat ini mereka semua mendengarkan bagaimana sidang itu berlangsung. Akan tetapi Yangka Patari masih saja menyangkal dengan apa yang ia lakukan. Ia merasa difitnah karena telah tertangkap basah mengambil uang yang diberikan oleh Ratu Agung Selendang Merah pada rakyat Kawasan Kumuh. Saat itu Lukita menunjukkan kemarahan yang ia rasakan selama ini.


"Apakah masih ada hal yang lainnya yang akan disampaikan sebelum keputusan dikeluarkan?." Perwakilan Dewan Agung bertanya pada mereka semua. "Sebelum memutuskan perkara ini kami ingin mendengarkan keluhan atau beberapa hal yang mungkin bisa kami pertimbangkan. Mengingat saudara yangka patari tidak terima dengan sidang ini." Lanjutnya.


"Saya ingin menyampaikan sesuatu." Lukita mengangkat tangannya. "Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan." Lukita memberi hormat pada Dewan Agung Istana.


"Silahkan nona." Perwakilan Dewan Agung Istana mempersilahkan Lukita untuk berbicara.


"Kenapa wanita kumuh ini malah ingin berbicara?!. Apa yang ingin ia sampaikan?!." Dalam hati Yangka Patari sakit hati mendengarkan apa yang dikatakan oleh Lukita.


"Terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada saya untuk mengeluarkan apa yang saya rasakan." Kembali ia memberi hormat pada mereka semua. "Saya selama ini telah curiga dengan apa yang dilakukan oleh tuan yangka patari." Ucapnya sambil melirik tajam ke arah Yangka Patari yang terlihat jelas sangat dendam padanya. "Saya memantaunya dari jauh, setiap para prajurit yang melewati tempatnya ia selalu melakukan hal yang sama." Lukita tentunya mengingat itu semua dengan sangat baik.


"Kau jangan berkata yang tidak-tidak tentangku!." Bentak Yangka Patari tidak terima. "Kau hanyalah wanita kumuh!." Dengan nada tinggi Yangka Patari bahkan menghina Lukita dihadapan mereka semua. "Beraninya kau memfitnahku!." Amarahnya telah mencapai puncaknya. "Saat penangkapan itu!. Kau bahkan mengancam akan membunuhku!. Kau hampir saja menikamkan pisau kecilmu yang kotor itu ke pinggang ku!." Ia juga ingat dimana ia ditangkap pada hari itu.


"Berani sekali kau berkata seperti itu?!." Ratu Agung Selendang Merah yang dari tadi hanya diam, dan kini telah memperlihatkan kemarahan yang ia tahan sejak sidang dimulai.


Mereka semua melihat kemarahan dari Ratu Lukita. Kemarahan yang sangat tidak biasa, kekuatan mereka seakan-akan tidak berguna sama sekali. "Kau telah terbukti melakukan kesalahan, maka akui saja!." Hawa merah itu telah menyelimuti tubuh sang Ratu. "Kau yang tamak, dengki, hasrat busuk yang kau miliki untuk mendapatkan uang. Kau telah mengambil apa yang telah aku berikan pada rakyat kawasan kumuh." Ratu Agung Selendang Merah berdiri, dan mendekati Yangka Patari. Tatapannya begitu mematikan, sehingga membuat mereka semua yang berada di sana tidak berani untuk bergerak.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengakui perbuatan itu!. Karena bukan aku yang melakukannya!." Namun Yangka Patari masih membantahnya, padahal terlihat jelas ia telah berkeringat dingin karena tidak tahan dengan tekanan kekuatan yang ditunjukkan Ratu Agung Selendang Merah.


"Kau bahkan membuat kesan buruk tentangku pada rakyat kawasan kumuh. Mereka hampir saja melakukan pemberontakan karena ulah busukmu!." Begitu dekat, hingga ia ingin menelan Yangka Patari hidup-hidup.


"Kau masih saja ingin menyangkalnya?!. Akan aku tunjukkan semua bukti yang telah kau lakukan selama ini!." Lukita juga mendekati Yangka Patari. Sepertinya kedua wanita itu sedang mengadili Yangka Patari agar mengakui perbuatannya.


"Nona lukita, gusti ratu agung." Dalam hati Menteri Keuangan Jibat tercengang melihat bagaimana reaksi Lukita saat ini.


"Lakukan dengan baik lukita. Jangan sampai sampai dia lolos dari tanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan." Ratu Agung Selendang Merah memberi kode pada Lukita.


"Akan hamba lakukan dengan baik gusti ratu agung." Lukita memahami kode itu dengan baik.


Lukita mengeluarkan pedang yang aneh dari dalam tubuhnya. Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang terjadi?.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Simak terus ceritanya.


...***...


Pangeran Arzaguna Barata saat ni sedang berada di istana Utama?. Ia mendengar kabar dari beberapa prajurit, jika Ratu Agung Selendang Merah mengadakan sidang keputusan hukuman terhadap Yangka Patari.


"Jadi gusti ratu agung sedang mengadakan sidang keputusan hukuman?." Pangeran Arzaguna Barata menerima laporan dari prajurit yang ia perintahkan untuk melihat apa yang dilakukan Ratu Agung Selendang Merah.

__ADS_1


"Benar gusti pangeran." Gouki, itu nama prajurit yang bekerja dibawah perintah Pangeran Arzaguna Barata.


"Jadi benar?. Yangka patari telah melakukan korupsi dana?." Pangeran Arzaguna Barata penasaran. "Apakah kau tidak salah mendapatkan informasi itu?." Tentunya ia tidak mau salah paham dalam menerima informasi yang diberikan Gouki.


"Hasilnya belum keluar gusti pangeran." Gouki hanya mendengarkan. "Tapi informasi itu sangat benar. Bahkan menteri keuangan tuan jibat madukarna terlibat langsung untuk menangkap tuan yangka patari." Lanjutnya.


"Hum. Sepertinya tuan jibat madukarna ingin membersihkan namanya. Karena ia tidak mau dianggap sebagai seorang koruptor. Siapa yang mau dituduh seperti itu?. Aku bahkan akan langsung membunuh orang itu supaya dia mengetahui berhadapan dengan siapa." Dalam hati Pangeran Arzaguna Barata sedikit berpikir alasan kenapa Menteri Keuangan Jibat ikut terlibat dalam masalah itu.


"Lalu bagaimana dengan kasus yang ditangani oleh adik pangeran arzaguna basukarna di kawasan kumuh?. Aku dengar dari beberapa prajurit yang suka menggosip." Pangeran Arzaguna Barata ingat saat ia melewati istana Timur?. "Memangnya kasus apa yang sedang ia hadapi?. Tidak biasanya seorang pangeran turun tangan langsung menghadapi sebuah masalah." Meskipun tidak biasanya ia ikut campur dalam masalah orang lain, akan tetapi ia sangat penasaran dengan keterlibatan adiknya itu.


"Hamba dengar memang seperti itu gusti pangeran." Jawab Gouki. "Sepertinya gusti pangeran arzaguna basukarna menangani kasus pengeboran ilegal yang dilakukan oleh tuan hasedoki muritachi." Itulah informasi yang ia dapatkan tentang Pangeran Arzaguna Basukarna.


"Memangnya pengeboran apa yang dia lakukan?. Sehingga dia ditangkap?." Lagi, Pangeran Arzaguna Barata bertanya.


"Menurut informasi yang hamba dapat, itu adalah penambangan emas secara liar. Apalagi penambangan itu dilakukan dengan tidak beraturan. Sehingga menyebabkan kerusakan, itulah alasan kenapa beliau disidang oleh gusti ratu agung." Sepertinya Gouki bukan prajurit biasa. Sehingga ia mengetahui banyak informasi yang ada di dalam lingkungan istana, dan apa saja yang ditangani oleh penghuni istana yang sedang menegakkan keadilan.


"Baiklah, informasi yang kau berikan sangat berguna." Pangeran Arzaguna Barata sangat puas dengan apa yang dikerjakan oleh Gouki. "Kembalilah bertugas, karena aku ingin melanjutkan pekerjaan ku." Lanjutnya. Ia juga tidak ingin membuat orang lain curiga dengan apa yang ia kerjakan saat ini.


"Hamba pamit gusti pangeran." Setelah memberi hormat pada Pangeran Arzaguna Barata, Gouki pergi meninggalkan ruangan kerja pribadi Pangeran Arzaguna yang masih berada di lingkungan Istana Barat.


"Hum!!!. Rasanya semakin hari dia telah melakukan hal yang sangat luar biasa." Dalam hati Pangeran Barata sangat heran dengan apa yang dilakukan Ratu Agung Selendang Merah. "Sejauh mana dia bisa melakukan semuanya sesuai yang dia inginkan?.  Akan aku hadapi dia suatu hari nanti." Hatinya saat itu sedikit gelisah. Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?. Apakah akan ada perubahan yang ia rasakan setelah ini?. Simak terus ceritanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2